…ziarah kubur…

Standar

nyekar

Jalur ke rumah saya melewati sebuah jalan yang di sisi kanannya terdapat Tempat Pemakaman Umum (TPU). TPU ini menjadi satu-satunya yang ada di Kota Padang. Kenapa satu-satunya, barangkali karena di Padang masih banyak tanah-tanah kaum yang dijadikan areal pemakaman keluarga. Atau barangkali juga karena di anggap satu saja sudah cukup untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat Padang. Nah, tapi belakangan alasan itu sudah tidak cukup kuat lagi, karena makin hari, makin tak ada ruang sejengkalpun bagi ‘penghuni baru’.

Minggu, 16 Agustus 2009. Pagi hari, saya berangkat main basket. Sudah lama hobby yang satu ini tidak saya kerjakan. Tiba-tiba jalan angkot tersendat. O lala, baru saya ingat, ini adalah hari libur terakhir sebelum ramadhan, tentu saja banyak orang yang akan nyekar ke pemakaman. Lalu saya lihat sepanjang jalan ke arah pemakaman itu berjejer para tukan jual kembang. Banyak kendaraan yang parkir di sisi kiri dan kanan badan jalan. Keramaian ini mengungkit kenangan lama saya akan TPU Tunggul HItam, sebelum ramadhan dan lebaran.

Selesai main baket, kira-kira pukul 09.00 WIB, saya langsung pulang. Dan sudah bisa di prediksi macet lagi sekitar TPU tersebut. Di tengah kemacetan itu, tiba-tiba saya melihat sekelompok penjual kembang lagi memasang payung dagangan kaki lima. Tidak susah mengenali mereka, ternyata teman-teman saya waktu SD. Saya turun kemudian menghampiri mereka. Memang kami masih bisa ketemu sesekali sih. Tapi ketemu dalam situasi yang lain ini, terasa berbeda. Seolah-olah kami tidak bertemu dalam jangka waktu yang sangat lama.

Saya langsung bisa menebak, kalau mereka akan dagang kembang lagi, seperti yang kami lakukan waktu SD.

“Nah, ini satu lagi. Ayo setan, dagang lagi”. Begitu kata salah seorang teman saya.

“Gila loe, udah tua bangka, main yang beginian. Kasih tuh anak-anak lain”. Saya membalas.

Lalu selanjutnya kami tertawa lepas. Bercerita apa saja. Ada 4 orang teman di sana. Tambah saya jadi lima. Tiga laki-laki dan dua perempuan.

“Tumben kalian kerja ini lagi. Gak puas dengan gaji di tempat kerjamasing-masing ?” Saya menngejek, karena memang rata-rata teman saya itu sudah bekerja mapan.

Akhirnya saya ikutan jualan. Iseng-iseng doang sebagai kenanagan masa lalu. Jualan kembang untuk orang-orang yang mau nyekar di TPU Tunggul HItam. Ini adalah sebuah rutinitas ber ulang yang akan tetap terus dilestarikan oleh setiap generasai.

Dari jauh saya lihat, banyak anak-anak kecil yang juga ikutan jual kembang, ada yang sekedar nyari duit dengan membantu membersihkan makam, ada yang jadi tukang parkir dadakan. Banyak aktifitas yang menhasilkan uang di TPU ini. Semoga para pengunjung berbaik hati.

Stttttt postingan sampai di sini aja, karena gempa menghoyak Padang dan gempa sususulannya bikin saya tidak konsen. OK

Iklan

9 thoughts on “…ziarah kubur…

  1. pertamax….
    oh ya, tadi gempa yah?? aku lagi di payakumbuh… mudik kilat…
    ga tau ya? tgl lima belas kemaren aku ulang tahun lho… jangan bilang siapa2 yah….

  2. Bang imoe, baa kaba terakhir setelah pantai barat Sumatera di guncang gempa??
    Berarti alah 2 kali masuak Ramadhan Sumatera Barat diguncang gampo yo bang??
    Mudah-mudahan indak ado kerusakan yang berarti dari gempa patang..Amin

  3. nyekar itu ada bagusnya, yakni untuk menjadi pengingat bagi kita bahwa suatu saat kita juga akan berada di sana. dan sisi lain bagusnya nyekar adalah membuka lapangan pekerjaan buat orang lain… ya, penjual kembang itu, hehehe… 😀

  4. Ternyata di Padang kalau nyekar juga pakai bunga ya…saya pikir hanya adat Jawa.
    Dan jangan salah, saat ke makam adalah mendoakan yang meninggal, agar arwahnya diterima oleh Allah swt.

    Btw, cerita gempanya bagaimana? Apa terasa sampai ke Padang?

    • Saya rasa setiap daerah dan budaya di luar negeri pun masih memakai bunga sebagai “persembahan” waktu nyekar bu. Di Jepang yang beragama Buddha pun masih memakai bunga, dupa dan air waktu nyekar

      EM

  5. ya, ziarah kubur sebenarnya disarankan, tidak hanya menjelang ramadhan. tapi kesibukan duniawi membuat orang lupa, dan jadi diingatkan di saat-saat begini.
    semoga memberikan manfaat bagi banyak orang.

    turut prihatin dengan musibah gempa bumi di sumatera barat, imoe. mudah-mudahan tidak ada kerusakan berarti, dan bencana ini segera berakhir.

  6. Ooo…jadi yang jualan kembang di Tunggul Hitam itu Imoe n d’gank? 😀 hehehe….
    Makam nenek saya juga di TPU itu, Moe… Tapi sejak meninggal 6 tahun yl, saya baru 2 kali ziarah kesana. Mudah2an kalau ada kesempatan ziarah, beli kembangnya sama anggota Imoe aja…(lho, besok udah puasa toh?)

    Wah. posting di tunda karena gempa? Tetap waspada ya, Imoe..

  7. Wah, makamnya asri ya …. hijau dengan rumput, ada bunga bogenvil pula. Saya kalau ziarah ke makam ayah bunda saya biasanya tidak membawa kembang (bukan pelit, tapi memang ajaran di tempat kami begitu), melainkan memetik tangkai bunga kamboja atau tanaman apa saja yang ada di makam, dan diletakkan di atas makam. Kalau tidak salah ada hadits yang mengatakan, selama tangkai bunga atau tanaman yang kita taruh belum layu, selama itu pula doa kita mengiringi … Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s