…“Pesta Itu Usai di Gerbong Terakhir”…

Standar

IMG2112A

Bang, kenapa jalur kereta api Padang menuju Pariaman

dan sebaliknya tidak pernah mati ya ?”

Pertanyaan sederhana ini meluncur dari salah seorang peserta Pesta Blogger ”Ngeblog Asyik Bareng Telkomsel” atau dalam istilah bekennya Blogger’s Train Tours.  Kegiatan yang digelar pada Minggu, 31 Mei 2009 ini diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Sumatera Barat ’Palanta’ bekerjasama dengan Telkomsel dan SIPP Female Radio.  Tak disangka-sangka, hajatan ini mendapat sambutan yang luar biasa oleh para blogger.  Tidak hanya yang sudah lama bergabung dengan Komunitas Palanta, tetapi juga yang baru hari itu bergabung.

Kembali ke pertanyaan tadi.  Tak mampu saya menjawabnya, hanya senyuman yang saya suguhkan.

Kereta api sebagai salah satu alat transportasi masal memiliki sejarah yang sangat panjang di negeri ini.  Dia tidak hanya menjadi alat angkut manusia dan barang saja, tetapi juga menjadi saksi hidup dinamika dan pergerakan bangsa ini.  Barangkali inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan kenapa pesta blogger ini dilaksanakan, selain memang ingin memperkuat komunitas blogger Sumatera Barat dan selebihnya untuk berwisata ’kereta api’.

Seingat saya inilah pertama kalinya kegiatan wisata kereta api yang pernah diselenggarakan oleh komunitas blogger di Sumatera Barat ini.  Oleh karena itu, jangan heran jika peminatnyapun membludak.  Satu gerbong yang semula dipersiapkan untuk perjalanan dari Padang menuju Pariaman ini, ternyata diisi para blogger dengan melebihi kapasitas.  Alhasil, terpaksa panitia kemudian menyuarakan kesepakatan bersama, bahwa para blogger laki-laki harus bersedia berbagi tempat untuk blogger perempuan.  Tidak ada komplain atas aturan tersebut dan rasa persaudaraan membuat gerbong yang padat menjadi terasa lapang.

Perjalanan penuh daya pikat inipun kemudian diawali dengan prosesi formal.  Kami dilepas oleh salah seorang pejabat PT. Kereta Api Indonesia.  Saya tidak ingat persis apa jabatan beliau, tetapi paling tidak saya mengetahui kalau beliau itu adalah orang yang bertanggung jawab penuh dengan Stasiun Kereta Api Simpang Haru Padang, tempat dimana kami dilepas.  Tidak banyak yang disampikan dalam sambutannya, kecuali beliau menegaskan bahwa dunia perkerata apian di Sumatera Barat semakin bergairah dan bahkan ada kecenderungan meningkatnya permintaan masyarakat Sumatera Barat akan wisata menggunakan kereta api.  Dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa dalam waktu dekat PT. KAI akan menyediakan beberapa lokomotif untuk melayani rute-rute yang selama ini mati.

Peluit keretapun dibunyikan masinis.  Saya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanan saya.  Hari menujukkan pukul 09.00 WIB.  Tidak seperti lirik dalam salah satu lagu Iwan Fals, ’biasanya kereta terlabat dua jam itu biasa’, kereta api yang membawa rombongan pesta blogger ini tepat waktu.  Roda keretapun berputar ketika jarum jam tepat menunjukan angka 09.01 WIB.

Tiba-tiba saya merasakan sensasi tersendiri ketika melakukan perjalanan dengan kereta api.  Aneh memang.  Bukan saja karena akan melakukan sebuah perjalanan ’penuh kesan ini’, tetapi yang paling penting, saya merasakan sebuah ’keperkasaan dan dominasi’. Setiap kali kereta melintasi perempatan jalan, para pengendara kendaraan bermotor berhenti.  Seolah-olah tunduk dan hormat memberikan jalan untuk sang ’baja hitam’ ini lewat.  Saya merasa para pengendara di jalan raya melambai kepada kami yang ada di gerbong.

Suasana yang semula dirasakan menoton dan membosankan, ternyata berubah menjadi hingar bingar.  Gerbong menjelma menjadi riuh rendah.  Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan dengan beragam lelucon, candaan, permainan oleh dua orang penyiar SIPP Female Radio.  Mata yang semula mengantuk, terbuka kembali.  Sayapun terbius  untuk mengikuti suasana pesta bertabur hadiah di dalam gerbong ini.  Panasnya cuaca ternyata tidak berpengaruh pada blogger yang ada di dalam gerbong.  Semuanya bergembira, bernyanyi bersama dan wah…ternyata salah seorang blogger pandai menyanyi.  Sementara itu sebagian yang lain keliatan sibuk jepret sana dan sini.  Nah, barangkali ini teman blogger yang akan mengikuti lomba foto.

IMG2114A

Dua jam perjalanan yang menyenangkan diselesaikan dengan berhentinya kereta di Stasiun Pariaman.  Tepat di Pantai Gondoriah.  Panitia seperti tak mau setengah-setengah dengan acara ini.  Kami disambut oleh panitia yang sudah mempersiapkan segalanya.  Semua peserta kemudian berkumpul ditempat yang telah disediakan.  Lalu seluruh peserta diberikan pengarahan oleh panitia, diberikan kesempatan waktu selama 1 jam penuh untuk berkeliaran, menemukan inspirasi yang akan ditulis untuk mengikuti lomba postingan.  Tak menunggu aba-aba lagi, semua blogger kemudian berpencar.  Mencari sesuatu yang enak ditulis nantinya.  Siapa tau jadi pemenang lomba postingan.  Pantai Gondoriah dimerahkan oleh para blogger, karena semua peserta diberikan kaos khusus dengan warna merah menyala oleh panitia.  Sayapun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

IMG2111A

Pantai Gondoriah ternyata menyimpan pesona tersendiri.  Pantai ini menghadap langsung ke Samudera Hindia.  Karena itu, pantai ini tentu saja memiliki ombak yang cukup besar.  Pantai ini menjadi salah potensi wisata yang dimiliki oleh Kota Pariaman.  Karena  letaknya yang strategis, tidak terlalu jauh dari pusat kota dan berdekatan dengan stasiun kereta api.  Jadilah perkawinan antara wisata kereta api dan wisata pantai, menjadi sebuah niali jual tersendiri.  Agaknya inilah yang kemudian menyebabkan, mengapa jalur kereta api Padang menuju Pariaman dan sebaliknya tidak pernah mati.  Sebuah perkawinan dua jenis wisata yang luar biasa.

Kota Pariaman seperti sedang berbenah.  Potensi wisata pantai yang ramai dikunjungi ini tentu menjadi salah satu andalan bagi kota ini.  Fasilitaspun di bangun.  Pengunjung yang ingin mencemplungkan diri ke laut tidak usaha takut, karena telah tersedia pos pengamanan pantai yang dijaga oleh petugas Satpol PP.  Fasilitas toilet dan rumah makanpun tersedia.  Tidak sampai disitu saja, kita bisa bebas menikmati makanan tradisional ala Pariaman yaitu ’sala lauk’, yakni sejenis makanan yang terbuat dari tepung beras dicampur bumbu-bumbu, berbentuk bulat dan digoreng, warna kuning dan terasa ikannya.  Jika ingin makan siang, sepanjang pantai terdapat beberapa rumah makan yang menyedikan menu Nasi Sek.  Ingat…jangan salah menyebutkan Nasi Sek bukan Nasi Sex.

Tentu yang baru pertama kali mendengar akan terkejut dengan istilah ini.  Nasi Sek ini adalah sengkatan dari Nasi Seribu Kenyang.  Ini adalah jenis makanan biasa, yaitu nasi yang ditanak dan kemudian dibungkus dalam daun pisang lalu di jual dengan harga seribu rupiah.  Karena harganya cuma seribu rupiah, tentu kita bisa memperkirakan seberapa banyak nasi yang dibungkus dalam daun pisang itu.  Karena di bungkus dalam daun pisang, maka nasi yang dimakan akan mengeluarkan aroma spesifik.  Satu bungkus seribu rupiah, jika kita butuh tiga otomatis tiga ribu rupiah dong…

Inilah pesona Pantai Gondoriah, berwisata ke tempat ini kita tidak saja disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah, tetapi juga bisa menikmati kuliner khas Pariaman.  Bahkan diwaktu-waktu tertentu, tepatnya 10 Muharam, pantai ini menjelma menjadi tempat wisata rohani, dimana saat itu seluruh warga Pariaman maupun warga dari daerah lain, berduyun-duyun datang menyaksikan prosesi ’Tabuik’ yang sarat dengan makna religius. Jadi…datanglah ke Gondoriah…

Satu jam mencari inspirasi, para blogger kemudian menikamti makan siang yang telah disediakan oleh panitia.  Sembari bersantap siang, panitia menghibur kami dengan organ tunggal.  Selesai makan, kami melaksanakan kewajiban shalat Dzuhur.  Dan setelah itu, peluit kereta berbunyi kembali, pertanda kereta akan kembali berangkat menuju Padang.

Tak banyak yang terucap sepanjang perjalanan pulang.  Agaknya letih menjelang.  Satu dua saya lihat teman-teman blogger tertidur pulas.  Tak peduli gerahnya gerbong.  Memasuki Kota Padang, satu persatu peserta kemudian bangun.  Bersiap-siap merapat kembali ke stasiun Simpang Haru Padang.  Melalui pengeras suara, panitia menyampaikannn bahwa sebentar lagi kereta memasuki stasiun dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas persaudaran selama perjalanan ini.  Terima kasih kepada sponsor TELKOMSEL dan berharap dilain kesempatan agenda serupa bisa dilaksanakan kembali, tentunya dengan rute yang berbeda.

Pukul 16.00 WIB gerbong terakhir kereta sore itu berhenti.  Lalu pesta itupun usai, meninggalkan kenangan yang tak pernah terlupakan.

Iklan

24 thoughts on “…“Pesta Itu Usai di Gerbong Terakhir”…

  1. wah, sebuah perjalanan yang unik dan mengesankan. sebuah pesta bloger dg menggunakan jasa kereta api. duh, event semacam ini pasti menarik dan inspiratif. setiap kalai naik kereta api, selalu bunyi jug-jes, jug-jes itu yang ndak pernah aku lupakan. selamat atas suksesnya acara ini, mas imoe.

  2. kereta api? oooh aku suka sekali…makanya Twilight Express.
    Cuma KA di Jepang dan luar Indonesia hihihi. Tapi seharusnya jalur wisata ini tidak ditutup. Banyak pemuda Jepang yang suka melakukan trans KA. Sampai mereka sengaja datang ke India. Lalu turun ke thai, dan malaysia. Alangkah bagus bisa dibuat rute Medan sampai ke Jawa….Surabaya. Terutama untuk backpacker wahhh impian tuh.

    So kapan aku ditraktir Nasi Sex eh Sek nya? + karaoke. Dan gimana kabarnya bahasa Jepangnya? 😉
    Gambatte ne hihihi

    EM

  3. iri.com

    acara yang benar-benar kreatif, imoe. pesta bloger dikemas dalam ajang wisata kereta api dan wisata pantai.belum lagi segala acara, perlombaan, dan gimmick yang telah dipersiapkan oleh pihak sponsor. wuih! keren!

    kapan-kapan warga kampung blagu mau bikin acara kayak gini juga ah. naik bemo tapi.

  4. vizon

    setuju dengan usulan uni marshmallow… kopdar warga kampung blagu, naik becak dari padang ke bukittinggi, huahahaha… 🙂

    nasi sek adalah khas pantai pariaman… ternyata sekarang sudah berubah artinya ya; “seribu kenyang”, kalau dulu artinya bukan seribu, tapi seratus kenyang… hehehe… kena imbas inflasi juga rupanya nasi itu 😉

  5. Beda. Satu kata yang dapat catra ucapkan untuk postingan ini, beda. Beda gaya bahasa dan gaya penulisan di sini sejak pertama kali Blog ini dibuat. Lebih elegan bang. ada apa ini? hahahaha :mrgreen:

  6. @ pak sawali : trims pak..acara sukses berkat panitia yang solid heheh
    @ muzda : wahhh gak pernah naik kereta hahahahah masa siy..
    @ mbak imel : kereta di indonesia….lebih hebat di banding jepang mbak..percaya gak..kereta di indo tuh bisa membawa penumpang melebihi kapasitas hehehe. Karaokean yuk…di tunggu lho…
    @ pak ewa : partai apa pak ? moncong putih ya hahahaha
    @ aurora : hahahaha masa siyy
    @ zig zaq : hahaha iya yah…
    @ uni mallow : setujuuuuuuuuu, warga kampung blagu yang bikin ya…
    @ uda vizon : hahaha agak 10 tahun lagi pasti sepuluh ribu kenyang mah da hahaha
    @ catara : beda ya….bagian mana ?
    @ DV : coollll
    @ bunda eni : wahhh coba deh bun ke pariaman…seksi tuh kota…
    @ ichank : hahahaha
    @ morie : masa siy..s.ekampung tuh kita…
    @ desti : hahahahha
    @ rizal : ayo ikutannn
    @ pak zul : wahhh sakampuang bana wak mah pak, ambo di padang olo sungai limau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s