‘PREMAN MASUK KAMPUS JUGA YA…’

Standar

Lihatlah tayangan BUSER yang disiarkan oleh SCTV Rabu siang pukul 11.30 WIB. Semula saya berfikiran, tawuran dan saling serang yang terjadi, dilakukan oleh warga masyarakat. Saya jadi maklum. Tetapi ketika saya dekati televisi, ternyata tawuran tersebut di ‘perankan’ oleh dua kubu mahasiswa UKI dan UPI YAI Jakarta di kawasan Salemba. Saya langsung ‘muntah’ melihat adegan itu. Pasalnya, tidak masuk diakal sehat saya, para calon intelektual bangsa itu ‘beringas’ seperti macan lapar. Saking beringasnya seperti hendak memangsa lawan. Padahal mereka sama-sama bersaudara. Sama-sama mahasiswa. Jika kita analogikan mereka adalah macan, masih tidak masuk diakal sehat, karena macan saja tidak pernah memangsa saudara sendiri. Jijik saya memikirkan hal ini. Lalu saya berusaha memahami situasi itu dan akhirnya sisi bathin saya berkata ‘itu preman yang masuk kampus’ dan saya mulai maklum. Karena hanya premanlah yang bisa berperilaku seperti itu.


Kenangan saya kembali surut kebelakang. Beberapa waktu yang lalu, tawuran serupa juga terjadi di Padang Sumatera Barat. Mahasiswa Fakultas Tekhni dengan Fakultas Ilmu Keolahragaan saling serang. Padahal mereka masih satu kampus. Selang beberapa hari, handphone saya terima sms yang berbunyi.

“Seluruh rekan-rekan, harap bersiap-siap karena kita akan menyerang balik anak FIK”.

Bedebah…saya kaget dengan SMS itu. Provokatif. Saya balas sms itu.

“Maaf, saya bukan mahasiswa, saya bekerja dan anda salah SMS kalau mengajak saya untuk menyerang mahasiwa”

Lalu SMS saya di bales lagi.

“Maaf, sorry kalau gitu”.

SMS itu tentu saja tidak bisa kita jadikan justifikasi apakah memang benar dikirimkan oleh kubu yang lagi bertikai. Siapa tau SMS itu adalah orang lain diluar kalangan mahasiswa yang bertikai yang bertujuan untuk mengacaukan suasana yang telah mulai kondusif. Beruntung tawuran di UNP itu tidak mengakibatkan kerugian jiwa, hantya kerugian materil seperti rusaknya bangunan. Tapi kerugian terbesar adalah “rusaknya kepercayaan masyarakat kepada mahasiwa yang selama ini dianggap sebagai agen perubahan, calon intelektual, dll”.

Tak habis pikir. Jaman begini susah. Krisis ekonomi sedang melanda bangsa. Mestinya para mahasiswa ‘tawuran’ secara intelek dalam menyelesaikan persoalan negeri ini. Mari berdebat soal bagaimana menyelamatkan bangsa. Mari berkontribusi pemikiran yang cerdas. Mari membantu bangsa ini keluar dari jeratan hutang luar negeri. Mari mengkampanyekan berantas korupsi. Mari…mari..mari….

Memang yang melakukan tawuran kemaren adalah para ‘oknum’ mahsiswa UKI dan UPI YAI. Tapi paling tidak kita harus berkaca kepada fakta, bahwa setiap tahun hal ini terjadi di kawasan Salemba ini. Tidak ada penyelesaian secara menyeluruh. Pihak kampus sudah kehilangan akal.

Tengok saja ulah barbar mereka yang tawuran. Batu melayang. Masyarakat buru-buru menutup dagangannya hanya takut kena imbas kelakuan tak bermoral ini, kerusakan fasilitas publik, mobil yang sedang parkir hancur berantakan. Lalu pertanyaannya, dimanakah ‘nurani’ mereka yang katanya mahasiswa saat ‘bertarung’ ini. Nauzubillahminzalik…. Saya curiga, jangan-jangan kekerasan antara mahasiswa yang ‘bertetangga’ ini diwariskan secara turun temurun oleh para senior. Oleh karena itu petinggi kampus harus segera mengevaluasi proses penerimaan mahasiswa baru. Jangan sampai antar ‘tetangga’ tidak se iya sekata, apa jadinya masa depan bangsa.

Sudahlah…mari berhenti bertikai. Bangsa ini butuh pemikiran yang cerdas dari seluruh putra putri bangsa. Tak ada gunanya kekerasan. Jika ada masalah, selesaikan dengan jalan bijak. Para pendiri bangsa ini barangkali akan ‘menangis’ menyaksikan anak cucu penerus bangsa ini bertikai. Jika terus bertinkai…tunggu saja kehancuran akan segera mendekati.

Jadilah intelektual muda sesungguhnya. Bangsa membutuhkannya. Semoga masih ingat syair terakhir lagu Padamu Negeri

“BAGIMU NEGERI JIWA RAGA KAMI”

Iklan

28 thoughts on “‘PREMAN MASUK KAMPUS JUGA YA…’

  1. ya, imoe.
    penutupnya bikin aku merinding.
    kalau memang pantas kita bertarung, bertarunglah buat negeri ini, jangan buat sesuatu yang konyol yang bahkan tak ada harga diri di dalamnya.

    sejak keturunan pertama nabi adam manusia memang sudah saling bertarung, iri dengki, saling membunuh. jadi dari siapa kita mewarisi sifat ini, ya dari nenek moyang kita itu.
    tapi mustinya kita lebih arif untuk memperjuangkan hal-hal yang memang perlu diperjuangkan.
    yang paling bikin miris, seperti kata imoe, bahwa hal ini terjadi justru di kampus, tempat mahanya siswa mununtut ilmu. hah!

  2. si Dion

    memalukan juga memang, tapi terkadang tawuran seperti itu adalah pelampiasan atas kefrustasian kondisi mereka saat ini baik ekonomi, sosial dan kekeluargaan. jadi mereka gampang saja diprovokasi oleh preman.

  3. vizon

    menurut saya, itu semua karena paradigma ilmu terpelajar kita sudah mulai terkikis dan berganti dg paradigma baru; “berilmu biar gampang dapat kerja”. akibatnya, ilmu yg mereka miliki tidak memiliki efek apa2 bagi moral… sungguh disayangkan…

    tarimo kasih alah singgah ka surau ambo… 🙂

  4. kenapa ya itu terjadi bg? tra juga gak habis pikir.
    dulu sewaktu kenaikan BBM mahasiswa pada berdemo, yang anarkis juga seperti kasus unas. dimana-mana catra ditanyain, km ikut demo ya? baik di rumah, sama tetangga dll. diceramahin! di judge seolah-olah semua mahasiswa seperti itu. emang udah tercitra seperti itu yah mahasiswa sekarang.
    belum lagi tawuran mahasiswa dengan aparat, mahasiswa dengan warga juga mahasiswa dengan mahasiswa.
    aspirasi tidak selalu turun ke jalan. diblog juga bisa, ya nggak bang. :mrgreen:

  5. to elys welt : iya buk..capek…jijik…muntah ngeliat mahasiswa tawuran…ampunnnnn

    to bu enggar : iya niy buk….capek dehhhh ngeliat itu-itu juga….

    to catra : gimana niy, nasib bangsa ini kedepan, kalo mahasiswa berantem melulu….sudah capek kita ngeliat hal-hal beginian….

    to vizon : betul uda vizon…sepertinya kita harus merubah sistem pendidikan kita secara menyeluruh…terima kasih kembali…saya senang berkunjung ke blog uda…

    to afwan : saya yakin afwan adalah mahasiswa kritis dan berfikiran kedepan…

    to dion : semestinya ditenangah krisi kita harus bersatu bukan bercerai berai..tull ngak…

    to uni mallow :sebenarnya postingan ini dibikin dalam keadaan marah lho………tapi diakhir postingan saya juga merinding…apalagi menuliskan syair lagu padamu negeri itu….

  6. lelucon dosen saya, yang tawuran itu mahasiswa2 frustasi yg gak lulus2 :mrgreen:
    mungkin ada benarnya, karena ndak ada penyaluran kegiatan kreatif jadinya begitu.. mungkin jg memang ada dendam lama, seperti tawurannya anak2 SMA di Jakarta, memang mereka tawuran disuruh kakak kelasnya 😦

  7. AL

    Diketawain anak-anak SD tuh mereka, udah gede kok masih seneng berantem? Tapi kalau ngeliat anggota DPR suka marah-marah interupsi jadi mikir, jangan-jangan orang makin gede makin norak ya heheh..
    Gak lah ya..
    Mereka badannya aja gede tapi hatinya kecil.

  8. mental mahasiswa sekarang jadi tambah anarkis…

    saya penging semua tindak kekerasan di mana pun di hukum bila perlu di tembak di tempat bila tetep bandel meski udah di peringati petugas….

    teruamana kerusuan yang bersifat pergerakan sparatis, bunuh di tempat aja….
    demo2 yang rusuh juga perlu di tidak tegas…

    apa lagi yang rusuh adalah generasi bangsa…
    gimana nanti dia pimpin bangsa ini yach… mental preman begitu

  9. saya juga miris melihat pertikaian ini, bukannya berlomba lomba menjadi baik malah berlomba untuk jadi jagoan … dosen saya bilang, seharusnya mereka mati aja, biar beban negera tak nambah karena mereka hanya akan jadi beban 🙂

  10. itulah realitas p.imoe, mahasiswa kelebihan energi, gak tahu melampiaskan kemana. dulu saat sukarno, hatta, syahrir, dll jelas lawannya penjajah. masa orba ya penguasa. sekarang? susah deh. padahal mereka calon pemimpin bangsa, tapi anehnya sikap dan tingkah lakunya masih seperti anak smp. lalu kapan ya mereka dewasa?

  11. to deddy : nah itulah persoalannya….mahasiswa sekarang gampang frustasi…

    to pak zul :anak smp aja ngak gitu lho pak…mereka malu-maluin…

    to rindu : hmmmmm kasihan juga kalo di suruh mati….tapi kalo gak berubah-rubah bener juga…mending mati…

    to zoel : kalau jadi mahasiwa jangan seperti itu ya…

    to ilyas : iya..s.etuju…hanya nurani yang tinggal satu-satunya…tapi kayaknya nurani mereka udah mulai tergadai..

    to ai : iya tuh ai…kayak preman pasar… bete…ngelihatnya

  12. di ma sih yang indak ado preman di nagari awak ko… pak moe
    mulai dari pasa sampai gedung DPR..
    apo lai di kampus…….

    ya sudah lah….. banyak-banyak se badoa..

  13. to hadoitz : iya niy bos..bete lihat mereka tawuran

    to hendri : iyo ndak hen aaa…CUMAN OMONG DOANG….capek dehhh

    to okta sihotang : bener juga tuh mas…bener sekali..

    to chudiel : nah tuh…kasihan kan…

  14. “…seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.”
    (Ucapan Jean Marais pada Minke, dalam Roman Bumi Manusia, hal. 52, Pramoedya Ananta Toer)

  15. Terbukti sudah bahwa mayoritas masyarakat kita seperti apa. Mereka yang kuliah dan mengubah statusnya menjadi mahasiswa bukan untuk mencari ilmu tetapi mencari gelar. Untuk apa? Katanya untuk mencari kerja. Kalau mau mencari kerja, ya nggak usah kuliah, langsung saja kerja. Miris kalau mengetahui beberapa orang yang masuk kuliah dengan ‘sogokan’. Dulu waktu di ITB pun pernah dengar cerita seperti. Saya sedih karena itu mengurangi jatah orang yang ‘berhak’ masuk.

    Saya dulu berdemo demi perbaikan rakyat hingga muncul periode reformasi dan lengsernya Soeharto. Kini, saya sedih melihat demo2 mahasiswa yang lebih banyak tawurannya daripada demo benarnya. Saat ‘rapat’ menjelang demo, saya selalu diposisikan agar menjaga barisan tidak keluar. Beberapa kawan ditugaskan untuk mencari ‘oknum2’ yang bakal merugikan/mencoreng nama baik mahasiswa. Bahkan sampai mengatur tugas wartawan (terutama dari luar negeri) agar terkondisikan dengan baik (baca: mendapatkan informasi yang benar). Kini, apakah cara2 itu masih dipakai?

  16. to bang aswi : lalu ini mesti diapain ya….pasti mas seding ngelihat mahasiswa ini kan…pasti jengkel karena dulu bersusah payah membangun negeri ini untuk keluardari belengu orde baru….

    To mas Dm :Hmmmm saya harus bacatuh ya…roman itu…benersekali tuh mas….kasihan negeri ini dengan mahasiswa yang nota bene calon intelek..main pukul dan lempar…

  17. Sekarang semua serba pake kekerasan… ngga pemimpin-nya… ngga rakyat-nya… ada maslah sedikit, demo… tawuran… ngga ngerti! Bangsa ini udh sedemikian carut marut. Tapi kita harus optimis (minimal berharap baiklah!) semua pasti akan menjadi baik dan harus kita mulai dari diri kita sendiri dulu, lah!

  18. seandainya saudara” berkuliah disalah satu universitas tersebut lalu universitas yang ada tempati mendapat lemparan batu bom molotov dan sebagainya apa yang saudara” lakukan??? bila almamater anda di injak” seperti anda melihat bangsa ini di injak” sama negara lain mungkin kita punya presepsi sendiri” tp ga salah klo kita mau liat dan dengar presepsi orang lain!!!! apa anda” rela liat tempat kalian mencari ilmu dilempari seperti itu bayangkan bila yg dilempari itu tempat kalian mencari ilmu apa yang akan kalian lakukan apa kalian diam saja????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s