….Judulnya Apa Ya ?….

Standar

Saya sedang belajar buat fiksi.  Nah ini ada sekelumit yang berhasil dibuat.  Ceritanya ngak tau mau dibawa kemana.  Karena terinspirasi dari Pak EWA yang bilang bahwa kunci bisa menulis adalah “ambil pena, lalu menulis” maka saya lakukan saran itu.  Ambil laptop lalu mengetik…jadilah ini.  So…fiksi ini akan saya sambung kembali begitu idenya muncul…Harap maklum.

Si Kancil Jundi

Sekali loncat saja sebenarnya Jundi mampu melewati rintangan yang ada dihadapan itu. Tidak susah memang, hanya sebuah got dengan lebar tak lebih dari satu meter. Akan tetapi hal itu urung dilakukan. Sekelebat bayangan membuat otaknya berfikir dua kali, kalau tidak ingin ketahuan. Ya,… walaupun sekelebat, Jundi bisa memastikan bahwa bayangan hijau berpeci yang baru saja melitas tak jauh dari kanannya, adalah lawan yang harus diperhitungkan. Satu, dua, tiga, empat, lima langkah Jundi surut ke belakang pelan. Pelan sekali, bagai melangkah diatas awang-awang. Tak menginjak tanah.
“Alhamdulillah, untung ada pot bunga besar ini, kalau tidak, matilah awak” membathin Jundi dengan logat minangnya.
Belum selesai rasa syukurnya, tiba-tiba sebuah benda jatuh tepat menimpa kepalanya. Saat itu dia tak memakai peci. Sangat terasa.
Benar saja, tanah dan pasir tiba-tiba mendarat mulus di antara rambut keritingnya. Tak hayal, Jundi segera mendongakkan kepala. Secepat dia menengadah, secepat itu pula dia menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat Jundi semakin menciut untuk kembali melanjutkan aksi. Jundi dihadapkan pada pilihan sulit. Bersembunyi tapi kalah cepat, atau melanjutkan aksi tapi ketahuan Pak Rustam. Pusing……

“Sialan sandal si Agung, ternyata dia sedang di atas, mungkin dia mau mengambil jalan pintas melewati loteng, wah kalau begini awak bakalan kalah cepat. Apa akal awak sekarang. Mengalahkan Agung sangat sulit, awak harus menyusun strategi lagi” Jundi mulai putus asa.
Agung !!!
Mendengar nama itu saja semua penghuni Panti Asuhan Budi Asih pasti bergidik. Jangankan anak-anak asuh yang tinggal di panti tersebut, para pengasuh dan penguruspun kadang-kadang dibuat kehilangan akal untuk mengendalikan tingkah polah Agung. Seperti arti namanya, Agung adalah penghuni yang benar-benar ‘paling berkuasa’ di panti asuhan ini.
Keperkasaan Agung sudah tersohor kemana-mana. Tidak hanya di Panti Asuhan Budi Asih, tetapi juga sudah menyeberang hingga panti asuhan yang lain. Hal ini bukan tidak beralasan. Peristiwa tahun lalu yang membuat namanya melambung. Persis pada peringatan HUT RI, sang ‘kesatria Budi Asih’ ini tampil layaknya ‘komandan lasykar’ menyerang anak-anak dari Panti Asuhan Cahaya. Perkaranya sepele, sebel karena diejek kalah dalam pertandingan sepak bola antar panti. Beruntung peristiwa ini segera diketahui oleh para pengurus, hingga akhirnya ‘pasukan Budi Asih’ dihalau oleh pengurus begitu mendekati gerbang Panti Asuhan Cahaya, sang tetangga dekat.

Walalupun menggetarkan nyali yang mendengarnya, bukan berarti Agung tidak bisa ditaklukan. Hanya ada beberapa orang saja yang mampu untuk itu. Salah satunya Jundi. Anak asli minang ini berperawakan kecil. Tidak temperamental seperti Agung, negosiatif, kaya strategi, sedikit culas, dan mahir sekali berdebat. Apapun yang diperdebatkan anak-anak Panti Budi Asih, dialah yang selalu muncul sebagai pemenang. Tak peduli apakah argumen yang dikeluarkannya salah atau benar. Oleh karena itu, tak heran, jika skenario penyerangan panti tetangga tahun lalu, adalah murni strategi Jundi. Hal inilah yang kemudian membuat Agung tidak mampu menguasai Jundi sepenuhnya.

Lalu, siapakah bayangan hijau yang berkelebat di samping kanan Jundi tadi ?

Dialah penghuni baru. Resmi jadi penghuni panti sejak 1 bulan yang lalu, setelah melewati masa percobaan 2 bulan. Setyo Ramadhan, usia 12 tahun, negeri asal Yogyakarta. Perawakannya sederhana layaknya anak-anak usia 12 tahun. Berkulit putih dan berkacamata. Menurut informasi yang ada di papan tulis yang memuat data diri para anak asuh, terpampang jelas tulisan ‘Yatim Piatu’ disamping namanya. Dan ini berarti penghuni baru ini tidak lagi memilki ayah dan ibu.

“Kalau begini situasinya, lebih baik awak mengambil jalan memutar, tak ada cara lain”

Dalam situasi tertekan Jundi akhirnya memutuskan untuk memenangkan persaingan dengan mengambil rute lain.

“Daripada ketahuan Pak Rustam, hancurlah semua. Lebih baik memutar. Mudah-mudahan dua makhluk itu tidak mendahului awak.”

Tap, tap, tap dengan sedikit berjingkrak, kakai panjang Jundi akhirnya sampai di halaman samping. Itulah jalur memutar yang diputuskannya. Tidak lebih cepat jika dia mengambil rute halaman samping. Tapi tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ‘kancil’ ini. Pasti ada pertimbangan. Setiap keputusannya pasti sudah dipikirkan matang. Itulah dia Jundi.

Olala, benar saja. Ada sebuah celah lekukan di halaman samping. Lekukan di dinding bangunan panti ini sepertinya sengaja dibuat untuk memperkuat bangunan berlantai dua ini. Di balik itulah kemudian Jundi berdiri. Persis seukuran tubuhnya, sehingga siapapun yang lewat tidak akan melihatnya. Apalagi ada sebatang pohon Mahoni besar yang juga siap melindungi dia dari penglihatan dua musuh dan Pak Rustam.

“Awak harus berfikir sebentar, lebih baik sabar…” Jundi menarik tubuhnya hingga meringkuk dalam celah lekukan tadi. Diam dan kemudian memejamkan mata.. Agaknya sedang berfikir. Sesat kerutan tajam muncul di dahinya.

***

BERSAMBUNG…

Iklan

10 thoughts on “….Judulnya Apa Ya ?….

  1. to pak zul : hehehehe bukan pak…kalo si kancil Jundi tuh segmen pertamanya, ntar segmen ke dua cerita tentang si agung…trus yang ketiga cerita tentang setyo…nah setelah 3 profilnya muncul, baru di gabung menjadi satu alur berburu harta pusaka…gitu pak hehehehe

    to pak ersis : hehehe bagus juga pak…

    to dion : hehehe thanks bg dion…ntar disambung lagi…belum dapat ide…ada ide gak…

  2. wah, ternyata cerita bersambung. tapi awal kisah yang bagus, mas imoe. deskripsi ttg penghuni panti budi asih sungguh hidup. saya membayangkan suasana yang penuh intrik dalam sebuah komunitas anak2 yang bernasib kurang beruntung. persaingan, dendam, dan kebencian, agaknya sudah menjadi bagian hidup manusia, sehingga selalu ada di mana saja. jadi makin penasaran nih, bagaimana jundi menghadapi situasi di tengah komunitasnya.

  3. ricnes

    wuih…..
    ga blh kalah neh ama da imu…..
    ky jg hrs bs bkn cerpen……
    mdh2an bs dak da im…..!!!????
    dtunggu sekuelnya…..
    ceile….gaya mah….

  4. @ Dm : jangan itu dong judulnya, yang lain hehehe

    @ gelandangan : jangan diangkat…kagak berat tuh…

    @ pak sawali : hehehe iya pak, thanks atas idenya…tambah masukan niy…

    @ ricnes : mantap ki, hayo nulis cerpen…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s