“mengunjungi teman lama, anak jalanan padang”

Standar

Sore itu saya lagi bingung.  Ngak tau kenapa, mau ngerjain ini ngak mood, mau jalan juga gak mood, teman-teman juga udah pada bubar.  Dasarnya saya memang ngak bisa pulang ke rumah cepat (paling cepat jam 11 malam) akhirnya ide segar yang membuat saya merasa ‘bersemangat’ keluar juga dari dalam otak.

‘Mengunjungi teman-teman anak jalanan di perempatan lampu merah taman Imam Bonjol Padang’.

Ide itu tercetus begitu saja, mungkin tuhan membantu sedikit otak, agar bakat pulang malam saya bisa terpenuhi.  Jadilah sore itu sekitar pukul 18.00 WIB saya dengan langkah mantap menuju Taman Imam Bonjol Padang untuk mengunjungi teman-teman anak jalanan yang sudah sangat lama tidak saya kunjungi.

Anak jalanan Kota Padang, sebetulnya tidak asing bagi saya.  Maklum aja, karena sejak 1999 saya bergaul dengan mereka, pernah hidup juga dengan mereka.  Susah senang pernah saya rasakan juga dengan mereka.  Pokoknya memang tidak asing lagi deh….

Sesampai di Taman Imam Bonjol, saya langsung menuju pohon beringin besar yang terletak persis di tengah taman kota tersebut.  Beringin ini sepertinya jadi saksi kerasnya kehidupan anak jalanan Kota Padang, maklumlah karena pohon beringin tua usia ratusan tahun ini adalah tempat anak jalanan yang beraktifitas di lampu merah ini beristirahat, bercengkerama dan berbagi suka duka.

Hari itu cerah, dari kejauhan saya melihat banyak teman-teman anak jalanan yang sedang asyik ngenjreng-ngenjreng gitar kecil mereka untuk mengumpulkan receh demi receh dari angkot ke angkot yang berhenti di lampu merah. Ada yang usia 18 tahunan, ada yang 12 tahunan dan bahkan ada yang paling kecil usia 5 tahunan.  Semuanya saya kenal baik.

Tanpa berlama-lama saya menuju kursi taman yang ada di bawah beringin tua tersebut.  Saya bertemu dengan para orang tua anak jalanan yang sedang duduk menunggui anak mereka ngamen dan menunggu ‘setoran’. Boleh dikata, ni orang tua yang ‘mengeksploitasi’ anak mereka sendiri.  Saya di terima dengan baik oleh  para ‘eksploitator’ ini.  Pada dasarnya mereka baik dan saya berteman dengan mereka tanpa tujuan apa-apa kevuali berteman saja.  Disamping itu saya juga gak pernah ikut campur tentang kegiatan ‘eksploitator’ mereka, saya hanya memetakan apa yang mereka pikirkan tentang anak mereka, memetakan persoalan mereka dan sedikit demi sedikit mempengaruhi jalan pikiran mereka agar mulai memikirkan masa depan anak.

Kami bercerita banyak hal…akhirnya satu persatu pernyataan mereka keluar…

“Gimana lagi moe, hidup makin susah dan kami tidak punya keterampilan apa-apa,kecuali ini”.

Ada juga yang bilang….

“Ya..paling sebentar lagi kalo anak-anak udah besar mereka malu dan berhenti sendiri…”

Yang ini lain lagi…

“Ngapain meski pusning moe…jalanin aja…” Gila…..

Sedang asyik-asyiknya kami ngobrol, saya melihat seluruh anak-anak jalanan di lampu merah lari berhamburan.  Mereka menuju arah beringin tua.  Apa pasal…seperti biasa, mereka di kejar oleh petugas SATPOL PP yang kebetulan sedang berdinas.  Kalo di pikir-pikir lucu juga, padahal kantor SATPOL PP persis di dekat lampu merah tersebut dan setiap hari mereka selalu di buru oleh Satpol PP, tapi tetap aja nekat.

Melihat gelagat yang tidak baik, semua orang tua anak jalanan yang lagi ngobrol dengan saya juga ikut berhamburan menuju arah Matahari Departemen Store.  Sambil berteriak di memperingatkan saya..

“Ayo cepat moe, nanti di tanggkap pula.  Pokoknya siapapun pasti di tangkap niy, apalagi Imoe duduk bersama kami tadi”.

Akhirnya saya juga ikut lari menghamburkan diri.  Kecut juga nyali saya.  BUkan karena takut dengan Satpl PP nya, tapi malas berurusan panjang.

Akhirnya semua kami berkumpul di depan kantor Balaikota Padang.  Ngggak tau mau ngerjain apa lagi, karena lampu merah tempat mereka cari uang, telah di jaga ketat oleh 5 orang petugas Satpol PP.

Salah seorang anak merengek kepada orang tuanya…

“Ma…lapar ma…..”.  Si mamam menjawab….

“Di rumah aja ya, ngak dapat uang niy…”

Si anak diam gak mau membantah.  Kasihan juga melihat anak usia 5 tahun merengek kelaparan dan masih pucat pasi karena di buru Satpol PP.

“Ayo, kita makan…” akhirnya saya ngajak mereka makan.  Kebetulan waktu itu saya lagi dapat rejeki nomplok.  Saya pikir lebih baik bagi-bagi rejeki…Akhirnya kami menuju rumah makan LUWES yang berada dekat taman tersebut.

Kami berempat akhirnya makan.  Saya biarkan semua memesan apa yang mereka inginkan.

Edo, usia 9 tahun, memesan sate ayam dengan jus pokat

Ijun, usia 11 tahun memesan sate ayam dan jus pokat.

Riki, 5 tahun memesan sate ayam, es jeruk dan frestea.

Saya memesan mie goreng dan frestea.

Sesaat, pesanan kami sampai.  Kami mulai menikmati hidangan.  Selagi menikmati hidangan, kami disuguhi nyanyian oleh pengamen setempat.  Ada yang menculik perhatian saya, ketika sang pengamen dewasa tersebut menampungkan plastik untuk meminta recehan, Riki langsung mengeluarkan uang seribu rupiah dari sakunya dan mengasihkan kepada pengamen dewsa.  Sambil berujar…

“Sekali-kali, kita yang ngasih orang, ngak papa kan…?”

Saya tersenyum melihat aksi Riki.  Ngak nyangka juga, ternyata selama ini dia yang memintabelas kasihan orang lain, tampil menjadi manusia yang memberi orang lain…LUAR BIASA.

Kami terus melanjutkan makan.  Lagi-lagi ada yang menculik perhatian saya.

TANPA SADAR TERNYATA SELURUH ORANG YANG ADA DISEKITAR MEJA KAMI MEMPERHATIKAN KAMI DENGAN SEKSAMA DARI TADI.

Hal ini baru saya sadarai ketika tiba-tiba Ijun bicara.

“Bang…orang-orang disekitar kita melirik-lirik dari tadi lho ?”

Saya memalingkan wajah dan ternyata memang benar apa yang dikatakan Ijun…….

Untuk menenangkan mereka saya bilang…

“Mungkin mereka mengenali kalian, karena kalian sering beredar di jalanan kan ?

“Tapi Cuek aja, kita kan makan, kita bayar dan kita ngak minta”

Akhirnya kita tetap terus makan dan menyelesaikan makanan kami.  Saya kemudian membayar seluruh makanan di kasir dan kemudian siap berlalu dari restoran tersebut,ketika tiba-tiba seorang ibu mendatangi saya………

“Dik, anak siapa itu ?”

“Adik-adik saya bu, kenapa bu ?”

“Saudara kandung ?”

“Ah nggak bu…cuman adik-adik aja.”

“Bukannya mereka yang sering ngamen di lampu merah itu ?”

“IYa bu, emang kenapa ?”

“Ngapain bantu-bantu mereka, orang tua mereka aja nggak peduli, biar aja tau rasa”.

Tiba-tiba saya tidak suka dengan cara ibu itu, saya benci sekali melihat manusia di depan saya, ingin rasanya menjotos mulut si ibu, apalagi di ucapkan di depan Edo, Ijun dan Riki.  Tapi saya cepat sadar diri……

Saya bilang ke ibu..”Trima kasih bu…saya pergi dulu”.

Saya berlalu dari hadapan ibu itu.  Sambil jalan tiba-tiba riki melompat ke atas punggung saya, minta gendong.  Saya gendong dan di telinga saya Riki berbisik….

“Ibu tuh sadis ya bang…..?”

Saya hanya diam, tak komentar apapun……..karena saya tidak bisa mengartikan apa yang Riki maksud…..

Iklan

10 thoughts on ““mengunjungi teman lama, anak jalanan padang”

  1. kisah yang memilukan, bukan karena jalan hidup, tapi seseorang lah yang membuatnya kehilangan akses kepada pendidikan sehingga tumbuh di jalanan.

  2. riam

    membaca postingan yang ini,.. seperti memutar film yang dulu pernah terekam,..masih begitu jelas,..masih begitu bening,…:)

    salam untuk anak2 yg dulu hanyia2, (kini alah bi-gadang2),..kalau basuo..:)

  3. waduhhhhhh da im, tetap eksis lah ya dengan aneuk-aneuk. dkalau diriku memang seh di dunia aneuk juga tapi karna diatur pencapaian tujuan jadi ngak asyik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s