‘membangun komunitas street art (sebenarnya bukan begitu)’

Standar

Manusia butuh identitas….itu satu hal yang pasti, karena identitas adalah strategi manusia untuk bisa tetap eksis dalam menjalankan hidup.  Jadi jangan heran kalo para politikus bela-belain untuk menyua, agar posisi politis mereka semakin kuat.

 

Lain politikus, lain lagi anak muda.  Banyak cara anak muda untuk mendapatkan identitas.  Ada yang senang dibilang anak motor karena hobby keliling kota pake motor, ada yang kepingin di panggil anak gunung karena hobby naik turun gunung, ada yang mau di panggil anak band karena hobby ngeband dan yang satu ini beda pula……mereka senang di panggil boomber walaupun sebenarnya mereka bukan teroris.

 

Boomber…itulah istilah bagi mereka yang hobby menumpahkan insting seninya dengan melukis dinding (atau yang lebih sering di sebut spot) di setiap sudut kota. 

 

Mereka bilang…………….

 

Bahwa mereka adalah seniman….(betul apa ngak silahkan tanya ahli seni) tetapi yang jelas mereka mengartikan lukisan mereka sebagai sebuah karya seni.  Walaupun tidak semua orang paham akan arti lukisan dinding tembok mereka, karena memang seni bukan ditujukan untuk semua orang, sebuah karya seni memang punya maksud dan tujuan penikmat seni tertentu.  Tidak semua orang mampu mengatakan bahwa sebuah lukisan abstrak adalah karya seni, hanya mereka yang mampu memahami aliran itu yang patut menilai karya tersebut.

 

Mereka bilang……………

 

Bahwa meraka mengkategorikan aktifitas mereka dengan sebutan STREET ART…..bagi saya itu adalah istilah yang salah.  Menurut saya, istilah itu merendahkan sebuah karya seni yang dihasilkan oleh mereka sendiri.  Menurut saya, betatpun itu, coretan mereka adalah seni (menurut komunitas yang mampu memahami makna coretan itu).  Jadi, sebuah karya seni tidak boleh di identikan dengan sebutan JALANAN karena akan berkonotasi MURAHAN.

 

So……

 

Padang sebagai sebuah kota yang sedang berkembang, tentu tidak luput dengan fenomena anak muda boomber….  Iseng-iseng saya coba mengumpulkan informasi tentang komunitas ini.  Menarik……..saya menemukan beberapa group ada PMA, SNC, SNOT dan PASC……(walaupun ngak tau singkatannya…paling tidak ada beberapa nama yang muncul). 

 

Kalo begitu…….Ternyata banyak juga komunitas mereka………

 

Tetapi sebuah pertanyaan besar yang harus di jawab adalah “mengapa orang-orang selalu mengidentikan aktifitas mereka sebagai hal yang negatif ? Sebagai perusak keindahan kota ? dan lain-lain……

 

Jawabnya sederhana……mereka tidak mampu menhadirkan image positif dari komunitas mereka sendiri”

 

Kenapa …………..?

 

Banyak sebab…barangkalai karena mereka berjalan sendiri-sendiri, tidak membangun visi komunitas bersama, sehingga tak jarang ada keluhan, jika satu group membuat sebauh karya di sebuah spot, maka club yang lainpun akan merusaknya.  Dalam kompetisipun demikian, ndak ada yang benar-benar mampu mengakui kemenangan atau kelebihan group lain.  Padahal, menang kalah dalam sebuah komptisi itu biasa, apalagi yang berkaitan dengan sebuahkarya seni yang memang sangat dipengaruhi oleh insting, pikiran dan mood seseorang.  Jadi siapun bisa menang atau kalah.  

 

Tapi sayangnya statement-statement yang keluar justru salaing mejelekkan, saling menjatuhkan, dan lain-lain yang bernada negatif.

 

Hal sama pernah terjadi di Jogja…gudangnya para seniman termasuk para boomber…tapi bedanya, mereka cepat sadar untuk segera membangun visi komunitas, karena tanpa visi bersama tidak akan lahir kekuatan…dan ternyata kahirnya sekarang mereka di jogja malah mendapat dukungan dari pemerintah daerah setempat untuk mencurahkan ide mereka di setiap spot yang lowong di Jogja, walaupun bedanya, seniman muda di Jogja mulai mengalihkan aktifitas mereka ke MURAL (tapi its ok, yang penting sama-sama melukis di tembok).  Dari tanganmereka lhir beragam karya yang tidak hanya bermuatan hiburan saja, tetapi sudah merambah ke area kritik sosial, politis, dll.

 

Dan akhirnya, karya mereka bukan lagi sebuah SENI JALANAN yang dianggap MURAHAN….

 

Semoga Padang juga bisa…………………..

Iklan

4 thoughts on “‘membangun komunitas street art (sebenarnya bukan begitu)’

  1. catra

    ditunggu kemurah hatian dan ke”gaul”an pemko padang………..

    tapi kayakny, para bomber lebih tertantang untuk menghasilkan “karya” di tempat umum sehingga saingannya bilang bomber ini berani buat gambar di jalan utama, nekad, dan bakalan dipandang di komunitasnya…

    semoga saja paradigma ini bakal berubah

  2. Apresiasilah untuk orang2 yg menggerakan komunitas seniman tanpa kantor. Seniman tanpa kantor yg lebih jujur (termasuk jujur dalam memangkas atau menghabisi hasil seni orang lain) mereka tidak seperti seniman kantor yang sekarang sudah mulai bicara tentang hak-hak seniman demi kursi

    “Every people round in their roles, some people doing anything same with others (no ideas), and just little bit people who keep honest.
    so, where u?”
    let’s we see

  3. riam

    test,…dicoba,…

    asalamualaikum ww,…
    pertama dan utama sekali saya mau mengucapkan selamat atas kelahiran blog nak rang piaman ini (atau nak tunggua itam,..?)akhirnya celotehannya bisa di dengar (dibaca) kapan dan oleh siapa saja,.., mudah-mudahan berguna,….keep update ya,…;p;p

  4. mang d padg saya melihat dah mulai da grapiti yg menghias kota padang ini

    saya melihat kebanyakan dari grapiti ini tidak obah ny dengan coretan2 yg biasa kita temui d wc
    kenapa saya bilang begitu
    karena mereka membikin ny tidak serius, kelihatan hanya ingin memberitahu bahwa ini lah dia yg suka corat-coret
    dan saya tidak setuju kalo kata bomber d semat kan pada mereka

    pakah mereka itu sudah tau pa itu berkarya
    pakah dalam berkarya itu meninggalkan karya yg tidak selesai lalu d berkarya lagi d tempat lain merasa g’ mungkin selesai trus d tinggal ja

    kita tau jogja, bandung, jakarta d sana banyak terdapat grapiti, mural, dsb pakah mereka meninggalkan pekerjaan ny yg terbengkalai

    dan mereka melakukan itu dengan biaya yang mahal dan tanpa bantuan dari pihak manapun
    tp apa yg d hasilkan ny sebuah karya yg membuat orang berdecak kagum
    itulah salah satu mungkin penyebab mengapa d kota tsb d terima karya street art
    karana mereka berkarya tidak mencorat coret tidak karuan

    para bomber padang harus pa itu berkarya dan banyak melihat, membaca, dan bercermin dari kota joga, bandung, jakarta, dsb

    jangan corat coret tapi berkarya

    tu kesimpulan saya terhadap bomber padang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s