“Mampukah Film Laskar Pelangi Jadi Milik Semua ?”

Standar

Film Laskar Pelangi tiba-tiba menjadi pembicaraan hebat belakangan ini. Seluruh media memberitakan kesuksesan film ini yang telah mencapai penonton sebanyak 1,1 juta orang. Sebuah angka yang fantastis, karena jumlah ini diperoleh hanya dalam waktu singkat.

“Mudah-mudahan jumlah penonton semakin bertambah” Begitulah ungkapan Mira Lesmana selaku produser pada beberapa infotainment.

Seperti yang sudah diduga semula, bahwa film Laskar Pelangi ini akan sukses seperti novel nya. Laris manis bak kacang goreng. Walaupun semula para penggemar berat novel Laskar Pelangi mengkuatirkan kemampuan para sineas Indonesia menterjemahkan sebuah novel yang fenomenal kedalam potongan-potongan gambar. Sayapun punya pikiran yang sama, pasalnya beberapa film yang diangkat dari sebuah novel, dan pernah saya tonton selalu mengecewakan. Sebuit saja yang terbaru yang saya baca dan tonton adalah “The Kite Runner”. Novelnya jauh lebih bagus di banding filmnya. Akan tetapi sang sutradara Riri Reza mampu menepiskan anggapan itu.

“Tekanan untuk menjadikan film ini sebagus novelnya, membuat kami bekerja lebih ekstra. Saya berdialog dan diskusi berkali-kali dengan Mas Andrea Hirata, untuk mendapatkan roh film ini” Setidaknya begitulah yang diungkapkan oleh sang sutradara.

“Film Laskar Pelangi ini jauh dari ekspetasi saya. Saya malah merasakan filmnya lebih bagus dari novel yang saya buat” Begitu sanjungan yang diberikan oleh Andrea Hirata terhadap Film Laskar Pelangi ini.

Saya adalah salah seorang yang menggemari novel Tetralogi Laskar Pelangi. Tiga judul novel pertama (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Endensor) selesai saya baca dalam 2 minggu saja dan saya penasaran menunggu sekuel terakhir dengan judul Maryamah Karpov (yang kabarnya akan terbit 25 November 2008).

Tentu saja, ketika film Laskar Pelangi ini beredar, ada semangat yang menggebu-gebu untuk segera menyaksikannya. Maklum saja, saya yang tinggal di Padang, tentu saja harus menunggu lebih lama untuk menyaksikan film tersebut diputar di layar bioskop di Padang. Saking penasarannya saya malah telah menyiapkan beberapa tabungan saya untuk segera berangkat ke Jakarta untuk menonton film ini. Tapi akhirnya, akal sehat saya berkata “sabar”.

Jadilah kompensasi saya untuk menonton film ini saya lakukan dengan berbagai cara (halal dan tidak halal), mau tau ? :

Saya SMS teman-teman yang ada di Jakarta “Eh…loe punya CD bajakan film Laskar Pelangi ngak ?”

“Gile loe, mana ada, lagian film sebagus itu gak boleh dibajak tuh, sayang kan, maha karya luar biasa” Yah…saya malah dapet SMS balasan dari teman yang diluar dugaan.

Tak habis akal, saya kemudian search di berbegai search egine internet info film Laskar Pelangi. Ternyata yang ditemukan hanya cuplikan film tersebut. Saya jadi kecewa.

Akhirnya saya menyerah. Hasrat saya untuk menonton film Laskar Pelangi tidak kesampaian. Akhirnya saya hanya memantau di televisi berbagai komentar dan apresiasi masyarakat terhadap film ini.

Dini hari Kamis, 9 Oktober 2008, tanpa sengaja saya memencet chanel SCTV. Surprise, ternyata acara dialog tentang film Laskar Pelangi. Tak tanggung-tanggun panelis yang dihadirkan, Andrea Hirata (sang penulis novel Laskar Pelangi), Riri Reza (sang sutradara), Kak Seto (pemerhati anak), Prof. Komarudin Hidayat (Rektor UIN Jakarta), Giring Nidji (penyanyi soundtrack film Laskar Pelangi), Ade Armando (pakar komunikasi UI), Besuki (Mantan Bupati Belitung), Wartawan Tempo, Pembaca Laskar Pelangi, Eros Jarot dan Pengamat Sastra.

Hampir semua pengamat mengapresiasi film ini. Bahkan film ini dianggap sebagai kritik bagi dunia pendidikan Indonesia. Malah Kak Seto diakhir dialog berkata “Saya dan Pak Prof. Komarudin Hidayat, sebagai bagian dari Badan Standar Nasional Pendidikan akan memberikan masukan kepada Mendiknas, agar film ini menjadi tontonan wajib para guru dan pelaku pendidikan di Indonesia”.

Film ini pasti bagus, saya semakin penasaran, tetapi harus bersabar….tapi ada ganjalan dalam hati saya…

Apakah Film Bagus ini bisa ditonton oleh seluruh anak-anak mulai dari kota hingga pelosok desa ? ataukah film ini hanya miliki anak-anak kota metropolitan saja, yang bisa mengakses bioskop, sementara anak-anak di pelosok desa yang butuh dukungan untuk tetap berprestasi tidak pernah mengenal yang namanya bioskop”… Wah kasihan….

Mudah-mudahan Andrea Hirata memikirkan hal ini juga…….

Iklan

18 thoughts on ““Mampukah Film Laskar Pelangi Jadi Milik Semua ?”

  1. “Apakah Film Bagus ini bisa ditonton oleh seluruh anak-anak mulai dari kota hingga pelosok desa ? ataukah film ini hanya miliki anak-anak kota metropolitan saja, yang bisa mengakses bioskop, sementara anak-anak di pelosok desa yang butuh dukungan untuk tetap berprestasi tidak pernah mengenal yang namanya bioskop”… Wah kasihan….

    insya Allah kalo mbak Mira Lesmana-produser Film Laskar Pelangi- nepatin janji, film ini bakalan bisa dinikmati semakin banyak orang di negeri ini.
    Mbak Mira pernah bikin statement kalo film ini bakalan juga diputar di layar tancap.Apapaun bentuk pemutarannya, intinya dia bakalan muter film ini di daerah2 yang ngga ada bioskopnya atau yang banyak bioskopnya udah pada mati.
    Saya sendiri dari magetan-dekat madiun, di sana juga ngga ada bioskop yang beroperasi,juga di madiun, ponorogo dan ngawi–daerah2 dekat saya tinggal.
    Tapi saya ngerasa beruntung, 25 september saya masih di surabaya(tempat tinggal dan kerja saya saat ini)–belum mudik, jadi bisa nonton langsung dan bener-bener tersentuh…dan ngakak:)

    Coba baca statement mbak Mira disini:
    http://movie.detikhot.com/comment/2008/08/28/180104/996458/229/laskar-pelangi-segera-tayang-di-layar-tancap

  2. AL

    Saya menunggu versi VCDnya segera hadir, sebab saya pengen banget memutarkan di kelas. Hampir setengah dari anak-anak saya berasal dari kalangan pas-pasan yang nekad memasukan anaknya ke sekolah swasta yang agak mahal mengharap anak dapat pendidikan yang lebih lengkap (pelajaran agama). Jadi demi bayar sekolah, mereka jarang punya mainan apalagi nonton bioskop.
    Aduh cepetan kek VCD originalnya keluar!!

  3. dijadiin film wajib tonton buat anak SD seru juga nih.
    tapi ya, tidak hanya itu, kondisi fasilitas sekolah yan minim disana hanyalah sebuah fenomena puncak gunung ES yang sebenarnya masih banyak SD-SD lain yang serupa di seluruh nusantara. juga banyak Lintang2 lain yang putus sekolah di seluruh negeri ini

  4. Memang tidak semua film yang diangkat dari novel bisa “berhasil” ketika divisualkan. Namun tergantung bagaimana memaknainya kukira. Bagi yang sudah membaca novelnya, tentu punya harapan lebih terhadap filmnya. Sesuatu yang menurutku belebihan. Karena mestinya kita simpan dan lupakan dulu novelnya. Bahasa teks tentu berbeda dengan bahasa film. Kalau kita ingin sama bahkan lebih terhadap novelnya, bisa jadi yang egois kita bukan sutradara filmnya.

    Betul juga, kalau yang bisa nonton LK hanya anak-anak yang tinggal di kota besar (ada 21-nya?) dan mampu beli tiket, ya Sayang sekali. Bagaimana caranya agar sekolah-sekolah, komunitas, dll, mendorong menonton film tersebut secara kolektif (aduh, kok aku jadi ikut-ikut promo begini. Hehe).

    Tapi, kalau bisa jangan nonton (mencari) CD/DVD bajakannya dong. Plese… Please… Kita pasti nggak mau kan kalau karya kita dibajak dan orang menikmati karya kita dari media bajakan itu. Pasti sedih sekali kita. Begitu pun orang-orang yang sudah bekerja keras di balik produksi film tersebut. Lebih dari itu, ini juga akan membetuk sikap fair dan menghentikan (paling tidak berusaha) atas usaha-usaha pembajakan.

    Dan begitulah. Bukankah sesuatu yang baik layak diperjuangkan, Kawan 🙂

  5. to iman : heheheheh iya ya

    To mas DM : iya..mas ngak layak kalau kita mencari bajakannya ya…emang mas,kalo baca novel, imajinasi kita tak terbatas dibanding film…, tapi kapan ya…semua anak bisa nontonnya ?

    to catra : betul cat…masih banyak anak-anak pintar indonesia yang tidak bisa sekolaah hanya karena kebijakan pendidikan kitaa tidak berpihak pada rakyat miskin.

    to al : iya buk…cepetan ya…VCD originalnya…udah gak sabar..bagus buk putar untuk siswanya ntar ya..

    to taha : mudah-mudahan cepat terealisasi pak…kita tunggu sama-sama

    to uwiuw : ya…kita harus terinspirasi semua dengan LK pak….semua pejabat kita juga…

  6. Filmnya bagus, terlepas dari “sindiran” beberapa teman, juga pertanyaan apakah maksudn film ini sampai pd para penonton yg duduk di kursi empuk sembari menikmati popcorn dan menghirup wangi parfum teman sebelah (piss om mansup :mrgreen: ), saya rasa itu masih jauh lebih baik daripada duduk-di-kursi-empik-plus-popcorn-plus-wangi-parfum sembari menonton film2 ndak jelas yg cuma umbar horor dan kemenye2an tiada tara.

    Eh, saya heran, kenapa Padang lama sekali distribusi filmnya ya? Ini sudah 2 minggu,, coba film horror itu, swinggggg! cepat masuknya 😦

    Soal Kite Runner, saya belum baca bukunya jadi cukup menikmati filmnya 🙂

  7. to ibu al : iya buk…filmnya jelek banget, saya kira hanya mampu diterjemahkan 60 persen sasja novelnya.

    to takochan : iya niy…padang telat banget ya…sabar aja..siapa tahu bentar lagi masuk tuh… hehehe

    to rinduku : iya tuh ide bagus untuk muter gratis…kalo perlu bikin layar tancep aja…

  8. Sama dengan Bu Al, saya juga ingin menayangkan film ini di depan murid-murid saya. Dulu, saya pernah menayangkan film ‘Denias, senandung di atas awan’ di depan murid-murid sekolah terbuka di tempat saya mengajar. Film ini tentang pendidikan juga. Duh, cepetan kek VCD/DVD nya keluar.

  9. yulia

    Da imu, yalah nonton film laskar pelangi itu pas ultah perkawinan di medan. dan memang filmnya wahid abizzzzzzzzzz, nilai komitmen terhadap pendidikan memang muncul

    Wah Nonton bareng sambil bedah enak juga tuh dilakukan kawan2…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s