…hobby baru pejabat dinas pendidikan…

Standar

tutwurilogo

Beberapa waktu yang lalu, saya diundang dalam sebuah pertemuan lintas stakeholder terkait yang membahas berbagai isue pemenuhan dan perlindungan hak anak.  Hampir seluruh instansi pemerintah terkait hadir, maklum juga karena awal-awal tahun APBD belum cair, jadi masih banyak waktu bagi para pejabat untuk menghadiri berbagai pertemuan.  Tidak saja instansi pemerintah, tapi juga berbagai organisasi kemasyarakatan yang peduli dengan hak-hak anak turut berpartisipasi.

Layaknya sebuah pertemuan, tentulah awal sekali perkenalan menjadi sesuatu yang wajib, walalupun kami telah sering bertemu satu dengan yang lain.  Tapi tetap saja ada beberapa wajah baru yang muncul (yang wajah karatan mungkin hanya saya hehehe).  Kami mendiskusikan banyak hal, mengkaji situasi yang ada, menganalisis akar persoalan serta berbagi informasi mengenai banyak hal yang masing-masing kami temui.

Barangkali karena semua memahami bahwa ‘kehidupan anak memang sesuatu yang harus di lindungi’ maka tentu saja pertemuan itu tidak akan menimbulkan debat yang sengit, karena semua setuju secara prinsip, bahwa anak harus menjadi hal utama dalam setiap kebijakan pembangunan.

Teman-teman yang berasal dari organisasi kemasyarakatan/LSM, tentu saja membagi informasi menganai apa yang ditemukan di kelompok masyarakat paling bawah, terkait dengan kehidupan anak.  Mereka tidak hanya menyampaikan temuan-temuan di lapangan, tetapi juga menyodorkan solusi-solusi yang cukup cerdas untuk ditindak lanjuti.  Bahkan tak segan-segan beberapa dari mereka kemudian menawarkan bentuk program intervensi yang sesuai, yang barangkali bisa dilaksanakan oleh dinas terkait.

Sampai suatu ketika, kami beranjak ke topik Hak Pendidikan Anak.  Beragam pandangan, data serta temuan diungkapkan dalam pertemuan itu.  Ntah bagaimana mulanya, tiba-tiba saja saya menyadari ada hal yang aneh dari salah seorang pejabat dinas pendidikan yang hadir pada waktu itu.  Lama-lama saya perhatikan statement yang keluar dari beliau tak lebih dan tak kurang selalu dimulai dengan kalimat “tahun ini kami punya dana banyak sekali dari APBN, APBD dan lain-lain, bla bla bla bla”

Waduh, dalam hati saya berkata “lho kok beliau ini selalu menonjolkan bahwa instansinya memilki dana dan anggran yang berlimpah, padahal kan kita mau mendiskuikan solusi solusi buat berbagai persoalan yang ada”.  Saya tau dan semua tau bahwa Sektor Pendidikan kita saat ini ketiban duit banyak sekali untuk program peningkatan kualitas pendidikan anak bangsa, tapi kalo para pejabat tidak mampu menganalisis akar persoalan yang terjadi dan lebih cenderung membanggakan banyaknya anggaran yang dimilki, bisa bahaya tuh.  Saya kuatir, cara berfikir seperti ini hanya akan menjebak institusi birokrasi pendidikan pada ‘proyek’ semata.  Tidak mampu menyelesaikan persoalan sampai ke akar-akarnya.  Dan bukan tidak mungkin akan bisa terbebani dengan duit yang banyak itu.  MUdah-mudahan jangan sampai terjebak…

Iklan

22 thoughts on “…hobby baru pejabat dinas pendidikan…

  1. sepakat dengan catra. bisa jadi si bapak pejabat termasuk penganut mazhab “semua urusan bisa diselesaikan dengan uang”, moe.
    tapi benar, bahwa uang semata tak menjamin masalah selesai, terutama kalau akar permasalahan tak diketahui.
    jadi penasaran, gimana sih wajah yang karatan itu, moe?

  2. vizon

    itu bukan hobby baru jo…
    tp kebiasaan lama yg tak tersadarkan… 🙂

    saya juga melihat hal yg sama, bahwa pejabat kita saat ini hampir2 seperti OKB (orang kaya baru), yg tiba2 ketiban duit banyak, dan tak tahu apa yg mau dibeli… mudah2an nanti mereka “tidak membeli kulkas buat dijadikan lemari pakaian”, hehehe…. 🙂

  3. Begitulah bang Imoe..begitulah.. begitulah..
    Gemes gak sih?
    Makanya kata pa Arif Rahman itu, sekarang dunia pendidikan terbelah dua, salah satunya adalah orang-orang yang kerasukan dokrin ‘Keuangan yang Maha Kuasa’

  4. Well…, suatu sisi birokrasi yang menjemukan di negara kita. Prinsip..dana harus dihabiskan…, mereka gak mikirkan solusi masalah..tapi solusi dana keluar dan yang dibagi-bagi. Akibatnya…lihat jarang banget ada kerja yang berkesinambungan..semua seperti”miang”, dimana gatal disitu digaruk..bukan masalahnya yang diatasi..

  5. @ hadoitz : akhirnya bisa pertamaxxx ya hehehehe

    @ catra : bener cat, sepertinya uang telah memperbudak cara pikir kita

    @ uni mallow : hehehehe wajah karatan ? huahuahuahuahua….karena aku selalu muncul dalam kegiatan apapun bertema perlindungan anak, jadi mukin orang-orang dah bosan kali…ntah karatan, ntah konsisten namanya itu hahahahahahaha

    @ vizon : bener da…atau malah mereka sudah beli kulkas tuh hehehehe?

    @ al : mudah-mudahan guru-guru kita tak begitu, biarlah para pejabat birokrat….tapi gak bisa juga dibiarkan bu…

    @ eni : iya bu…..bener sekali ituh…malah kayaknya kadang-kadang asal gaaruk….

  6. begitulah dunia pendidikan kita… ketika dalam debat/dialog sang pejabat selalu membanggakan dana yang mereka anggarkan dalam APBN/APBD meningkat atau berlimpah… nyatanya dalam prakteknya Sekolah-sekolah negeri yang mereka “anggarkan” tersebut tetap saja “PUNGLI”

    lucunya.. PUNGLI tersebut adalah PUNGLI yang “dihalalkan” oleh sebagian wali murid, khususnya yang tergabung dalam komite sekolah yang dengan segala “manfaatnya” belakangan ini “disusupi” oleh para pelaku politik.

    What The Heck is happening in this nation???

  7. hatmiati

    Mungkin pondasi yang bisa kita perjuangkan saat ini adalah pendidikan. nah, bukankah dengan adanya anggaran yang besar itu menjadi satu alternatif untuk membuat pendidikan ini menjadi lebih baik. kalaupun nanti dikhawatirkan ada penyelewengan dana, bukankah masyarakat dapat menjadi pengontrol, dewan pendidikan bisa mengevaluasi, dan orang tua siswa dapat belajar menjadi pemerhati pendidikan agar penggunaan dana yang tidak sesuai dapat bisa diminimalisasikan. salam buat Mars dan catra.

  8. pola pikir pejabat memang sudah teracuni oleh angka2, mas imoe. mereka sangat bangga jika sukses mendapatkan angka dana rupiah dg jumlah bejibun. tapi repotnya, dana yang besar sering mangkrak di akhir tahun anggaran dan baru blingsatan setelah dituntut utk menyampaikan laporan pertanggungjawaban. perlu ada reformasi budaya di kalangan pejabat utk tdak memberhalakan angka2 mlulu.

  9. @ bu eni : nah tuh bu, pemimpin yang punya visi dan berhorison panjang itu susah sekali mendapatkannya, kalau ada yang idealis, pasti disingkirkan oleh sistem.

    @ pak sawali : bener sekali pak, kasihan pendidikan kita, kasihan para guru idealis, kasihan para pendidik yang lain, dikhianati oleh perilaku pejabat pendidikan yang tidak punya visi….

    @ yoan : hehehehe siapa tuh yang korupsi ?

    @ hatmiati : setuju buk…mari kita kontrol penggunananya…

    @ wewenk : oleh karena itu, maka jadilah warga masyarakat yang kritis…setuju ?

  10. @ zoel : nah itulah pak zoel…bangsa ini mau kemana siy ya….

    @ hatmiati : mungkin juga bu, kita ngak mau ngontrol juga, mestinya masyarakat jadi pengontrol untuk pemerintah ya kan….

  11. hatmiati

    yang jelas sekarang dana pendidikan dah mencapai 20%…terus harus sanggup dong meningkatkan etos kerjanya…selain itu…pendidikan sebenarnya tanggung jawab bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s