Kata sosiolog, orang minang itu dialogis. Demokratis hidup di ranah minang. Apa soal, karena orang minang terutama laki-laki sering sekali duduk di ‘lapau’ (warung kopi) berjam-jam lamanya. Apa yang dilakukan mereka ? bukan hanya sekedar minum kpi danmakan goreng pisang, tetapi lebih banyak ngobrol, diskusi, melakukan analisisi terhadap situasi mikro dan makro, kadang-kadang juga mengkritik kebijakan yang tidak pro kepada ‘rakyat badarai’. tetapi uniknya, perbedaan-perbedaan cara pandang dalam debat ‘lapau’ tersebut tidak membuat orang minang terpecah belah. Perbedaan pendapat mereka tentang sebuah persoalan habis di ‘lapau’ itu. Kebiasaan menjadi ‘pengamat sosial’ dadakan inilah yang kemudian melahirkantokoh tokoh penting dariranah minang, AGUS SALIM, M HATA, M YAMIN, TAN MALAKA, dll.
Saat ini, kebiasaan jadi ‘pengamat’ itu tidak hanya dilakukan oleh orang minang di lapau, tetapi juga di atas angkot. Nah, ada kisah menarik 2 orang bapak-bapak yang mau pergi kepasar dan saya jumpai di dalam angkot melakukan perdiksi-prediksi terhadap salah seorang calon walikota Padang untuk periode 2008-20012 yaitu FAUZI BAHAR.
ANALISISNYA BEGINI….
Lanjutkan membaca ‘’strategi fauzi bahar versi pengamat politik atas angkot’’







Komentar Terakhir