…moment disaat gempa…

Standar

alun-alun 1Hujan setengah lebat ketika tiba-tiba saja bumi berguncang hebat.  Berayun-ayun.  Rasanya begitu lama. Karena semua orang kemudia keluar dari dalam rumah, toko, kedai, warung, kantor.  Kendaraan bermotor berhenti.  Hening dan semua berkomat-kamit.  Jelas sekali mengucapkan kalimat-kalimat meminta perlindungan dari Tuhan Semesta Alam.  Hujan yang turunpuntak dihiraukan.  Semua orang pasti teringat tahun lalu.  Ketika Ramadhan menjelang, gempa hebat menguncang Padang.  Apakah tahun ini gempa pertanda ramadhan akan datang ? Jangan sampai deh… dan tidak ada hubungannya.

Siang itu saya sedang bersiap-siap hendak berangkat ke Payakumbuh.  Kangen dengan teman-teman muda disana.  Karena situasi mencekam dan saya diliputi kekuatiran, niat berangkat saya batalkan.  Buru-buru kembali kerumah, memastikan orang dirumah tidak apa-apa.  Maklumlah, dirumah ada dua orang ponakan saya yang masih kecil-kecilk serta ada Ibu saya yang baru datang dari kampung.  Palagi Ibu saya rematik, jadi perlu bantuan kalau tiba-tiba harus lari keluar rumah.

Sampai dirumah, Alhamdulilah situasi terkendali.  Saya tanya ponakan saya bagaimana dia merespon gempa tersebut. Merekamenjawab..

“Kami lari keluar rumah sambil merapat ke dinding.  Lalu berdiri saja dihalaman sampai gempa berhenti”

Alhamdulilah, ternyata apa yang saya ajarkan pada ponakan saya cara-cara menyelamatkan diri praktis dari gempa bisa dilaksanakan dengan baik.  Dan sama sekali tidak ada kecemasan dalam diri mereka.  Apakah karena mereka meyakini bahwa gempa adalah hal biasa yang selalu kami alami, atau karena memang saat itu mereka sedang kuat.  Entahlah…

Situasi kembali normal.  Padang kembali menggeliat sesaat setelah gempa, walalupun dalam situasi sedikit ‘siaga’.  Harus siaga, karena gempa-gempa susulan masih terjadi.  Dari televisi saya dengar guncangannya berpusat di sekitar Kepulauan Mentawai Sumbar dengen kekuatan 6,9 SR.

Saya putuskan untuk memonitor situasi gempa ini ke warnet.  Saya harus Online di situs BMG, untuk mengetahui situasi dan perkembangan. Saya berangkan ke warnet.  LAlu OL, dan memonitor keadaan.  Chating dengan beberapa teman melalui YM dan FB.  Rata-rata menanyakan kondisi.  Salah seorang teman baru saya asal Surabaya yang baru bekerja di Padang ketakutan.  Dia mengutarakan kekuatirannya melalui chatingan.  Saya lalu tenagkan dia dan menyarankan langkah-langkah praktis untuk siaga.  Akhirnya dia agak tenang.  Tapi sebenarnya saya tahu kalau dia masih panik, buktinya setiap 20 menit gempa berskala besar rata-rata di atas 5,3 SR setiap saat mengguncang.

Malampun tiba.  Pintu rumah sengaja tidak saya kunci.  Semua perabotan saya geser ke dinding.  Sya perintahkan kaka saya untuk mengepak beberapa pakaian untuk dimasukan kedalam tsa kecil.  Tidak lupa surat berharga dan obat-obatan.

“Siapkan saja, untuk siaga”

Mobil yang ada dirumah diputar dengan kepala menghadap ke pagar.  Gunanya agar bisa segera dikeluarkan begitu situasi darurat terjadi.  Sepeda saya pastikan berada di depan pintu dalam kondisi siap.  Begitulah saya dankaka saya mengantisipasi situasi saat itu.  Tetapi tidak panik.

Pukul 20.00 WIB lebih, gempa besar kembali menguncang.   Berayun-ayun lagi dan kami semua keluar rumah.  Tetangga juga keluar.  Tak lama lalu masuk lagi.  Hingga pagi goncangan susul menyusul masih terjadi.  Tetapi semuanya bisa terkendali.  Tidak ada respon panik.  Tetapi siaga saja.

Dua hari saya jalani dengan goncangan.  Aktifitas kehidupan Kota Padang tetap berjalan.  Saya tetap blogwalking, FB an dan YM an.  Selain itu saya juga mempersiapkan agenda peringatan Hari Anak Kota Padang denganbeberapa teman muda saya.  Termasuk mempersiapkan makalah untuk seminar guru-gurumengenai Hak Anak.  Singkat kata, seluruh aktifotas tetap dijalankan dengan apa adanya.

Tadi siang, 19 Agustus 2009.  TIga hari setelah gempa besar pertama terjadi yang diikuti oleh gempa-gempa susulan yang tak hento-hentinya.  Padang bergoyang lagi.  Sekitar pukul 11.00 WIB, manakala ribuan anak-anak se-Kota Padang sedang berada di Bangunan Gonjong Taman Imam Bonjol untuk hadir menyaksikan kemeriahan Puncak Peringatan Hari Anak Kota Padang.  Gempa yang ternyata besarnya 5,7 SR tersebut berhasil membuat seluruh yang hadir panik.   Saya juga ikutan panik, karena persis berada di bawah balkon bangunan bersama 20 orang anak-anak FORUM ANAK KOTA PADANG yang akanmendapatkan piagam penghargaan dari WALIKOTA PADANG.  Saya tarik dua anak yang paling kecil (Toriq Kelas 6 SD dan Faris Kelas 1 SMP) lalu kami menuju ke tempat yang relatif aman.  Anak-anak yang lain saya perintahkan untuk mengandeng tangan yang masih kecil-kecil.  Maklum, anak-anak banyak sekali, dan jika kepanikan terjadi, pasti akan bahaya.  Sebagian anak-anak lain   Lari ke lapangan, tapi kembali masuk, karena dihimbau untuk tetap tidak panik.

Akhirnya semua terkendali.  Acara Hari Anak Berlangsung SANGAT MERIAH.  Anak-anak bergembira.  Dan saya tahu bahwa goncangan masih ada, karena saya memonitor situasi lewat situs-situs gempa.

Gempa belum usai, kami masih di goyang sesekali dengan kekuatan yang cukup membuat kami kaget.  Tapi saya yakin ini akan segera berakhir.  Yang penting saya melihat, masyarakat Kota Padang semakin pandai menyikapi alam, menyikapi seluruh situasi yang ada.  Salah satu pertanda adalah, pasar tradisional kembali menggeliat menyambut ramadhan.

Doakan kami melewati ramadhan dengan aman.  MARHABAN YA RAMADHAN, MOHONMAAF LAHIR BATHIN PADA SEMUA SAHABAT BLOGGER.

Iklan

18 thoughts on “…moment disaat gempa…

  1. tapi kita patut bersyukur juga.. dengan gempa itu, masyarakat dapat lebih siap menghadapi bencana ini… ga kaya dulu,,, goyang dikit, langsung kalang-kabut…..
    200 ribu,,, hahahaha

  2. berbagai kejadian bencana telah mendidik masyarakat untuk lebih tenang menghadapinya. syukurlah, moe. bencana alam memang tidak bisa dihindari, hanya dampaknya bisa diminimalisasi dengan sikap yang tepat. semoga segera berakhir.

  3. mohon maaf kalo ada salah salah coment…semoga dengan permintaan maaf ini allah swt menyempurnakan puasa kita, membersihan hati kita dan membuat hidup kita jauh lebih baik dengan ketenangan jiwa dan keikhlasan hati agar allah swt menjadikan kita penghuni surganya…ammiieen! thanks

  4. Saya sarankan diadakan latihan jika terjadi gempa terutama di sekolah-sekolah. Jepang negara gempa yang membuat warganya terlatih dan siap menghadapi gempa. Namun banyak kali gempa datang bukan di Tokyo, malahan di daerah yang belum/jarang gempa sehingga mereka tidak alert.

    Berdiri di kusen pintu dan ruangan kecil (WC tau gudang) juga sebuah cara yang sukup aman.

    Langkah yang Imoe lakukan sudah benar, saya juga pernah tulis sedikit kiat menghadapi gempa di sini…. http://imelda.coutrier.com/2008/05/11/10-kiat-menghadapi-gempa/

    EM

  5. Ikut prihatin, Moe…
    Dulu waktu saya masih tinggal di Padang (tahun 90an) pernah mengalami beberapa kali gempa, tapi ngga pernah sehebat gempa beberapa tahun terakhir ini, terutama setelah gempa dan tsunami di Aceh. Jelas bumi kita makin tua ya, Moe..

    Saya dukung Imoe untuk terus mensosialisasikan tindakan yang perlu dilakukan saat terjadinya gempa kepada anak-anak…

    Sekali lagi, hati-hati dan tetaplah waspada, Bro..

  6. seperti yang dikatakan mbak yulfi, bencana yang datang secara tiba2 bisa membuat kita bisa belajar mengelola emosi, mas imoe, sehingga tak terjerat rasa panik berlebihan yang bisa membuat suasana jadi makin ndak karuan. alhamdulillah, tak terjadi apa2. selamat menjalankan ibadah puasa, semoga tak ada lagi gempa yang menggoncang padang atau daerah lain.

  7. Alhmdulillah tidak terjadi apa2 dengan gempa yang kemarin.. Semoga gempa yang kemarin dapat menambah keimanan masyarakat Sumatera Barat, menjauhi segala perbuatan yang dilarang apalagi ketika Ramadhan ini..

    Bang Mohon Maaf lahir dan Bathin..

    Sadiah ambo mungkin indak bisa menikmati, cindua, kolak dan segala jenis pabukoan yang ado di Minang…. :((

  8. saya masih ingat ketika kelas 2 SMA dulu. ada rangkaian gempa besar yang dimulai tanggal 10 April 2005. sekolah saya di jalan sudirman libur sekitar semingguan. orang-orang pada cemas semua..

  9. @ aurora : hehehe iya 200 ribu
    @ uni mallow : perlahan kami di padang mulai bersikap yang tepat, karena kepanikan hanya akan melahirkan bencana baru.

    @ angga chen : sama-sama maaf lahir bathin juga

    @ mbak imel : thanks atas infonya mbak, thank juga bahan-bahannya yang kemaren…

    @ da son : sama -sama da son, walalu gimnapun ini harus dihadapi, ya gak…

    @ pak sawali : iya pak, ini ujian yang harus di hadapi, sekuat apakah kita ?

    @ soni : hahah samo samo maaf lahir bathin, o iyo..cari cindua se situ ado mah hahaha

    @ andif : aminnn

    @ amsi : bener sekali pak, ini pertanda bahwa kita harus segera ingat kepada NYA

    @ racheedus : amin pak, mudah-mudahan..

    @ morishige : ehhh di SMA 1 dulu yo hehehe

  10. jadi ingat waktu gempa di jogja bbrp tahun lalu. kami sama sekali tidak siap saat guncangan hebat terjadi. tapi sptnya yang perlu dilatih juga adalah bagaimana menenangkan diri di tengah kepanikan. kepanikan itu menular soalnya… salam, kenal ya! 🙂

  11. saya sempat panik juga ketika kabar tentang gempa ini diberitakan. teringat akan sanak keluarga di padang dan sekitarnya. tapi alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. semoga guncangan gempa ini bisa menjadi semacam pengingat bagi kita untuk terus mawas diri dan terus ingat kepada Tuhan… selamat berpuasa imoe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s