Membaca cerpen Pak Suhadi berjudul UMI, membuat saya merasa bangga sekaligus sedih. Bangga karena cerpen itu di dedikasikan untuk saya (terima kasih). Sedih, karena cerpen UMI mampu menguakkan kesedihan lama yang sampai hari ini masih berusaha saya hilangkan….Kesedihan itu beralasan, karena cerpen Pak Suhadi terasa nyata dalam kehidupan saya, karena saya pernah mengalami hal yang sama.
Kata teman saya, jika ingin menghilangkan kenangan lama yang seharusnya dihilangkan, maka ceritakanlah apa yang kita rasakan itu kepada orang lain……agar kesedihan yang dirasakan bisa di bagi…..
Tengah malam pukul 24.00 WIB saya di beri tahu lewat SMS
“moe, ada anak jalanan di ruang jenazah sekarang, perempuan sekitar 5-6 tahun, korban tabrak lari”
Terperanjat dengan SMS itu, saya kemudian berlari menuju arah Pasar Raya. Saya kumpulkan beberapa orang teman anak jalanan laki-laki yang kebetulan malam itu masih main kartu domino. Tanpa dikomando kami kemudian mencari tahu kebenaran berita itu ke rumah sakit.
Tak berapa lama, kami sampai di rumah sakit. Di temani oleh seorang petugas, kami lalu melihat jenazah tersebut. Memang benar, anak perempuan cantik itu adalah teman kami ROSI (bukan nama sebenarnya). Kami menyaksikan wajahnya tenang, baju kumal ROSI masih melekat, baju yang tadi siang juga di pakai. Dari sela-sela telinganya masih ada bercak darah yang belum sepenuhnya di bersihkan.
Kami tak mampu menyembunyikan kesedihan. Tak ada air mata dari yang lain kecuali saya. Mungkin mereka sudah tidak ada air mata lagi, karena selalu di rundung kesedihan.
EMBER KECIL TEMPAT UANG RECEH yang selalu di bawa ROSI untuk mengemis tergeletak di bawah dipan tempat jenazah ROSI. Kami saling berpandangan, kemudian salah seorang teman anak jalanan mengambil EMBER itu, menyembunyikannya ke balik baju.
Tak berapa lama, keluarga ROSI datang. Kami tidak ingin menganggu dan menambahakn kesedihan bagi keluarga. Kami salaman, kemuydian pamit.
MALAM ITU JUGA KAMI MENGUBURKAN EMBER KECIL ROSI DI SEBUAH TAMAN KOTA TEMPAT KAMI SELALU BERMAIN BERSAMA-SAMA.
Terima kasih Pak Suhadi atas cerpennya….cerpen bapak mengajarkan kepada saya bahwa kita harus mampu melawan kesedihan yang kita pendam……Sekali lagi terima kasih……
IJINKAN SAYA MENGGUNAKAN CERPEN BAPAK ITU UNTUK BAHAN BACAAN BAGI TEMAN-TEMAN KECIL SAYA DI JALANANAN YANG SEDANG BELAJAR MEMBACA ATAU YANG SEDANG BERJUANG UNTUK MEREKA





Ya, saya terharu tu. Kita harus elalu mengasah kepekaan untuk membangun diri dalam relasi tanggung jawab kemanusiaan. Salut.
ingin saya mendengar kisah-kisah lainnya.
cerita-cerita seperti ini akan menajamkan mata hati melihat nikmat dari Allah.
alangkah banyak yang harus disyukuri dalam hidup ini.
Sama-sama Moe. Sekarang kamu balas bikin saya merasa sedih. Saya minta maaf pula (seperti kamu), karena telah membuka kembali lembar lama itu. Mudah-mudahan makin banyak orang yang perduli dengan anak-anak jalanan. Mereka suci, cuma kadangkala arus kehidupan yang berjeram dan berbatu-batu runcing membuat mereka seperti kehilangan arah dan masuk ke dunia hitam, malam.
Semoga “Rosi” mendapat kebahagian di sana (saya yakin itu Moe).
Silakan Moe, pakai cerpen itu, karena memang untuk kamu dan untuk anak-anak itu.
cerpen nya memang oks banget bang
*mata berkaca2*
saya masih ingat liku-liku kota padang. sungguh, kisah mengharukan pak. salut dan ditunggu cerita-cerita lainnya pak imoe