‘da imoe, bisa ke poltabes sekarang..ada kasus..’

Standar

Siang itu saya sedang berada di kantor Gubernur Sumbar. Rapat persiapan Hari Anak Nasional Propinsi Sumbar 2008. Tiba-tiba sebuah SMS dari seorang teman bernama Wide masuk.

‘Da imoe, bisa ke poltabes sekarang, ada kasus anak niy’

Karena saya sedang rapat, maka saya tentu saja tidak bisa memenuhi permintaan teman itu. Yang saya lakukan hanya membalas SMS tersebut.

‘Waduh wid, lagi rapat hari anak niy. Loe handle aja gimana baiknya ya..soalnya gak mungkin di tinggal’.

Si Wide pun mengamini…

“Ok deh, nanti gw susul loe ke kantor gubernur, lalu kita nanti bahas kasus ini”.

Selang beberapa jam, si Wide muncul di ruang rapat. Rapat tak lama kemudian selesai dan kami kemudian membahas kasus yang di terima Wide.

‘Begini ceritanya da imoe” Begitu wide memulai ceritanya…

“Tadi si Ana dari LBH PAdang menelpon, ngajak ke Poltabes, ada kasus anak. Ada orang tua anak yang meminta dampingan hukum ke LBH Padang. Nah, menurut informasi yang baru gw dapet, kasus ini adalah kasus pencabulan, tetapi surat pemanggilan untuk pelaku itu ada dua versi, yang satu pemanggilan untuk kasus pencabulan sedangkan yang satu lagi untuk kasus pengeroyokan”. Mendengar kasus itu saya kemudian bingung….

“Wide…jadi yang mau kita dampingi ini adalah korban atau pelaku ?” Saya bertanya…

“Pelaku da Im. Pelaku nya adalah anak usia 15 tahun dan korban adalah anak 2,5 tahun”. Wide memberikan penjelasan.

Penjelasan wide membuat saya berfikir keras. Baru kali ini kami mendampingi pelaku. Selama ini hanya anak sebagai korban kekerasan yang selalu kami dampingi. Tetapi dengan komitmen terhadap perlindungan hak anak, maka kami juga harus mendampingi dan memberikan perlindungan yang sama terhadap anak yang menjadi pelaku kekerasan sekalipun. Karena anak yang menjadi pelaku juga harus di jamin pemenuhan hak-hak nya, terutama hak untuk di perlakukan manusiawi dalam proses hukum.

Siang itu, kami menuju ke Poltabes lagi. Di Unit Palayanan Perempuan dan Anak Poltabes Padang, kami bertemu dengan keluarga dan anak sebagai pelaku tersebut. Sebut saja nama anaknya INDRA (15 Tahun). Perawakan Indra kecil, kurus dan kucel. Terlihat sekali dia depresi. Dari cerita kakaknya terungkap bahwa, beberapa waktu yang lalu, Indra tertangkap tangan sedang berduaan dengan seorang anak perempuan usia 2,5 tahun. Indra tertangkap tangan sedang menggerayangi kemaluan si anak perempuan tersebut. Jadilah orang sekampung menghakimi dia dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.

Pencabulan yang dilakukan indra hanya sebatas memegang kemaluan si anak perempuan (begitu pengakuan orang tuanya).

Indra berasal dari keluarga broken home. Bapak dan ibunya bercerai. Mamanya seorang buruh cuci. Karena kejadian itu, Indra di keluarkan dari sekolah. Oleh kakaknya Indra kemudian di titip ke sebuah panti asuhan (sampai tulisan ini dibuat, orang panti asuhan belum tahu kasus indra). Ibunya sudah sangat pasrah dengan peristiwa ini, dia tidak tahu harus berbuat apa, beruntung Indra masih bisa disekolahkan oleh orang panti asuhan ke sebuah sekolah lain.

Tak berapa lama di Poltabes, pemeriksaan terhadap Indra tidak jadi dilakukan, karena tiba-tiba gempa hebat mengguncang Padang. Jadilah kemudian dengan kesepakatan bersama, penyidikan akan dilakukan keesokan harinya.

Persoalan kemudian muncul, ketika kami berkeinginan agar Indra mendapatkan proses pendampingan hukum. Tetapi Wide, teman kami belum memiliki sertifikat advokat, maka kami minta LBH membantu proses dampingan hukum. Si Ana teman di LBH menyanggupi. Keesokan harinya, dapat kabar dari LBH kalau LBH tidak bisa memberikan pendampingan hukum, karena konsen LBH adalah kasus perkara pidana struktural (begitu kira-kira alasannya). Kami bingung mencari siapa advokat yang mau mendampingi pelaku pencabulan. Kami menghubungi beberapa pengacara dan kemudian mereka tidak bisa menyanggupi karena berbagai alasan, ada yang beralasan sedang banyak kasus, ada yang bilang hanya mau membela korban, dll.

Akhirnya, saya kemudian perintahkan Wide untuk membuka buku Undang_undang Peradilan Anak dan Undang-Undang Perlindungan Anak. KIra-kira pasal manakah yang memberikan peluang bagi kami untuk mendampingi pelaku (indra). Akhirnya di temukan solusi bahwa kami boleh mendampingi dengan status pekerja sosial. Maka dalam waktu singkat dibuatlah surat kuasa.

Surat kuasa tersebut ternyata belum juga di terima POltabes karena mesti di leges oleh Notaris. Tapi masalah timbul lagi, kami tak punya uang untuk membayar leges notaris yang hanya 100 ribu rupiah.

Wide bertanya…

“Kalo kita ambil di kas gimana ?”

Saya kemudian tertawa kecut…

“Wid, kas kita hanya tinggal 150 ribu rupiah. Nanti ajalah, gw akan usahakan, jangan takut, nanti gw akan berusaha semaksimal mungkin” Begitu jawab saya

Maka keesokan harinya , saya berhasil mendapatkan 100 ribu rupiah (rahasia dong gimana caradapatinnya, yang penting halal) dan kami menemui seorang notaris untuk mendaftarkan surat kuasa tersebut. Lalu kami ke Poltabes lagi untuk melihat berita acara penyidikan. Setelah membaca semua berkas penyidikan, lalu Indra menandatangai berita acara penyidikan tersebut. Kami diberikan saran oleh polisi untuk melakukan negosiasi damai dengan orang tua korban. Sehingga kasus ini bisa di cabut pelapor kembali. Kami serahkan sepenuhnya hal tersebut kepada keluarga Indra.

Setelah berita acara penyidikan selesai, saya mengantar Indra ke Panti Asuhan. Dalam perjalanan pulang saya bercerita dengan Indra. Dia mengaku khilaf, dia melakukan itu karena dipicu oleh hasrat yang menggebu akibat menonton tayangan porno dari sebuah situs internet. Dia sangat menyesal, dia tidak pernah membayangkan bahwa perilakunya tersebut akan berakibat terhadap kesulitan banyak pihak. Dia hampir saja meneteskan air mata melihat kesusahan yang di derita oleh banyak orang. Saya menilai bahwa penyesalan terlah terlihatdalam dirinya, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Nasi sudah jadi bubur.

Saya hanya diam mendengar pengakuan dan penyesalannya itu. Saya berpesan…

“Semua telah terjadi, ingatlah bahwa setiap prilaku kita menimbulkan resiko, oleh karena itu jangan pernah melakukan hal yang beresiko buruk terhadap banyak orang. Berdoa saja, mudah-mudahan kejadian ini ada jalan keluar yang bijak”.

Setelah sampai di perempatan Panti Asuhan, kami berpisah. Saya dan wide kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat teman. Dalam perjalan kami diskusi…..tentang kemungkinan-kemungkinan kasus ini jalannya kedepan…

Satu hal yang kami simpulkan adalah…”Indra adalah korban juga, korban dari orang dewasa yang tidak melindungi mereka dari kemungkinan melakukan perbuatan tercela”.

Kami prihatin akan nasib korban pencabulan Indra, tapi kami juga prihatin akan Indra. Masa depannya bakalan tercerabut jika kita tidak peduli dengan nasib anak-anak yang lain. Indra dan Korbannya adalah sama-sama korban. Mereka anak-anak kita juga yang harus di lindungi…………..

Memikirkan itu, kepala saya sakit sekali. Tak habis pikir, persoalan rumit ini akan menimpa saya dan wide secepat ini. Kami belum siap, kami tidak memiliki pengacara, kami berada di dua sisi yang rumit. DI satu sisi anak anak yang jadi korban, di satu sisi ada anak yang jadi pelaku…Gimana lagi…kami harus membantu sekuat tenaga……

Kami tidak tahu bagaimana kasus ini akan berkahir……..kami pasrah………..yang penting berusaha………

Lalu dalam kepasrahan itu, saya meng SMS seorang teman…..

“Ehhhh tolong informasikan kepada abang, kalo ada warnet yang tidak bisa buka situs porno, atau warnet yang tidak bersekat-sekat”.

Sang teman bertanya….

“Untuk apa bang…”

Saya kemudian jawab iseng,……..

“Untuk di kasih AWARD karena telah berjasa melindungai anak-anak dari bahaya pornografi…”

Sang teman kemudian membalas SMS….

“Oooooooooooooooooooooo, bagus tuh…tapi pasti sulit mencarinya…”.

Saya hanya bisa tersenyum……………….kecut………………..

Iklan

12 thoughts on “‘da imoe, bisa ke poltabes sekarang..ada kasus..’

  1. wah tragis juga pak imoe. ketidakbertanggungjawabnya orang tua telah menyebabkan anak-anaknya jadi korban. sungguh, kesalahan utama pada ortunya.

    mudah-mudahan ke depannya anak-anak yg diterlantarkan ortunya tdk bertambah jumlahnya.

  2. menarik, nggak banyak orang yg mau membantu pelaku. Yeah, karena pelaku sering diidentiikan sebagai ORANG YANG BERSALAH, DAN SELALU BERSALAH. padahal, di sisi lain dia juga korban..

  3. salut buat perjuangan imoe dkk bagi anak-anak.
    hukuman harus adil dan mempertimbangkan akibatnya bagi masa depan mereka.
    hukuman yang buruk tidak akan membuat insyaf, justru akan semakin menjerumuskan dan memerosotkan.

  4. tetap berjuang pak imoe…..

    Namun intinya tetap pegang prinsip, yang benar d benarkan yang salah tetap salah dan di proses agar kembali benar…. 🙂

  5. abdullah khusairi

    Inilah yang terjadi ketika syahwat mengalahkan nalar sehat seseorang. keseimbangan logika dan jiwa akan memberikan hidup yang tenang.

  6. Kasusnya jadi serba salah ya Pak Imoe, yg mau dibela pelaku dan anak2, pelaku juga korban dr sistem org dewasa… Tapi ide Bpk tentang reward ke Warnet yg sdh memblokir pornografi itu kayaknya patut ditindaklanjuti, kalau perlu tempel di pintu masuk Warnet semacam logo anti pornografi…wass

  7. nafsu-nafsu…gda mengenal kasta…ada “lawan” disikat…btw npa salut dengan saya…penasaran ya…”aku hanyalah penulis bodoh yang mencoba menuangkan apa yang didengar, dilihat ke dalam tulisn..whats gda yang perlu disalutkan..semunya hanyalah karena nurani…hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s