“Saya Ingin Segera Ke Padang”

Ini hari Kamis, saya sudah tidak sabar lagi untuk segera ke Padang.  Maklumlah, beberapa waktu belakangan saya mulai bekerja sebagai “pelayan masyarakat” di Kota Pariaman.  Sebetulnya Pariaman dan Padang itu tidak jauh.  Hanya saja sementara ini saya memilih menetap di Pariaman ketimbang bolak balik ke Padang.

Saya tidak sabar…ingin segera pulang….ingin segera ke depan Supermarket SARI ANGGREK.  Sebuah tempat perbelanjaan di bilangan Permindo Padang.

Lagi

“Belajar”

Adakah satu hari dalam hidup, kamu begitu merasakan nikmat yang diberikan oleh Tuhan ?.  Bagun di pagi yang cerah, menikmati sarapan pagi ditemani segelas susu, menelusuri jalanan tanpa macet menuju tempat kerja, datang lalu duduk di meja kantor dan sesaat setelah itu atasan menyampaikan kabar gembira bahwa kerja keras anda di hargai dengan kenaikan pangkat.  Lalu kamu pulang, menyampikan kabar gembira ini kepada keluarga dan setelah itu kamu menghabiskan waktu dengan makan diluar bersama keluarga merayakan hadiah teindah itu. Senang

Lalu, adakah pula satu hari dimana kamu merasakan betapa Tuhan sangat benci kepada mu ?.  Telat bangun, jalanan macet, terlambat kerja dan dimarahi oleh atasan.  Parahnya lagi justru tak menyadari bahwa dompet kamu yang berisikan surat-surat penting tercecer entah dimana rimbanya.  Gusar, mengumpat dan pasti uring-uringan itu akan kamu bawa hingga ke rumah.  Kehadapan istri dan anak-anak.  Lalu anda menyesali diri.  Penyesalan memang lahir belakangan.

Lagi

…perihal adopsi…

a_030505_adopsi04Jika anda adalah orang yang berniat untuk melakukan adopsi anak maka hati-hatilah, jalankan semua prosedur Negara. Anda tidak bisa serampangan lagi melakukan pengangkatan anak, sekalipun anda ingin dan merasa mampu. Sudah ada Peraturan Pemerintah Nomor 54 tahun 2007 serta turunannya Peraturan menteri Sosial RI yang akan segera di tanda tangani.

Persoalan pengangkatan anak atau adopsi anak, selama ini menjadi sebuah persoalanyang belum sepenuhnya dapat di tuntaskan oleh pemerintah kita. Fakta-fakta yang terjadi dilapangan menunjukan bahwa banyak kasus adopsi baik yang dilakukan oleh antar warga negara Indonesia ataupun antar negara (intercountry adoption), mengalami cacat prosedural. Hal ini tentu saja sangat beralasan. Selain rendahnya perhatian institusi yang berkepentingan dalam persoalan ini, persoalan adopsi anak juga di pengaruhi oleh ketiadaan instrumen hukum yang mengatur detail prosedural serta proses adopsi anak itu sendiri.

Apa saja isue yang berkembang selama ini dalam persoalan adopsi anak ? Paling tidak ada dua hal besar. Pertama adalah terjadinya praktek sungsang (terbalik) proses adopsi di Indonesia. Dalam banyak kasus, justru penetapan pengadilan terhadap adopsi anak telah keluar, sebelum mendapatkan rekomendasi dari institusi sosial sebagai pihak yang melakukan assesmen terhadap calon orang tua angkat. Padahal, dalam aturannya setiap proses adopsi, sebelum penetapan pengadilan dilakukan, haruslah mendapat persetujuan dari institusi sosial. Kedua, terjadinya ketidakpatuhan akan proses pengangkatan anak yang dilakukan oleh institusi berwenang, mulai dari assesmen, rapat tim, pemantauan, dan lain-lain.

Lagi

…forum anak sumbar 09…

1

Ini adalah kali pertama dalam hidup saya, memandu diskusi kewalahan.  Bukan karena yang dihadapi adalah orang-orang bertitel, tapi justru yang dihadapi adalah anak-anak utusan Kabupaten/Kota Se Sumatera Barat.  Kami semua dipertemukan dalam sebuah kegiatan FORUM ANAK SUMATERA BARAT 2009.  Ini adalah kegiatan rutin yang di helat oleh Pemerintah Propinsi Sumbar sebagai salah satu bentuk implementasi ‘hak partisipasi anak’.  Forum Anak ini menjadi media bagi anak-anak untuk menyampaikan ide, pikiran, saran dan berbagai hal yang dirasakan oleh mereka menyangkut kehidupan mereka sendiri.

Lagi

… negara kekerasan…

polisi

Video amatir perilaku kekerasan belakangan bermunculan kembali. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah video amatir kekerasan yang dilakukan senior terhadap junior di sekolah kepolisian di Palu.

Ya, pasti peristiwa ini menjadi pukulan telak bagi petinggi kepolisisan, soalnya ditengah-tengah usaha mereformasi diri, video kekerasan ini tentu saja akan kembali menurunkan derajat kepercayaan masyarakat akan institusi kepolisian. Memang kita tidak boleh mengeneralisir peristiwa ini sebagai bentuk seseungguhnya wajah kepolisian, tapi paling tidak ini mengisyaratkan bahwa reformasi di tubuh kepolisian masih jauh panggang dari api.

Lagi

… caleg paling sensual…

img1640a

Menurut anda, apakah ini adalah caleg yang palings ensual yang pernah anda kenal ? Silahkan amati baik-baik dan kirimkan komentar anada.  Komentar terbaik akan dapat satu buah piring cantik dan payung….

…kaya dan berkah…

1

Orang kaya dan banyak mobil, itu biasa…..
Orang kaya dan banyak rumah juga biasa…
Orang kaya dan banyak duit sangat biasa…
Tapi orang kaya yang punya mesjid, jarang niy…

Mesjid ini diberi nama Nurdzikrilah. Terletak tak jauh dari pusat Kota Padang. Jika punya kendaraan sendiri, hanya membutuhkan waktu tak sampai 20 menit menuju mesjid yang indah ini. Tapi jika tidak memilki kendaraan, jangan takut, masih ada angkutan kota yang setia mengantar anda sampai kesana.

Lagi

‘basobok (ketemu) si sutan mudo’

Pukul 22.00 WIB ponsel saya berbunyi. Saya lihat, wah ternyata bukan nomor yang asing. Lalu saya angkat ponsel.

“Hallo Cat, lagi dimana..?”

“Lagi dirumah bang, bang lagi dimana ?”

“Lagi di warnet niy, di Grya net..?”

“Kalo gitu tunggu ya bang, Catra juga mau kesana…?”

“Ok. ditunggu ya..”

Penasaran juga pengen ngelihat tuh anak. Sejak kuliah di Bandung, saya gak pernah ketemu lagi ama dia. Padahal dahulu hampir setiap hari ketemu, ngobrol sampai malam, membangun kesadaran kritis bersama, diskusi soal babilonia, Nabi MUhammad, Yahudi, Segitiga Emas, Perpolitikan INdonesia, sampai kepada masalah Sekssualita…pokoknya rame…………………….

Lagi

“Kekerasan Di Sekolah, Bencana Bagi Hak Anak”

by Muharman

Kekerasan agaknya memang selalu melekat dalam setiap kehidupan anak-anak. Dimanapun dan kapanpun, sepertinya kekerasan telah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi anak-anak. Tengok saja, betapa banyak orang tua yang mengalami himpitan ekonomi, membunuh anak-anak mereka, kakek-kakek tua renta yang dengan alasan tidak mampu menahan syahwat tega memperkosa cucu sendiri, para penegak hukum yang sewenang-wenang terhadap jalanan, hingga kepada guru yang tega berbuat kasar dengan alih menegakkan kedisplinan.

Tentu masih ingat dalam pikiran kita manakala oknum guru di sebuah SMKN di Kota Padang menendang lutut seorang siswanya hingga patah. Sangat ironis memang, ditengah-tengah harapan banyak masyarakat terhadap dunia pendidikan, malah ternyata yang muncul adalah perlakuan yang sangat memiriskan dan menyayat hati. Memang sangat disayangkan, institusi yang sebenarnya diharapkan mampu memberikan tauladan ini sepertinya sudah kehilangan akal sehat dan hati nurani. Sederhana memang alasan para oknum guru…”menegakkan kedisplinan”..alasan yang sangat tidak masuk akal. Pertanyaan mendasar adalah, “apakah kedisiplinan mesti ditegakkan dengan kekerasan ?”.

Tidak satupun teori pendidikan yang membenarkan kekerasan terjadi. Yang benar adalah bahwa setiap manusia mempunyai “Rasa dan Karsa”. Pendidikan sebetulnya adalah sebuah “proses” berkelanjutan untuk mencapai tiga dimensi utama dalam hidup yaitu “Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan” atau yang lebih dikenal dengan istilah “Knowledge, Afeksi dan Psikomotorik”. Pendidikan adalah “proses”. Jika begitu, harus dipahami bahwa pencapaian tujuan pendidikan tidak semudah membalik telapak tangan, dia tidak instan layaknya “mie instan”, kalau saja pendidikan seperti “makanan cepat saja” maka, dalam waktu singkat setiap orang bisa mendapatkanya dengan mudah. JIka demikian, maka setiap perkembangan ke arah kemajuan harus di hargai, sebaliknya, jika menuju ke arah kemundura, maka lakukanlah refleksi dan evaluasi. Jangan-jangan pendidik yang notabene adalah GURU lah yang tidak mampu memulai proses pendidikan yang baik itu.

Kedisplinan, memang sesuatu yang tidak boleh di tawar-tawar jika ingin sukses. Bangsa kita selalu menjadi bangsa yang tertinggal akibat sulitnya kedisplinan di tegakkan di setiap lini kehidupan. Tengok saja, betapa sampai hari ini masih banyak pejabat negara yang sepatutnya jadi contoh, beramai-ramai melakukan KORUPSI, lihatlah betapa hari ini kita masih saksikan POLISI (Penagak kedisplinan lalu lintas) dengan seenaknya berkendara tanpa memakai helm, lihatlah ibu-ibu arisan yang datang arisan pukul 17.00, padahal dalam undangan pukul 16.00. Lalu, jika ada siswa yang tidak disiplin, bukankah kita sebagai orang dewasa yang terlebih dahulu melakukan refleksi terhadap situasi itu ? Lalu pantaskah kita memarahi anak-anak Kita ? Sekali lagi kedisiplinan itu penting, tetapi menegakkan kedisplinan dengan kekerasan sangat bertentangan dengan HAK AZASI MANUSIA. Apalgi jika dilakukan terhadap anak-anak. Kekerasan, apapun dasarnyanya, apapun dalihnya, tidak dapat di benarkan, karena itu bertentangan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak. Pelaku kekerasan dapat di tuntut pidana, sekalipun itu GURU.

Bagaimana kekerasan begitu mudah lolos di sekolah ? Pertanyaan ini mesti kita renungkan bersama. Paling tidak ada beberapa faktor yang melatar belakangi persoalan ini :

1. Ketidakmampuan masyarakat melakukan pengawasan terhadap sekolah. Masyarakat menganggap bahwa sekolah adalah tempat yang paling aman, ideal dan manusiawi. Kepercayaan yang begitu tinggi dan cenderung mengagungkan, membuat seolah-olah posisi isntitusi sekolah menjelma menjadi sebuah kerajaan kecil yang tidak dapat disentuh oleh siapapun. Kesewenang-wenangan yang muncul dianggap sebuah keharusan, anak yang di tampar sampai berdarah-darah sekalipun justru dianggap sebagai hal lumrah oleh masyarakat dan malah cenderung menyalahkan si anak didik dengan alasan “itulah kamu, tidak bisa menuruti peraturan sekolah”. Padahal kalau mau jujur, mereka jelas-jelas mereka adalah korban.

2. Ketidakprofesionalan Guru dalam mendidik. Banyak guru kita yang sudah melupakan esensi pendidikan. Mereka mulai tidak menghargai “proses”, tidak menghargai keberagaman, tidak menghargai hak individual, tidak menghargai bahwa setiap orang punya harga diri, dll. Ditambah dengan beban pekerjaan yang besar, semakin membuat peluang kekerasan terjadi disekolah.

3. Sistem pendidikan kita yang tidak berbasiskan Hak. Sistem pendidikan kita tidak berorientasi kepada pemenuhan hak asazi manusia. Jika pendidikan dipandang sebagai hak oleh sistem pendidikan kita, maka setiap unsur dalam proses pendidikan itu tentunya akan melakukan segala daya dan upaya untuk memberikan pemenuhannya seraya menegakkan hak azasi manusia. Artinya tidak akan kita dengar lagi guru yang mengejk murid di depan kelas, tidak adalagi yang menampar, tidak ada lagi yang berkata-kata kotor, dll.

Sudah saatnya kita bersama melakukan refleksi terhadap seluruh proses pendidikan kita. Sekolah bukan lagi kerajaan yang mesti di takuti, sekolah adalah tempat dimana seluruh keberagaman dan cara pandang anak didik disatukan. Pendidikan harus benar-benar menanusiakan manusia. JIka kekerasan tetap terjadi disekolah, kemanakah lagi ANAK KITA BISA MENDAPATKAN PERLINDUNGAN…. MAri hentikan kekerasan sekarang juga…

‘TETAP BERJUANG…(KANTOR KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK TERBAKAR)’

Tanggal 31 Maret 2008 hari yang sangat spesial bagi saya. Selain ada kebahagian karena ada teman yang ultah, ada juga kesedihan….

Sedih…karena ada SMS yang masuk keponsel dari teman LPA Lampung…  bunyinya begini….

TETAP BERJUANG DEMI TEGAKNYA HAK ANAK, MARI BERSATU UNTUK MELAWAN SABOTASE.  KANTOR KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK TERBAKAR….(kira-kira begitu deh bunyi nya…)

Waduhhhhhhh naudzubilah……..

Saya gak bisa berkata-kata, seluruh teman-teman LPA Sumbar berduka……….

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.