Ini kelanjutan postingan terdahulu. Sejatinya saya harus memposting tulisan ini hari Jumat yang lalu. Apalagi kalau bukan perihal perkembangan penanganan Beni.
Kasus Beni benar benar membuat saya dan Ady (teman yang ikut membantu) tidak bisa tenang. Maaf, hampir saja kami terobsesi dengan kasus itu, sangat ingin segera mengembalikan Beni ke sekolah, apapun akan kami lakukan. Tetapi saya kemudian justru diingatkan oleh salah seorang teman muda (masih kelas II SMP), ”bang, Beni bukan mesin, bukan boneka, dia punya perasaan dan tidak bisa bang membuat target dengan situasi ini” kira kira begitulah apa yang disampaikan teman muda itu. Saya sangat kaget, justru mendapat teguran dari teman muda. Sesaat saya tersenyum dan kemudian berterima kasih ”terima kasih ya”.
Lanjutkan membaca ‘…sepenggal kisah, setelah duka sedikit sirna (bag II)…’
Sebulan sudah kami dengan tim bergerak di 10 titik pendampingan psikososial bagi anak-anak korban gempa Sumatera Barat. Banyak sekali yang ingin diceritakan. Satuhal yang tidak bisa kami lupakan adalah, bagaimana kami harus berusaha menyelami perasaan anak-anak dengan situasi yang berubah 180 derjat ini. Tidak saja harus memahami pentingnya perasaan mereka secara kolektif, tetapi juga menyelami mereka satu persatu. Ada yang gamblang mencurahkan isi hatinya, ada yang lewat gambar, ada yang lewat tatapan mata dan bahkan ada dengan senyuman (tapi hambar). Siap tidak siap, ini bagian dari konsekwensi mengambil peran dalam membantu sesama.
Saya lagi bosan menulis soal perkembangan pasca gempa di Sumbar. Saya ingin menulis sesuatu yang iseng saja. Begini..
Tiga hari setelah gempa, perlahan tapi pasti warga Kota Padang telah mulai bangkit. Apa tandanya, saya sudah bisa menikamti Ikan Bakar sebuah warung nasi di bilangan Khatib Sulaiman. Tak peduli banyak puing bangunan di sekitar jalan tersebut, semua orang bersantap sambil tetap tersenyum menikmati hari. Tidak hanya itu, sebuah warnet langganan saya juga sudah mulai beroperasi dengan menyediakan genset. Tak hayal, warnet itu menjadi serbuan para pelanggan yang tidak hanya sekedar ingin berselancar di dunia maya, tetapi juga yang hanya sekedar numpang nger charge HP. Tak apalah, toh pemilik warnet adalah orang yang baik hati. Tak berapa lama, aktivitas sekolahpun mulai menggeliat. Inilah yang menjadi momentum ritme kehidupan mulai lancar. Jika anak anak sudah mulai sekolah, maka sopir angkot tentu saja akan mulai bekerja, warung warung makanan di sekolah mulai berbenah dan akan memberikan dampak yang signifikat terhadap situasi lainnya. Dan yang paling penting, ada situasi lain jika melihat gerombolan anak sekolah di jalan raya. Sesuatu yang menandakan bahwa situasi terkendali.
Sepuluh hari telah dilewati saat gempa besar mengguncang Sumatera getarannya begitu hebat hingga menyebabkan banyak sekali kerusakan. Setelah kejadian, semua saluran komunikasi terputus dan listrik padam. Tak ada kabar berita Sumatera Barat, khususnya Padang dan Pariaman seolah terisolasi jauh. Setelah gempa berlalu dan perlahan komunikasi mulai lancar, banyak yang bertanya kepada saya, “sedang apakah saya saat kejadian berlangsung”. Inilah sekelumit kisah menjawab pertanyaan itu.
Saya baru bisa posting setelah bencana gempa terjadi. Tidak banyak yang bisa aku sampikan, keculai memberikan kabar kepada sabahat blogger semua bahwa aku sehat walafiaat. Keluarga juga sehat walafiaat. Hanya kerusakan rumah saja. Saya terharu melihat berbagai komentar baik di facebook dan blog dari teman-teman. Betapa saya merasa bahwa ‘dunia tidak sempit, saya tidak sendiri’. Bencana ini memberikan pelajaran kepada saya bahwa, betapa hidup lebih berharga dibanding segalanya.
Libur lebaran kali ini rasanya singkat sekali. Agak susah saya mengatur jadwal untuk ‘malala’ (keluyuran). Tapi berhubung syaraf jalan-jalan saya tidak bisa pernah di ajak kompromi, maka waktu yang singkat tersebut, harus dapat di optimalkan dengan menyambangi beberapa tempat yang sudah masuk list jauh hari sebelum lebaran datang. Sekilas jadwalnya adalah :
Lama sudah tak pernag ke mesjid Nurul Iman Padang. Selain karena memang jalur beraktivitas saya tidak mengarah ke mesjid tersebut, ditambah lagi hamper dua tahun belakangan ini, mesjid terbesar di Kota Padang ini sedang dilakukan renovasi. Sebenarnya renovasi telah selesai sejak tahun lalu dan telah diresmikan penggunaanya oleh Wakil Presiden RI, tatkala berkunjung ke Padang.
Tidak pernah terbayang oleh saya untuk memfasilitasi sebuah kegiatan di bulan puasa ini. Apalagi yang akan difasilitasi adalah kelompok anak-anak dengan beragam tingkah polah, serta beragam usia. Jadilah proses fasilitasi anak-anak di bulan puasa ini menjadi semakin berat. Secara fisik, maupun emosi. Tapi so what githu lo…ini adalah hal ikhwal yang selama ini dinanti oleh anak-anak Kota Padang.
Setiap blogwalking, saya selalu mampir ke blog Bapak yang satu ini. Terus terang, beliaulah salah satu inspirasi saya didunia per blog an ini. Beliau adalah salah satu dari 5 orang teman blogger pertama yang nagkring di blog saya, terutama diawal-awal saya belajar menulis. Postingan-postingan beliau tidak pernah saya lewatkan. Tapi sejak Mei 2009, setelah tulisan terakhir beliau http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/21/komunikasi-pembelajaran-yang-efektif/ saya tidak menemukan lagi jejak beliau. Setiap kali blogwalking saya selalu klik www.suhadinet.wordpress.com, tetapi selalu saja tidak ada postingan baru. Terus terang saya kangen….kemanakah beliau ? Apakah saya terlewatkan sesuatu ?




Komentar Terakhir