…makhluk ajaib dalam gerbong…

Standar

makhluk

Hari ini  saya bertemu dengan ‘makhluk ajaib’ di gerbong kereta api yang membawa seluruh penumpang menuju Pariaman.  Tak ada firasat sedikitpun saya bakalan bertemu dengan makhluk ini.  Sssstttttt jumlahnya ada tiga.  Yang satu keliatannya masih sehat , yang dua kayaknya udah ada gangguan dimatanya.  Amit-amit mimpi apa semalaman, saya bisa ketemu makhluk yang begini aneh.

Lanjutkan membaca

Iklan

…situkau, parenghek dan teman-temannya…

Standar

a_070824_pepaya01

“Banyak Bajalan Banyak Nan di Tampuah”, “Banyak Bajalan Banyak Nan Diliek”

Ini adalah pepatah orang-orang tua di Minang, yang kira-kira artinya, jika semakin kita banyak melangkahkan kaki menuju negeri orang, maka semakin banyak hal yang kita ketahui.  Ungkapan ini ternyata kemudian menjadi sebuah filosofi orang Minang untuk kemudian membudayakan sebuah kebiasaan yang disebut Merantau.

Lanjutkan membaca

…dua malam…

Standar

1

Malam, 20 Mei 2009

Malam Renungan AIDS Nusantara 2009 (MRAN 2009) kembali digelar.  Peringatan ini dilakukan untuk mengenang orang-orang yang meninggal akibat HIV dan AIDS.  Selain itu juga bertujuan untuk menggalang kebersamaan untuk memutus mata rantai penularan virus ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kembali saya mengikuti peringatan MRAN 2009 ini.  Saya tidak pernah absen mengikutinya sejak tahun 1999.  Tak tahu kenapa, entah karena solider dengan teman-teman yang telah mempersiapkan kegiatan ini atau entah dari pada gak ada kegiatan aja, lalu bisa ketemu dengan teman-teman lain, saya tak tahu juga.  Tetapi satu hal yang membuat peringatan ini memilki daya magis bagi saya yaitu puncak peringatan dengan menyalakan lilin seraya menyayikan lagu “Lilin Lilin Kecil” dan “Usah Kau Lara Sendiri”.  Paling tidak, bagi saya kedua lagu ini memiliki kekuatan yang luar biasa.  Tidak hanya mampu membawa kita hanyaut kedalam liriknya, tetapi juga mampu menyentuh relung hati paling dalam untuk melakukan perenungan.  Perenungan untuk hal-hal yang lain selain HIV dan AIDS.

Lanjutkan membaca

…siapakah yang akan dipilih syam, apakah ida atau robert ?…

Standar

divorce3

“Kalau uda masih mengasihi Robert di rumah ini, lebih baik pulangkan saja saya ke rumah orang tua saya.  Titik“

Bagai petir di siang bolong, kalimat tersebut membuat Syamsudin tersentak.  Dia terpana dan tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut istrinya Ida.  Diletakkan topi lebarnya, disekanya keringat, lalu menatap sang istri yang masih berdiri dengan mata merah.

“Ada apa Ida, tenang dulu, Uda sedang lelah.  Kata-kata ida itu berbahaya dik”

Dengan keesabarannya, Syam berusaha menenangkan istri cantik yang telah dinikahinya nyaris 10 tahun itu.

“Aku sudah muak da, aku sudah jengkel, Uda lebih sayang pada Robert dibanding aku dan anak-anak.  Uda tidak pernah mempedulikan perasaanku lagi.  Sampai kapan ini akan terus terjadi Uda.  Uda sangat berubah”

Lanjutkan membaca

…bila musim panas tiba…

Standar

layang

Seminggu ini, sangat sulit bagi saya untuk memicingkan mata jika malam tiba.  Gerah…itulah yang saya rasakan.  Saya tidak memilki kebiasaan tidur dengan kipas angin.  Kamar juga tidak ber AC.  Mau tidur dengan membukakan jenedela jadi susah, karena seekor nyamuk dan serombongan teman-temannya pasti bakal menyerbu masuk.  Mau tidur dilantai juga tidak bisa, karena sudah pasti keesokan paginya badan terasa pegal-pegal.  Jadilah kompensasi saya dengan situasi ini adalah membolak-balik badan saja di atas ranjang, hingga subuh menjelang.  Selepas subuh, baru bisa terlelap.

Lanjutkan membaca

…datanglah…

Standar

img1898a

Pasti bete kalau rencana perjalanan ke luar kota yang sudah direncanakan terganggu.  Apalagi kalau sampai rencana yang telah matang tersebut gagal.  Nah, itulah yang aku alami, Jumat pagi tanggal 1 Mei 2009.  Perjalanan ke Payakumbuh tidak jadi aku lakukan, gara-gara jalan lintas Padang-Payakumbuh di tutup karena ada lomba balap sepeda T our d Singkarak.  Yah..akhirnya dengan terpaksa, ransel saya angkat lagi menuju rumah.  Akhirnya setelah negosiasi dengan Rivo (teman keluyuran saya), akhirnya keputusanpun diambil, kami berangkat keesokan harinya dengan sepeda motor menuju Payakumbuh (kota paling seksi setelah Bukittinggi).

Lanjutkan membaca