Saya sedang asyik-asyiknya membahas tentang kondisi terkini salah seorang teman, yang kebetulan sedang sakit. Beberapa hari sebelumnya saya sempat menemani sang teman berobat ke spesealis THT. Penyakit yang semula kami anggap sepele, ternyata tidak. Dari jumlah nominal yang dikeluarkan untuk nebus resep, jelas sekali kalau penyakit tersebut tidak boleh dianggap enteng. Dalam ngobrol tersebut sebuah SMS masuk
“Malam om, besok Beni sekolah di MIN ya..”
“Wahhhh Beni, hebat ya…udah dapat belajar kembali”
Sebuah SMS yang saya tunggu-tunggu sehari sebelumnya. Dan ternyata baru pada malam hari masuk ke hand phone saya. Berita gembira tersebut saya forward ke Ady, teman yang juga ikut membantu proses kembalinya Beni kesekolah.
Lanjutkan membaca ‘…sepenggal kisah, setelah duka sedikit sirna (tamat)…’
Ini kelanjutan postingan terdahulu. Sejatinya saya harus memposting tulisan ini hari Jumat yang lalu. Apalagi kalau bukan perihal perkembangan penanganan Beni.
Sebulan sudah kami dengan tim bergerak di 10 titik pendampingan psikososial bagi anak-anak korban gempa Sumatera Barat. Banyak sekali yang ingin diceritakan. Satuhal yang tidak bisa kami lupakan adalah, bagaimana kami harus berusaha menyelami perasaan anak-anak dengan situasi yang berubah 180 derjat ini. Tidak saja harus memahami pentingnya perasaan mereka secara kolektif, tetapi juga menyelami mereka satu persatu. Ada yang gamblang mencurahkan isi hatinya, ada yang lewat gambar, ada yang lewat tatapan mata dan bahkan ada dengan senyuman (tapi hambar). Siap tidak siap, ini bagian dari konsekwensi mengambil peran dalam membantu sesama.
Saya lagi bosan menulis soal perkembangan pasca gempa di Sumbar. Saya ingin menulis sesuatu yang iseng saja. Begini..
Tiga hari setelah gempa, perlahan tapi pasti warga Kota Padang telah mulai bangkit. Apa tandanya, saya sudah bisa menikamti Ikan Bakar sebuah warung nasi di bilangan Khatib Sulaiman. Tak peduli banyak puing bangunan di sekitar jalan tersebut, semua orang bersantap sambil tetap tersenyum menikmati hari. Tidak hanya itu, sebuah warnet langganan saya juga sudah mulai beroperasi dengan menyediakan genset. Tak hayal, warnet itu menjadi serbuan para pelanggan yang tidak hanya sekedar ingin berselancar di dunia maya, tetapi juga yang hanya sekedar numpang nger charge HP. Tak apalah, toh pemilik warnet adalah orang yang baik hati. Tak berapa lama, aktivitas sekolahpun mulai menggeliat. Inilah yang menjadi momentum ritme kehidupan mulai lancar. Jika anak anak sudah mulai sekolah, maka sopir angkot tentu saja akan mulai bekerja, warung warung makanan di sekolah mulai berbenah dan akan memberikan dampak yang signifikat terhadap situasi lainnya. Dan yang paling penting, ada situasi lain jika melihat gerombolan anak sekolah di jalan raya. Sesuatu yang menandakan bahwa situasi terkendali.
Sepuluh hari telah dilewati saat gempa besar mengguncang Sumatera getarannya begitu hebat hingga menyebabkan banyak sekali kerusakan. Setelah kejadian, semua saluran komunikasi terputus dan listrik padam. Tak ada kabar berita Sumatera Barat, khususnya Padang dan Pariaman seolah terisolasi jauh. Setelah gempa berlalu dan perlahan komunikasi mulai lancar, banyak yang bertanya kepada saya, “sedang apakah saya saat kejadian berlangsung”. Inilah sekelumit kisah menjawab pertanyaan itu.
Saya baru bisa posting setelah bencana gempa terjadi. Tidak banyak yang bisa aku sampikan, keculai memberikan kabar kepada sabahat blogger semua bahwa aku sehat walafiaat. Keluarga juga sehat walafiaat. Hanya kerusakan rumah saja. Saya terharu melihat berbagai komentar baik di facebook dan blog dari teman-teman. Betapa saya merasa bahwa ‘dunia tidak sempit, saya tidak sendiri’. Bencana ini memberikan pelajaran kepada saya bahwa, betapa hidup lebih berharga dibanding segalanya.
Libur lebaran kali ini rasanya singkat sekali. Agak susah saya mengatur jadwal untuk ‘malala’ (keluyuran). Tapi berhubung syaraf jalan-jalan saya tidak bisa pernah di ajak kompromi, maka waktu yang singkat tersebut, harus dapat di optimalkan dengan menyambangi beberapa tempat yang sudah masuk list jauh hari sebelum lebaran datang. Sekilas jadwalnya adalah :
Lama sudah tak pernag ke mesjid Nurul Iman Padang. Selain karena memang jalur beraktivitas saya tidak mengarah ke mesjid tersebut, ditambah lagi hamper dua tahun belakangan ini, mesjid terbesar di Kota Padang ini sedang dilakukan renovasi. Sebenarnya renovasi telah selesai sejak tahun lalu dan telah diresmikan penggunaanya oleh Wakil Presiden RI, tatkala berkunjung ke Padang.
Tidak pernah terbayang oleh saya untuk memfasilitasi sebuah kegiatan di bulan puasa ini. Apalagi yang akan difasilitasi adalah kelompok anak-anak dengan beragam tingkah polah, serta beragam usia. Jadilah proses fasilitasi anak-anak di bulan puasa ini menjadi semakin berat. Secara fisik, maupun emosi. Tapi so what githu lo…ini adalah hal ikhwal yang selama ini dinanti oleh anak-anak Kota Padang.




Komentar Terakhir