“kerelawanan…bukan berarti tanpa pamrih lho…”

Standar

Tanggal 21 dan 22 Maret 2008 yang lalu, saya dan teman-teman berkumpul untuk mendiskusikan sebuah hal yang sangat hakiki dari kerja-kerja ‘kemanusiaan’ (katanya siy begitu) yang pernah kami lakukan….apa benar atau tidak seluruh kerja kami untuk ‘kemanusiaannn’ hanya tuhan yang tahu..

Apakah ‘sebuah hal’ tersebut….yaitu ‘kerelawanan’.

Mulanya oleh fasilitator, kami diajak untuk bermain-main, sebuah permainan yang mengasah intuisi kita sebagai seorang manusia.  Setelah itu kami di sodorkan empat pertanyaan yang bikin kami sebuah ‘tercenung’.

1.  Hal apa yang paling berarti yang pernah dilakukan selama melakukan aktifitas untuk kemanusiaan.

2.  Kalau begitu, apa maknanya bagi diri sendiri.

3.  Apa yang melatar belakangi diri sendiri melakukannya (pertanyaan nomor 1).

4.  ………..lupa niy pertanyaan nomor 4.

Pertanyaan itu membuat semua kami diam beberapa jenak…tak tahu mesti ngomong apa, karena 4 pertanyaan tersebut ibarat ‘cermin’  yang mampu menelanjangi diri kita sendiri.

Lanjut……..kami kemudian mendiskusikan tentang ‘makna kerelawanan’.  Kesimpulannya sudah dapat diduga…..”hampir sebagian besar menyatakan bahwa kerelawanan itu sama hal nya dengan tanpa pamrih’.

Untuk membuktikan apakah kerelawanan itu identik dengan tanpa pamrih maka kami diajukan satu pertanyaan “apa dasar yang melatar belakangi segala aktifitas kemanusian yang dilakukan selama ini’.

Hampir semua menjawab…”bahwa kami melihat ada persoalan di tengah-tengah masyarakat”

Lalu kami di tanya lagi oleh fasilitator…”lalu apa yang anda dapatkan setelah melakukan itu semua”

Hampir semua menjawab…”tidak ada yang kami dapatkan keculai kami merasakan bahwa hati, pikiran, pengetahuan dan sikap kami semakin bertambah kualitasnya setelah melakukan itu semua”

Kami ditanya lagi…”kalau begitu, bukankah apa yang anda dapatkan itu sama halnya dengan pamrih, walupun bentuknya tidak materi ?”

Ooooooooooooooooooooo semua melongo……………………..

Fasilitator kemudian berkomentar…………………………

“Ingat, kita melakukan kerja-kerja kemanusiaan dalam rangka membuat sebuah perubahan sosial.  Maka, niat-niat baik kita itu hendaknya dikerjakan dengan tepat.  Oleh karena itu bekerjalah dengan ilmu.  Niat baik saja tidak cukup, perlu ilmu untuk melakukannya.  Niat baik jika tidak bisa di kerjakan secara baik (tanpa ilmu), malah bukan menghasilkan sesuatu yang baik, tapi malah meeusaj sebuah tatanan sosial yang telah ada.  Jadi kerelawanan bukan tanpa pamrih.  Setiap orang memiliki dasar melakukan sesuatu, maka berharaplah pamrih yang anda inginkan sebagai pekerja kemanusiaan adalah ILMU”.

Oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo  semua melongo………..dan termenung…merefleks diri masing-masing………………

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s