…datanglah…

Standar

img1898a

Pasti bete kalau rencana perjalanan ke luar kota yang sudah direncanakan terganggu.  Apalagi kalau sampai rencana yang telah matang tersebut gagal.  Nah, itulah yang aku alami, Jumat pagi tanggal 1 Mei 2009.  Perjalanan ke Payakumbuh tidak jadi aku lakukan, gara-gara jalan lintas Padang-Payakumbuh di tutup karena ada lomba balap sepeda T our d Singkarak.  Yah..akhirnya dengan terpaksa, ransel saya angkat lagi menuju rumah.  Akhirnya setelah negosiasi dengan Rivo (teman keluyuran saya), akhirnya keputusanpun diambil, kami berangkat keesokan harinya dengan sepeda motor menuju Payakumbuh (kota paling seksi setelah Bukittinggi).

img1897a

Pukul 11.00 WIB kami berangkat dan tepat pukul 14.00 WIB kami telah terdampar di tempat biasanya kami berkumpul dengan anak-anak pengurus Forum Anak Kota Payakumbuh.  Cukup ramai siang itu, karena hari itu kami akan membahas mengenai proposal program talkshow radio interaktif yang telah di setujui oleh manajemen radio, dan bikin kami bersemangat, kami mendapatkannya secara Cuma-Cuma.  Rapat di mulai dan kemudian selesai (heheheheh cepat amat).

Selesai rapat, kami shalat magrib di mesjid Muhamadiyah Payakumbuh.  Tentu saja sebelum itu di dahulu dengan hura-hura di game zone lagi.  Malam itu, rencananya kami akan nginap lagi di rumah kakek Eka di Nagari Simalanggang.  Tetapi karena ayah eka belum pulang, maka diputuskan untuk di rumah masing-masing aja.  Saya, Rivo, Mulyadi, Azhari dan Adyb kemudian menuju Komplek Perumahan di Koto Nan Ampek, tak lain dan tak bukan rumah Adyb.  Sampai di rumah, kamipun ketemu papa, mama dan adiknya Adyb.  Berkenalan, ngobrol-ngobrol, lalu tak berapa lama, papa dan mama Adyb minta ijin untuk pergi sebentar.  Kami semua kemudian melanjutkan aktivitas dengan makan malam, trus menggeledah kamar Adyb (heheheh).  Sebentar kemudian papa dan mama Adyb sudah datang kembali dan kami kemudian di tawarin nginap di rumah Adyb.  Saya dan Rivo tidur, sementara anak-anak malam itu melahap film LASKAR PELANGI.

img1908a

Keesokan paginya, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Mulyadi.  Ketemu orang tuanya dan sekalian melanjutkan tidur.  Menjelang siang Fopi dan Ayu bergabung dengan kami di rumah Mulyadi.  Agak lebih dan  siang lagi bergabung Zainal dan Adiknya Roi.  Lalu kami menuju Nagari Sungai Beringin di Kab. 50 Kota.

Sungai Beringin adalah sebuah nagari dalam wilayah administratif  Kabupaten 50 Kota.  Nagari ini justru berdekatan dengan Kota Payakumbuh.  Jika ingin kesana, anda dipersilahkan menuju arah timur Kota Payakumbuh dan bisa mencapai nagari ini hanya dalam waktu 20 menit.  Memasuki nagari ini kita langsung disuguhkan oleh pemnadangan rumah adat minangkabau (rumah gadang).  Baik itu yang sudah berusia lama, ataupun rumah gadang dengan desain modern.  Sepertinya masyarakat disini sangat menghargai mahakarya arsitektur rumah adat minang ini, sehingga memanifestasikannya dalam berbagai bagunan yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

img1916a

Diantara sekian banyak Rumah Gadang yang bertebaran tersebut, terdapat satu yang sepertinya rela ditakdirkan menjadi ‘induk’ nya.  Dialah rumah gadang yang dibangun oleh seorang tokoh nagari ini yaitu Nasroel Chas pada tahun 1994.  Rumah Gadang ini sebenarnya dibangun untuk keperluan prosesi adat suku setempat.  Tetapi karena begitu indah, luas, mempesona dan kaya akan nilai-nilai budaya, maka kemudian dijadikan sebagai tempat kunjungan wisatawan baik dalam maupun manca negara.  Rumah Gadang ini juga pernah dijadikan tempat bagi sepasang bule untuk melaksanakan pesta perkawinan dengan adat Minangkabau.

img1900a

Begitu luasnya areal komplek rumah adat ini, sehingga kita membutuhkan waktu beberapa menit untuk berjalan mulai dari gerbang utama.  Di halaman yang luas itu terdapat juga satu Rumah Gadang yang agak lebih kecil di banding Rumah Gadang Induk.  Di kiri halaman depan berjejer beberapa sawung yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan.  Halaman yang luas, taman yang indah, fasilitas cafe, toko souvenir, rumah penjaga serta yang paling fantastis itu adalah sebuah sawung lepas yang bisa digunakan untuk pertunjukan seni dan dilengkapi dengan lampu-lampu untuk pencahayaan.  Sebuah komplek bernilai adat sungguh luar biasa.  Jika bosan memandang halaman yang indah itu, anda tinggal menoleh ke kiri dan anda akan disuguhkan hamparan sawah yang begitu luas, seakan tiada batas sejauh mata memandang.  Di ujung sawah terdapat perbukitan yang masih hijau.

img1911a

Rumah Gadang ini memiliki dua tangga di sisi kiri dan kanannya.  Tangga ini terbuat dari besi yang di ukir dengan ukiran khas minangkabau yaitu “kalauk paku” dan “itiak pulang patang” (saya hanya tau yang itu hehehe).  Jelas sekali jenis ukiran tersebut dan hampir mendominasi juga di seluruh permukaan dinding rumah adat ini.  Sebelum memasuki ruang utama di dalam rumah gadang ini, anda bisa singgah sebentar di teras kecil yang menghadap ke halaman luas.  Di dalam anda akan menemui sebuah ruangan yang sangat luas dan lepas.  Di tengah-tengah ruangan itu terdapat 8 tiang penyangga yang sepertinya memiliki makna tersendiri.  Sisi kanan dan kiri dalam rumah adat ini terdapat “palaminan’ besar.  Palaminan adalah tempat duduk para pengantin dalam pesta perkawinan minangkabau.  Sebagai pelengkapnya juga disediakan sebuah ranjang pengantin persis disebelah pelaminan di sisi kiri ruangan.  Ranjang pengantin yang dihiasi dengan ornamen sulaman minangkabau.

img1939a

Inilah sebuah pemandangan yang sangat luar biasa, kita bisa menikmati indah dan sejuknya alam sambil memahami adat istiadat minangkabau di komplek ini.

Saya, Rivo, Ayu, Fopi, Mulyadi, Azhari dan Roi, kemudian melepas kepenatan di sawung seni yang disediakan untuk pertunjukan.  Karena hari itu tidak ada aktifitas pertunjukan, maka kami bebas merebahkan diri sambil menikmati hembusan angin sepoi sepoi.

Maka satu kata yang akan saya sampaikan…..DATANGLAH…..

img1994a

Iklan

21 thoughts on “…datanglah…

  1. wah, aku belum pernah ke sana, moe.
    ini foto yang kamu kirim via YM tadi dan gak berhasil itu, ya?
    bagus banget deh foto-foto maupun ulasannya, moe.

    btw, jalan mulu sih?
    dan yang nggak nahan, time zone-nya itu loh.
    lah gaek eh, antilah main-main tuuu…

  2. Langitnya! Langitnya! Langitnya! Wow!
    Aku lebih-lebih belum pernah menginjakkan kaki di sana.
    Jadi ini postingan yang kau obrolkan di YM tadi?
    Weh…

    Hei, traveling mulu! Enak beneeerrr… 😉

  3. vizon

    sungai baringin…? hehe.. beberapa kali sudah terniat di hati untuk berkunjung ke sana, tapi selalu saja ada halangannya…

    insya Allah kalau pulkam nanti, saya akan berkunjung kesana. malulah awak sebagai sumando urang payakumbuah ndak pernah ke situ… 😉

  4. Pelestarian rumah adat di masyarakat Minang ternyata masih berjalan dengan baik. Padahal banyak model-model rumah modern yang juga bisa menjadi pilihan membangun rumah. Hal inilah yang membuat saya terkadang “iri” dengan orang Minang (bukan orang Padang, ya, Uda Vizon?). Di kampung saya, di masyarakat Banjar Kalimantan Selatan, adalah suatu yang teramat sulit mencari rumah adat yang dibangun sendiri oleh masyarakat. Paling yang banyak adalah kantor-kantor yang dibangun menyerupai rumah adat Banjar.

  5. nyesel deh eike kita ngga jadi lanjut ke payakumbuh pas yg kita terakhir ke bukittinggi ituuuu,..
    ntar ya moe kalau pulang kampuang lagi, kita muter2 payakumbuah,..masih bisa digaduah khan,..? ada nostalgila juga tuh di payakumbuh,.d suruh tidur di mesjid pas ada acara fasilitasi di sana,..ampun deeh,..

  6. @ uni Mallow :
    Hahahaha ternyata banyak pelosok minang yang indah ni…kalau soal time zone hehehehe dari dulu mah ni…candu bana hahahaha

    @ Dm :
    Nah tuh kan…kapan ke minang ?

    @ vizon :
    Hahhaha urang sumando, tapi ndak tau sungai baringin hahahhaha

    # dedy :
    udah kok pak..udah saya link

    @ Al :
    Yahhhh akpan-kapan kesini donggg

    @ racheedus :
    Bener pak…rumah adat bagi orang minang simbol keluarga besar (simbol suku) jadi menjadi sebuah kebanggaan bersama..

    @ riam :
    Hahahah nostalgia lama tuhhh

  7. Aku taruhan pasti banyakan yang merhatiin fotonya dibanding ceritanya,,
    hehee ..

    Atau cuma aku yaa …
    Fotonya emang bicara lebih banyak yaa 😀

  8. putirenobaiak

    duh jadi rindu kampuang ambo imoe, asyik bana jalan2 nyo yo…sorry yo imoe uni jarang BW…:), jarang mampir dimanapun…

  9. waaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh jadi kangen ama kampung halaman ku ini. dulu tiap malam serinng main mobil radio control di halaman rumah gadang. kapan mau pulang nich nichhhhhhhhhhhhhhhh. udah tiga tahun di tangerang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s