…anak perempuan sikakap mentawai korban kekerasan, ditemukan di nias (part 1)…

Standar

Payakumbuh, 25 April 2008, Pukul 16.00 WIB.

Saya lihat, ada 5 kali panggilan tak terjawab dalam HP saya. Nomor misterius, tak pernah saya kenal, +062639XXXXX. Saya bingung…

“Nomor siapa dan dari mana ya ?” Begitu otak saya bertanya-tanya.

Memang, saya tidak mendengar ada panggilan masuk, karena saat itu saya sedang memfasilitasi kegiatan Forum Anak Kota Payakumbuh. Terang saja HP saya silent dan kemudian saya taruh di dalam tas.

Karena saya penasaran, saya kemudian menelpon balik.

Tulallit. Tulalit, tulalit ngak masuk-masuk. Saya makin penasaran dan sejurus kemudian menghubungi kembali. Alhamdulilahh masuk, tapi saya kecewa lagi, karena ternyata telpon saya tidak diangkat-angkat. Ya…sudah lah….saya pikir, kalo dia ada perlu pasti ditelpon lagi. Saya kemudian melanjutkan kegiatan dengan anak-anak Payakumbuh.

Barangkali saya tidak ingat akan nomor misterius itu, kalo saya ngak ngutak-ngatik HP ketika dalam perjalanan pulang ke Padang dari Payakumbuh. Saking penasaran dengan nomor itu lagi, saya kemudian minta bantuan salah seorang teman di Padang.

SMS saya berbunyi :

“Gung, tlg cr tau nmr ini dong +62693XXXXX, cpt ya”

SMS teman membalas :

“Gak angk2 bang, ada apa?”

SMS saya lagi :

“Dr td miskol. Tp tlg carikan kode wil nya ya?”

SMS teman lagi :

“Bg, kode wil, gunung sitoli, nias”

Duuuuaaaarrrrrrrr, sayabegitu kaget

“Jangan-jangan saya di panggila wawancara untuk sebuah kerjaaan yang saya lamar di Nias.”. Begitu kata hati saya, saya mangkin bingung. Takut kehilangan kesempatan.

Keesokan harinya saya kemudian coba langsung menghubungi kembali nomor misterius tersebut. Tapi nihil gak diangkat. Seorang teman berkata :

“Udahlah bang, kalau rejeki ngak kemana.”

“Ya…bang juga pikir begitu, kalo rejeki nggak kemana, yul kita pergi”

Saya kemudian meninggalkan wartel bersama teman itu.

Tidak berapa lama kemudian HP saya berdering. Karena kembali melihat nomor misterius itu, saya langung jawab dan ternyata :

“Hallo, ini bang Imoe ya ? Suara cewek di seberang, Karena nadanya ngak formal saya sadar kalau ternyata dugaan saya meleset. Dugaan semula tentang telpon misterius itu berasal dari kantor tempat saya mengajukan lamaran di Nias.

“Iya, ini dari siapa ?” Saya jawab.

“Ini Mimi bang, teman Tika dari PKPA Nias.”

Dooorrrrrr, saya langsung tau persoalnnya begitu mendengar PKPA. Dengan yakin saya tebak.

“O iya Mimi, ada kasu lagi ?”

“Iya bang, ada seorang anak perempuan, umur 18 tahun, kita temukan dalam keadaan hamil 5 bulan dan mengalami kekerasan secara fisik. Setelah kami identifikasi ternyata berasal dari Sikakap Mentawai. Rencana hari Senin, kami berangkat ke Padang dan akan kami pulangkan ke Mentawai. Untuk itu, kami mohon bantuan abang…”

Saya lalu bingung, MENTAWAI..bukan persoalan mudah untuk memulangkan anak korban kekerasan ke daerah tersebut. Saya mulai tidak yakin. Tapi saya sadar, bahwa pekerjaaan ini tidak bisa saya hindarkan, karena telah menjadi konsekwensi dalam hidup saya untuk bekerja dengan isue ini.

Saya beranikan diri untuk menyanggupi.

“Ok Mi, apa yang bisa kamis iapkan?”

“Kami minta di dampingi sampai ke Sikakap bang, minimal ada orang yang mendampingi saya nanti menjelaskan duduk perkara kepada orang tua si Korban, jangan sampai malah nanti saya yang justru disalahkan, karena orang tua korban tidak paham”.

“Ok lah Mi, abang akan atur nanti. Tapi bisa di kirimkan kronologisnya via e-mail sekarang juga ?”

“Ok bang, nanti Mimi usahakan, soalnya kantor sudah tutup niy”.

“Ok di tunggu ya Mi.”

“Ok bang, thanks sebelumnya.”

Saya kemudian menghubungi ibu Yes Fachri Achmad (Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Sumbar), beliau adalah teman saya dalam memberikan pelayanan terhadap korban kekerasan.. Komitmen beliau untuk persoalan ini patut di acungi jempol. Dalam waktu singkat beliau menyanggupi untuk segera mengadakan rapat mendadak untuk membahas kasus ini.

Senin, 28 April 2008

Rapat mendadak di Kantor P2TP2A Sumbar di hadiri beberapa orang pengurus untuk membahas pemulangan anak korban kekerasan ini ke Mentawai. Rapat minus ibu Yes Fachri Achmad, karena beliau ada acara di Solok Selatan. Rapay dipandu oleh Ibu Dra. Hj. Marnis Nurut (Wakil Ketua P2TP2A). Dalam rapat saya diminta untuk menyampaikan kronologis kasus yang diketahui serta kemungkinan-kemungkinan persiapan pemberian bantuan terhadap pemulangan korban.

Kami sempat bingung, karena Rumah Aman bagi korban untuk sementara di tutup, karena pemilik Rumah Aman tersebut (yang kebetulan pengurus P2TP2A) sedang ke luar negeri menghadiri wisuda anak beliau. Kami kemudian melakukan kontak dengan Kantor Perwakilan Pemda Mentawai, tidak berhasil. Akhirnya kami sepakat untuk menyediakan penginapan dan kami semua siap membayarkan penginapan tersebut.

Persoalan lain muncul, karena kami tidak punya kontak person di Mentawai untuk bisa mendampingi Mimi nantinya selama di Sikakap Mentawai.

Sepertinya tuhan membantu kita semua. Dalam keadaan bingun, Mimi dari Nias kemudian menelpon :

“Bang Imoe, kami berangkat jam 13.00 hari ini dan sampai di Padang Subuh besok. Kami sementara nginap di tempat teman di Perak II dan baru Kamis bergerak ke Sikakap Mentawai”.

Kabar gembira itu saya sampaikan dalam rapat. Berarti persoalan penginapan bisa dianggap selesai. Tinggal kami mencari kontak person untuk mendampingi Mimi selama di Sikakap. Beruntung saya telah mengantongi nomor kontak person pegawai Pemda Mentawai yang menangani persoalan perempuan dan anak. Kami lalu mengontak salah seorang pegawai Kantor Pemberdayaan Masyarakat Kep. Mentawai itu dan beliau menjawab :

“Baik pak, akan kami usahakan bantu sekuat tenaga. Tapi saya mohon kiranya di fax kan surat resmi dari P2TP2A Sumbar perihal kasu ini, sehingga saya punya bahan untuk bicara dengan atasan”.

“Baik pak. Saya kemudian tulis surat. Dalam 5 Menit selesai, lalu di tandatangani Ibu Marnis dan kemudian di Fax ke mentawai.”

Saya hubungi Mentawai lagi :

“Pak, barusan saya fax, mohon di cek”.

“OK baik, nanti saya cek.”

Saya kembali ke rapat yang saya tinggalkan, karena membuat dan me fax surat. Akhirnya rapat memutuskan dan Ibu Marnis berkata :

“Baiklah kawan-kawan semua. Rapat kita tutup sementara untuk hari ini. Kita sudah menyepakai beberapa butir rencana persiapan pemulangan korban. Sekarang kita menunggu konfirmasi dari Mimi mengenai kehadirannya di Padang, mudah-mudahan ada informasi tambahan dan kita bisa bergerak cepat. Terima kasih, mari kita tutup dengan membacakan Hamdalah”.

Aminnnnnnnnnnnnnnnn

Saya kemudian berangkat ke Solok, karena ada urusan dan saya berdebar menunggu kedatangan Mimi dan anak perempuan korban kekerasan tersebut. Dalam hati saya berharap…

“Mudah-mudahan tidak kasus traficking lagi, seperti beberapa kali saya bekerja sama dengan PKPA Medan memulangkan kasus traficking ke Sumbar.

MENUNGGU……………


Iklan

One thought on “…anak perempuan sikakap mentawai korban kekerasan, ditemukan di nias (part 1)…

  1. Imu

    Baru nyadar aku kalo ternyata kita pernah kerjasama dalam pemulangan kasus dari nais ke Mentawai..padahal saat itu aku masih base di Nias dan tahu persis kasus itu. ee…ang taunya dirimu to di padang yang nyambut mereka….good luck

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s