18
Agu
08

‘diskusi narkoba dengan teman-teman tuna rungu’

Beberapa hari yang lalu, teman saya Arfen ngasih tahu kalo kami di undang oleh salah satu Sekolah Luar Biasa Untuk memberikan penyuluhan tentang narkoba dan bahayanya.

‘Da imoe, kita di undang niy diskusi narkoba’ begitu SMS arfen.

“Mantap lah..trus apa sulitnya, kan selama ini teman-teman udah punya gawean itu juga, lagian modul standarnya udah ada kan’ Saya menjawab SMS arfen.

‘Masalahnya bukan itu, tapi peserta kali ini anak-anak SLB’.

Membaca balasan SMS Arfen, saya melongo…Baru kali ini setelah hampir 10 tahun cuap sana cuap sini tentang narkoba, ketemu dengan peserta unik ini.

“Hmmm ok kalo gitu kita harus bikin persiapan ekstra niy, nanti kita diskusikan’.

Siang itu akhirnya kami mengumpulkan tim yang akan mempersiapkan kegiatan ini. Tak tanggung-tanggung, ada 4 orang relawan senior dan 2 orang relawan muda yang berdiskusi menyiapkan alur pembelajaran, memetakan kemungkinan. Kami tak mau separoh-separoh dengan hal ini, karena ini adalah pengalaman perdana dan harus perfect. Salah satu persiapan kami adalah belajar bahasa isyarat sederhana. Karena yang akan kami hadapi adalah siswa-siswi TUNA RUNGU.

Untuk persiapan ini, kami melakukan diskusi intensif selama 3 hari. Tidak hanya merencanakan metode yang tepat, mempersiapkan media yang tepat, permainan yang OK dan sebagainya.  Sulit sekali menemukan cara yang tepat untuk kelompok peserta teman-teman Tuna Rungu ini.

Awalnya kami berfokus kepada menemukan metode pembelajaran, tetapi akhirnya kami juga mendiskusikan soal masalah persoalan ANAK CACAT secara keseluruhan. Tentu saj kami berdiskusi dengan orang yang memahami persoalan itu.  Beruntung kami memiliki teman guru SLB yang membantu kami memahami kondisi tersebut.

Waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Pagi itu saya berangkat ke SLB Wacana Asih. Kami telah menetapkan bahwa Arfenlah yang akan menjadi fasilitator. Wide tukan buat rekaman proses. Lina tukang Foto, Farah co fasilitator serat saya dan Ridha akan mem back up proses secara keseluruhan. Membantu Arfen jika kesulitan menemukan bahasa isyarat.

Awalnya memang sulit. Tapi ternyata di tengah jalan semua jadi mudah. Kesulitan yang kami bayangkan sirna, karena teman-teman Tuna Rungu adalah orang yang sangat sensitif dengan gerak bibir. Maka, dimulailah diskusi seru (tapi hening) itu. Di luar dugaan ternyata teman-teman Tuna Rungu sangat menegetahui dan dekat sekali dengan Narkoba. Bahkan ada satu dua orang yang pernah di tawari untuk menggunakannya.

Diskusi terus berjalan hingga berakhir 2 jam kedepan. Banyak kesan mendalam yang kami dapatkan. Kami pulang dengan sebuah pengalaman luar biasa. Satu hal, komitmen kami semua terlahir kembali, ‘ternyata masih banyak teman-teman anak cacat yang harus mendapatkan informasi soal narkoba. Karena mereka bagian dari tunas bangsa yang harus di selamatkan juga.

Kami pulang ke rumah dalam kondisi lelah.  Tapi bahagia….


22 Tanggapan ke “‘diskusi narkoba dengan teman-teman tuna rungu’”


  1. Agustus 18, 2008 pukul 7:36 am

    Pertamax… :mrgreen

    Hehehe… Gambarnya keren… :D

  2. Agustus 18, 2008 pukul 8:17 am

    wah, setelah ini bakalan kian fasih berbahasa dengan mereka yang tuna rungu pak imoe. sangat bagus. tapi jangan biasakan ya. bisa-bisa….

  3. Agustus 18, 2008 pukul 4:31 pm

    Da Imoe, seandainya ada lebih banyak org spt Uda yg ngerti Narkoba dan dengan senang hati mensosialisasikan dampak penyalahgunaannya, tentu korban yg berjatuhan akan makin berkurang… Narkoba memang sangat berbahaya, pengalaman sy mengikuti proses penyembuhan adik ipar yg masuk ke jurang Narkoba (sembuh total 2 tahun) membuat sy ikut mengerti betapa bahayanya penyalahgunaan obat ini… Keep going Da…wass

  4. Agustus 19, 2008 pukul 12:42 am

    manstap bang……….. hahahaha, bilo ka bandung koh?

  5. Agustus 19, 2008 pukul 8:52 am

    wah…. nikmatnya bisa berbagi pengetahuan dengan sesama….

    pengalaman menarik neh, blom pernah keknya ngobrol ama tuna rungu….
    tkut2 salah mengartiin….

  6. Agustus 19, 2008 pukul 11:15 am

    duh, pingin bgt jadi relawan, tp kadang2 pas kitanya siap tp ga ada panggilan, tp ketika kita ga siap malah ada ajakan

  7. Agustus 19, 2008 pukul 5:28 pm

    Sekarang ini memang perlu penyuluhan ttg narkobar dr sd nyampe mahasiswa, dr bayi nyampe manula, bahkan dr yg normal nyampe “yg kurang” normal. Faktanya generasi indonesia sekarang sudah banyak yg jd korban dr ganasnya virus narkobar.

  8. Agustus 19, 2008 pukul 11:23 pm

    jadi merinding bacanya, terutama tentang kepekaan anak-anak itu.
    hmm… kalau panca indera tak berfungsi sempurna, ternyata kepekaan meningkat buat mengimbangi.

    pengalaman yang pasti berkesan banget.

  9. Agustus 21, 2008 pukul 3:10 am

    narakoba anak mana yah???

  10. Agustus 21, 2008 pukul 3:12 am

    iya tuh narkoba , saya bingung sama orang yang make narkoba.. udah tau bakal nyusain masih aja gak di buang jauh2.. bisa 2 di penjara kalo ditangkep, malah bisa di door…. ingat kejahatan bisa terjadi karena biasa… hhehehehe…

  11. Agustus 21, 2008 pukul 8:34 am

    joe pikir..akan lebih bermanfaat jika kita memberikan informasi kepada teman2 dan saudara2 kita yang cacat fisik seperti itu..karena mereka akan lebih memperhatikan dan memberikan respon yang lebih dari pada sosialisasi kepada anak Normal yang cendrung tidak peduli terhadap apa yang kita sosialisasikan…..

  12. Agustus 22, 2008 pukul 12:51 am

    Selamat moe, kegiatannya sukses!
    Tak sia-sia persiapannya sampai beberapa hari. Pasti memuaskan secara batin ya Moe? Saya bisa bayangkan itu.

  13. 14 ai
    Agustus 23, 2008 pukul 4:02 am

    susah g sih belajar bahasa tuna rungu…???

  14. Agustus 23, 2008 pukul 3:52 pm

    wow… keren euy… gimana cara komunikasi dengan mereka ya? saluuut

  15. Agustus 28, 2008 pukul 3:30 am

    Bisa ngebayangin mas… bener2 pengalaman luar biasa.

    Dah pernah nyimak PON orang cacat? ketawa miris, prihatin, sekaligus salut.

    sukses buat urusannya

  16. Agustus 28, 2008 pukul 3:57 pm

    Salut Pak Imoe,….. semangat membawa pembaharuan,…. :)

  17. Agustus 29, 2008 pukul 2:45 pm

    wah..pasti bakalan susah tuh..

  18. Agustus 31, 2008 pukul 4:03 am

    ntar cerita pengalaman berpuasa bersama anak-anak asuhan di sana ya, moe?
    selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin.
    sori OOT.

  19. 21 bahtiyarzulal
    September 3, 2008 pukul 9:15 pm

    Yan tidak kalah penting adalah pengetahuan kita tentang’DRUG’itu.karena pada kondisi tertentu hampir tidak dapat dibedakan antara racun dan obat,yang salah bukan bahanya tapi kelakuan orangnya.intinya jangan biarkan orang-orang yang memiliki keterampilan lebih merana(nganggur) karen mereka akan memanfaatkan/dimanfaatkan untuk hal-hal yang menurut mereka benar meskipun orang lain mengatakan salah,misalnya ahli kimia dalam merakit bahan kimia menjadi narkoba.

  20. September 4, 2008 pukul 2:56 pm

    To Bahtiyarzulal : Bener sekali pak…inilah yang harus jadi PR kita semua, mengingatkan dan mengingatkan siapa saja, karena bukan tidak mungkin dia ada disekitar kita.

    To Marshmallow : Uni…kami sedang persiapkan buka puasa bersama di Panti Darul Muarif. Yang menyiapkan anak-anak sendiri anak-anak Forum Anak Sumbar (www.forumanaksumbar.com) jadi kami mengajarkan agar anak-anak juga peduli dengan teman sesama. Kapan uni ke PAdang ? hehehe

    To Okta Sihotang : Ternyata ngak susah Okta…asal mau dan berani saja… hehehe

    To Avartara : Thanks pak…bilo wak sobok yooodi palanta. org ?

    To Ichank : Gw terispirasi dari loe chank hehehehe

    To Yakhanu : Emang serba salah jadinya ya…..semua harus diselamatkan…


Tinggalkan Balasan




Aku….

 

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Bukan Iklan

Palanta - Ekspresikan Dirimu Melalui Blog

palanta ku…

logopalanta,  Image Hosting

Anda Pengunjung ke....

  • 31,402 hits

lomba hiking palanta…

Photobucket

ayo ikutan…

Image Hosting by Picoodle.com