“Derita Yang Tak Berbunyi”

Standar

Beberapa waktu yang lalu, publik Sumatera Barat di kejutkan oleh berita tentang tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang oknum guru di salah satu SMK di Padang. Kejadian tersebut terjadi di lingkungan sekolah. Dalam pemberitaan dikatakan bahwa, dengan alasan melakukan penertiban terhadap siswa-siswi akan melaksanakan upacara bendera, seorang oknum guru menendang kaki salah seorang muridnya. Entah tendangan jenis apa yang dilancarkan oleh sang guru, alhasil tendangan tersebut mengakibatkan kerusakan pada tempurung lutut sang murid dan hingga kini masih dalam proses pengobatan. Tidak banyak yang dilakukan kemudian, hingga akhirnya peristiwa ini berbuntut ke proses hukum.

Kekerasan terhadap anak yang terjadi di lingkungan sekolah sebenarnya bukanlah barang baru. Setiap saat selalu saja kita dengar kejadian-kejadian seperti diatas. Ada guru yang menempelang murid akibat telat membayar iyuran sekolah, ada ayang memberikan hukuman yang membahayakan fisik si anak, ada yang menghardik dan menjatuhkan harga diri si murid dan bahkan ada yang mencabuli.

Bagi kita sebagai orang awam, peristiwa kekerasan di lingkungan sekolah, apalagi yang dilakukan oleh para pendidik, sangatlah tidak masuk akal. Karena selama masyarakat menganggap bahwa sekolah adalah tempat yang paling aman bagi anak-anak mereka. Namun ternyata tempat yang aman itu sekarang telah berubah menjadi tempat yang paling menakutkan.

Mengapa kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah terjadi ?

Masih ingatkan kita dengan pepatah yang mengatakan di ujung rotan ada emas ? Pepatah ini kadangkala menjadi semacam justifikasi bagi guru untuk merasa wajar memberikan hukuman kepada murid sekalipun hukuman tersebut telah mengarah ke dalam bentuk kekerasan. Pepatah ini diterjemahkan oleh para pendidik secara dangkal. Seolah-olah diperlukan tindakan kekerasan untuk menegakkan kedispilinan. Alasan ini yang selalu muncul dari para oknum guru pelaku kekerasan. ”Kami hanya menegakkan kedisiplinan, ini demi masa depan murid juga, kedisiplinan penting untuk kemajuan, diperlukan sikap yang keras untuk disiplin“ banyak lagi alasan yang dimunculkan. Padahal tidak ada satupun terori pendidikan yang menghalalkan tindakan kekerasan dalam menegakkan kedispilinan. Sesungguhnya kedisplinan berarti konsiten, bukan kekerasan.

Disisi lain, lebih parahnya lagi pepatah diatas selalu dikontruksikan secara terus menerus oleh masyarakat sehingga pada titik tertentu masyarakat cenderung menyimpulkan bahwa guru adalah sang dewa yang tak pernah salah. Anggapan ini tidak pernah luntur, sekalipun banyak fakta membuktikan bahwa kekerasan terhadap anak juga dilakukan oleh guru.

Kekerasan terhadap anak merupakan sebuah fenomena gunung es. Ini artinya, kasus yang muncul di permukaan adalah salah satu dari sekian banyak kejadian yang tidak terungkapkan. Sulitnya mengungkap kasus-kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah juga disebabkan karena keengganan masyarakat – terutama para murid dan orang tua murid – untuk melaporkan setiap tindakan kekerasan yang terjadi. Mereka lebih banyak memilih diam dan malah manyalahkan anak, karena dianggap bahwa anaklah yang menjadi penyebab kekerasan itu muncul. Jika anak-anak adalah korban, kenapa dia yang di salahkan.

Selain tiadanya kontrol dari para orang tua terhadap penyelenggaraan proses pendidikan di sekolah, terutama yang menyangkut aspek-asepk perlindungan dari tindakan kekerasan. Kasus-kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah sulit terungkap karena minimnya pemahaman masyarakat (orang tua, anak, guru, dll) mengenai kekerasan. Tindakan kekerasan didefinisikan hanya sebatas yang berakibat secara fisik. Padahal segala tindakan baik fisik, cercaan, hardikan, olok-olok yang mengakibatkan atau memiliki kemungkinan besar mengakibatkan cedera, kematian, kerugian psikologis, salah perkembangan, dll dapat dikategorikan sebagai tindakan kekerasan.

Bagaimana menghentikan kekerasan di lingkungan sekolah ?

Sekolah merupakan sebuah sub sistem dalam sistem pendidikan di negara kita. Oleh karena itu pemerintah melalui pihak-pihak terkait harus segera melakukan pembenahan dan pembinaan terhadap sekolah. Hal yang harus segera dilakukan adalah membekali para tenaga pendidik dengan pengetahuan hak-hak anak. Mengajari guru bahwa kekerasan dalam bentuk apapun adalah tindakan pidana. Tindakan kekerasan akan berakibat panjang terhadap anak. Kekerasan terhadap anak bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kematian. Kekerasan dapat mempengaruhi kemampuan belajar dan kemauan anak untuk bersekolah. Kekerasan dapat menghancurkan rasa percaya diri anak dan yang harus dikuartirkan adalah jika anak-anak di didik dalam dunia yang penuh kekerasan, maka suatu saat dia akan menjelma menjadi pelaku kekerasan juga.

Apapun alasannya tidak ada yang bisa membenarkan kekerasan terjadi. Karena segala tindakan kekerasan dalam konteks dan bentuk apapun adalah melanggar hak azasi manusia. Oleh karena itu, seluruh pihak hendaknya mendorong dan melakukan kontrol terhadap setiap kemungkinan tindakan kekerasan terjadi pada anak-anak, termasuk di lingkungan sekolah.

Sekolahpun sebaiknya harus segera menghentikan segala bentuk tindakan atau kemungkinan tindakan kekerasan dalam setiap proses pendidikan yang dikembangkan di sekolah. Menegakkan kedisiplinan dengan mengedapankan prinsip-prinsip penghargaan terhadap hak anak. Karena ingat, setiap manusia itu adalah mutiara, tinggal bagaimana sang pendidik mengasahnya untuk menjadi safir, intan, mutiara, dan lain-lain. Maka belajarlah dari Bu Muslimah dalam Laskar Pelangi.

NB :

  • Tulisan ini didedikasikan untuk para pendidik yang selama ini mendidik dengan hati. Mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung.

  • Masih banyak guru baik di belahan bumi ini.  Maka belajarlah kepada mereka.

Iklan

14 thoughts on ““Derita Yang Tak Berbunyi”

  1. pincurantujuah

    setuju ambo jo uda imoe..uda gmn kabarnya..juragan ambo..maryulis max titip salam..uda alah jadi promosian blog ambo ka blogger lainnyo..

  2. mungkin paralu bakaco jo laskar pelangi, pak imoe.

    alasan disiplin bagus. tapi dg kekerasan fisik yg menyebabkan cidera, itu tak bisa dimaafkan. sebagai pendidik, saya ingat dg istilah taman siswa ki hajar. sekolah harusnya menjadi taman, tempat menyenangkan bagi siswa dalam mencari ilmu.

  3. bang, sepertinya pepatah ” DI UJUNG ROTAN ADA EMAS” sekarang udah gak berlaku lagi bang.
    semua nya udah berubah. zaman dan pola pendidikan juga sudah berubah.
    tidak etis seorang pendidik seperti itu,

    hmm jadi ingat cerita mading sekolah nih

  4. AL

    Menurut saya guru yang seperti itu adalah guru yang sudah kehabisan akan mencari cara agar anak-anaknya mau mendengarkannya. Mendengarkan dalam arti luas.
    Tapi bahkan guru yang seperti itu pun mungkin mereka sebenarnya tidak ingin sampai begitu (hallah apaan ini..). Selain dihukum, juga penting diberikan pelatihan bagi guru. Yah..jangan hanya kritik, tapi beri solusinya juga. Saya kira kalau guru-guru muda memang masih pada idealis dan mau banyak belajar, tapi yang sudah tua atau yang sudah bekeluarga kan pikirannya udah kepusingan sama yang dikatakan itu biaya, akhirnya sibuk cari penghasilan tambahan. Boro-boro sempet belajar atau ikut pelatihan. Akhirnya mereka hanya tahu dan memikirkan bagaimana caranya agar materi yang bejibun itu bisa nyampe ke murid lupa memikirkan bagaimana memenejemen kelas.

  5. AL

    Saya setuju guru seperti itu musti dihukum berat, lalu apa? Selama ini kan seperti itu, guru yang melakukan kesalahan dihukum tapi apa selanjutnya? Kejadian seperti itu terjadi lagi dan lagi. Semua guru juga tahu bahwa yang mereka lakukan itu salah. Sekarang bayangin gini, ada banyak kekerasan yang dilakukan orangtua kepada anaknya. Berapa juta anak di Indonesia ini pernah ditampar, dicubit, dan kalau dibentak-bentak mungkin hampir setiap anak pernah mengalaminya. Padahal orangtua hanya berhadapan dengan paling banyak 5 anaknya saja. Bagaimana dengan guru yang harus berhadapan dengan minimal 30 anak di kelas, tentu dalam satu sekolah ada ratusan. Bagaimana cara dia bisa mengontrol emosinya antara kasih sayang, kekhawatiran, dan marah. Dan muris bisa saja memancing emosi dengan luarbiasa. Saya saja guru kelas 2 SD kadang-kadang benar-benar harus menenangkan diri bila saya sedang menasihati mereka melet-leletkan lida atau memonyong-monyongkan mulut, membentak saya (kadang itu terjadi dan bukan hanya pada saya tapi pada guru lain-lain juga). Pernah suatu kali saya diludahi oleh anak saya di muka saya. Tidak selalu guru itu dalam keadaan yang cukup baik untuk sabar, terkadang ada hari-hari dia juga sedang tidak enak.

    Hukumlah guru seperti itu, tapi berilah mereka pelatihan yang baik untuk menghadapi siswa.

  6. to al : iy buk..kadang-kadang mesti belajar sabar harus dalam lagi….guru juga manusia, tapi menurut saya manusia spesial dan pasti mampu punya kesabaran lebih dan saya yakin bisa….yaang sabar ya bu….

    to pak zoel : hahahaha bungo apo tuh nan ba ambiak pak….

    to catra : hahahaha ingat MADING yang mengheboh kan ya….hahahahahaha

    to zulmasri : iya pak, selain ki hajar dewantara, pahlawan pendidikan kita adalah laskar pelangi hahahaha

    to pincuran tujuah : mantap da…mari bersama bergandeng taangan menghentikaan kekerasan di sekolaah….

  7. artikel ini sangat baik dibaca oleh semua kalangan yang terkait dengan dunia pendidikan, termasuk orang tua dan siswa sendiri.
    dari sisi siswa, tindak kekerasan oleh oknum pendidik sangat merugikan, mengingat 40% waktu siswa berada di sekolah.
    sebaliknya dari sisi guru, menahan sabar menghadapi beragam siswa juga bukan mudah, dan kekurangan guru sebagai manusia juga harus dimaklumi.
    memang benar imoe, kuncinya adalah saling menghargai dan menghormati, serta mengakui kewajiban masing-masing pihak.

  8. to uni mallow : bener uni…saya setuju sekali dengan pendapat uni…gak ada yang sempurna, kecuali kita saling menghormati sebagai sesam manusia…btw YM uni apaan ya…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s