… negara kekerasan…

Standar

polisi

Video amatir perilaku kekerasan belakangan bermunculan kembali. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah video amatir kekerasan yang dilakukan senior terhadap junior di sekolah kepolisian di Palu.

Ya, pasti peristiwa ini menjadi pukulan telak bagi petinggi kepolisisan, soalnya ditengah-tengah usaha mereformasi diri, video kekerasan ini tentu saja akan kembali menurunkan derajat kepercayaan masyarakat akan institusi kepolisian. Memang kita tidak boleh mengeneralisir peristiwa ini sebagai bentuk seseungguhnya wajah kepolisian, tapi paling tidak ini mengisyaratkan bahwa reformasi di tubuh kepolisian masih jauh panggang dari api.

Teman saya berujar ‘yah…maklum ajalah, yang masuk jadi polisi itu adalah anak-anak tamatan SMA, jadi masih emosional, belum punya cara pandang tentang banyak hal. Kemaren sore masih tawuran..jadi jangan heran kalo video ini muncul’. Ada benarnya juga siy. Tapi bukankah mereka sudah dididik di sebuah sitem pendidikan kepolisian ? apa yang salah ?

Lucunya lagi, di TV ditayangkan statement petinggi kepolisian “kita sedang selidiki, apakah ini memang terjadi, apakah ini hanya trik kamera dan segala macamnya’ Ya ampunnnn, sudah begitu masa masih dibilang kemungkinan trik kamera, ada-ada aja. Capek dehhhhh

Saya termasuk salah seorang yang tidak percaya dengan institusi kepolisian. Tengok saja, sudah jamak terjadi kalau kita kena tilang, tinggal bayar Rp. 20 ribu, urusan selesai. Padahal kalo mau serius menegakkan aturan, sekali kena tilang, ya kena tilang, urusannya dengan Negara, tidak dengan aparat di lapangan. Ngurus SIM juga begitu, tinggal bayar ke oknum lalu duduk saja di rumah menunggu SIM selesai. Jadi jangan heran kalo anak ingusan usia 15 tahun bias bawa kendaraan lalu lalang dengan SIM ‘tembak’ nya itu. Perkara SIM ‘tembak’ inipun sudah menjadi rahasia umum. Pokoknya banyak yang harus di benahi di tubuh kepolisisan kita, terutama mentalitas aparat mulai dari yang atas hingga yang bawah sekalipun.

Nah, inilain lagi, sekumpulan anak-anak yang membolos sekolah di tangkap oleh Satpol PP di sebuah kota (saya lihat di TV). Disatu sisi anak-anak yang membolos tersebut memang bersalah, tapi di sisi lain, penangkapan yang sewenang-wenang, serta memberi mereka hukuman fisik berlebihan ditambah dengan mencukur rambut serampangan, tidak bisa dibenarkan. Masalahnya, jangankan Satpol PP, Polisi saja saat ini sudah dilarang melakukan pencukuran rambut terhadap anak yang tertangkap melakukan kesalahan. Nah, ini Satpol PP yang sebenarnya adalah orang yang ditunjuk sebagai penegak peraturan daerah, berlaku jauh melebihi polisi. Jadi yang polisi siapa siy sebenarnya. Aneh benar…

Kalo mau jujur, anak-aanak membolos, melakukan kesalahan adalah cerminan kegagalan orang dewasa disekitarnya untuk mendidik, ya gagal orang tua, tetangga, guru, sampai kegagalan sistem negara memberikan perlindungan kepada anak. Jadi kenapa anak yang mutlak dipersalahkan, bukankah anak melakukan tindakan, hasil meniru dari orang dewasa ? Nah….

Kalo antar sesama polisi saja ‘bermain kekerasan’, lalu Satpol PP ‘bertangan besi’ apalagi antara polisi dengan rakyat jelata ya ? Lalu kemanakah kita akan berlindung ?

Iklan

32 thoughts on “… negara kekerasan…

  1. Rizal

    sungguh ironi sekali melihat fenomena kekerasan di negeri ini..semoga kita lebih dewasa dalam menyikapi segala permasalahan tanpa perlu ada kekerasan..mari berantas budaya kekerasan..!!!

  2. @ zoel : Allah Maha kuasa dan maha tahu pak zoel

    @ alris : iyo bana alris…ibo hati awak dek nyo hehehe

    @ vizon : hehehe ndak amuah 20 kini doh pak…25 main nyo lai…

    @ rizal : semoga kita segera keluar dari budaya kekerasan ini amin…

  3. Setuju bang Imoe. Anak-anak belajar dari setiap yang dia lihat, dengar, dan rasakan. Yang saya tahu sih, anak-anak didik saya yang memiliki tempramen keras dan memiliki kecenderungan ‘melabrak’ kalau marah dan emosi adalah anak-anak yang dididik dengan kekerasan.
    Kalau kita jadi monster saat mendidik mereka, maka mereka akan jadi monster juga.

  4. iya, saya sepakat dg mas imoe. pasti ada banyak penyebab, kenapa banyak siswa yang membolos. bisa jadi pengawasan yang terlalu longgar, banyaknya jam kosong di sekolah, atau suasana yang tdk nyaman ketika berada di sekolah, yang menyebabkan banyak pelajar berperilaku seperti itu, tanggung jawab permasalahan ini tentu saja semua komponen pendidikan, tak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, meski demikian, pencukuran dg cara paksa juga murang edukatif, bahkan tak bisa memberikan efek jera sama sekali buat siswa.

  5. kekerasan bila diterapkan di sekolah, maka jangan harap institusi bakal menghasilkan orang-orang yang berhati lembut.
    miris deh dengan kondisi ini. makanya sampai sekarang aku tetap apriori dengan penerapan masa orientasi yang justru bertendensi fisik seperti ospek di kampus-kampus.

  6. @ al : nah tuh buk…olehkarena itru pendidik adalah orang yang menentukan kekerasan itu bisa di habisi dari muka bumi ini selamatberjuang bu…ibu mampu uuntuk itu..

    @ syawali : setuju pak…tanggung jawab saya itu untuk melakukan kontrol, tanggung jawab kita semua…

    @ uni mallow : sippp un…maka untuk semester yang akan datang, jangan sampai ada ospek-ospek aaa…

  7. Nah Bung, dengan logika sederhana saja, kita bisa sedikit menyimpulkan: kenapa mentalitet alat negara seperti saat ini. Karena ya pola pendidikannya begitu. Ini soal budaya, Bung Imoe. Ini soal budaya. Apa boleh buat, budaya mereka masih:

    RENDAH.

  8. JelajahiDuniaEly

    sedih 😦

    belum dengar cerita soal bagaimana para polisi itu harus nyogok berjuta-juta dulunya untuk menjadi polisi , kok balik lagi soal duit ya ?

  9. @ DM : mas, aku juga sempat bilang ke teman antropolog kalo kekerasan itu sudah membudaya, mereka marah, mereka bilang, jangan bawa-bawa kata budaya, karena budaya itu maknanya dalam dan tidak identik dengan sesuatu yang negatif, bilang aja perilaku, begitu kata mereka…MUngkin tersinggung secra mereka antropolog adalah para pengamat budaya kali hahahaha aku juga gak ngerti…yang jelas kekerasan udah identik banget dengan negara kita AMPUNnnnnnnnnnnnnnn

    @ catra : yang salah adalah, karena kita tidak punya figur lagi….masyarakat kita frustasi melihat pemimpin bangsa yang selalu gontok-gontokan..yahhhhhh harus memusanahkan satu generasi cat heheheheh

  10. kalo menurut saya gebuk-gebukan dikit di kepolisian ato militer sih wajar, lha mereka kan waktu tugas gak selalu ketemu yang santun kayak saya 😆 kadang ketemu yang preman, pembunuh, pemerkosa 😈
    harus pernah dipukul biar tau rasanya dipukul, biar ndak takut dipukul, biar bisa ngukur perlu mukul ato ndak. itu menurut saya lho…

  11. @ ichank : iya semakin aneh
    @ cengkunek : bener juga ya…manusia kadang butuh perang
    @ mas stein : hahahahahah
    @ edipsw : mulai sekarang, mari kita hentikan

  12. Merubah budaya agar tidak mendidik dengan kekerasan perlu waktu lama, dan kerjasama semua pihak. Dan hal tsb mungkin dilakukan, jika pimpinan mempunyai visi jangka panjang, strong leadership, dan benar-benar monitor implementasinya…dan beri contoh nyata.

  13. hatmiati

    bijak barangkali kalo yang mulai memberi contoh dari kita, kemudian menyebarkan benih-benih kebaikan kepada orang lain hingga tumbuh berantai menjadi sesuatu yang bisa membuat semua orang sadar betapa indahnya hidup tanpa kekerasan…

    gimana mas Imoe…???

  14. @ edratna ; IYA SETUJU BUK…PERLU PEMIMPIN YANG punya visi jelas dan yang penting juga harus ber akhlak mulia hehehe

    @ hatmiati : setuju buk…mari sebarkan benih cinta heheheh

  15. Teman saya berujar ‘yah…maklum ajalah, yang masuk jadi polisi itu adalah anak-anak tamatan SMA, jadi masih emosional, belum punya cara pandang tentang banyak hal. Kemaren sore masih tawuran..jadi jangan heran kalo video ini muncul’. Ada benarnya juga siy.

    Saya sangat tidak setuju sekali dengan pendapat ini, karena kecilnya aja udah melakukan tindakan kekerasan apalagi setelah menjadi aparat. Menurut saya sistem penerimaannya lah yang harus dicek kembali..

    Sebenarnya setiap insan di Indonesia ini udah jenuh melihat realita yang ada, saya sangat yakin itu, tetapi kejenuhan setiap insan itu tidak dibarengi dengan melakukan perubahan secara menyeluruh, maksudnya yang melakukan perubahan itu tidak oleh semua orang, hanya dilakukan oleh sebagian orang..

    Pendeknya gini ajalah, mari kita lakukan perubahan menuju kebaikan pastinya dimulai dari diri kita sendiri, mari kita tinggalkan zona nyaman kita karena seseorang yang telah berada di zona nyaman akan kehilangan rasa idealismenya, dan rasa kepeduliannya. Ini tidak dapat dipungkiri lagi..

    Ngomongin tentang perubahan, saya merekomendasikan untuk membaca tulisan dari Mentri Riset dan Teknologi Republik Indonesia sekarang (Bapak Kusmayanto Kadiman), alamatnya ada di blogroll blog saya..

  16. Setuju!
    Sebagai hamba negara mereka harusnya tidak mudah emosi meski tak ada satupun orang yang bilang bahwa mereka tak berhak jadi manusia yang beremosi juga.

    Salam kenal, nice posting!

  17. @ mrpall : wahhh saya kurang setuju pak, kekerasan gak dibutuhkan jama sekarang hehehe
    @ soni : itulah son…apa mesti syaratnya harus sarjana kali ya untuk masuk polisi…
    @ DV : ya setuju, karena mereka akan mengurus orang-orang dan manusia dengan berbagai karakter, jadi paling gak harus lebih mampu mengendalikan emosi… salam kenal pak…
    @ Zulmasri : itulah pak…mau dibawa kemana niy negeri hehehe

  18. Quote dari post di atas :

    Lucunya lagi, di TV ditayangkan statement petinggi kepolisian “kita sedang selidiki, apakah ini memang terjadi, apakah ini hanya trik kamera dan segala macamnya’ Ya ampunnnn, sudah begitu masa masih dibilang kemungkinan trik kamera, ada-ada aja. Capek dehhhhh

    komentar saya :
    itu mah udah STANDART KEPOLISIAN,haha.. tiap kali ada kasus ngomongnya gituuu aja.. eh tiba2 kasusnya TENGGELAM entah kemana… “SEDANG KITA SELIDIKI, bla bla bla”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s