….muntah ya dek ?….

Standar

Padang, 8 April 2007

Pagi itu saya berencana menuju Kab. Solok. Biasalah…di minta untuk jadi narasumber dengan topik “Aspek-Aspek Perlindungan Anak”. Kegiatan ini diadain oleh Pemerintah Daerah Kab. Solok. Peserta adalah ibu-ibu PKK dari seluruh Kab. Solok dan Majelis Ulama Indonesia Kab. Solok.

Saya tidak akan menceritakan, gimana situasi diskusi di Kab. Solok. Tapi yang mau saya bagi adalah kisah kecil yang mewarnai perjalanan saya menuju Solok.

Pukul 10.00 WIB, saya sudah berada diatas bus kota jurusan Tabing-Pasar Raya. Saya yakin, tidak akan terlambat, karena jadwal ngasihmateri di Solok adalah Pukul 13.30 WIB. Saya duduk persi di bangu paling belakang bus kota. Ntah kenapa, beberapa tahun belakangan di Padang muncul semacam aturan tidak resmi yang mengatur tempat duduk penumpang laki-laki dan perempuan. Perempuan biasanya duduk di bangku bagian depan dan laki-laki di bagian belakang.

“Padusi di muko, laki-laki di balakang”, begitu biasanya kenek bus meneriaki penumpang yang akan naik.

Bus, tidak berisi banyak. Yang saya tau, di bangku paling belakang yang semestinya di isi oleh 5 penumpang, hanya terisi 3 orang penumpang, termasuk saya.

Bus berjalan pelan, karena mau nyari penumpang sebanyak-banyaknya. Stengah jam diatas bus, persis di depan AMIK Indonesia, perhatian saya tertuju ke beberapa orang penumpang yang tiba-tiba buru-buru pindah ke bangku belakang. Saya bertanya dalam hati…

“Ada apa gerangan..?”

Akhirnya saya mencari tahu. Wow…astagfirullah…ternyata salah seorang penumpang MUNTAH dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Saya perhatikan penumpang tersebut ternyata seorang siswa SMP, memegang papan alas untuk ujian, berpakaian batik warna biru dan celana dongker panjang (seragam SMP). Saya tidak tahu sekolahnya di mana, karena gak berhasil menemukan identitas si anak. Kayaknya tuh anak mau ke sekolah, mau ujian, karena memang lagi musim ujian MID semester.

Si anak pucat pasi, mata besarnya melirik sana-sini, mungkin malu, tapi mungkin juga pusing. Saya langsung menyimpulkan si anak lagi sakit. Muntah ternyata telah membasahi bangku yang didudukinya, membasahi tangan dan tubuhnya. Aduhhhhhhhhh kasian sekali. Di tengah-tengah bingung bercampur malu itu, saya kemudian mencari-cari sesuatu dalam tas, siapa tahu bisamembantu si adek…ALhamdulilahhhhhhhhhh saya menemukan sapu tangan…saya ulurkan sapu tangan dan dia menerimanya.

“Sakik yo diak….ko sapu tangan aaa, lap lah badan tuh…jan cameh lo lai, tanag se…”

“Mokasih bang….” sianak mengucapkan terima kasih.

“Dima sikola diak…” saya kemudian bertanya…

“Adabiah bang….” sianak menjawab dengan lemas…

“Kalau sakik..rancak pulang se lah liak…beko paniang beko di tangah jalan…”

SI anak tidak menjawab..hanya diam…

Saya kemudian melirik penumpang yang ada…SIALAN…KEPARAT…mata para penumpang itu sangat membuat saya marah. MAta-mata mereka menghujam tajam…seolah-olah menyalahkan si anak muntah. Ada yang SOK CANTIK menutup hidung…SIALAN….saya merutuk dalam hati….

“Sialan niy orang, kalau bisa meminta tentu saja si anak tidak akan meminta muntah sembarangan”

Benar-benar tidak ada perikemanusiaan…

DI tengah-tengah situasi itu, seorang ibu kemudian menghampiri. Mungkin kasihan dan prihatin dengan anak itu.

“Anak…rancak pulang baliak…beko di tangah jalan jatuah…,” kata ibu itu.

“Iyo mah diak…pulang selah…., turun siko selah dulu..capek lah…abang pacik an a…masih paniang kan…”

Lalu saya dan ibu memapah si anak turun, persis di depan GOR H Agus Salim. Kami turun bertiga. Sampai di bawah kamipun bingun mau ngapain. Setelah di tanya-tanya ternyata si anak tinggal di Tabing.

Karena buru-buru akhirnya saya mengambil keputusan….

“Bu..ndeh maaf bu…ambo ka pai ka solok buk aaa…kalau ibu se yang mengantar adik ko baaa” Saya mau pamit tuh pada ibu, karena ngak mungkin ngantar anak ke rumahnya. Takut telat nyampe di solok. SI Ibu paham dan akhirnya menjawab…

“Iyolah diak…bia ibu antaaa nyo, ibo wak…taraso dek ibu kalau seandainyo anak ibuk yang bantuak iko”.

“Tarimo kasih buk…”

Saya kemudian stopkan taksi, saya naikan dua orang itu saya berpesan…

“Hati-hati buk…., capek sehat yo diak….”

Si ibu melambai, si anak mengucakan terima kasih…

“Trimao kasih bang……”

Taksi melaju balik arah ke Tabing, saya melanjutkan perjalanan dengan bus lain. Sepanjang perjalanan saya masih berfikir…

SEBEGITUKAH ORANG-ORANG PADANG SAAT INI. TIDAK PUNYA PERASAAN LAGI. ACUH TAK ACUH DENGAN SEBUAH KESULITAN ORANG LAIN YANG SEBENARNYA MAMPU DIA TOLONG ?

Sampai sekarang saya gak habis pikir…………………….

Iklan

4 thoughts on “….muntah ya dek ?….

  1. gama

    pengalaman yang menyentuh bang im. tapi yah itu, kadang gue justru ngerasa, pada suatau saat, gua bisa aja jadi orang yang nggak suka kalau ada yang muntah di dekat gua. mungkin karena buat ortu geu pun kalau gue muntah dimarahin, katanya ngga perhitungan, ngga bisa hidup bersih n tertip, udah tahu sakit, bawa asoi atau apa keh gitu.

    kalau gue, liat, smuanya terjadi karena orang punya kepentingan yang beda2. cuba ada seorang yang pas itu mau pergi ngelamar kerja yang ke 24 kalinya, dia punya tanggungan dan hari itu, adalah harapanya yang besar untuk keterina, trus ada yang muntah semvarangan dekat dia, wah…. berabekan.

    susah memang menyatukan kepntingan dan bisa iklas seperti yang lo lakukan. tapi jujur, salut!!! suata kali gue juga ingin jadi seperti itu.

    thanks. so inspiring! i give u 2 thumbs up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s