“Kekerasan Di Sekolah, Bencana Bagi Hak Anak”

Standar

by Muharman

Kekerasan agaknya memang selalu melekat dalam setiap kehidupan anak-anak. Dimanapun dan kapanpun, sepertinya kekerasan telah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi anak-anak. Tengok saja, betapa banyak orang tua yang mengalami himpitan ekonomi, membunuh anak-anak mereka, kakek-kakek tua renta yang dengan alasan tidak mampu menahan syahwat tega memperkosa cucu sendiri, para penegak hukum yang sewenang-wenang terhadap jalanan, hingga kepada guru yang tega berbuat kasar dengan alih menegakkan kedisplinan.

Tentu masih ingat dalam pikiran kita manakala oknum guru di sebuah SMKN di Kota Padang menendang lutut seorang siswanya hingga patah. Sangat ironis memang, ditengah-tengah harapan banyak masyarakat terhadap dunia pendidikan, malah ternyata yang muncul adalah perlakuan yang sangat memiriskan dan menyayat hati. Memang sangat disayangkan, institusi yang sebenarnya diharapkan mampu memberikan tauladan ini sepertinya sudah kehilangan akal sehat dan hati nurani. Sederhana memang alasan para oknum guru…”menegakkan kedisplinan”..alasan yang sangat tidak masuk akal. Pertanyaan mendasar adalah, “apakah kedisiplinan mesti ditegakkan dengan kekerasan ?”.

Tidak satupun teori pendidikan yang membenarkan kekerasan terjadi. Yang benar adalah bahwa setiap manusia mempunyai “Rasa dan Karsa”. Pendidikan sebetulnya adalah sebuah “proses” berkelanjutan untuk mencapai tiga dimensi utama dalam hidup yaitu “Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan” atau yang lebih dikenal dengan istilah “Knowledge, Afeksi dan Psikomotorik”. Pendidikan adalah “proses”. Jika begitu, harus dipahami bahwa pencapaian tujuan pendidikan tidak semudah membalik telapak tangan, dia tidak instan layaknya “mie instan”, kalau saja pendidikan seperti “makanan cepat saja” maka, dalam waktu singkat setiap orang bisa mendapatkanya dengan mudah. JIka demikian, maka setiap perkembangan ke arah kemajuan harus di hargai, sebaliknya, jika menuju ke arah kemundura, maka lakukanlah refleksi dan evaluasi. Jangan-jangan pendidik yang notabene adalah GURU lah yang tidak mampu memulai proses pendidikan yang baik itu.

Kedisplinan, memang sesuatu yang tidak boleh di tawar-tawar jika ingin sukses. Bangsa kita selalu menjadi bangsa yang tertinggal akibat sulitnya kedisplinan di tegakkan di setiap lini kehidupan. Tengok saja, betapa sampai hari ini masih banyak pejabat negara yang sepatutnya jadi contoh, beramai-ramai melakukan KORUPSI, lihatlah betapa hari ini kita masih saksikan POLISI (Penagak kedisplinan lalu lintas) dengan seenaknya berkendara tanpa memakai helm, lihatlah ibu-ibu arisan yang datang arisan pukul 17.00, padahal dalam undangan pukul 16.00. Lalu, jika ada siswa yang tidak disiplin, bukankah kita sebagai orang dewasa yang terlebih dahulu melakukan refleksi terhadap situasi itu ? Lalu pantaskah kita memarahi anak-anak Kita ? Sekali lagi kedisiplinan itu penting, tetapi menegakkan kedisplinan dengan kekerasan sangat bertentangan dengan HAK AZASI MANUSIA. Apalgi jika dilakukan terhadap anak-anak. Kekerasan, apapun dasarnyanya, apapun dalihnya, tidak dapat di benarkan, karena itu bertentangan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak. Pelaku kekerasan dapat di tuntut pidana, sekalipun itu GURU.

Bagaimana kekerasan begitu mudah lolos di sekolah ? Pertanyaan ini mesti kita renungkan bersama. Paling tidak ada beberapa faktor yang melatar belakangi persoalan ini :

1. Ketidakmampuan masyarakat melakukan pengawasan terhadap sekolah. Masyarakat menganggap bahwa sekolah adalah tempat yang paling aman, ideal dan manusiawi. Kepercayaan yang begitu tinggi dan cenderung mengagungkan, membuat seolah-olah posisi isntitusi sekolah menjelma menjadi sebuah kerajaan kecil yang tidak dapat disentuh oleh siapapun. Kesewenang-wenangan yang muncul dianggap sebuah keharusan, anak yang di tampar sampai berdarah-darah sekalipun justru dianggap sebagai hal lumrah oleh masyarakat dan malah cenderung menyalahkan si anak didik dengan alasan “itulah kamu, tidak bisa menuruti peraturan sekolah”. Padahal kalau mau jujur, mereka jelas-jelas mereka adalah korban.

2. Ketidakprofesionalan Guru dalam mendidik. Banyak guru kita yang sudah melupakan esensi pendidikan. Mereka mulai tidak menghargai “proses”, tidak menghargai keberagaman, tidak menghargai hak individual, tidak menghargai bahwa setiap orang punya harga diri, dll. Ditambah dengan beban pekerjaan yang besar, semakin membuat peluang kekerasan terjadi disekolah.

3. Sistem pendidikan kita yang tidak berbasiskan Hak. Sistem pendidikan kita tidak berorientasi kepada pemenuhan hak asazi manusia. Jika pendidikan dipandang sebagai hak oleh sistem pendidikan kita, maka setiap unsur dalam proses pendidikan itu tentunya akan melakukan segala daya dan upaya untuk memberikan pemenuhannya seraya menegakkan hak azasi manusia. Artinya tidak akan kita dengar lagi guru yang mengejk murid di depan kelas, tidak adalagi yang menampar, tidak ada lagi yang berkata-kata kotor, dll.

Sudah saatnya kita bersama melakukan refleksi terhadap seluruh proses pendidikan kita. Sekolah bukan lagi kerajaan yang mesti di takuti, sekolah adalah tempat dimana seluruh keberagaman dan cara pandang anak didik disatukan. Pendidikan harus benar-benar menanusiakan manusia. JIka kekerasan tetap terjadi disekolah, kemanakah lagi ANAK KITA BISA MENDAPATKAN PERLINDUNGAN…. MAri hentikan kekerasan sekarang juga…

Iklan

9 thoughts on ““Kekerasan Di Sekolah, Bencana Bagi Hak Anak”

  1. setuju kalau kita harus sama-sama menghentikan kekerasan terhadap anak. menurut saya, anak2 juga harus diajarkan untuk mengetahui hak-hak mereka, sehingga mereka tahu batasan karena sayang dan kekerasan yang kebablasan…. anak-anak harus diajarkan membela hak-hak mereka, sehingga tidak siapapun termasuk guru dan orang tua dapat tidak ‘basilanteh angan’

  2. 100% setuju, stop violence for education…..
    Yap, violence also get trauma

    faktanya, orang yang trauma cenderung untuk mencoba untuk membuat orang lain mendapatkan perlakuan yang sama, kekerasan juga akan dilakukan kepada orang lain/orang terdekat, banyak pihak yang akhirnya akan mendapatkan dan melakukan kekerasan….

    Apalagi sekolah….., please deh, tape dehhhhhhh

    Ayo dari sekarang kembangan permainan dan olahraga untuk perkembangan anak………(hehehe promosi)

  3. Saya pikir poin kedua tentang guru itu perlu dikedepankan.
    Guru adalah ujung tombak pendidikan di sekolah.
    Harus diakui banyak sekali guru yang tidak profesional. Mudah-mudahan saya bukan satu di antaranya.

  4. maryulismax

    laporkan ke polisi kalo ada KDRK (kekerasan dalam ruang kelas) dan KDLS (kekerasan dalam lingkungan sekolah)… ūüėÄ

  5. saran saya coba di buat call centre ke pengawas sekolah atau pihak yang berwajib untuk melaporkan kekerasan yang terjadi di sekolah yang dilaporkan oleh siswa. siswa juga harus diberi tahu nomor call centre atau dipasang di dinding sekolah.

  6. memang benar kekerasan tidak dapat dibenarkan dimanapun apalagi di sekolah, namun ada beberapa hal yang akan rancu ketika bentuk kekerasan yang menjadi momok permasalahan itu, apakah esensi dari bentuk kekerasan yang dimaksud? mungkin akan membingungkan ketika tindakan tegas vs kekerasan di komparasikan, akan terlihat jauh perbedaan yang muncul, apakah tindakan tegas merupakan bentuk kekerasan? karena tiga proses/tujuan yakni ‚ÄúPengetahuan, Sikap dan Keterampilan‚ÄĚ merupakan arah tujuan pendidikan itu sendiri.

    menurut hemat saya memang akan sulit membedakan kekerasan dan bentuk tindakan tegas, tapi memang hendaknya guru harus proporsional dan profesional dalam menegakkan punishment yang memang merupakan tindakan yang harus ada dalam proses pembelajaran sehingga apa yang diinginkan akan dapat kita dapatkan…

  7. Suhendar

    Saya pernah di cekik oleh guru karena baju saya di kluarkan,.
    alasn guru itu tidak masuk akal menurut saya,.kata’y dy dah mnggil saya lwat speaker skolah,.tp saya ga dteng,.krna saya bnar”tdk mndngar’y,. ..apa saya dapat melaporkan hal itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s