
“Banyak Bajalan Banyak Nan di Tampuah”, “Banyak Bajalan Banyak Nan Diliek”
Ini adalah pepatah orang-orang tua di Minang, yang kira-kira artinya, jika semakin kita banyak melangkahkan kaki menuju negeri orang, maka semakin banyak hal yang kita ketahui. Ungkapan ini ternyata kemudian menjadi sebuah filosofi orang Minang untuk kemudian membudayakan sebuah kebiasaan yang disebut Merantau.
“Karatau Madang Dihulu, Babuah Babungu Alu. Marantau Bujang Dahulu, Dikampuang Baguno Alun”
Inilah pepatah orang Minang tentang merantau. Artinya tak lebih dan tak kurang, mengenai himbauan untuk merantau bagi kaum muda. Dalam perkembangannya, merantau tidak hanya di identikan dengan meninggalkan kampung halaman menuju daerah lain, tetapi juga bermakna bahwa kita harus semakin sering melihat budaya dan kebiasaan orang lain, untuk mengembangkan kemampuan, pemikiran, wawasan serta kehidupan (setidaknya ini menurut saya sendiri lho).
Nah, dua hari yang lalu, saya dan beberapa teman kembali ke Payakumbuh. Selain untuk memperkuat program radio anak-anak Forum Anak Kota Payakumbuh, kesempatan ini juga saya manfaatkan untuk berkunjung ke rumah salah seorang teman di kawasan Nan Kodok Payakumbuh. Sesampai disana, kami disuguhkan pemandangan yang bikin kami takjubb. Satu batang pohon pepaya tumbuh di halaman rumah, dengan buah yang sangat lebat dan sehat. Maka cerita soal pepayapun mengalir dengan deras bak air bah situ gintung (heheheh lebaiii). Dan ternyata, pepaya adalah buah-buahan yang memilki nama banyak sekali di Sumatera Barat ini. Setidaknya saya mengidentifikasi ada lebih dari 5 nama lain untuk pepaya, menurut daerah masing-masing yang tersebar di seluruh Sumatera Barat ini. MAu tau ?
PARENGHEK, ini adalah sebutan untuk pepaya yang biasanya digunakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah Maek di Kabupaten 50 Kota.
BATIAK, ini adalah sebutan untuk pepaya yang digunakan oleh masyarakat sekitar Desa Padang Olo, Kec. Sungai Limau, Kab. Padang Pariaman.
SITUKAU, nah yang ini lain lagi, biasa digunakan oleh masyarakat Sungai Tunu untuk menyebutkan pepaya.
SAMPELO, KAPELO, SANTELO, yang ini mirip-mirip dan digunakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah Padang, Pesisir Selatan, Sebgain 50 Kota, Sebagian Pariaman dan banyak lagi. Inilah yang paling banyak digunakan oleh masyarakat di berbagai daerah di Sumbar.
KALIKIH, ini juga digunakan oleh sebagian masyarakat baik yang tinggal di Padang ataupun di beberapa daerah. Sebutan kalikih ini juga digunakan oleh masyarakat di Kab. Sijunjung.
PEPAYA, kalau yang ini banyak di pakai oleh masyarakat yang tinggal di Kota.
Nah…jika anda datang ke Sumatera Barat, dan anda menginginkan buah pepaya, maka anda harus tahu dulu penyebuatannya apa. JAngan sampai terkecoh…Inilah pengalaman saya tentang pepaya, semakin abnyak kaki melangkah, semakin banyak yang kita ketahui….AYO MELANGKAH….





klo catra manyabuik nyo sampelo bang hahaha
banyak namo e rupo nyoh
kalau gak salah, ada juga yg bilang ‘PITULO’, benar gak jo?
setuju saya soal “merantau” itu bila dimaknai sebagai “berpetualang”.
bahkan Nabi Muhammad sendiri memberikan analogi dg perintah menuntut ilmu hingga ke negeri Cina. maksudnya adalah bahwa untuk mendapatkan “pengetahuan”, kita memang haruslah berpetualang dan tidak berdiam diri…
oot dikit jo…
kalau ke payakumbuh, mampirlah ke TK Ar-Rahmah di komplek Pesantren Ma’had Islamy di balai nan duo, koto nan ampek. barangkali ada program yg bisa ajo kerjakan bareng dg mereka, kebetulan mereka semua adalah keluarga besar saya… terima kasih
@ catra : berarti catra penganut SAMPELO tuh hehehe
@ zul : ado nan lain lai ndak pak zul hehehe
@ uda vizon : kalau pitulo setau ambo indak pepaya doh pak..tapi sejenis sayuran….ambo akan ke TK Ar Rahmah uda tuh…sia nan bisa di hubungi ?
jadi pitulo salah ya…? duh, malu… hehehe..
untuk kontak TK Ar Rahmah sudah saya balas via email, kalau di sini gak enak, hehe…
makin banyak kaki melangkah, makin banyak pepaya bisa diembat
(* waks…, ko jadi kaya maling pepaya yak ? *)
gilo… sampelo se banyak namonyo…. namaku di padang: arif…
kalo di payakumbuh namaku apa ya???
@ kelly : ahahahaha kok jadi maling gitu siyy jeng heheheh
@ arif : kalau di pyk namonyo syamsudin mah hhahahaha BOCOOOOOOOO
wah, itu kalau dalam bahasa jawa disebut dasanama, mas imoe. satu kata mempunyai banyak sebutan. soal budaya merantau, saya sangat kagum dg etos kerja dari ranah minang ini. rata2 mereka serius, tak hanya sekadar merantau utk senang2.
Merantau memang menambah pengalaman, memahami budaya orang lain, dan menghargai pendapat masing-masing orang.
Kalo orang Banjar di Kalimantan bilang, pepaya itu “Kestela”
mirip nama vokalis grup band itu ya, muz?
ian kestela.
imoe, jalan mulu? berarti ilmunya udah segunung dong…
wuah, ternyata urang-urang Minang punya filosofi mendalam tentang hidup. Bukan hanya merantau, tapi juga harus mengembangkan diri. Banyaknya kosa kata pepaya contohnya
“Banyak Bajalan Banyak Nan di Tampuah”, “Banyak Bajalan Banyak Nan Diliek” artina apa tuh….
di kalsel-amuntai menyebutnya kustila..
bagus buat pencahar dan penambah nafsu makan tuh.
@ pak syawali : nah masalah nya pak, banyak yang merantau dan enggan pulang…jadi negeri sendiri terlupakan hehehehe
@ bunda eni : bener banget bun…dengan semakin banyak yang dilihat, maka kita akan semakin mampu memaklumi bahwa banyak ragam cara pandang orang tentang sesuatu.
@ muzda : kestela, kayak nama vokalis Radja IAN KASELA
@ SQ : ada kosa kata yang lain gak pak ?
@ rizoa : nah tuhh jadi PR ya Ri…heheh
@ suhadi : Kustila..wah mirip-mirip ya…ama punya muzda…
Baru mampir lagi, ternyata suasana baru
hehehehe pepaya aja banyak banget bahasanya…
papaya itu pepaya juga kan