“si catra bikin rusuh di SUTA 08 Padang”

Standar

Saya dan teman-teman saat ini sedang mempersiapkan kegiatan kampanye STAND UP and TAKE ACTION 2008 (SUTA 08).  Kegiatan ini adalah kampenye ‘anti pemiskinan’ dalam rangka mendorong pemerintah meningkatkan komitmennya terhadap pencapaian Millenium Development Goals (MDG’s).  Semula dalam rancangan kegiatan di Padang, kami akan fokus mendorong meng ‘advokasi’ dua isue MDGs yaitu “pendiddikan dasar untuk semua’ dan ‘HIV/AIDS’.  Serangkaian kegiatanpun sudah dirancang mulai dari pengumpulan buku layak baca sebanyak 5000 buah, talk show radio, hingga pengumpulan pesan dan harapan remaja kepada pemerintah terkait isue MDGs.

Kami semua merasa waktu yang disediakan untuk persiapan ini mepet sekali, maklumlah, jika ingin kegiatan kami ikut dicatatkan di Guiness Book Of Record maka, kami harus menggelar acara puncak persis pada tanggal 17-19 Oktober 2008.  Dengan melibatkan teman-teman remaja di 9 sekolah di Padang, maka dimulailah rapat-rapat dan berbagai persiapan.

Jumat yang lalu, 10 Oktober 2008, tiba-tiba sang ketua panitia mengajak kami rapat mendadak.

“kawan-kawan semua, ada hal penting yang ingin saya bicarakan.  Kita akan rapat segera dan mohon perhatiannya sejenak”  Begitu kata beliau.  Dan begitu forum rapat dibuka, semua perhatian tertuju pada persoalan serius ini.

“Kawan-kawan, sesuai rencana kta akan menyampaikan pesan kepedulian remaja kepada pemerintah terkait isue MDGs.  Nah untuk itu maka sesuai hasil rapat sebelumnya, cara yang kita pakai adalah memformulasikan beberapa pesan remaja dan kemudian kita kampanyekan.  Bagi remaja yang setuju dengan pesan yang kita buat, boleh bergabung dan menyatakan persetujuannya.”

Pangkal huru-hara segera dimulai.  Tiba-tiba si Catra angkat jari.

“Bang, saya kira mungkin kita ada baiknya mengutamakan dialektika dengan remaja, membangun opini remaja, sehingga remaja nantinya yang akan memutuskan apa harapan dan pesan kepedulian mereka terhadap pemerintah berkaitan dengan MDGS, kita bebaskan saja mereka mengekspresikannya.”

Entah apa yang sedang dialami oleh ketua panitia kami, tiba-tiba saja usulan si Catra langsung dibantah tanpa diberikan kesempatan untuk mem break down bersama-sama terlebih dahulu.

“Ini sudah keputusan rapat sebelumnya, jadi begitulah metode yang kita pilih” Begitu kira-kira ucapan sang ketua.  Mendengar jawaban itu, saya sedikit terusik dan langsung angkat bicara.

“Ide kawan-kawan dengan formulasi pesan saya rasa cukup bagus, tapi usul si catra patut dipertimbangkan.  Karena menurut saya kita harus memberikan kesempatan seluas-luasnya pada remaja untuk mengekplorasi harapan mereka terhadap pemerintah terkait kehidupan mereka sendiri”.

Tetapi sayangnya kembali lagi argumen saya dibantah dengan alasan yang sangat simple.

“Ya…ini sudah keputusan rapat sebelumnya dan ada kawan-kawan yang tidak hadir, Jadi ini sudah keputusan rapat kemaren”.

Mendengar alasan itu lagi, saya kemudian sedikit meradang.  Apalagi alasan ‘ketidakhadiran’ rapat sebelumnya (saya dan catra memang tidak hadir) seolah-olah menjadi sebuah kesalahan besar dan kami yang tidak hadir rapat tidak diberikan kesempatan untuk menyampaikan usul dan argumen.

Saya lalu ngotot…

“Pertanyaan saya, jika ide memformulasikan pesan harapan remaja yang akan kita lakukan, lalu apa dasar kita, apa hak kita untuk menyatakan bahwa apa yang kita formulasikan itu telah mewakili aspirasi remaja lainnya di luar sana!!!”

Mendengar saya ngotot, ketua juga ikutan ngotot.  MUngkin merasa diserang oleh pertanyaan saya.  Padahal saya tidak bermaksud menyerang, hanya ingin penjelasan dasar alasan saj, ingin penjelasan, karena menurut saya, partisipasi remaja menjadi sebuah kata kunci dalam kegiatan ini dan tak boleh diabaikan.  Tetapi barangkali karena situasi panik karena mepet pelaksanaan, sang ketua bertahan dengan argumentasi ‘praktis’ nya tadi.

Menurut saya, adalah sebuah kesalahan sang ketua mempertahankan kengototan itu.  Padahal mestinya, ide dan usulan catra tadi harus di bahas dalam forum.  Walalupun akhirnya bakal menganulir keputusan rapat sebelumnya.  Itulah konsekwensi dari sebuah dinamika.  Apalagi posisi dan peran ketua sebagai fasilitator pertemuan.

Rapat akhirnya agak tegang dan memanas.  Saya lihat sang ketua terpancing dan saya ketawa sendiri, senyam senyum.  Dalam pikiran saya…’si catra berhasil bikin rusuh’.  Sialnya si Catra, malah adem ayem saja dan saya lihat dari jauh, dia senyam senyum juga. Dasarrrr

Saya lihat, peserta rapat mulai terbagi kedalam dua kubu.  Kubu yang setuju formulasi pesan dan kubu yang tidak setuju.  Sebenarnya ada kubu tengah-tengah alias bingung, tetapi jumlahnya tidak banyak.  Saya termasuk orang yang setuju dengan usul catra.  Akhirnya ketua menjelaskan, alasan pemilihan metode formulasi pesan adalah karena ke praktisan, cepat, mudah dan tidak bertele-tele.  Dan saya sebelumnya sudah membaca jalan pikiran itu.

“Saya tidak bermaksud menganulir hasil rapat teman-teman sebelumnya.  BOleh saja kita berfikir praktis, tapi ingat jangan sampai menghilangkan substansinya dan harap catat aspek partisipasi remaja.  Kegiatan ini untuk kita atau untuk remaja siy ? saya kembali melempar bola panas hehehe”

Ada yang kemudian menyampaikan argumen tandingan….

“JIka kita bebasakan remaja untuk mengekplorasi pesan mereka masing-masing dan mereka tuliskan, selain memakan waktu lama, bukan tidak mungkin terdapat beberapa pesan yang ‘remeh’, misala kalo ada yang nulis ‘kami remaja ingin makan KFC gratis..” nah, gimana kita mengantisipasi hal itu ?”

Saya jawab..”Itulah remaja, mereka unik dan apapun itu yang mereka tulis, kita harus tangkap apa keinginan mereka”.

“Kalo kita mau fokus, harus ada yang di korbankan” Begitu kata ketua.

Sebetulnya saya sudah mau menerima ide kawan-kawan tentang formulasi, dengan pertimbangan menghargai rapat sebelumnya.  Lagian, alasan ke praktisan, karena mepet, juga mulai masuk akal oleh saya kenapa metode formulasi yang diambil.  Tapi mendengar statemen diatas, saya terusik lagi, apalagi ada argumentasi nyeleneh yang bikin telinga saya gatal-gatal.

“Lagian, kalo kita membebaskan mereka menulsikan harapan dan keinginan, apakah remaja mampu semuanya menuliskan pesantersebut.  TIdak semua remaja paham akan MDGS kan ?” Begitu salah satu bunyinya.

“Nah, ini niy yang gawat.  Kalo kita udah underestimate, mengangap remaja tidak mampu, ngapain bikin kegiatan ini, ngapain sibuk jungkir balik.  Menurut saya, itu jalan pikiran tidak bijak”.

Semua peserta rapat diam.  Karena belum ada kesepakatan dan titik temu.  Tidak ada komentar.  Saya komentar lagi….

“Lalu kalo kita formulasikan pesan, bagaimana kita mendapatkan pesan yang benar-benar mewakili keinginan remaja ? Begitu kata saya.

“KIta pake asumsi umum, yang berkembang di masyarakat” Kata sang ketua.  Masuk akal juga bagi saya, tapi tidak seratus persen benar.

“Bagaimana mengakomodir keinginan dan harapan remaja, misalnya tentang penghapusan kekerasan di sekolah ? Karena menurut saya, wacana ini belum nejadi wacana umum.  Wacana umum pendidikan hanya soal biaya pendidikan dan kualitas guru serta sarana dan prasarana.”

Mendengar pertanyaan silang saya ini, semua diam lagi…ndak ada yang menjawab.  Akhirnya karena udah magrib saya kemudian nyeletuk.

“Mungkin rapat ini berlarut-larut karena otak kita tidak bekerja dengan baik, oleh karena itu sepertinya butuh ‘gorengan’ niy…”

Mendengar itu, semua berteriak-teriak…

“Iya setuju…”

“Ide bagus…”

“Saya suka itu…”

Dasar…kalo soal makanan ndak ada yang mau debat hehehehe

“Kalo begitu, saya usul, rapat di skor sambil nunggu gorengan dan shalat magrib” Gitu kata saya…

Akhirnya semua break….malah ada yang menimpali…

“Betul…kita orang minang biasanya kalo ada rapat kan ada jamuan makan dulu.  Katanya untuk menghindarkan polemik…”

Ndak tau saya, analisis dari mana itu, ternyata setelah ;break gorengan’ akhirnya disepakati saja, jalan keluarnya menggabungkan kedua usulan itu.  Memformulasikan pesan dan menyediakan ruang untuk mengekspresikan harapan remaja sendiri.

Ketika pulang saya ngomong ke catra….

“Kamu berhasil bikin rusuh cat….hehehehehe”

Catra hanya ketawa.  Itulah sekelumit cerita yang tak terlupakan.  Kami semua menjaga perbedaan pendapat.  Kami mampu menerima perbedaan.  Tapi kami komit dengan cita-cita bersama.  Perbedaan dan beradu argumen cerdas inilah yang selalu kami bangun bersama.  Khusus saya dan catra…kami telah membangunya bersama sejak sutan mudo ini masih duduk dibangku kelas 2 SMP.  Sekarang dia sudah tumbuh menjadi manusia yang kritis….ayo pertahankan itu cat…..

Iklan

12 thoughts on ““si catra bikin rusuh di SUTA 08 Padang”

  1. itulah yang disebut dengan pesimisme bang. Apalagi yang diragukan adalah remaja yang notabene unprediction.
    sudah saatnya kita tidak meremehkan remaja, selaku remaja saya pun merasa diabaikan hak2 nya jika suara kita tak terfasilitasi.
    hidup remaja

  2. wah, dinamis sekali diskusinya.
    aku pasti keok deh kalau musti ngomong di situ, paling bisa nyengir doang sama makan (kalau gorengannya udah nyampe).
    sifat kritis memang musti dipupuk, bukan supaya kita pinter bertengkar dan bikin rusuh (aku gak percaya kok kalau si catra bikin rusuh), tapi supaya kita tak mudah diperdaya.
    selamat buat para pemuda kota sumatera barat, semoga acaranya sukses!

  3. kalau lihat alur ceritanya, yang heboh paling banyak justru pak imoe deh hehehehe… btw, good discussion, debat yg cerdas spt ini memang perlu dibiasakan dan kalau bisa dengan kepala yg dingin.. seperti biasa, kegiatan yg dibangun pak imoe selalu buat saya surprise, semoga sukses pak imoe dan catra…

  4. Saya lah orang yang paling bingung dalam rapat itu..:)

    hehehehehehehehe…..

    Sebenarnya udah mengerti dari awal…cm jd ikutan2 si catra bikin panas suasana…

    Tp Blum spanas ” Gorengan ” —–> ” Godok dan Pisang ” 😀

  5. to joe : jgn pusing joe…itu untuk buka wacana saja….

    to rindu : hahahaha pasti gak sanggup mbak hahaha

    to ichank : iya chank…dia pernah smp tuh….pernah nangis pisah ama papa n mama tercinta waktu saya ajak koegiatan kongres anak indonesia di denpasar tahun 2003 lalu hahhaha

    to deddy : iya mas…si catra emang suka melempar ide nyeleneh, tapi OK, dan biasanya banyak orang yang kemudian menyambutnya dan rusuh terjadi dimana-mana…alias diskusi alot…bukan huru hara lho….si catra nya malah adem-adem aja….punya bakat provokator kali…

    to uni mallow : betul ni…mesti di pupuk daya kritis…biar kagak di kadalin hehehehe

  6. Cieee…. dari kalimat atau paragraf pertama Catra saat unjuk bicara saja sudah bikin orang menoleh dan memajukan kepala sedikit sembari membatin: “Weh, siapa sih nih orang? Boleh juga!”

    Mantap!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s