‘7 gerobolan, 8 sahabat’

Standar

Jarang sekali saya menunaikan shalat Jumat di mesjid belakang rumah.  Maklum saja, karena setiap hari saya selalu berada di luar area (alias di sekitar tempat kerja), jadilah rutinitas shalat jumat lebih banyak saya tunaikan di mesjid dekat tempat bekerja.  Bahkan saking seringnya shalat jumat di mesjid sekitar tempat kerja, para warga di sanapun mengenal saya sebagai jemaah tetap hehehehehehe.

Nah, tumben Jumat 11 Juli 2008 ini saya gak kemana-mana.  Seharian di rumah aja karena saya mau menyelesaikan baca novel THE KITE RUNNER, tuh novel menggetarkan jiwa (cieeeeeeee).  Saya berhenti ketika shalat Jumat mulai memanggil.  Saya mandi, lalu berbenah ke Mesjid Al Manar belakang rumah.  Tidak jauh, hanya butuh waktu 15 menit jalan kaki.

Di tengah-tengah perjalanan, saya berpapasan dengan segerombolan anak kurang lebih 7 orang.  Rata-rata usia mereka 9-10 tahun.  Mereka sedang berbisik-bisik, entah apa yang  mereka perbincangkan di Jalan.   Karena penasaran dan iseng, saya menajamkan telinga, karena biasanya anak-anak yang lai berbisik-bisik pasti menyembunyikan sebuah persekongkolan…..

“Stttt nanti kita cegat pas pulang Jumatan…………..” Sekilas saya dengar itu

“………..kamu pegangi ya………” Gak jelas terdengar apa yang disebutin anak yang lain, tapi jelas sekali penekanan kalimat memperlihatkan bahwa ada persekongkolan jahat.

“…………nangis………bapaknya……….lari……….” Makin gak jelas aja mereka berbisik.

Setelah saya kumpulkan satu persatu kata kunci mereka CEGAT, PEGANGI, NAGIS, BAPAKNYA, LARI maka kesimpulan saya adalah, mereka akan melakukan pengeroyokan……  Tak berapa lama, saya sampai di Mesjid Al Manar.  Saya sengaja duduk di belakang dekat kerumunan anak-anak.  Bisisk-bisik masih berlangsung, tapi tidak seheboh tadi, karena mereka tau diri berada dalam mesjid.

Khotbah Jumat pun ngak konsen saya ikuti.  Setelah khotbah lalu shalat, kemudian semua bubar.  Ketika saya ucapkan salam, saya lihat kebelakang, para rombongan anak tadi sudah tak berada di belakang.  Munkin mereka sedang masang ancang-ancang pencegatan.

Saya lalu menyelesaikan doa, lalu bergegas pulang ke rumah, berharap bisa menemukan komplotan yang mau mencegat seseorang tadi.

Benar saja, begitu sampai di sebuah tikungan, sayalihat ada 7 orang anak mengelilingi seorang anak seusia mereka.  Saya lihat salah seorang dari komplotan itu menunjuknunjuk dengan tangan kiri, barangkali dia sang komandan, yang lain berkacak pinggang.  Tinggalah anak yang di kelilingi ketakutan….

Belum sempat mereka melayangkan bogem atau sejenisnya ke hadapan anak yang di cegat, saya keburu sampai disana.  Saya kemudian menegur mereka…

“Eh eh eh eh eh apa-apa an ini, ngak boleh berkelahi, kan habis shalat Jumat, ada apa…?

Mereka diam tak menjawab…mungkin juga takut.

Saya lalu mendekati sang komandan, lalu komandan bercerita.

“Iya bang, kemaren dia pinjam benang layangan saya, tapi gak dikembalikan, saya udah minta, tapi dia lari”.

Wah ternyata persoalan benang layangan…..

“Nah, kamu, kok ngak dikembalikan benang layangan dia, kan kemaren minjam…”

Si anak diam, dia menunduk, lalu menjawab….

“Benangnya hilang bang, di buang adik kecil saya ke kolam, saya gak punya uang untuk ganti….”

Wahhhhhhhhhhh ketahuan dehhhhhh duduk persoalannya…

“Begini aja, kamu punya duit berapa ?”  Saya tanya tuh anak…..

“Kamu harus ganti, harus bertanggung jawab….”

Si anak menjawab…..

“Punya dua ribu bang, hanya itu”

“Benang itu berapa harganya ?” Saya bertanya…

“Lima ribu bang” kali ini yang menjawab sang komandan komplotan.

Lalu saya coba periksa saku celana dan baju….. akhirnya ada 4 ribu rupiah….

“Niy, uang 4 ribu, ayo bayar” Saya sodorkan uang itu kepada si anak, yang terlihat senang, tidak ketakutan lagi.

Sianak mengambil uang itu lalu bertanya…

“Lebih seribu kan bang….?”

“Iya lebih seribu, yang seribu kasih ke teman kamu yang kehilangan benang tadi, kasih ke dia karena dia cukup sabar tidak memukul kamu.  Hadiah bagi yang sabar”.

Saya lihat sang komandan kaget, ngak menyangka, karena sebelumnay menjadi orang yang paling bernafsu ingin memukul sang lawan.  Dia jadi malu dan tersenyum.  Tapi melihat uang seribu dia ngak menolak….

“Makasih bang….” katanya begitu….

Saya kemudia tersenyum, saya suruh sianak minta maaf karena telah menghilangkan benang layangan temannya.  Sang temanpun memafkan…

Saya pulang dan dari kejauhan saya lihat 7 gerombolan tadi telah menjadi 8 sahabat…….

Hahahahahaha ada ada saja………………………Saya tersenyum……membayangkan ponakan saya di rumah……..

Iklan

10 thoughts on “‘7 gerobolan, 8 sahabat’

  1. Saya demen yang begini, fresh from the oven. Banyak pelajaran di sekitar, dan kita bisa menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kearifan. Saya terharu membaca postingan ini. Sungguh-sungguh terharu. Kamu ngak percaya kali, saya meneteskan air mata haru. Sebagai perantau saya jarang menangis, membaca ini air mata keluar sendiri. Terharu, dan … bangga. Selamat ya.

  2. Terima kasih untuk Pak Ewa, Pak Suhadi, BOS HADOITZ (saya negfans bgt sama anak ini hehehe karena pinter), Catar (sorry ya, gak bisa ikutan kopdar palanta huhuhu), Da zoel, dll…..saya tak membayangkan respon begini…saya hanya share aja pengalaman kecil hhehehehehehehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s