Saya lagi bosan menulis soal perkembangan pasca gempa di Sumbar. Saya ingin menulis sesuatu yang iseng saja. Begini..
Sudah dua kali Jumat saya shalat di mesjid itu. Tidak disengaja siy, tapi langkahlah yang membawa raga kesana. Apakah ada yang menarik di mesjid itu, tentu saja tidak, karena mesjd ini sama dengan yang lainnya dan tidak ada yang berubah. Hanya sedikit retakan disana sini yang menambah ornamen mesjid itu sekarang.
Ada tempat enak sekali di mesjid itu. Nggak tau saya apa sebabnya, mungkin juga karena itu tempat favorit bagi siapa saja termasuk saya. Apa yang dicari ? Apalagi kalau bukan jendela yang terbuka lebar serta dinding marmer dingin yang dicari para jemaah. Sambil dengar ceramah, sambil bersandar dan sambil terkantuk kantuk karena angin sepoi sepoi dari luar (wkwkwkwkw). Siapa saja yang mendapatkan tahta tersebut terlebih dahulu, maka akan dipastikan jemaah yang duduk disana nyaris semaput karena kantuk (wkwkwkwk). Gak mudah jugamendapatkan tahta tersebut, kita harus cepat datang ke mesjid. Lalu kuasai.

Tiga hari setelah gempa, perlahan tapi pasti warga Kota Padang telah mulai bangkit. Apa tandanya, saya sudah bisa menikamti Ikan Bakar sebuah warung nasi di bilangan Khatib Sulaiman. Tak peduli banyak puing bangunan di sekitar jalan tersebut, semua orang bersantap sambil tetap tersenyum menikmati hari. Tidak hanya itu, sebuah warnet langganan saya juga sudah mulai beroperasi dengan menyediakan genset. Tak hayal, warnet itu menjadi serbuan para pelanggan yang tidak hanya sekedar ingin berselancar di dunia maya, tetapi juga yang hanya sekedar numpang nger charge HP. Tak apalah, toh pemilik warnet adalah orang yang baik hati. Tak berapa lama, aktivitas sekolahpun mulai menggeliat. Inilah yang menjadi momentum ritme kehidupan mulai lancar. Jika anak anak sudah mulai sekolah, maka sopir angkot tentu saja akan mulai bekerja, warung warung makanan di sekolah mulai berbenah dan akan memberikan dampak yang signifikat terhadap situasi lainnya. Dan yang paling penting, ada situasi lain jika melihat gerombolan anak sekolah di jalan raya. Sesuatu yang menandakan bahwa situasi terkendali.
Sepuluh hari telah dilewati saat gempa besar mengguncang Sumatera getarannya begitu hebat hingga menyebabkan banyak sekali kerusakan. Setelah kejadian, semua saluran komunikasi terputus dan listrik padam. Tak ada kabar berita Sumatera Barat, khususnya Padang dan Pariaman seolah terisolasi jauh. Setelah gempa berlalu dan perlahan komunikasi mulai lancar, banyak yang bertanya kepada saya, “sedang apakah saya saat kejadian berlangsung”. Inilah sekelumit kisah menjawab pertanyaan itu.
Saya baru bisa posting setelah bencana gempa terjadi. Tidak banyak yang bisa aku sampikan, keculai memberikan kabar kepada sabahat blogger semua bahwa aku sehat walafiaat. Keluarga juga sehat walafiaat. Hanya kerusakan rumah saja. Saya terharu melihat berbagai komentar baik di facebook dan blog dari teman-teman. Betapa saya merasa bahwa ‘dunia tidak sempit, saya tidak sendiri’. Bencana ini memberikan pelajaran kepada saya bahwa, betapa hidup lebih berharga dibanding segalanya.




Komentar Terakhir