Siapa gerangan Tuanku Imam Bonjol tidak perlu di jelaskan banyak. Semua sudah tahu kalau beliau adalah salah seorang pahlawan nasional. Tentu kita semua mengenal atau paling tidak pernah mendengar PERANG PADERI. Perang yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol di daerah Bonjol Kab. Pasaman, SUmatera Barat. Tuanku Imam Bonjol atau yang juga dikenal dengan panggilan Peto Syarif berhasil menggelorakan semangat perlawanan terhadap Belanda pada 1821-1837. Wahhh hampir 16 tahun lamanya perang.
Saya berkesempatan berkunjung kembali ke Kabupaten Pasaman ini. Ada undangan diskusi. Sudah pasti saya akan melewati Kec. Bonjol yang menjadi basis Perang Paderi. Tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, saya menyediakan waktu untuk berkunjung ke Museum Tuanku Imam Bonjol. Persis terletak di jalur Khatulistiwa, titik nol derajat Equator. Inilah uniknya Kab. Pasaman. Selain menjadi salah satu dari dua wilayah yang dilewati garis khatulistiwa, disini juga semnagat memerangi penjajah belanda di dengungkan Tuanku Imam Bonjol.






Tiga hari setelah gempa, perlahan tapi pasti warga Kota Padang telah mulai bangkit. Apa tandanya, saya sudah bisa menikamti Ikan Bakar sebuah warung nasi di bilangan Khatib Sulaiman. Tak peduli banyak puing bangunan di sekitar jalan tersebut, semua orang bersantap sambil tetap tersenyum menikmati hari. Tidak hanya itu, sebuah warnet langganan saya juga sudah mulai beroperasi dengan menyediakan genset. Tak hayal, warnet itu menjadi serbuan para pelanggan yang tidak hanya sekedar ingin berselancar di dunia maya, tetapi juga yang hanya sekedar numpang nger charge HP. Tak apalah, toh pemilik warnet adalah orang yang baik hati. Tak berapa lama, aktivitas sekolahpun mulai menggeliat. Inilah yang menjadi momentum ritme kehidupan mulai lancar. Jika anak anak sudah mulai sekolah, maka sopir angkot tentu saja akan mulai bekerja, warung warung makanan di sekolah mulai berbenah dan akan memberikan dampak yang signifikat terhadap situasi lainnya. Dan yang paling penting, ada situasi lain jika melihat gerombolan anak sekolah di jalan raya. Sesuatu yang menandakan bahwa situasi terkendali.
Sepuluh hari telah dilewati saat gempa besar mengguncang Sumatera getarannya begitu hebat hingga menyebabkan banyak sekali kerusakan. Setelah kejadian, semua saluran komunikasi terputus dan listrik padam. Tak ada kabar berita Sumatera Barat, khususnya Padang dan Pariaman seolah terisolasi jauh. Setelah gempa berlalu dan perlahan komunikasi mulai lancar, banyak yang bertanya kepada saya, “sedang apakah saya saat kejadian berlangsung”. Inilah sekelumit kisah menjawab pertanyaan itu.
Saya baru bisa posting setelah bencana gempa terjadi. Tidak banyak yang bisa aku sampikan, keculai memberikan kabar kepada sabahat blogger semua bahwa aku sehat walafiaat. Keluarga juga sehat walafiaat. Hanya kerusakan rumah saja. Saya terharu melihat berbagai komentar baik di facebook dan blog dari teman-teman. Betapa saya merasa bahwa ‘dunia tidak sempit, saya tidak sendiri’. Bencana ini memberikan pelajaran kepada saya bahwa, betapa hidup lebih berharga dibanding segalanya.
Libur lebaran kali ini rasanya singkat sekali. Agak susah saya mengatur jadwal untuk ‘malala’ (keluyuran). Tapi berhubung syaraf jalan-jalan saya tidak bisa pernah di ajak kompromi, maka waktu yang singkat tersebut, harus dapat di optimalkan dengan menyambangi beberapa tempat yang sudah masuk list jauh hari sebelum lebaran datang. Sekilas jadwalnya adalah :




Komentar Terakhir