“Kabar Untuk Emak-Ananda Part II-” (to Uni Mallow)

Standar

Jika Ingin Membaca Postingan Ini, Baca Dulu “ANANDA”

Pa kabar di Syorga Mak…ini Ananda anakmu tersayang….Nanda sedang nangis niy..

Ini airmata pertamaku setelah hampir 10 tahun yang lalu, manakala diriku sedang hampa. Tahukah emak, aku menangis karena teringat akan dirimu. Tak kuasa rasanya membendung air mata ini. Otak ini serasa berkata menangis lah, ayo menangislah.

Mak, saat ini Nanda sedang berdiri diatas podium megah. Itu lho mak, sebuah panggung besar seperti yang pernah kita lihat dahulu, waktu acara dangdutan pasar malam. Nanda saat ini memakai baju toga lho mak. Baju hitam panjang yang biasanya dipakai kalau ada pelantikan kelulusan sarjana. Gagah benar rasanya diri ini Mak. Sebentar lagi ijasah sudah di tangan mak. Ya…aku lulus mak, aku jadi sarjana. Sesuatu yang selalu engkau bicarakan sebelum aku tertidur.

Masih segar dalam ingatan Nanda, betapa dirimu selalu berkata “Nanda, kamu harus jadi sarjana jika ingin hidup kita berubah. Apapun itu akan emak lakukan agar kamu jadi sarjana. Ayo taklukan dunia ini anakku. Jaga cita-citamu dan hanya ilmu lah yang mampu membuat kita bertahan untuk esok. Jangan mau miskin lagi. Kamu harus sekolah”.

Mak, aku sayang emak…

Aku selalu menjaga petuah bijak mak itu. Jadi Sarjana. Walaupun waktu itu kita berdua tidak tahu apa itu sarjana. Tapi aku yakin sekali apa yang mak sampaikan adalah sebuah kebenaran.

Mak, aku jadi sarjana sekarang mak….

Aku bangga berdiri dihadapan ratusan sarjana lain yang akan diwisuda hari ini. Andai saja Mak masih ada, tentu kebahagaian ini akan mak rasakan.

Betapa hatiku bergelora, bercampur aduk antara bahagia dan sedih. Bahagia karena akhirnya aku bisa menepati janji kepada emak untuk jadi sarjana. Sedih, karena engkau tidak bisa menyaksikan aku anakmu dengan toga kebesaran ini mak.

Mak, aku dapat tepukan meriah lho dari para hadirin. Baru saja, namaku disebut pembawa acara sebagai lulusan terbaik tahun ini. Semua tamu bertepuk tangan sambil berdiri. Aku lulus dengan nilai hampir sempurna mak. Indeks prestasiku 3,90.

He he he O ya Mak, Indeks prestasi itu sama dengan nilai. Ya..aku mendapatkan nilai paling tinggi diantara para sarjana lain. Ini sebuah tantangan bagiku, karena aku harus bisa mempertanggung jawabkan semua ini nantinya.

Mak, aku tak tahu mengapa air mata ini meleleh setiap aku mengingat dirimu. Aku jadi malu nih. Apalagi di sudut sana hadir seorang perempuan cantik pujaan hatiku. Namanya Syifa mak. Kami sangat dekat dan kami nyaman pabila selalu dekat. Hmm ntahlah mak, aku merasakan sesuatu apabila berada dekatnya. Ada apa ini ya mak ?

Mak, saat ini baru aku sadar apa yang mak katakan dulu. Pendidikan itu ternyata sangat penting. Dulu, setiap malam engkau memelukku, mengiringi tidurku dengan senandung bijak tentang pentingnya sekolah dan belajar. Engkalah yang selalu menceritakan dongeng tentang seorang prajurit istana, yang menjadi raja karena kecerdasan otaknya. Memimpin kerajaan dengan bijaksana dan membawa kemakmuran bagi negerinya.

Saat kau ceritakan itu, aku tak tahu apakah benar-benar mengerti. Yang aku tahu saat itu adalah, aku harus bangun pagi-pagi berangkat sekolah dan pulang cepat-cepat agar bisa jualan koran diperempatan jalan.

Mak, aku tahu sekali bahwa engkau tidak tega melihat aku jualan koran di pinggir jalan. Apalagi bahaya setiap kali mengancam. Tapi aku juga sadar bahwa tidak ada pilihan lain dalam hidup kita saat itu. Hal itu harus aku lakukan. Kita harus bertahan hidup.

Kadang-kadang aku juga merasa lelah mak. Aku juga pengen main seperti anak yang lain, aku ingin berlarian kesana-kemari, aku ingin naik sepeda, aku ingin bertamasya. Tapi keinginan itu aku tepis jauh-jauh. Aku tak kuasa melihat emak bersusah payah mencari uang sejak kita ditinggal pergi Bapak. Kadang-kadang ingin rasanya aku berhenti sekolah untuk meringankan beban mu mak. Aku ingin memilih jualan koran saja. Tapi aku tahu mak bakalan marah. Aku tak ingin mengecewakan mak yang sudah susah payah dan banting tulang untuk mengumpulkan uang. Aku tak tega melihat mak memanggul karung berisi barang-barang bekas, untuk dijual ke penadah. Betapa masih ku ingat, setiap kali mak selesai menjual barang rongsokan itu, mak kemudian memasukan beberapa recehan kedalam celengan kaleng sambil berkata

“Nanda, ini untuk sekolah kamu. Mudah-mudahan kamu jadi sarjana”.

Mak, celengan itu tak akan pernah bisa berisi penuh. Engkau sudah terlanjur di panggil yang kuasa. Aku sedih dan aku menangis waktu itu.

O ya..mak, sebentar lagi aku akan memeluk seorang perempuan cantik nan luar biasa di depan sana. Tapi mak jangan marah dulu ya…, jangan salah sangka. Perempuan itu bukan Syifa, tapi Bunda Ratna. Dari jauh aku melihat beliau tersenyum. Sesekali menyeka air matanya. Aku tahu itu air mata bahagia.

Pasti mak bertanya-tanya. Mengapa aku mesti memeluk Bunda Ratna.

Itu lho mak…yang pernah aku ceritakan ke mak dahulu sekali. Bunda Ratna lah orang yang selalu setia membeli koran yang aku jualan di perempatan lampu merah. Kadang-kadang beliau tak segan-segan memberikan uang kembalian nya kepadaku. Beliau yang pernah bawa aku makan di restoran Padang. Dan masih ingatkan engkau mak, setiap kali aku membawa uang lebih ke rumah, mak selalu tanya.

“Dari bu Ratna lagi ?”

Aku menganguk. Dan mak memandangku lama sekali dan sejurus kemudian, mak tersenyum. Sampai hari ini aku tak mampu memaknai senyumanmu itu mak.

Mak, kalau mak tanya bagaimana tampang Bunda Ratna. Jawabku “luar biasa”. Tak ada kata-kata yang mampu mewakili kecantikan dan ketulusan Bunda Ratna. Beliau sama cantiknya dengan engkau emak ku. Ada satu persamaan antara dirimu dengan bunda Rata. Beliau selalu berpesan kepadaku agar aku jadi sarjana. Tak tahu aku bagaimana bisa apa yang mak impikan terhadapku juga menjadi impian Bunda Ratna.

Begitulah Bunda Ratna mak. Perempuan yang telah menyelamatkan hidup Nanda. Dialah yang mengasuhku dengan sabar sejak berpulangnya Mak kepangkuan ilahi. Dialah yang menggendongku, ketika aku menangis disudut gubuk reot kita. Aku ingat sekali, waktu itu aku menangisi kepergian mak ke haribaan tuhan yang maha esa. Aku belum siap kehilangan, aku tak tahu harus bagaimana, hidupku terasa kosong, tempatku bergantung lenyap seketika. Aku nyaris mengutuk takdir ini. Mengapa tuhan memberikan cobaan yang maha dahsyat. Padahal aku masih kelas 5 SD. Malah aku saja belum disunat waktu itu lho mak hehehehe.

Mak, ditengah-tengah keputus asaan itulah, Bunda Ratna muncul bagaikan malaikat. Masih lekat dalam ingatanku, beliau memelukku, menggendongku dan merebahkan kepalaku kepundaknya. Tak tahu aku ketika itu, tiba-tiba saja aku menangis sesunguk an di atas pundak beliau. Aku lepaskan beban ini dipelukan beliau. Bunda Ratna memeluk balik dengan erat. Seolah-olah tak ingin melepaskanku lagi. Aku tak tahu, tiba-tiba saja aku merasa nyaman di pangkuan beliau. Sejak itu hidupku berubah. Berubah 180 derajat. Aku tidak lagi dijalanan. Tidak lagi di gubuk reot kita itu ( o ya mak, gubuk kita sudah digusur lho). Aku bersekolah, aku bisa bermain layaknya anak lain, aku bisa hidup lebih baik, aku senang, aku bahagia. Tapi jika malam telah menjelang, aku selalu teringat akan dirimu mak. Hanya doa kepada yang kuasa yang bisa membuat mataku tertidur di malam hari.

Aku menyadari, ternyata tuhan mendengarkan doa mak. Doamu agar aku jadi sarjana. Tuhan mengirimkan bunda Ratna untuk itu. Lewat tangan beliaulah impian kita terwujud mak.

O ya mak…

Sebentar lagi aku akan naik podium untuk kedua kalinya. Hanya aku satu-satunya sarjana yang akan naik podium itu, karena aku sebentar lagi akan menerima beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke Australia. Luar negeri mak. Bisakah kau membayangkannya di syorga sana mak ?. Nanda saja tak tahu apa dan bagaimana Australia itu. Tapi kata orang-orang, sekolah disana bisa membuat kita lebih pintar. Doakan saja aku akan mampu menjalaninya di negeri orang mak. Aku akan belajar tentang penyakit paru-paru. Mungkin bertahun-tahun lamanya.

Mak, ternyata aku baru tahu, ternyata dahulu mak diambil oleh yang kuasa karena penyakit paru-paru ini. Makanya Nanda ingin mendalami ilmu ini. Dahulu sebenarnya Bunda Ratna pernah ngasih uang untuk membawa mak berobat. Tapi akhirnya tak pernah kesampaian. Aku dipalak preman mak dan uang itu mereka ambil. Sudahlah mak…itu cerita lama, tak perlu diungkit lagi.

Sudah dulu ya mak. Nanda sudah dipanggil pembawa acara tuh. Nanda mau menuju podium. Ngak enak sama si bule itu. Dia sudah menunggu. Dari tadi dia menunggu dan selalu tersenyum pada Nanda. Nanti nanda kabari lagi ya mak….

Baik-baik di syorga ya mak…sembah sujud dari anakmu.

Dua bola mata ini masih melelehkan air mata mak. Satu untuk Emak tercinta di syorga dan satu lagi untuk Bunda Rata. Kini Nanda punya dua IBUNDA. I Love U…

NB :

Saya dedikasikan untuk :

1. Uni Mallow. Tetap semangat uni.

2. Catra. Cepat jadi sarjananya.

3. Bapak/Ibu Guru Yang Kecanduan Nge Blog (Pak Suhadi, Pak Zulmasri, Bu Enggar dan Bu Alifia). Titip salam hangat buat para muridnya.

4. Untuk para orang tua yang mengadopsi anak.

Iklan

26 thoughts on ““Kabar Untuk Emak-Ananda Part II-” (to Uni Mallow)

  1. ya ampun, moe.
    aku sampe nangis bacanya.
    malah lebih bagus dari cerita awalnya.
    makasih banyak atas cerita ini, moe.
    bener-bener speechless deh.

    (nah, ini cerita pertama kan, moe? selamat dan terus berkarya! ditunggu!)

  2. saya udah lama baca ananda nih,, seorang anak yang akhirnya diadopsi oleh ibu yang baik hati dan sangat terkesan oleh ananda.
    dalam lima menit udah dapat inspirasinya ya bang? yah wajar aja, sebagai pemerhati sosial di bidang pemenuhan hal-hak anak catra gak kaget lagi bang. Semua udah pernah kita obrolin sepertinya ya bang. tak ketinggalan bersama kisah2 bang im main bola malam2 bersama mereka… di terminal yang udah berubah jadi mall itu lho. :mrgreen:

    wah ada yang ultah…. selamat ya uni, moga2 panjang umur nya murah rezki dan sehat slalu

    AMIN,,, semoga catra juga cepet sarjana bang…..

  3. to arvatara : hehehehe biasa aja lagi…malah inspire nya uni mallow tuh..uni nya yang hebat

    to al : hah, masa iya sampai nangis ?

    to catra : capeklah tamat…jadi baaa, lah dulu bg im aaa, lah buek cerpen…bilo catra ka buek cerpen ko……dulu salangkah aaaa

  4. sunhguh aku terharu membaca postingan ini. jadi teringat masa2 saat sekolah dan kuliah dulu ketika mak yang sekarang masih nyaman hidup di kampung berjuang utk membiayai sekolah dan kuliah di tengah deraan dan cobaan hidup. makasih postingannya yang sangat menyentuh. jadi pingin segera sungkem pada emak di kampung.

  5. to al : hehehehe masa segitunya buk…marshmallow yang hebat menurut saya…cerpen dia yang sangat menginspirasi….

    to deddy : heheheh sama deddy..tetap semangat ya

  6. to pak syawali : thanks pak…marshmallow yang menginspirasi saya…salam kenal pak..warga kampung blagu yang baru….

    to alex : kabar baik lex..alex gimana…

  7. ya ALLAH titip salam saya untuk emanya uda Imoe … bangunkan syurgaMU untuk nya ya ALLAH dan jika ia butuh teman, pertemukan dengan Ibu saya disana.

    amin ya ALLAH.

  8. Saya menangis membacanya…tulisan yang indah, menyentuh…dan untuk mengadopsi anak, terutama yang sudah mengerti, dibutuhkan ketulusan dan keikhlasan dari kedua belah pihak.

  9. to edratna : bener sekali bu/pak…mememng dibutuhkan keikhlasan luarbiasa dan tak semua orang bisa.

    to pak suhu : bener pak suhu….bukan saya yang hebat…tapi marshmallow yang menginspiratif…baca sekuel lanjutan pak di postingan saya niy…

    to mas DM : thanks banget mas…saya belajardari cara menulis mas di postingan mas….ajari sayaterus ya mas….

    to rindu : thanks nbanget mbak rindu….saya yakin ibunda mbak rindu pasti di syorga sekarang.

  10. baru kali ini saya membaca 1 cerita yang dikarang oleh 2 penulis yang berbeda dan tak pernah berjumpa….

    hampir tanpa celah, sempurna dan kompatibel dengan cerita aslinya…..mengalir seperti air…

    dan sangat luar biasa,dapat diselesaikan dalam menit saja….

    Teruskan karya mu Pak…:)

  11. da imu…
    seperti fitri bilang via YM
    1. membaca ANANDA, bikin fitri gak bisa nahan haru, hampir keluar tetesan bening air mata
    2. membaca “semangatlah anakku”ada gaya bahasa yang beda dengan ANANDA, walau secara makna, gak kalah menariknya, fitri pikir cukup menarik kalopun gayanya beda, karena ada isi hati dua tokoh yang berbeda..
    3. mantap da imu… teruslah menulis dan mengasahnya
    4. mau lanjuti baca yang ketiga dulu ya…

  12. vizon

    ternyata inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk nyambung cerita dari postingan blog orang…
    rancak bana ajo imoe… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s