Pukul 12.30 WIB. Telepon seluler saya sedang dalam status ‘silent’. Tentu saja panggilan masuk tidak bisa diketahui. Ada sekitar 5 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Setelah di cek ternyata dari salah seorang adik bernama Khalid. Lima kali panggilan, berarti ada hal yang pentig. Saya masih menduga-duga ada apa gerangan. Maksud hati hendak menghubungi balik, tetap malah keduluan. Panggilan ke enam berhasil tersambung.
“Hallo, ada apa khlaid ?”
“Ini bang, tadi Reza menyerahkan buku tabungan beasiswanya, lalu dia bilang dia mau berhenti sekolah dan sore nanti akan berangkat ke Kerinci..”
Astagfirullah…saya tak bisa mengerti, kenapa bisa terjadi. Khalid dan Reza adalah dua dari 32 orang anak yang masuk kedalam program beasiswa yang sedang kami jalankan, khusus bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan secara ekonomi, tetapi memiliki semangat untuk sekolah. Mereka bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan sekolah, oleh karena itu kami bermaksud mengurangi beban anak-anak tersebut melalui beasiswa ini.







Tidak pernah terbayang oleh saya untuk memfasilitasi sebuah kegiatan di bulan puasa ini. Apalagi yang akan difasilitasi adalah kelompok anak-anak dengan beragam tingkah polah, serta beragam usia. Jadilah proses fasilitasi anak-anak di bulan puasa ini menjadi semakin berat. Secara fisik, maupun emosi. Tapi so what githu lo…ini adalah hal ikhwal yang selama ini dinanti oleh anak-anak Kota Padang.
Dua hari yang lalu, pukul 10 pagi saya telah hadir di Pengadilan Negeri Padang untuk menyaksikan jalannya sidang kedua kasus anak. Ini kasus yang cukup menarik perhatian kami semua, karena perkaranya adalah perkara antara sesama anak-anak yang akhirnya melebar kemana-mana dan melibatkan orang tua. Jadilah kasus ini kami lihat sebagai bentuk akumulasi kekesalan salah satu pihak orang tua, akibat merasa anaknya dirugikan, dan memang kenyataannya anaknya dirugikan dalam kasus ini. Tetapi membawa kasus ini ke proses hukum formal, kami anggap tidak pas juga, karena unsur ketidak sengajaan dalam kasus ini banyak sekali. Apalagi yang terlibat adalah anak-anak usia 8 tahun.




Komentar Terakhir