‘kalaupun ada rumah dinas baru, saya tetap tidak mau pindah’

Standar

Sejak diberitakan beberapa waktu yang lalu, bahwa Pemda Kota Padang akan segera merealisasikan pembelian rumah dinas baru Ketua DPRD Padang, banyak masyarakat yang tidak setuju dengan alasan, bahwa pembelian tersebut tidak mempertimbangkan ‘rasa kepatutan dan kepantasan’ di tengah-tengah situasi ekonomi yang sangat parah dan berbagai persoalan kemiskinan lainnya.

Tiba-tiba saja Ketua DPRD Kota Padang angkat bicara “kalaupun ada rumah dinas baru, saya tetap tidak akan pindah’, begitu yang banyak di lansir media.  Ketua dewan menytakan bahwa dia tidak terlalu tahu menahu soal rencana pembelian itu.  Memang beberapa tahun yang lalu pembelian rumah dinas pernah mencuat, akan tetapi dewan minta dalam merealisasikannya harus di koordinasikan terlebih dahulu.

Pertanyaannya ? APAKAH PENYATAAN TINGGAL PERNYATAAN, DAN PEMBELIAN RUMAH MEWAH 5 MILIAR AKAN TETAP TEREALISASI.  ANJING MENGGONGGONG, KAFILAH BERLALU ?

KIta tunggu saja………………………

‘rumah dinas baru ketua dprd padang 5 miliar’

Standar

Kebiasaan pagi aku sebelum mandi adalah baca koran. Nggak tahu siapa yang nyuruh dan memerintahkan, setiap pagi ponakanku yang bernama Alif berusia 4 tahun selalu mengambilkan koran di teras rumah dan mengantar ke kamarku.

“Anjang, koran….” begitu katanya sambil melempar layaknya tukang koran. Alif memang memanggilku dengan sebutan Anjang.

AKu ambil koran pagi itu, mulai membuka lipatannya dan langsung melihat headline pagi itu. Selera sarapan pagiku hilang begitu melihat judul headlina pagi itu.

RUMAH DINAS BARU KETUA DPRD PADANG Rp. 5 MILIAR

DI jelaskan bahwa rumah dinas yang lama tak layak huni, rumah baru berada di Jalan Kartini (kawasan elite Kota Padang), katanya untuk meingkatkan kinerja, dan seterusnya. Di tambahkan embel-embel bahwa rencana membeli rumah dinas baru itu sudah di rencanakan sejak tahun 2006, dan seterusnya.

Lanjutkan membaca

‘aku naik kelas bang, si bobi tinggal kelas bang’

Standar

Sabtu, 28 Juni 2008

Hari itu aku bangun pukul 11.00 WIB. Nggak tau, mungkin aku kecapekan, soalnya sehari sebelumnya berkeliaran se antero Kota Padang. Maklum ajalah karena saya tipikal orang yang ‘palala’ alias gak betah di rumah.

Ketika aku bangun, aku menghidupkan HP yang mati sejak semalam. Ting Tung…HP hidup dan kemudian sesaat setelah itu banyak sekali SMS yang masuk ke ponsel. Kalo di hitung kira-kira ada sekitar 70 buah. Waduh…aku kaget…apa pasal ini ?.

Mulai baca beberapa buah, bunyinya begini.

“aku naik kelas bang” aku masih ingat, yang ini dari Bunga anak Payakumbuh kelas II SMP.

Ada yang lain….

“horeeeeeeee akhirnya naik kelas…” yang ini dari Batusangkar….

Tiba-tiba ponsel low bat. Aku ambil charger kemudiak dicolok ke listrik. MUlai lagi mencermati sms yang lain.

“cuman juara tiga bang…, kecewa niy karena semester lalu juara I”, membaca yang ini aku senyum….

“kasih hadiah ya om, kan eka juara III” yang ini dari si Eka anak Payakumbuh. Aku tertawa membaca yang ini

“kak, Juara III kak” ini dari Ridho anak Sijunjung. Alhamdulilah, aku mengucap syukur.

Lanjutkan membaca

‘aku lagi di sijunjung’

Standar

Sijunjung, 26 Juni 2008.

Saya ke Kabupaten Sijunjung (Sejak 18 Maret 2008, kabupeten ini berubah nama dari Kab. Sawahlunto Sijunjung menjada Kab. Sijunjung). Perjalanan ke Sijunjung cukup melelahkan, maklum karena ingin sampai tepat waktu, saya dan salah seorang teman terpaksa harus gonta ganti bus. Dari padang ke Solok menaiki travel liar, dan dari Solok ke Sijunjung naik bus kecil roda empat, yang jalannya sangat lincah, tapi juga kuat (karena diisi oleh penumpang banyak sekali, padat kayak sarden heheh). Tapi saya menikmati.

Pertanyaan : “Mau ngapain ke Sijunjung ?”

Jawaban : “Saya mau memfasilitasi Forum Anak Kab. Sijunjung”.

Perjalanan ke Sijunjung yang melelahkan itu cukup terobati karena banyak pengalaman seru. Salah satunya adalah, saya sempat melihat langsung ada seorang anak perempuan kira-kira usia 14 tahun menaiki bus Muaro Jaya membawa “dulang kayu’ untuk alat menambang emas. Si anak turun sekitar daerah Kupitan, barangkali daerah ini tambang emas. Saya membayangkan, gimana hari-hari anak ini, apakah tidak sekolah ?.

Sampai di tempat acara, kelelahan terobati ketika bertemu dengan teman-teman muda dari Forum anak Sijunjung. Kami diskusi banyak hal soal kehidupan anak-anak. Mereka bersemangat, ternyata mereka menunjukan kepedulian yang LUAR BIASA. Diskusi tak bisa dihentikan malah……..Ada berbagai respon dan tanggapan ketika saya perlihatkan fakta bahwa masih banyak anak yang berada dalam situasi sulit.

Lanjutkan membaca

“mengunjungi teman lama, anak jalanan padang”

Standar

Sore itu saya lagi bingung.  Ngak tau kenapa, mau ngerjain ini ngak mood, mau jalan juga gak mood, teman-teman juga udah pada bubar.  Dasarnya saya memang ngak bisa pulang ke rumah cepat (paling cepat jam 11 malam) akhirnya ide segar yang membuat saya merasa ‘bersemangat’ keluar juga dari dalam otak.

‘Mengunjungi teman-teman anak jalanan di perempatan lampu merah taman Imam Bonjol Padang’.

Ide itu tercetus begitu saja, mungkin tuhan membantu sedikit otak, agar bakat pulang malam saya bisa terpenuhi.  Jadilah sore itu sekitar pukul 18.00 WIB saya dengan langkah mantap menuju Taman Imam Bonjol Padang untuk mengunjungi teman-teman anak jalanan yang sudah sangat lama tidak saya kunjungi.

Anak jalanan Kota Padang, sebetulnya tidak asing bagi saya.  Maklum aja, karena sejak 1999 saya bergaul dengan mereka, pernah hidup juga dengan mereka.  Susah senang pernah saya rasakan juga dengan mereka.  Pokoknya memang tidak asing lagi deh…. Lanjutkan membaca

“Kekerasan Di Sekolah, Bencana Bagi Hak Anak”

Standar

by Muharman

Kekerasan agaknya memang selalu melekat dalam setiap kehidupan anak-anak. Dimanapun dan kapanpun, sepertinya kekerasan telah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi anak-anak. Tengok saja, betapa banyak orang tua yang mengalami himpitan ekonomi, membunuh anak-anak mereka, kakek-kakek tua renta yang dengan alasan tidak mampu menahan syahwat tega memperkosa cucu sendiri, para penegak hukum yang sewenang-wenang terhadap jalanan, hingga kepada guru yang tega berbuat kasar dengan alih menegakkan kedisplinan.

Tentu masih ingat dalam pikiran kita manakala oknum guru di sebuah SMKN di Kota Padang menendang lutut seorang siswanya hingga patah. Sangat ironis memang, ditengah-tengah harapan banyak masyarakat terhadap dunia pendidikan, malah ternyata yang muncul adalah perlakuan yang sangat memiriskan dan menyayat hati. Memang sangat disayangkan, institusi yang sebenarnya diharapkan mampu memberikan tauladan ini sepertinya sudah kehilangan akal sehat dan hati nurani. Sederhana memang alasan para oknum guru…”menegakkan kedisplinan”..alasan yang sangat tidak masuk akal. Pertanyaan mendasar adalah, “apakah kedisiplinan mesti ditegakkan dengan kekerasan ?”.

Tidak satupun teori pendidikan yang membenarkan kekerasan terjadi. Yang benar adalah bahwa setiap manusia mempunyai “Rasa dan Karsa”. Pendidikan sebetulnya adalah sebuah “proses” berkelanjutan untuk mencapai tiga dimensi utama dalam hidup yaitu “Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan” atau yang lebih dikenal dengan istilah “Knowledge, Afeksi dan Psikomotorik”. Pendidikan adalah “proses”. Jika begitu, harus dipahami bahwa pencapaian tujuan pendidikan tidak semudah membalik telapak tangan, dia tidak instan layaknya “mie instan”, kalau saja pendidikan seperti “makanan cepat saja” maka, dalam waktu singkat setiap orang bisa mendapatkanya dengan mudah. JIka demikian, maka setiap perkembangan ke arah kemajuan harus di hargai, sebaliknya, jika menuju ke arah kemundura, maka lakukanlah refleksi dan evaluasi. Jangan-jangan pendidik yang notabene adalah GURU lah yang tidak mampu memulai proses pendidikan yang baik itu.

Kedisplinan, memang sesuatu yang tidak boleh di tawar-tawar jika ingin sukses. Bangsa kita selalu menjadi bangsa yang tertinggal akibat sulitnya kedisplinan di tegakkan di setiap lini kehidupan. Tengok saja, betapa sampai hari ini masih banyak pejabat negara yang sepatutnya jadi contoh, beramai-ramai melakukan KORUPSI, lihatlah betapa hari ini kita masih saksikan POLISI (Penagak kedisplinan lalu lintas) dengan seenaknya berkendara tanpa memakai helm, lihatlah ibu-ibu arisan yang datang arisan pukul 17.00, padahal dalam undangan pukul 16.00. Lalu, jika ada siswa yang tidak disiplin, bukankah kita sebagai orang dewasa yang terlebih dahulu melakukan refleksi terhadap situasi itu ? Lalu pantaskah kita memarahi anak-anak Kita ? Sekali lagi kedisiplinan itu penting, tetapi menegakkan kedisplinan dengan kekerasan sangat bertentangan dengan HAK AZASI MANUSIA. Apalgi jika dilakukan terhadap anak-anak. Kekerasan, apapun dasarnyanya, apapun dalihnya, tidak dapat di benarkan, karena itu bertentangan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak. Pelaku kekerasan dapat di tuntut pidana, sekalipun itu GURU.

Bagaimana kekerasan begitu mudah lolos di sekolah ? Pertanyaan ini mesti kita renungkan bersama. Paling tidak ada beberapa faktor yang melatar belakangi persoalan ini :

1. Ketidakmampuan masyarakat melakukan pengawasan terhadap sekolah. Masyarakat menganggap bahwa sekolah adalah tempat yang paling aman, ideal dan manusiawi. Kepercayaan yang begitu tinggi dan cenderung mengagungkan, membuat seolah-olah posisi isntitusi sekolah menjelma menjadi sebuah kerajaan kecil yang tidak dapat disentuh oleh siapapun. Kesewenang-wenangan yang muncul dianggap sebuah keharusan, anak yang di tampar sampai berdarah-darah sekalipun justru dianggap sebagai hal lumrah oleh masyarakat dan malah cenderung menyalahkan si anak didik dengan alasan “itulah kamu, tidak bisa menuruti peraturan sekolah”. Padahal kalau mau jujur, mereka jelas-jelas mereka adalah korban.

2. Ketidakprofesionalan Guru dalam mendidik. Banyak guru kita yang sudah melupakan esensi pendidikan. Mereka mulai tidak menghargai “proses”, tidak menghargai keberagaman, tidak menghargai hak individual, tidak menghargai bahwa setiap orang punya harga diri, dll. Ditambah dengan beban pekerjaan yang besar, semakin membuat peluang kekerasan terjadi disekolah.

3. Sistem pendidikan kita yang tidak berbasiskan Hak. Sistem pendidikan kita tidak berorientasi kepada pemenuhan hak asazi manusia. Jika pendidikan dipandang sebagai hak oleh sistem pendidikan kita, maka setiap unsur dalam proses pendidikan itu tentunya akan melakukan segala daya dan upaya untuk memberikan pemenuhannya seraya menegakkan hak azasi manusia. Artinya tidak akan kita dengar lagi guru yang mengejk murid di depan kelas, tidak adalagi yang menampar, tidak ada lagi yang berkata-kata kotor, dll.

Sudah saatnya kita bersama melakukan refleksi terhadap seluruh proses pendidikan kita. Sekolah bukan lagi kerajaan yang mesti di takuti, sekolah adalah tempat dimana seluruh keberagaman dan cara pandang anak didik disatukan. Pendidikan harus benar-benar menanusiakan manusia. JIka kekerasan tetap terjadi disekolah, kemanakah lagi ANAK KITA BISA MENDAPATKAN PERLINDUNGAN…. MAri hentikan kekerasan sekarang juga…

…Fasukan Preman Indonesia…

Standar

Siang itu….

Segerombolan orang sedang memukuli orang lain dengan ganas…

“Anjing loe….”

“Babi loe……”

“Dasar yahudi….”

“Dasar murtad…”

“Gue bunuh loe…”

“Rasain loe….”

“Mati loe…….”

Nah, kira-kira begitu gak ya…yang terucap siang itu ?