…dia memutuskan berhenti…

Pukul 12.30 WIB.  Telepon seluler saya sedang dalam status ‘silent’.  Tentu saja panggilan masuk tidak bisa diketahui.  Ada sekitar 5 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama.  Setelah di cek ternyata dari salah seorang adik bernama Khalid.  Lima kali panggilan, berarti ada hal yang pentig.  Saya masih menduga-duga ada apa gerangan.  Maksud hati hendak menghubungi balik, tetap malah keduluan.  Panggilan ke enam berhasil tersambung.

“Hallo, ada apa khlaid ?”

“Ini bang, tadi Reza menyerahkan buku tabungan beasiswanya, lalu dia bilang dia mau berhenti sekolah dan sore nanti akan berangkat ke Kerinci..”

Astagfirullah…saya tak bisa mengerti, kenapa bisa terjadi.  Khalid dan Reza adalah dua dari 32 orang anak yang masuk kedalam program beasiswa yang sedang kami jalankan, khusus bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan secara ekonomi, tetapi memiliki semangat untuk sekolah.  Mereka bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan sekolah, oleh karena itu kami bermaksud mengurangi beban anak-anak tersebut melalui beasiswa ini.

Lagi

…Saya Memulai Lagi…

Mulai Lagi Dengan Perlahan.

Ada satu pesan yang masuk ke ‘wall’ di FB saya.  Bunyinya kira-kira begini “selamat ulang tahun, mana tulisanmu lagi’.  Agak sulit mendiskripsikan bagaimana saya menanggapi pesan itu.  Yang jelas kerinduan saya untuk kembali mengisi blog www.imoe.wordpress.com kembali ‘mengebubu’.  Entah apa, akhirnya saya tuliskan saja beberapa catatan penting paling mengesan di ujung tahun 2010 dan awal 2011.

Pertama.  Senang dan Sedih.

Senang, akhirnya saya dan teman-teman bisa memberangkatkan tim untuk melakukan kegiatan pendampingan psikososial bagi anak-anak korban gempa dan tsunami di mentawai.  Luar biasa senangnya kami dengan semua ini, karena perjuangan untuk sampai ke mentawai sangat berliku.  Bukan karena tidak ada yang mau berangkat, tetapi kami harus berjibaku mengumpulkan sumbangan dari semua pihak untuk membiayai perjalanan tim kesana.  Bahkan recehan demi recehan dikumpulkan setiap saat oleh teman-teman saya.   Setelah sekian lama mengumpulkan sumbangan, akhirnya diputuskan untuk tetap memberangkatkan tim dengan kondisi keuangan yang ada.  Dengan tekat KUAT dan BERHEMAT, kami putuskan memberangkatkan 10 orang tim ke mentawai.

Lagi

…lagu dan badut untuk mentawai…

Orang-orang mulai melupakan mentawai, semua berbondong-bondang ke merapi.  Gak ada salahnya siy, tapi sedih aja melihat kenapa seolah-olah sanak saudara di mentawai di lupakan.  Hinga saat ini saja, seluruh relawan masih berkutan dalam situasi sulitnya penyaluran bantuan sembako dan peralatan hidup lainnya.  Tapi tak apa, yang penting semua kita masih tetap menginat bahwa masih ada sodara di sudut pulau sana.

Kami sangat ingin sekali kesana.  Ingin sekali berbagi dengan anak-anak disana, karena banyak anak yang kehilangan keluarga, menalami mungkin kecacatan, taruma karena masih terbayang dahsyatnya tsunami.  Tapi kami harus rela menunda keberankatan, karena sampai saat ini kami pun belum sepenuhnya memiliki amunisi cukup untuk memberankatkan tim ke sana.

Lagi

… anak lagi …

Ntah kenapa, saya selalu di sodori berbagai kaus anak yang “bermasalah”.  Sebetulnya tidak cocok juga kata-kata anak bermasalah tersebut, karena sejatinya bukan anaklah yang membuat masalah tu terjadi, tetapi lebih karena orang dewasa yang ada disekitarnya yang menjerumuskan anak dalam situasi sulit.

Sudah 3 minggu saya menangani kasus seorang anak usia lebih kurang 5 tahun, yang ditemukan terlantar di sekitar Pariaman.  Tidak gampang mengurusnya, karena si anak memilki ciri-ciri perilaku autistik, sehingga sulit sekali di peroleh informasi perihal jati dirinya.  Jangankan untuk menyebutkan identitas keluarga, menyebutkan namanya saja dia tidak bisa.  Jadilah kami memberinya nama BERKAH.

Kami yang mengurusnya tidak tahu, apakah memang benaranak ini pergi begitu saja dari rumahnya, atau malah sengaja dibuang oleh keluarganya atau korban penculikan yang di telantarkan.  Tidak tahu…yang jelas, masalahnya ada di hadapan kami dan kami harus mengurusnya.

Sudah beberapa panti anak dengan kebutuhan khusus kami hubungi untuk mencaritempat penitipan anak ini.  Tetapi tak satupun hingga hari ini yang bersedia menampung, sengan alasan Panti Sudah FULL.  Tak bisa berkata-kata mendengarkan alasan itu.  Apa saja sudah kami lakukan, tetapi hingga kini belum mendapatkan tempat yang lebih baik dan lebih kondusif bagi si anak.

Apa lagi…..yang harus dilakukan ?

“Sejak Kapan Saya Jadi Makelar Kunci UN ?”

Malam hari sebelum Ujian Nasional dilangsungkan, saya sempat di SMS oleh beberapa orang adik-adik yang saya kenal.  Pesan yang mereka kirim intinya nyaris 100 % sama.

“Bang, ada dapat kunci UN gak ?”

“Bagi kunci UN dong…”
”O ya bang, takut niy gak lulus, kalo bang dapat bocoran kunci kasih tau ya…?”

Malah ada versi yang lebih vulgar…

Lagi

“proyek gila”

Minggu sore, saya dan 3 orang teman lain (Iben, Agung dan Ady) menuju Sari Anggrek di bilangan Permindo.  Tujuan kami satu yakni mencoba menggali informasi dan mencoba mendekati anak buta dan ibunya yang buta juga dan beraktifitas mengemis di depan pertokoan itu.  Sempat terjebak macet di Pasar Raya akibat menumpuknya angkutan umum di tengah jalan yang sempit, akhirnya kami berhasil parkir di depan toko itu.  Dari dekat sudah leihatan apa yang kami tuju.  Tapi kali ini berbeda, ada 2 orang anak gadis, dua ibu buta dan seorang anak usia 4 tahunan yang buta (yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya).

Kami kesulitan untuk mencari cara mendekati, karena saat itu kami lihat begitu ramai pengunjung toko, takutnya aksi kami nanti menarik perhatian orang lain dan tujuan semula buyar.  Kami putuskan masuk ke dalam toko, langsung ke lantai II dan memilih milih buku untuk dibeli (lantai II adalah toko buku).  Setelah 30 menit, dan saya sempat membeli satu buku, kami lalu turun dan kembali ke parkiran.  Kami lihat si anak yang buta tersebut sedang menangis.  Agaknya lagi kesal, ntah kenapa kami tak tahu.  Anak gadis dan ibu nya yang buta membujuk anak tersebut.  Tiga teman saya yang lain menuju parkiran, saya terhenti sesaat di depan mereka.  Saya lihat dan amati cara duduk mereka di trotoar di atur sedemikian rupa.  Di kiri dan kanan, duduk dua anak gadis yang juga menegadahkan ember, di tengah-tengah duduklah dua ibu buta yang menengadahkan ember juga dan anak kecil buta terakhir berkeliaran diseputar situ juga sambil menyorongkan meber kecil.

Lagi

“Saya Ingin Segera Ke Padang”

Ini hari Kamis, saya sudah tidak sabar lagi untuk segera ke Padang.  Maklumlah, beberapa waktu belakangan saya mulai bekerja sebagai “pelayan masyarakat” di Kota Pariaman.  Sebetulnya Pariaman dan Padang itu tidak jauh.  Hanya saja sementara ini saya memilih menetap di Pariaman ketimbang bolak balik ke Padang.

Saya tidak sabar…ingin segera pulang….ingin segera ke depan Supermarket SARI ANGGREK.  Sebuah tempat perbelanjaan di bilangan Permindo Padang.

Lagi

…akhirnya…

1Tidak pernah terbayang oleh saya untuk memfasilitasi sebuah kegiatan di bulan puasa ini.  Apalagi yang akan difasilitasi adalah kelompok anak-anak dengan beragam tingkah polah, serta beragam usia.  Jadilah proses fasilitasi anak-anak di bulan puasa ini menjadi semakin berat.  Secara fisik, maupun emosi.  Tapi so what githu lo…ini adalah hal ikhwal yang selama ini dinanti oleh anak-anak Kota Padang.

Kembali kebelakang sejenak.  Sejak sebulan yang lalu, saya dan teman-teman gencar sekali melakukan lobby dan negosiasi kepada Pemda Padang untuk memfasilitasi kegiatan Forum Anak Kota Padang.  Maklumlah, kami tentu saja akan bekerja dengan anggaran pemerintah, yang barangkali item kegiatan tersebut tidak pernah terpikirkan oleh para pembuat keputusan di dinas terkait.  Otomatis diperlukan upaya yang sedikit ekstra untuk meyakinkan dinas terkait bahwa, kegiatan ini penting.

Lagi

…sidang aneh…

sidang1Dua hari yang lalu, pukul 10 pagi saya telah hadir di Pengadilan Negeri Padang untuk menyaksikan jalannya sidang kedua kasus anak.  Ini kasus yang cukup menarik perhatian kami semua, karena perkaranya adalah perkara antara sesama anak-anak yang akhirnya melebar kemana-mana dan melibatkan orang tua.  Jadilah kasus ini kami lihat sebagai bentuk akumulasi kekesalan salah satu pihak orang tua, akibat merasa anaknya dirugikan, dan memang kenyataannya anaknya dirugikan dalam kasus ini.  Tetapi membawa kasus ini ke proses hukum formal, kami anggap tidak pas juga, karena unsur ketidak sengajaan dalam kasus ini banyak sekali.  Apalagi yang terlibat adalah anak-anak usia 8 tahun.

Sesampai di pengadilan, saya dapat informasi bahwa anak yang digugat (anak yang dituduh bersalah) sedang dalam kondisi tidak fit.  Berdasarkan aturan hukunya, terdakwa hanya boleh diperiksa jika dalam keadaan sehat baik jasmani maupun rohani.  Berdasarkan itulah kemudian sidang ditunda.

Lagi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.