…komitmen pada secarik kertas contekan eka (sang bocah ajaib)…

Standar

Andhika Nugraha atau lebih akrab di panggil Eka. Anak kecil, imut ini baru kelas V di salah satu SD swasta di Kota Payakumbuh. Perawakan yang kecil, penuh senyum, lucu dan supel. Singkat kata, setiap yang melihat dan mengenalnya langsung senang, karena dirinya menghadirkan keceriaan khas anak-anak.

Inilah yang terjadi dalam kegiatan Forum Anak Sumatera Barat 2008, di Padang 29-30 April 2008, bertempat di Balai Diklat Bhakti Bunda.

Mengenal Eka tentu saja membuat saya penasaran. Dalam dirinya tercermin sebuh pola asuh yang demokratis dan bijaksana yang dikembangkan oleh orang tuanya di rumah. Tentu saja perkiraan saya tidak meleset, karena beruntung, malam itu saya bisa langsung ketemu dengan sang papa nya tercinta. Kami ngobrol panjang tentang banyak hal dan kami langsung klop karena memiliki latar belakang kulaih yang hampir sama. Si Bapak adalah seorang dokter hewan dan saya adalah seorang peternak (mau nya siy….). Jadilah kami malam itu ngegosipin hal-hal yang tak jauh dari kambing, unggas, kerbau, sapi hingga flu burung. Yang jelas..bapaknya Eka orangnya enak di ajak diskusi.

Eka si pencuri hati ini tentu saja di sambut hangat oleh hampir seluruh peserta forum anak. Mulai dari yang besar hingga teman seusia dia, langsung klop dengan tawa dan candanya.

Lanjutkan membaca

…anak perempuan sikakap mentawai korban kekerasan, ditemukan di nias (part 1)…

Standar

Payakumbuh, 25 April 2008, Pukul 16.00 WIB.

Saya lihat, ada 5 kali panggilan tak terjawab dalam HP saya. Nomor misterius, tak pernah saya kenal, +062639XXXXX. Saya bingung…

“Nomor siapa dan dari mana ya ?” Begitu otak saya bertanya-tanya.

Memang, saya tidak mendengar ada panggilan masuk, karena saat itu saya sedang memfasilitasi kegiatan Forum Anak Kota Payakumbuh. Terang saja HP saya silent dan kemudian saya taruh di dalam tas.

Karena saya penasaran, saya kemudian menelpon balik.

Tulallit. Tulalit, tulalit ngak masuk-masuk. Saya makin penasaran dan sejurus kemudian menghubungi kembali. Alhamdulilahh masuk, tapi saya kecewa lagi, karena ternyata telpon saya tidak diangkat-angkat. Ya…sudah lah….saya pikir, kalo dia ada perlu pasti ditelpon lagi. Saya kemudian melanjutkan kegiatan dengan anak-anak Payakumbuh.

Barangkali saya tidak ingat akan nomor misterius itu, kalo saya ngak ngutak-ngatik HP ketika dalam perjalanan pulang ke Padang dari Payakumbuh. Saking penasaran dengan nomor itu lagi, saya kemudian minta bantuan salah seorang teman di Padang.

SMS saya berbunyi :

“Gung, tlg cr tau nmr ini dong +62693XXXXX, cpt ya”

Lanjutkan membaca

…24 dan 25 April Ceria di Kota Payakumbuh…

Standar


Galamai………I am coming…….

Senang tak terkira begitu mendapatkan tawaran dari PEMDA Kota Payakumbuh untuk menjadi fasilitator dalam kegiatan di sana. Bukan hanya senang karena sebentar lagi akan menapakkan kaki ke kota yang sudah lama tak saya kunjungi ini, tetapi yang paling penting adalah, bertemu dengan kelompok anak-anak kreatif dan peduli dari kota yang terkenal dengan makanan galamai ini.

Ya…bertemu dengan anak-anak kreatif dan peduli memang memberikan pengalaman yang selalu berkesan bagi saya. Entah kenapa, setiap kali berdiskusi dengan kelompok anak-anak, membuat saya selalu merasa di telanjangi, karen selalu saja saya mendapatkan komentar, statement, celetukan yang kadang-kadang membuat kita orang dewasa merasa belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan kepada mereka (anak-anak). Oleh karena itu, saya melakukan persiapan jauh-jauh hari nenyambut tanggal 24 dan 25 April 2007 ini. PENASARAN……….

Pagi itu saya menuju terminal travel yang akan membawa saya ke Payakumbuh. Sesampai di sana hari menunjukan pukul 08.00 WIB. Sialan…saya dag dig dug, ternyata tuh travel belum ada isinya. Saya pikir ni travel bakalan nunggu penumpang sampai penuh dulu. Tapi karena nggak ada pilihan lain, akhirnya saya terpaksa menhenyakkan pantat di bangku nomor 4. Nungguuuuuuuuuuuuu

Alhamdulilah, seolah-olah hari itu memang milik saya, tak samapi 30 menit, semua bangku sudah terisi penuh dan kami semua berangkat menuju payakumbuh.

Perjalanan ke Payakumbuh memakan waktu hampir 3 jam. Waktu yang cukup lama. Selama perjalanan saya hanya bisa menebak-nebak, seperti apakah teman-teman muda di Kota Payakumbuh, bagaimana cara yang harus saya lakukan untuk memfasilitasi mereka, apakah saya masih mampu? Beribu tanda tanya hadir di kepala saya, dan akhirnya saya terlelap dalam perjalanan. Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzztttttttttttttttttttttttttt

Lanjutkan membaca

…percakapan tentang menstruasi…

Standar

21 April 2008

Senin itu, sama seperti senin-senin yang lainnya, begitu terasa berat…ya..maklumlah…saya termasuk orang yang setuju dengan ujaran “I don’t like Monday”. Seolah-olah diri saya menolak adanya hari senin.

“Kenapa mesti ada Seni, ahhhh membosankan”. Begitu kadang-kadang otak saya bekerja.

Tapi ternyata tidak mudah untuk meniadakan Senin dalam kehidupan saya. Sangat sulit….

“Hari Senin aja ya, diurus lagi….”

“Gimana kalo Senin aja, kan hari pertama ngantor, pasti pejabatnya hadir…”

“Senin aja deh…ni kan akhir minggu, jangan ngurus yang begituan…”

Begitu selalu, kalau saya ingin menyelesaikan sebuah pekerjaan. Seolah-olah Senin begitu mukjizat, sehingga seluruh kerjaan bisa selesai oleh SENIN.

Tapi, Senin, 21 April 2008, ternyata lain dari yang lain. Bukan hanya karena bertepatan dengan hari Kartini, tetapi ada pengalaman menarik bersama seorang kartini muda belia yang saye temui di atas angkot. Begini ni ceritanya…

Lanjutkan membaca

…pak ustadz VS kondom…

Standar

Suatu ketika, dalam acara diskusi publik mengenai Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja di Padang yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lain-lain. Saya di debat..di tunjuk pake tangan kiri dan kemudian di cerca…

Persoalannya sederhana…perdebatan soal KONDOM….

Saya sampaikan, bahwa salah satu pencegahan HIV dan AIDS adalah melalui KONDOM, akan tetapi pendekatannya lebih di peruntukan bagi kelompok beresiko tinggi. Karena tanpa KONDOM, maka penularan akan semakin tidak terkendali…..Perlu intervensi dan kebijakan pemerintah untuk mengendalikan laju penularan melalui promosi KONDOM kepada kelompok beresiko tinggi.

Lalu, salah seorang yang mengaku ulama angkat tangan…..

“Saya tidak setuju, anda tidak beragama, itu sama saja melegalkan seks bebas, dimana moral anda, anda mendorong orang untuk melakukan seks bebas, bal, bla, bla”.

Lanjutkan membaca

…Orang Pariaman KALAU MERANTAU….

Standar

Siang itu sebelum belajar tentang PENULISAN ARTIKEL dengan Bang Adam…

“Sia yang urang pariaman disiko ?”

Saya menunjuk…..lalu Bang Adam melanjutkan……

“Ambo ado carito tentang urang pariaman pai marantau.  Urang pariaman kalau pai marantau iyo sabana hebat…”  Saya jadi tertarik bertanya, karena merasa orang pariaman…

“Kok gitu bang…..?”

Si abang melanjutkan….

“Urang pariaman kalau marantau sederhananyo, nyo bae mambaok ciek karambia.  Kalau nyo dijalan nyo nio mandi, nyo tingga ambiak sabuik karambia, nyo bae mandi.  Kalau nyo auih, nyo balah karambia, nyo bae minum aia karambia.  Kalau nyo lapa, nyo cukia isi karambia, nyo bae makan isi karambia tu.  Alun juo kanyang lai, pitih indak ado…nyo bae ambiak tampuruang karambia tadi, nyo bae manampuang..sadakah lah da, sadakah lah ni, awak lapa aa…kasihan lah ni, sadakah lah da…”

Hahahahahahahahahahah……

Saya ketawa dan tersenyum….dalam hati…..

“Sialan si ADAM…bikin malu aja….TAPI ADA BAGUSNYA JUGA….NI KRITIK BAGI ORANG PARIAMAN…JIKA KITA AMBIL SISI POSITIFNYA…MAKA ORANG PARIAMAN ITU KREATIF…”

Hehehehehehehehehe HOYAK TABUIKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK

…anak-anak muda TAK PERCAYA DIRI di PADANG…(kacian…)

Standar

Padang, 13 April 2008

Kejadian bermula di Cemara……

“Capek lah bang…ka Hotel Bumi Minang wak lai…tapi mancaliak kawan wak tua aa, nyo audisi jadi artis”.

“Tunggu sabanta dulu…ko motor GP ka Start a…”

“Iyolah…..”

Lalu, di televisi di tayangkan START Motor GP. Valentino Rossi terdepan di beberapa lap awal..belum memasuki lap yang ke 10, sang teman ‘maansik’ lagi untuk segera berangkat menuju Hotel Bumi Minang. Akhirnya kami berangkat. Tak sampai 10 menit kami sampai di Hotel…kerumunan anak-anak muda saya lihat begitu memasuki kawasan parkir. Kami menju ruangan Puti Bungsu dan…MASYALLAHHHH begitu banyak anak muda dengan beragam corak gaya berkerumun menghadap panggung. Tak hayal lagi…di panggung sedang ada beberapa orang anak muda sedang di PERMAINKAN oleh MC sesuak hatinya. Disuruh melenggok, menari, di olok-olok seperti topeng monyet dan lain-lain… Pokoknya MC menjadi oarang yang paling berkuasa….

Di sudut-sudut panggung terlihat 3 orang JURI cowok yang katanya artis…(bener atau gakkk saya juga gak tau…) yang jelas tampangnya mentereng. Satu persatu peserta yang ada di atas panggung di tanya….dan jawabanya STANDAR………………..

“Motivasi saya untuk mengikuti audisi ini adalah UNTUK MENJADI TERKENAL DAN MENYENANGKAN ORANG TUA…” (omong kosong tuh …………).

Satu persatu Juri menjatuhkan pilihan,…

“Yang baju merah saya ambil, baju hitam sorry ngakkk, yang baju biru Ok dan yang baju kuning CUT. BEgitu sang juri melakukan eksekusi terhadap calon…

Nah…setelah kelompok peserta pria di Eksekusi….maka sang MC memanggil kelompok peserta WANITA…

“Baik, saya panggil untuk ke atas stage…

Lanjutkan membaca