Pukul 12.30 WIB. Telepon seluler saya sedang dalam status ‘silent’. Tentu saja panggilan masuk tidak bisa diketahui. Ada sekitar 5 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Setelah di cek ternyata dari salah seorang adik bernama Khalid. Lima kali panggilan, berarti ada hal yang pentig. Saya masih menduga-duga ada apa gerangan. Maksud hati hendak menghubungi balik, tetap malah keduluan. Panggilan ke enam berhasil tersambung.
“Hallo, ada apa khlaid ?”
“Ini bang, tadi Reza menyerahkan buku tabungan beasiswanya, lalu dia bilang dia mau berhenti sekolah dan sore nanti akan berangkat ke Kerinci..”
Astagfirullah…saya tak bisa mengerti, kenapa bisa terjadi. Khalid dan Reza adalah dua dari 32 orang anak yang masuk kedalam program beasiswa yang sedang kami jalankan, khusus bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan secara ekonomi, tetapi memiliki semangat untuk sekolah. Mereka bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan sekolah, oleh karena itu kami bermaksud mengurangi beban anak-anak tersebut melalui beasiswa ini.






Sepuluh hari telah dilewati saat gempa besar mengguncang Sumatera getarannya begitu hebat hingga menyebabkan banyak sekali kerusakan. Setelah kejadian, semua saluran komunikasi terputus dan listrik padam. Tak ada kabar berita Sumatera Barat, khususnya Padang dan Pariaman seolah terisolasi jauh. Setelah gempa berlalu dan perlahan komunikasi mulai lancar, banyak yang bertanya kepada saya, “sedang apakah saya saat kejadian berlangsung”. Inilah sekelumit kisah menjawab pertanyaan itu.
Saya baru bisa posting setelah bencana gempa terjadi. Tidak banyak yang bisa aku sampikan, keculai memberikan kabar kepada sabahat blogger semua bahwa aku sehat walafiaat. Keluarga juga sehat walafiaat. Hanya kerusakan rumah saja. Saya terharu melihat berbagai komentar baik di facebook dan blog dari teman-teman. Betapa saya merasa bahwa ‘dunia tidak sempit, saya tidak sendiri’. Bencana ini memberikan pelajaran kepada saya bahwa, betapa hidup lebih berharga dibanding segalanya.
Libur lebaran kali ini rasanya singkat sekali. Agak susah saya mengatur jadwal untuk ‘malala’ (keluyuran). Tapi berhubung syaraf jalan-jalan saya tidak bisa pernah di ajak kompromi, maka waktu yang singkat tersebut, harus dapat di optimalkan dengan menyambangi beberapa tempat yang sudah masuk list jauh hari sebelum lebaran datang. Sekilas jadwalnya adalah :
Lama sudah tak pernag ke mesjid Nurul Iman Padang. Selain karena memang jalur beraktivitas saya tidak mengarah ke mesjid tersebut, ditambah lagi hamper dua tahun belakangan ini, mesjid terbesar di Kota Padang ini sedang dilakukan renovasi. Sebenarnya renovasi telah selesai sejak tahun lalu dan telah diresmikan penggunaanya oleh Wakil Presiden RI, tatkala berkunjung ke Padang.




Komentar Terakhir