…kakakku mulai mengumpulkan kayu bakar…

Standar

Sore itu saya pulang cepat ke rumah, ndak tahu kenapa seolah-olah hari itu panas sekali, rasanya ingin cepat-cepat sampai dan tidur-tiduran di rumah. Biasanya saya tak pernah pulang secepat itu.

Tepat pukul 15.00 WIB saya sampai di rumah (biasanya siy pukul 23.00 WIB). Saya lalu masuk dari pintu samping yang seperti biasa selalu terbuka, maklumlah rumah kami selalu ramai di kunjungi oleh teman-teman, tetangga, atau siapa saja yang ingin bertamu. Begitulah rumah kami, selalu ramai di kunjungi, oleh karena itu menyediakan air minum sekedar pelepas haus handai taulan, sudah menjadi konsekwensi keluarga kami. Bahkan, menyediakan stok gula, kopi dan teh. Tak banyak yang mampu kemi sediakan untuk menjaga silaturahmi. Kebiasaan menyediakan barang-barang tersebut seolah-olah sudah menjadi kebiasaan dan ‘amak’ (orang tua perempuan) saya selalu berpetuah ‘kalian harus selalu menyediakan sekedar gula, kopi dan teh, siapa tahu ada orang yang tersesat, ada yang sakit dan sebagainya, jadi kita harus siap sedia’. Itulah petuah yang seolah-olah memperkuat kebiasaan kami untuk selalu sedia.

Saya lalu buka sepatu, menuju ruang belakang. Begitu sampai di dekat rak sepatu, mata saya tertumbuk pada pintu belakang, kaget karena pintu belakang terbuka lebar. Pikiran jelek langsung keluar ‘jangan-jangan ada orang yang masuk dan mencuri!’. Saya lalu menuju pintu yang terbuka dan melongok kan kepala ke halamn belakang rumah. Alhamdulilah, ternyata tidak ada maling, tidak ada yang mencuri. Namun, saya keget, saya justru menyaksikan pemandangan yang sedikit agak aneh.

Saya melihat kakak perempuan saya satu-satunya sudah berada di rumah sesiang ini. Padahal sebagai seorang pegawai negeri seharusnya beliau pulang pukul 14.00 WIB dan kalau tidak ada alasan yang penting, kakak perempuan saya tidak pernah pulang secepat itu. Anehnya lagi, saya justru menyaksikan kakak perempuan saya memunguti kayu-kayu kering, ranting, daun kelapa, dan balok-nalok kecil yang berserakan di belakang rumah. Saya berusaha menduga-duga ada apa gerangan, tapi tak berhasil dan kemudian saya bertanya.

“Uni, untuk apa kayu-kayu itu uni kumpulkan, kayak ndak ada kerjaan ?”

Kakak saya tersenyum da menjawab…

“Masa kamu tidak tahu, kan sebentar lagi BBM naik, kita mesti berhemat, hidup makin susah, jadi kalau masih bisa memanfaatkan yang ada, kenapa tidak. Mulai sekarang kita harus masak air minum pakai kayu bakar, sebentar lagi minyak tanah mahal”.

Saya terdiam, saya terharu, ndak tahu ngomong apa. Saya kemudian ganti baju dan menolong kakak perempuan saya mengumpulkan ranting-ranting kering.

Belajar merasakan susahnya hidup, memang harus dari PEREMPUAN…..(laki-laki juga kata teman-teman…hhahahahaha)

Iklan

5 thoughts on “…kakakku mulai mengumpulkan kayu bakar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s