22
Jan
10

…bolehkah aku anak perempuan menikmatinya ?…

Saya paling suka menonton acara televisi dengan tema petualang. Entah kenapa, ada daya tarik tersendiri. Barangkali karena gambar yang disajikan adalah pemandangan, kehidupan social masyarakat ataupun pola dan kebiasaan hidup sebuah komunitas. Paling saya suka lagi jika acara petualangan itu dikemas menjadi acara anak-anak semacam BOCAH PETUALANG. Ya…Bocah Petualang bagi saya tontonan yang menyegarkan, apalagi di putar siang hari. Enak sekali jadi teman tidur.

Lama sudah saya jadi penikmat acara ini dan barulah saya sadar, ternyata selama ini acara Bocah Petualang (dan acara sejenisnya) lebih banyak mengekspos anak laki-laki ketiban anak perempuan. Memang ada beberapa kali episode yang memperlihatkan anak perempuan, tapi hanya sebagai peran figuran.

Lanjutkan membaca ‘…bolehkah aku anak perempuan menikmatinya ?…’

18
Jan
10

…mirip gak sih…

Saya baru saja nontong ’sang pemimpi’, itu tuh, lanjutan trilogi Laskar pelangi.  Filmnya menyentuh banget,, terutama bagaimana menggambarkan hubungan ayah anak.  Nah, salah satu yang mencuri perhatian adalah peran ARIEL dalam film ini.  Apanya yang menarik…ternyata setelah saya amati, mirip dengan salah seorang teman bloger…ini lihat aja…

Lanjutkan membaca ‘…mirip gak sih…’

07
Jan
10

…eksploitasi atau berbakti pada agama ?…

Beberapa tahun yang lalu, saya dan teman-teman punya program di sebuah desa.  Cukup lama juga kami mendiam disana, sehingga mampu mengenal seluk beluk desa tersebut beserta warga desanya, mulai dari yang kakek nenek hingga anak-anak.

Ini desa indah sekali, penghasil sayuran dan tanaman muda.  Selintas masyarakatnya adem ayem saja, damai, tidak ada persoalan, sehari-hari hanyalah ke ladang ataupun ke kebun.  Tidak terlihat perbedaan yang mendasar disana.

Lanjutkan membaca ‘…eksploitasi atau berbakti pada agama ?…’

05
Jan
10

…ceria di anai resort…

Tahun 2009 kami habiskan di anai resort.  Tidak merayakan tahun baru siy, tapi melaksanakan kegiatan Pelatihan Hak-Hak Anak bagi anak-anak korban gempa di Kab. Padang Pariaman dan Kota Padang.  Kegiatan ini bekerjasama dengan World Vision Indonesia.

Anai Resort adalah sebuah kawasan wisata yang sangat komplek, terdapat padang golf, vila-vila yang disewakan, kolam renang dengan sumber mata air gunung, jalur tracking serta berbagai permainan outbond.  Jadilah kegiatan tersebut selain untuk melepaskan penat, menghilangkan ketegangan sekaligus bermain, berlatih dan menambah ilmu dengan adik-adik dari Kab. Padang Pariaman dan Kota Padang.

Kegiatan ini kami persiapkan jauh-jauh hari.  Ada 12 orang tim fasilitator dan 4 orang tim untuk peralatan yang kami siapkan untuk melayani 160 orang anak.  Kami tidak mau setengah-setengah dalamhal ini, karena ini adalah sebuah kegiatan yang sangat berharga.  Seminggu sebelum kegiatan berlangsung, kami sudah berkutat dengan pembuatan modul pelatihan.  Tidak gampang membuat modul dengan pendekatan berperspektif anak,kami ahrus jungkir balik memetakan metode mana yang paling disukai oleh anak, pendekatan mana yang paling pas untuk menyampaikan materi yang sudah kami siapkan.  Alhasil kami sepakat menggunakan metode bermain dan mini outbond.

Lanjutkan membaca ‘…ceria di anai resort…’

29
Des
09

…si pembaca esai jilid 2…

Wkwkwkwkwkwkw, pertama saya harus memulai postingan ini dengan ketawa. Ini kembali cerita soal si pembaca esai yang berinisial DM (BUKAN DANIEL MAHENDRA, TAPI DIMAS MAHENDRA). Suatu siang, dia bersama pentolannya datang ke Posko Rumah Semut (begitu kami menyebut posko tempat kumpul kami). Sambil bercerita-cerita, bercanda serta main balok susun, si DM tiba-tiba saja mengeluarkan setumpuk PARFUM dengan botol kecil. BAnyak juga, ada sekitar 15 botolan dengan aneka wangi. Saya keget, bercampur heran. Mulanya saya kira anak ini menggunakan parfum itu untuk sehari-hari, tapi dugaan saya meleset. Si DM ternyata JUALAN. Dia lantas merayu beberapa orang teman saya dan temannya sendiri. Hebat juga ini anak, pintar sekali, amazing…saya rasa ini diluar dugaan saya.

Lanjutkan membaca ‘…si pembaca esai jilid 2…’

21
Des
09

…si pembaca esai…

Ini postingan iseng…(postingan untuk si ARIF RAHMAN ISKANDAR, yang penasaran mau tau siapa manusia yang membacakan esainya)

Ceritanya begini.  Saya tiba-tiba panik, karena sehari sebelum acara Forum Partisipasi Anak dilaksanakan, salah seorang pengisi acara berhalangan, karena sang nenek sedang sakit dan harus ke kampung halaman.  Padahal persiapan udah dilakukan jauh-jauh hari.  Tentu saja dalam waktu kurang 24 jam, agak susah mencari ganti, seorang anak yang mampu membacakan esai dengan penuh penjiwaan sehingga maknanya bisa sampai ke setiap benak orang.

“Waduh Gung, kita harus cari ganti EIFEL (nama anak yang sejatinya jadi pembaca esai itu) ” Begitu kata saya pada sang teman.

“Gimana bang, ini hari ujian, gak bisa ganggu anak ujian juga kan untuk latihan ?” Agung tak kalah pesimisnya.

“Gini aja deh, kita lapor ke Kepala Sekolah EIFEL aja, siapa tahu mereka punya ganti”.

Lanjutkan membaca ‘…si pembaca esai…’

19
Des
09

…bangkit…

Gempa telah lama berlalu, sebentar lagi tiga bulan lamanya.  Kamipun telah memulai proses berbenah.  Bangkit, bangkit dan bangkit adalah sebuah kata yang selalu kami ngiangkan ditelinga sejak gempa baru saja berumur tiga hari.  Faktanya anak-anak adalah kelompok paling optimis memandang hidup, mereka lebih cepat keluar dari situasi keterpurukan.  Barangkali ini disebabkan tidak banyak tetek bengek yang dipikirkan oleh anak-anak kecuali menjalani hidup apa adanya.

Kesibukan saya dan teman-temanpun menjadi tak tanggung tanggung.  Berbagai kegiatan dan program sehubungan gempa dan anak-anak harus kami laksanakan.  Siap atau tidak siap, siang dan malam kami terus bekerja.  Kerelawanan kami semua sedang diuji.  Sekuat apakah kami bersabar mengahdapi keluh kesah, tingkah polah serta sekuat apakah kami menghadapi kurang tidur.  Saya berterima kasih untuk ini kepada seluruh kawan-kawan relawan.

Lanjutkan membaca ‘…bangkit…’

12
Nov
09

…sepenggal kisah, setelah duka sedikit sirna (tamat)…

BACKSCHLSaya sedang asyik-asyiknya membahas tentang kondisi terkini salah seorang teman, yang kebetulan sedang sakit. Beberapa hari sebelumnya saya sempat menemani sang teman berobat ke spesealis THT. Penyakit yang semula kami anggap sepele, ternyata tidak. Dari jumlah nominal yang dikeluarkan untuk nebus resep, jelas sekali kalau penyakit tersebut tidak boleh dianggap enteng. Dalam ngobrol tersebut sebuah SMS masuk

“Malam om, besok Beni sekolah di MIN ya..”

“Wahhhh Beni, hebat ya…udah dapat belajar kembali”

Sebuah SMS yang saya tunggu-tunggu sehari sebelumnya. Dan ternyata baru pada malam hari masuk ke hand phone saya. Berita gembira tersebut saya forward ke Ady, teman yang juga ikut membantu proses kembalinya Beni kesekolah.

Lanjutkan membaca ‘…sepenggal kisah, setelah duka sedikit sirna (tamat)…’

09
Nov
09

…sepenggal kisah, setelah duka sedikit sirna (bag II)…

1Ini kelanjutan postingan terdahulu.  Sejatinya saya harus memposting tulisan ini hari Jumat yang lalu.  Apalagi kalau bukan perihal perkembangan penanganan Beni.

Kasus Beni benar benar membuat saya dan Ady (teman yang ikut membantu) tidak bisa tenang.  Maaf, hampir saja kami terobsesi dengan kasus itu, sangat ingin segera mengembalikan Beni ke sekolah, apapun akan kami lakukan.  Tetapi saya kemudian justru diingatkan oleh salah seorang teman muda (masih kelas II SMP), ”bang, Beni bukan mesin, bukan boneka, dia punya perasaan dan tidak bisa bang membuat target dengan situasi ini” kira kira begitulah apa yang disampaikan teman muda itu.  Saya sangat kaget, justru mendapat teguran dari teman muda.  Sesaat saya tersenyum dan kemudian berterima kasih ”terima kasih ya”.

Lanjutkan membaca ‘…sepenggal kisah, setelah duka sedikit sirna (bag II)…’

04
Nov
09

…sepenggal kisah setelah duka sedikit sirna…

IMG2397ASebulan sudah kami dengan tim bergerak di 10 titik pendampingan psikososial bagi anak-anak korban gempa Sumatera Barat.  Banyak sekali yang ingin diceritakan.  Satuhal yang tidak bisa kami lupakan adalah, bagaimana kami harus berusaha menyelami perasaan anak-anak dengan situasi yang berubah 180 derjat ini.  Tidak saja harus memahami pentingnya perasaan mereka secara kolektif, tetapi juga menyelami mereka satu persatu.  Ada yang gamblang mencurahkan isi hatinya, ada yang lewat gambar, ada yang lewat tatapan mata dan bahkan ada dengan senyuman (tapi hambar).  Siap tidak siap, ini bagian dari konsekwensi mengambil peran dalam membantu sesama.

Kami juga bagian dari orang yang memiliki perasaan (barangkali sama dengan anak-anak tersebut), karena kami juga ada yang kehilangan sanak saudara, kehilangan harta benda dan lain-lain.  Tapi sekali lagi, kami harus menepiskan perasaan itu, manakala kami berdiri didepan banyak anak-anak yang rasa optimisnya harus digerek kembali ke tiang yang paling tinggi.

Lanjutkan membaca ‘…sepenggal kisah setelah duka sedikit sirna…’




Aku….

 

Februari 2010
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Bukan Iklan

Palanta - Ekspresikan Dirimu Melalui Blog

palanta ku…

logopalanta,  Image Hosting

Anda Pengunjung ke....

  • 35,772 hits

lomba hiking palanta…

Photobucket

ayo ikutan…

Image Hosting by Picoodle.com