‘Muri mempertemukan kami setelah 10 tahun tak bersua’

Standar

Ramadhan kali ini memang penuh pengalaman ‘spirituil’ bagi saya.  Setidaknya ada beberapa moment hidup yang tidak bisa terlupakan.  Salah satunya adalah bertemu teman-teman lama yang hampir 10 tahun tidak bersua.

Puasa baru saja jalan 8 hari, si Muri menelpon saya.

“Bang. lagi dimana, ni si Hendrik mau ketemu, katanya kangen ?”

Agak lama saya kemudian memetakan nama Hendrik.  Karena ada beberapa teman yang bernama Hendrik.  Tapi akhirnya tidak susah untuk mengetahui Hnedrik yang mana yang dimaksud Muri.

“Hendrik ya…, wah…dimana dia sekarang, gimana kabarnya, gimana ya tampangnya ?’

“Ini dia bang, ngomong langsung aja ya” Begitu kata Muri dan sesaat kemudian saya terlibat pembicaraan via handphone dengan Hendrik.  Singkat cerita kami kemudian janjian setelah berbuka ketemu di Rumah Mawan.

Setelah berbuka, bergegas saya ke rumah Mawan.  Mawan, Muri dan Hendrik adalah 3 orang sahabat saya.  Mereka adalah 3 dari sekain banyak ‘gank’ kami waktu di hidup dan malang melintang di Jalanan dan Pasar Raya.  Sambil menuju rumah Mawan, saya teringat memori lama.  Ya….kenangan 10 tahun yang lalu.

Masih segar dalam ingatan saya, Hendrik lah anak jalanan pertama kali yang saya kenal pada tahun 1997 yang lalu.  Dia jugalah yang kemudian memperkenalkan saya dengan teman-teman anak jalanan yang lain.  Masih segar juga dalam ingatan saya, setiap pagi sahabat-sahabat anak jalanan itu berangkat dari tempat masing-masing (entah dari rumah, entah dari emperan toko, entah dari tempat tidur semalam) menuju gudang ikan asin di belakang terminal lintas Andalas Padang (terminal itu sekarang tidak ada lagi, telah berganti Plasa Andalas).  Setiap subuh mereka semua mengejar dan memanjat truk ikan asin yang masuk ke pangkalan pembongkaran.  Di tangan mereka selalu tersedia kantong plastik kresek.  Mereka memilih ikan asin yang jatuh dan berceceran ketika di bongkar dari atas truk oleh kuli panggul.  Ikan asin berbagai ragam ini mereka kumpulkan dengan menggunakan sapu lidi kecil, lalu dimasukan kedalam kantong plastik untuk selanjutnya dijual lagi eceren di Pasar Raya Padang.  JIka apes, kadang-kadang mereka mengambil jalan ekstrem, yaitu menggunakan silet untuk merobek karung-karung berisi ikan asin tersebut, agar bisa jatuh berserakan ketika diangkat oleh kuli.  Hehehehe kenangan itu masih membekas di ingatan saya.  Inilah kerjaan mereka semua untuk mendapatkan uang, untuk makan, beli rokok, main game, nonton di bioskop murahan (Padang Theatre).  Hingga beberapa tahun kedepan satu persatu dari mereka hilang secara misterius…..

Tak berapa lama saya sampai di rumah Mawan.  Ya…rumah Mawan adalah posko yang selalu kami jadikan tempat untuk berkumpul.  Walalupun keluarga Mawan adalah keluarga yang berstatus ‘penerima bantuan langsung tunai/ tapi kami selalu nyaman di rumah itu.  Rumah kontrakan sederhana, dengan dua kamar satu ruang tamu yang diisi oleh hampir 10 orang anggota keluarga, kadang-kadang di tambah beberapa anak jalanan lainnya.  Kenyamanan kami itu tak lain dan tak bukan, karena kami tidak pernah menemukan sedikitpun keluh kesah dari orang tua Mawan akibat keberadaan kami yang kadang-kadang berperilaku ‘brandalan’.  Itulah orang tua Mawan.  Seorang kuli Pasar Raya yang tidak pernah mengeluh

Lalu saya masuk rumah Mawan dan langsung melihat Hendrik.  Saya hampiri dia dan kami bersalaman lama sekali.  Tak habis saya memandangi Hendrik, hingga akhirnya kami bernostalgia.  Barulah terungkap kalau saat ini Hendrik sudah berdomisili di Pasaman Barat, bekerja sebagai kuli di perkebunan sawit.

“Ya..begitulah bang, Saya pergi begitu saja, ngak pamit sama yang lain, karena sudah tidak tahan hidup dengan cara menggembel di Pasar Raya Padang.  Saya ingin merubah nasib, umur juga sudah bertambah.  Walalupun ngak kaya, tapi paling tidak saya sudah punya penghasilan tetap dari bekerja di kebun sawit itu”.  Begitu Hendrik memaparkan kehidupannya setelah 10 tahun tak bertemu.

“Besok saya kembali ke Pasaman bang.  Saya sudah plong karena sudah ketemu ama bang niy…kalo ke pasaman jangan lupa singgah ke tempat saya bang..”

”’Ok Ndrik, bang senang bisa ketemu Hendrik niy, soalnya udah hampir 10 tahun ngak ketemu, tau tau ketemu dan Hendrik jauh lebih baik dari dahulu’.

Saya jabat tangan Hendrik dan kemudian kita semua pamitan dengan keluarga Mawan untuk kembali ke tempat masing-masing.  Dari jauh Hendrik dan Muri melambaikan tangan.

Ramadhan ke 19.  Saya menerima telpon lagi.

“Hallo ini bang Imoe.  BIsa ketemu ngak sekarang ?

“Siapa niy ?

“Ada deh…teman lama, udah 10 tahun tidak ketemu ?”

Menerima telpon ‘kucing-kucingan’ begini saya paling males.  Apalagi waktu itu, saya lagi capek karena baru ngurus buka bareng di Panti Asuhan Darul Maarif.

“Ngak bisa ketmu, hari sudah malam, telpon besok lagi aja ya…” Saya terpaksa jawab dengan ketus.

“Hallo bang….ini Muri” Tiba tiba telpon tadi di ambil alih Muri.

“Oooo ada apa Muri ? Siapa tadi ?”

“Si Ade bang…ingat kan ?”

“Hahhhh Ade mana ? Ade Nas ya…?”

‘Bukan bang…Ade..Ade Ganteng….”

“Wah…mana dia…ini bang, dia pengen ketemu…”

“Hallo bang, ini Ade bang…, ketemuan yuk…”

“Wah…gimana kabar kamu Ade ? OK besok kita berbuka di luar ya…awas kalo gak datang…” Malah saya yang akhirnya penasaran ingin ketemu dengan dia….

Keesokan harinya akhirnya kami bertiga Muri, Ade dan Saya bertemu di Cafe Damar Shaker dan kita berbuka bersama.

Waduh…lagi-lagi si Muri, mempertemukan saya dengan sahabat anak jalanan yang udah hampir 10 tahun tak ketemu.  Cuman, ketemu Ade selalu saya idam-idamkan, karena saya mendapatkan informasi dari banyak orang bahwa sejak lari dari Padang, dia berdomisili di Batam dan bekerja sebagai pengedar Narkoba dan bahkan keluar masuk Singapura dan Malaysia untuk urusan begitu…..  Saya sebetulnya berfikiran, tidak masuk akal dia bekerja sebagai pengedar narkoba, soalnya Ade adalah anak yang paling baik diantara anak-anak jalanan lainnya.  Kelakuannya santun, ngak suka berkelahi, maling dan kalaupun berbuat salah cenderung ikut-ikutan aja.  Tidak pernah jadi ‘tokoh utama’ keributan. Beda sekali dengan Hendrik, yang selalu menjadi biang keributan.  Bajkan Hendriklah yang menjadi motor penggerak tawuran masal anak Terminal dengan Anak PAsar Raya pada tahun-tahun itu.  Hingga salah seorang diantara mereka terkena luka silet di tangan sepanjang 15 cm.  Mengenang itu, saya bergidik.

Pertemuan dengan Ade akhirnya kesampaian.  Saya begitu tkjub melihat Ade saat ini.  Tinggi, kekar dan semakin gagah (maklum saja, dia anak jalanan yang paling gagah diantara anak yang lain, oleh karena itu sering kali dia di ejek oleh teman-teman jalanan lain sebagai anak jalanan perempuan, karena memang tampangnya lebih mirip perempuan).

Lama sekali saya menjabat tangannya dan kemudian barulah kami bercerita.

“Sudah 10 tahun ya bang…ngak terasa”. Begitu Ade membuka pembicaraan.

“Iya…baru saja kemaren bang ketemu Hendrik, sekarang ketemu kamu, wah…berkah kali ya…” Saya jawab.

“Iya bang…”

“Cerita dong, kenapa tiba-tiba menghilang ?”

“Hehehehehe, begini lho bang…10 tahun yang lalu itu, saya dan Adi balok ke Batam.  Waktu itu kita melarikan duit agen mobil kuning minang plasa.  Nah, karena kita di cari-cari, kami menuju Batam aja berbekal duit yang kami larikan itu…”

“Trus, ngapain di Batam ?”

“Sampai di Batam, 2 tahun saya kerja jadi tukang semir bang.  Hidup di jalan dan tidur dimana saja.  Sampai akhirnya saya kemudian ikut kerja dengan orang berdagang di Pasar Batam itu, jual mainan anak-anak.  Bosan dengan pekerjaan itu, saya kemudian diajak oleh kawan jadi calo kapal penumpang.”

“Gimana tuh ceritanya jadi calo itu ?”

“Begini bang, hampir 3 tahun hidup saya di kapal Pelni.  Kapal penumpang jurusan Batam dan Jakarta.  Nah, biasanya kan kapal isi resminya kan udah ada, misal satu kapal isi 1000 orang.  Nah, tapi kenyataannya kapal kadang-kadang bisa mengangkut 2000 orang lho bang.  Nah, yang 1000 orang itu ilegal, tidak punya tiket resmi, tapi pake Calo, nah saya jadi calonya dengan beberapa calo lain.  Main mata dengan anal buah kapal, dan petugas…begitulah.  Akhirnya pekerjaan itu saya tinggalkan, karena semakin banyak orang razia, waktu kapal laut musim kecelakaan dan karam beberapa tahun lalu.  Takut kena razia, maka saya turun dan berenti”.

Saya penasaran menanyakan soal “pengedar narkoba”.  Ngak tahu gimana cara nanyainnya, takut tersinggung.  Tapi akhirnya saya tanyakan juga.

“Bang dengan kabar, kamu juga jadi pengedar Narkoba juga ya…”

Mendengar itu, Ade ketawa terbahak-bahak……..

“Ndak lah bang….pasti bang dengar dari si Adi Balok kan…., kayak ngak tahu aja dia…kan dari dulu kita udah berteman dengan Adi BAlok bang…dia tukang kibul tuh…di Batam kerjannnya juga ngibul orang…hehehehe”

Mendengar itu saya lega juga…ternyata Ade tidak seperti yang diberitakan oleh teman-temannya.

“Lalu apa kerjaan kamu sekarang…?”

“Udah hampir setahun saya di Kualalumpur bang….”

“Ngapain ?”

“Saya ikut jualan textile dengan salah seoarng juragan disana “.

“Apa kamu ndak kena razia ?”

“Saya pake paspor pelancong bang, dan sekali sebulan di perpanjang ke Dumai….untuk perpanjangan masuk ke Kualalumpur, jadi saya ngak kena razia….”

“oooooooooooooo”.  Saya kagum sama Ade.

“Ya gitulah bang,sekarang saya jualan textile.  Kadang saya juga ke Thailan dan Singapura dengan bos disana.  Biasanya nyari barang dan ngantar pesanan”.

Kami kemudian ngobrol kesana kemari dan rata-rata kami bernostalgia.  Ade menayakan semua teman-teman lama dan Muri nyeletuk.

“Wah bang, ternyata saya dan Mawan aja yang tinggal di Padang ya…semua sudah merantau…”

Saya jawab…

“Muri…sepertinya kamu di takdirkan untuk hidup di Padang.  Menjaga kampung.  Siapa lagi yang akan ditemui dikampung jika semua merantau…”

Kami semua tertawa……10 tahun ternyata tidak terasa.  KAhirnya MUrilah yang kemudian mempertemukan saya dengan teman-teman anak jalanan, yang dulu pernah bergaul, hidup dijalanan, makan, minur, tidur dijalanan, di kejar-kejar pamong praja, dan lain-lain.  Kini mereka teman-teman anak jalanan itu sudah mulai tumbuh menjadi manusia dewasa dan sementara saya sudah semakin tua.

Masih segar dalam ingatan saya, 10 tahun yang lalu…mereka masih bercelana pendek, masih anak-anak belasan tahun, dan saya waktu itu masih mahasiswa.  Sekarang semuanya berbeda…………

Iklan

15 thoughts on “‘Muri mempertemukan kami setelah 10 tahun tak bersua’

  1. harus ada yang jadi penjaga gawang ya bang, kalo ga ada siapa lagi isi orang2 kampung kita, ya nggak? hehehe

    bdw, nostalgianya pasti seru banget ya, kisah nya rame banget dan so pasti, keras.
    salam kenal aja buat semua

  2. aku asyik betul membaca tulisan ini dari awal, serasa ikut berada di sana.
    beruntunglah imoe yang kaya pengalaman, begitu juga mantan anak-anak jalanan itu.
    kaya pengalaman dan kaya hati.
    harta bukan jaminan hidup bahagia kan?

    eh, ditunggu fiksinya ya?

  3. To Dian Propa : Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal juga ya. mohon maaf Lahir Bathin :
    To Kan Deddy : Iyah kang ded, sukses spiritual banget…ntah kapan bisa terulang lagi ramadhan yang indah ini heheheh Selamat Hari Raya Idul Fitri Kang hehehehe.
    To Pak Zul : Selamat Idul Fitri Pak Zul…mohon maaf lahir bathin…di tunggu di Kampung niy hehehe
    To Rindu : Iya yah…say juga penasaran banget pengen ketemu niy…tulisan di blognya mengsinpirasi say lho hehehe.
    To Pak MUsafak : Sama-sam pak, say yakin ramadhan juga berkah bagi bapak dan semuanya. Selamat Idul Fitri…
    To Uni Marsmallow : Selamat Idul Fitri niy…..o ya fiksi saya ngegantung, belum selesai, gak tau mau dibawa kemana arahnya…atau say posting aja yang lagi ngegantung itu ya…ntar biar di kasih ide ama yang lain…ngak pulang niy….bagi cerita lebaran di aus ya….
    To Pak Zole : Reunian banget pak zoel….heheheheh lapeh taragak….

  4. soal cerpen, boleh juga dipublikasi sebelum selesai biar interaktif.
    tapi mendingan coba diselesaikan dulu, moe.
    ceritanya gak musti selalu berakhir dengan suatu penyelesaian, kan?
    akhir yang gantung juga asyik, bikin penasaran.

  5. suhadinet

    Selamat bernostalgia karena sudah ketemuan. 10 tahun indak basuo!
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H. Mohon maaf lahir dan batin ya Moe.

  6. To Daniel Mahendra : Thanks mas daniel…O ya…ijin saya link ke blog saya ya…tulisan mas menginspirasi saya lho…
    To Pak Suhadi : Hehehe emang nostalgia yang tak terlupakan pak…
    To Uni Marsmallow : Iyo ndak ni…rancak di posting lai kan hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s