‘cisarua, bandung dan jakarta’

Standar

Ketika mendapat undangan dari Direktorat Pelayanan Anak Departemen Sosial beberapa minggu yang lalu, saya langsung senang luar biasa. Kegiatan yang akan saya ikuti adalah Capacity Building untuk penatalaksanaan program Perlindungan Bagi Anak Yang Membutuhkan Perlindungan Khusus (Children Need Special Protection) bahasa kerennya begitu. Tentu saja kegiatan ini akan mendiskusikan banyak hal tentang komunitas anak-anak dalam situasi rawan seperti anak korban bencana, anak korban kekerasan, anak berkonflik dengan hukum, anak jalanan, dll. Maka, saya mempersiapkan diri untuk mengikuti agenda/kegiatan ini.

Kegiatan Capacity Building ini sendiri telah dirancang oleh panitia untuk dilaksanakan di Cisarua Bogor.  Nah, tentu saja, saya yang hobbynya ‘malala’ alias keluyuran, mulai memasang ancang-ancang untuk memanfaatkan kesempatan juga untuk ke Bandung dan Jakarta agak beberapa hari.  Ke Bandung, mau menemani sahabat muda disana CATRA, BENIQ dan LATIF.  Ketiga makhluk muda ini adalah sumber inspirasi dan teman diskusi paling hebat waktu di Padang.  Sementara rencana singgah ke Jakarta juga punya tujuan yang sama, menemui DHANU, salah seorang teman muda (asal Padang) yang sedang kuliah di kampus seni di Jakarta.

Ternyata perjalanan saya Cisarua, Bandung dan Jakarta kali ini adalah perjalanan yang sangat emosional.  Inilah cuplikannya :

Tentang Ibu Meti Subandhini : Inilah salah seorang fasilitator kegiatan yang saya ikuti di Cisarua Bogor.  Ibu cantik ini begiu berkesan bagi saya.  Beliau adalah sosok guru ideal.  Dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibir, mereka mampu menjelaskan kepada kami sebuah pendekatan penjajagan kebutuhan bagi anak korban kekerasan.  Bu Meti adalah guru sekaligus fasiliotator yang tidak hanya menggunakan pendekatan klasikal dalam mengajar, tetapi sentuhan individunya mampu membuat kami terpesona.  Apalagi berhadapan dengan peserta yang rata-rata sudah bangkotan, banyak ribut, becanda, dll.  Jadilah tools yang rumit dapat dijelaskan kepada kami dengan mudahnya.  Sangat Simple bagi Bu Meti.

Tentang Andre : “Andre, temani abang ke bandung ya, agak beberapa hari” begitu SMS saya ke Andre

“Ok bang, siap, jangan takut, aman tuh…” Andre menyanggupi permintaan saya.

Saya sengaja mengajak Andre.  Salah seorang teman yang berdomisili di Jakrata untuk menemani ke Bandung.  Maklum, kalo melakukan perjalanan sendiri, rasanya kurang asyik.  Jadilah kemudian, selesai kegiatan dari Cisarua, saya dan andre bergerak menuju Bandung.

Sekedar menginformasikan, Andre adalah seorang anak usia 17 Tahun. Perkenalan saya dengan Andre sudah sejak tahun 2003 yang lalu. Waktu saya Mendampingi anak Sumbar dalam Kegiatan Forum Anak Nasional Bidang Kesehatan. ANdre pada waktu itu mewakili anak-anak jalanan Jakarta. Entah mengapa, Andre selalu dekat dengan delegasi Sumbar, mungkin dia menemukan persaudaraan yang unik diantara anak-anak Sumbar. Dulunya sejak usia 8 tahun, Andre adalah seorang anak jalanan yang mengantungkan hidup di terminal dan stasiun kereta api di kaweasan Jakarta Timur.  Saat ini Andre adalah seorang anak yang mengkoordinir anak-anak jalanan lain di Jakarta untuk berbagai kegiatan positif. Andre anak yang pintar, pandai menulis (untuk ini, saya akan posting tulisan andre secara khusus). JIka kita membaca tulisan-tulisannya, kita tidak akan menyangka bahwa dia adalah anak jalanan. Andre juga baru saja kembali dari SRILANKA mengikuti kegiatan pertemuan AIDS internasional di sana. Walaupun telah lama di jalanan (sejak kelas 3 SD) tapi dalam diri Andre terpatri begitu kuat keinginan untuk jadi lebih baik.

Tentang Bandung dan Sahabat-Sahabat : Tidak ada tujuan lain, kecuali mengunjungi sahabat di Bandung. Mereka adalah CATRA, BENIQ dan LATIF. Semuanya sahabat-sahabat muda saya yang sedang menuntut ilmu di Bandung. Malam itu, akhirnya kami menginap di kamar kos Beniq. Sebelum ke Kosan Beniq, kami nongkrong dulu di sebuah kafe yang bernama GAMPOENG ACEH. Disana, kami berempat ngobrol panjang lebar (saya, andre, catra dan beniq). Sudah bisa di bayangkan, kalau ketemu Catra dan Beniq, pasti obrolan kami tak sudah-sudah. Seperti biasa, kami ngobrol mulai dari masalah kangen-kangenan dengan sahabat lama, nanyain kabar, hingga ke persoalan negara. Ya…begitulah kami selalu memacu ADRENALIN kami untuk diskusi.

Akhirnya kami menyudahi diskusi pukul 02.00 WIB dan kemudian menuju kos an Beniq. Di Kamar kos Beniq, saya kemudian melanjutkan obrolan hingga pukul 04.00 WIB.  Kami mendiskusikan obsesi-obsesi, cita-cita dan mimpi-mimpi.  Begitu dahsyatnya sebuah ‘mimpi’ hingga mampu memuat mata kami terbuka lebar hingga subuh menjelang. sementara Andre tidur mendengkur sesampai di kamar kos Beniq.

Keesokan paginya, saya bersiap-siap untuk belanja oleh-oleh. Maklumlah, selalu saja ada sanak saudara yang sepertinya harus di bawakan oleh-oleh. Saya di jemput Catra sementara Beniq menuju kampus ITB karena mau mendampingi senior untuk penyambutan mahasiswa baru.

Iseng saya bertanya kepada Catra.

‘Cat, apa kamu ndak menyambut mahasiwa baru juga.  Kamu kan pengurus di Unit Kegiatan Mahasiswa ?’

“Untuk hari ini, semua jadwal saya batalkan bang, karena mau nemani bg Imoe’. Catra menjawab…

Saya hanya tersenyum mendengar responnya. Respon yang sungguh diluar dugaan.  Pernghargaan untuk seorang tamu…. (heheheh)

Kemi menuju kawasan DISTRO untuk melihat-lihat dagangan fashion ala bandung dan ternyata setelah berkeliling, hanya satu barang yang akhirnya saya beli. Mungkin saya belum beruntung. Siang itu, kami melanjutkan senang-senang nonton di 2.  Film yang kami pilih judulnya BASAH (Beniq telah bergabung). Saya penasaran sekali dengan film ini, katanya unik dan lucu. Dan setelah di tonton, ternyata penilaian saya “STANDAR”, walalupun ada lucu-lucu dungu nya.

Sore selesai nonton, kami nyari makan dan nongkrong di cafe.  Cafe yang kami pilih Ngobrol lagi dan kali ini ngobrolin PEREMPUAN dengan narasumber CATRA PRATHAMA, ST (hahahahahahaha) karena memang dia ahlinya.

Malam terasa tak kunjung datang.  Tak mampu memaksa kami untuk pulang ke kos an Catra.  Akhirnya kami memutuskan untuk main Bilyard di DAGO PLASA. Baru saja main bilyrad, sebuah SMS nyangkut di HP saya.

“Lagi dimana bang, Tif susul kesana ya ? Ternyata Latif.

Tak berapa lama kemudian, Latif Juga bergabung bersama kami ditemani oleh kakaknya.  Jadilah malam itu sempurna, karena tujuan saya untuk mengunjungi sahabat di bandung terealisasi.

Tentang Seniman Cilik Bandung : Pukul 01.00 WIB, selesai main bilyard kami kelaparan.  Tujuan kami selanjutnya adalah berburu makan tengah malam.  Akhirnya kami menemukan tempat jajan malam digelar.  Kami duduk, memesan makanan dan ngobrol sepuas-puasnya.  Saat kami ngobrol itulah muncul seorang anak ‘pengamen cilik’ kira-kira usia 11 tahun, menenteng gitar dan mulai menghibur kami.  Mulanya kami tidak begitu peduli.  Maklum, mungkin semua kami berfikir bahwa pengamen yang sau ini, sama dengan pengamen-pengamen yang lain.  Nyanyi dan kemudian minta uang.

Dugaan kami salah, ternayata si anak ini melakoni profesi pengamen dengan baik.  Dia bernyanyi secara baik, bermain gitar mahir sekali, memainkan lagu dengan cita rasa dan aransemen tinggi serta menyapa pengunjung dengan ramah.  Akhirnya, karena semua kami mengapresiasi ‘seniman cilik’ ini, kami meminta dia menyanyikan beberapa lagu untuk kami dengan kompensasi sejumlah uang yang telah kami siapkan.  Saya sempat mengabadikan atraksi si anak ini di HANDPHONE saya.  Saya begitu terharu sekaligus sedih melihat anak ini menaklukan ‘kejamnya nasib’ yang menimpa dirinya.

Selesai menyanyi, kami kemudian memasukan sejumlah uang kedalam gelas bekas air mineral yang diletakkan dihadapan kami.  Dan si anak kaget, karena tidak menyangka kami memasukan sejumlah uang diluar perkiraannya.  Setelah melihat uang tersebut, dia senyum.

‘Terima kasih om, tante.  Saya pulang dulu ya, besok mau sekolah’ begitu kata si anak dan saya terpana melihat kegigihan mereka.  Kami semua bertepuk tangan.  Ada diantara kami yang menjabat tangan si anak, ada yang mengusap kepala, ada yang menpuk bahu dan MELIN (kakak LATIF) malah menawarkan untik mengantar pulang ke rumah.  Melihat adegan kehidupan yang baru saja lewat di depan kami, membuat kami semakin menghargai hidup, bahwa kami masih diberikan kesempatan untuk mengecap hidup lebih baik dari yang lain.

Malam itu kami tutup dengan kembali ke rumah masing-masing.  Beniq ke kosannya, saya, Andre dan Catra ke kosan si Catra.  Se sampai di kosan Catra, hasil rekaman pengamen cilik bandung tadi saya upload ke youtube hehehe.

Tentang Perjalanan Ke Jakarta Dengan Kereta : Dua hari dan dua malam saya di Bandung, dan kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta.  Pagi itu saya dan Andre telah bersiap-siap untuk ke Jakrata.  Kami berencana naik kereta api.  Maklum, karena memang saya yang ngotot pengen naik kereta api, karena tidak pernah seumur-umur naik kereta api perjalanan Jakarta Bandung ataupun sebaliknya.  Selalu perjalanan ke Bandung saya dahulu menggunakan travel.

Sebelum berangkat, dengan serius CATRA bilang kepada Saya :

‘Kadang-kadang, rasanya ingin pulang saja bang, karena merasakan sekali bahwa di sini, kita mesti membangun semua dari awal, memulai koneksi yang baru, bergaul dengan cara dan peradaban yang baru, mengelola hidup sendiri dan lain-lain.  Tapi hal itu harus di tepis, karena tantangan baru juga menunggu di sini, menaklukan ITB’.

Saya senyum mendengar itu. Dan menjawab.

“Cat, hidup ini harus naik kelas.  JIka di Padang hidup Catra di anggap sebagai kelas II maka di Bandung Catra sudah menapaki kelas baru yaitu kelas III.  Nah, tentu saja, setiap menjalani kelas baru, kita juga harus memulai dari awal lagi dan itu bukan berarti ‘set back’.  Sekarang tantangnya adalah sejauh mana kita mampu menyesuaikan dengan kelas itu untuk mempersiapakn naik ke kelas berikutnya dan memulai lagi dari awal di kelas itu'”.

Mendengar itu, gantian si Catra yang tertawa lebar. Andre ikut-ikutan menganguk.

“Benar bang….sippp mantap… CATRA akan catat itu”.

Kami berpisah dengan CATRA.  Saya dan Andre melanjutkan perjalanan ke Stasiun Kereta Api.

Nasib memang sedang tidak memihak kami.  Tiket untuk kereta ke Jakarta telah terjual habis.  Terpaksa kami dapat ‘tiket berdiri’.  Berhubung saya sangat ingin naik kereta, tanpa pikir panjang kami saya menyanggupi untuk tetap naik kereta, sekalipun harus berdiri.  Akhirnya kami menghabiskan 3 jam perjalanan ke Jakarta, berdiri dan sekali-kali duduk di lantai kereta.  Sempat juga saya tertidur, tetapi kami menikamti perjalanan itu.  Akhirnya saya naik kereta…….

Tentang Anak Jalanan Tebet Utara : Tujuan pertama kami sampai di Jakarta adalah ke Yayasan tempat Andre bergabung.  Yayasan Rumah Kita namanya, berada di kawasan Rawa Bunga Jakarta Timur.  Yayasan ini memang bekerja untuk anak-anak jalanan dan anak-anak bekar narapidana anak.  Sampai di Yayasan, say di sambut oleh anak-anak yang ada di Yayasan serta salah seorang pengurus yayasan.  Menyenangkan berada diantara mereka, ngobrol, becanda dan bertukar pengalaman.

Selesai mandi, saya dan Andre bermaksud untuk melanjutkan mengobrak-abrik Jakarta untuk mencari oleh-oleh buat sanak saudara dan handai taulan.  Target kami adalah kawasan TEBET.  Kawasan dimana banyak distro-distro menawarkan dagangannya.  Sejumlah barang berhasil kami bawa pulang.

Berhubung Andre sedang Ulang Tahun, saya kemudian memberikan kejutan baginya.  Beberapa barang FASHION yang diminati Andre akhirnya saya kasih kedia sebagai hadiah ualng tahun, walalupun dengan sedikit memaksa.  Maklum, Andre anaknya sungkan-sungkan.

Selesai belanja, kami kelapran.  Kami memasuki warung tenda yang menjual berbagai makanan.  PIlihan kami Soto Babat.  Ternyata keinginan makan saya tidak di dukung oleh menu yang sesuai dengan selera saya.  Soto Babat yang semula dalam pikiran saya mampu menghalau rasa lapar, ternyata tidak sesuai dengan lidah MINANG saya.  Manis, kurang cabe, dan nasinya lengket/lunak.  Jadilah saya hanya mampu menghabiskan setengah porsi saja.

Sambil menikmati ‘Es Teh Manis’ di warung tenda itu.  Sekonyong-konyong muncul anak usia kira-kira 6 tahun.  Dia lansgung menuju meja saya dan kemudian mengambil sisa makanan saya.  Awalnya saya kaget, tapi segera maklum.

“Ini pasti anak-anak jalanan lagi’ kata hati saya.

Benar saja, ternyata tidak hanya mengambil sisi di meja saya, tetapi dia juga menyelamatkan sisa makanan di meja pengunjung yang lain.

Di luar saya lihat ada rombongan anak-anak lain, yang usianya lebih besar menunggu sisa makanan tersebut, untuk kemudian dimakan beramai-ramai.

‘Waduh…Ndre….’ itu saja yang saya ucapkan ke Andre.

Andre hanya tersenyum dan berujar.

‘Hehehehe udah biasa bang, kami juga kadang-kadang sampai hari ini juga begitu kok.  Lebih baik yang begini bang, dari pada makanan yang diambil di tong sampah, ya kan..?’ hehehehehehehehe

Saya hanya bisa tertawa…..

Selanjutnya Malam kami habiskan bersama di Hotel Cemara Menteng.  Kami tidak kembali ke RUMAH KITA, karena ada eman yang nawarin nginap bersama di Hotel Menteng.

Sekali Lagi Tentang Andre : Dua hari di Jakarta, saya kembali ke Padang.  Andre yang mengantar saya sampai ke terminal Damri Bandara di Blok M.  Begitu Damri mau bergerak, Andre menjabat tangan saya.

‘Trima kasih ya bang’.

‘Lho..bang yang harus trima kasih ke Andre, karena udah 5 hari nemani bang keluyuran.”

‘Ngak ah bang, Andre senang bisa ketemu ama bang lagi setelah sekian lama gak ketemu.  Kerasa ketemu kaka sendiri.  Doaian Andre bisa ke Padang bang.  Doain buku Andre bisa seggera terbit’.

Dorrrrrrr trat trat trat….Saya keget luar biasa……

‘Jadi kamu lagi bikin buku ya, sialan…udah 5 hari kita bersama, kamu ngak pernah ngomong’

‘Iyalah bang, ngapain juga di obral.  Ntar aja kalo dah terbit…’

Waduh….saya semakin salut ama Andre.  Saya berdoa mudah-mudahan dia sukses. Amin…. Kami berpisah dan Andre melambaikan tangan.

Tentang Lion Air : Tumben, LION AIR yang mau saya tumpangi ke Padang ON TIME…hehehehehehe

Cisarua, Bandung dan Jakarta kali ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.  THanks to Andre, Catra, Beniq, Melin, Latif dan Para Sobat Jalanan yang say temui (walalupun tidak sempat berkenalan).

Iklan

19 thoughts on “‘cisarua, bandung dan jakarta’

  1. perjalanan yang melelahkan ya pak imoe. saya bisa bayangkan dari tulisan pak imoe. banyak hal yang bisa didapat, senang susah hal biasa kan?

    yang penting sekarang sudah di padang lagi kan? mohon maaf lahir batin dan selamat menunaikan ibadah puasa.

  2. To Pak Zulmasri : Emang Perjalanan yang melelahkan pak, tapi memuaskan bathin.
    To Zoel : Sama-sama mohon maaf lahir bvathin pak zoel.
    To De Javu1505 : Boleh aja kok ikutan rifka, kapan bisanya tenang aja…
    To Marshmallow : Sangat mengesankan niy…kapan ya bisa di ulang kembali ?
    To Si Dion : Mantap dion…ayo, bergabung untuk perubahan sosial….
    To Musafak : Ah tidak ada resep jitu pak….semua insting dan alamiah
    To Pak Suhadi : Trima kasih pak…berlebihan rasanbya jika saya di bilang pahlawan, berat banget status itu….
    To Fenny : Iya ya…kok gak ketemu ya…kasih HP dong hahahaha
    To Dedy : Iya niy de…senang banget yang penting ketemu sahabat dulu hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s