…jalan-jalan lebaran (je je el) ‘mesjid gadang’…

Standar

4Libur lebaran kali ini rasanya singkat sekali.  Agak susah saya mengatur jadwal untuk ‘malala’ (keluyuran).  Tapi berhubung syaraf jalan-jalan saya tidak bisa pernah di ajak kompromi, maka waktu yang singkat tersebut, harus dapat di optimalkan dengan menyambangi beberapa tempat yang sudah masuk list jauh hari sebelum lebaran datang.  Sekilas jadwalnya adalah :

*  Kekampung halaman di Sungai Limau Pariaman dengan melewati jalur alternatif sepanjang PANTAI TIRAM dan PANTAI GONDORIAH.

*  Ke Payakumbuh menyambangi beberapa tempat seperti RUMAH ADAT KOTO NAN AMPEK yang berusia ratusan tahun, MESJID GADANG BALAI NAN DUO yang berusia 270 tahun, NGALAU INDAH dan yang terpenting adalah menyambangi sanak saudara dan handai taulan.

* Ke Bukittinggi untuk kembali bernostalgia masuk ke LOBANG JEPANG serta menyaksikan PESTA KEMBANG API DI PELATARAN JAM GADANG.

Nah, saya akan ceritakan satu persatu secara acak, mana yang saya suka hehehe.  Dimulai dengan MESJID GADANG.

Nama bangunan ini adalah Mesjid Gadang Koto Nan Ampek Balai Nan Duo.  Terletak di Koto Nan Ampek Kota Payakumbuh Sumatera Barat.  Dari luar saja kita sudah bisa memastikan bahwa mesjid ini memiliki sejarah yang panjang terhadap penyebaran agama Islam, khususnya didaerah ini.  Unik, Indah, Artistik dan Tua.  Paling tidak usia bangunan ini telah mencapai 270 tahun.  Sebuah waktu yang tidak singkat.  Oleh karena itu, memasuki mesjid ini, ada sensasi lain yang kemudian muncul.

3Atapnya berbentuk limas bertingkat, halaman luas dan terdapat dua tempat berwuduk untuk laki-laki dan perempuan dengan perawatan maksimal.  Sekarang mari kita masuki bagian dalam mesjid.  Suasana tempoe doeloe sangat kentara.  Terdapat 21 buah tiang penyangga utama dan tersebar dalam sebuah komposisi tertentu.  Tiang ini dipancang miring, kecuali tiang utama ditengah.  Sepertinya para arsiteknya memahami betul filosofi sebuah mesjid.  Saya dan teman-teman coba mereka-reka apa makna dari persebaran 21 buah tiang penyangga ini.  Amboi…luar biasa.  Jika kita perhatikan dengan seksama, maka inilah hasilnya.

–         Terdapat sejumlah tiang terluar dalam komposisi segi empat dan jika kita menghitung jumlah tiang untuk setiap sisinya, maka kita akan menemukan jumlah 5.  Barangkali ini memiliki makna ‘shalat 5 waktu sehari semalam’.

–         Terdapat 5 buah tiang sisa yang berada di tengah-tengah sebaran tiang terluar tadi, dengan komposisi 1 buah tiang utama terdapat ditengah-tengah dan 4 sisanya mengelilingi tiang utama dan berpasangan.  Inilah makna bahwa pasangan tiang ini bermakna Al Quran dan Hadist, serta satu tiang utama yaitu Allah SWT.

2Ini adalah rekaan kami saja.  Entah benar atau tidak, kami tidak akan pernah tahu.  Karena tidak mungkin menemukan arsitek bangunan yang telah berusia 270 tahun ini.  Salah seorang jemaah mesjid kami ajak berbincang-bincang, dan hanya tersenyum ketika kami mencoba mengargumentasikan makna tiang yang ada dalam mesjid ini.

“Tiang utama adalah tiang Rajo” begitu ungkap beliau.

Tiang Rajo atau Tiang Raja, adalah istilah yang digunakan bagi penyangga sebuah bangunan yang pertama kali dididirikan, dan dia menjadi titik tolak untuk pengembangan bangunan selanjutnya.  Biasanya ada upacara adat tersendiri yang dilakukan bersamaan dengan didirikannya Tiang Rajo tadi.

Kembali lagi ke pokok soal.  Mesjid ini dilengkapi dengan 16 jendela dan satu pintu utama.  Jumlah jendela yang begitu banyak memastikan bahwa sirkulasi udara dapat berjalan dengan baik.  Jadilah, sepedat apapun jemaah yang berada dalam mesjid ini, anda dipastikan tidak kegerahan.  Lantai terbuat dari papan.

1

Inilah sekelumit mahakarya arsitektur zaman dahulu yang didesain tahan ratusan oleh putra daerah ini dan tentunya bukan bertitil SARJANA ARSITEKTUR.  Hasilnya tidak kalah bagus disbanding karya arsitektur yang lahir dari tangan para SARJANA ARSITEKTUR.

Iklan

8 thoughts on “…jalan-jalan lebaran (je je el) ‘mesjid gadang’…

  1. uh! keren!
    sayang sumbar padat banget selama lebaran, jadi aja acara mudikku kebanyakan diisi makan tidur di rumah mulu. hihi…

    kepengen banget ke mesjid yang imoe ceritakan. dan bersyukur rasanya bangunan sejarah ini sangat terawat ya, moe. tapi apa tuh yang berpose di depan mesjid? kok malah kurang terawat, ya? kekekekekk… becanda, moe. gitu aja marah. kan udah maaf lahir batin.

  2. wah….. ga asik neh….. jalan-jalan ga ngajak-ngajak…..

    eh, beneran macet kan bang??? tapi yang penting dah selamat sampai tujuan deh…..
    trus yang foto-foto di kampung ga diposting bang????

  3. kayaknya saya kenal sekali dengan masjid ini, hehehe… 😀
    tapi, meski sudah sering saya masuki, saya tidak punya pengetahuan secara detail seperti Imoe ini. aih, jadi malu… mokasih yo moe… 😀

  4. mesjidnya bagus….
    Met lebaran ….dan semoga disana baik2 saja hiks 😦
    semoga di beri kesabaran ya disana dan Allah tidak mengadakan gempa susulan lagi…AMIN…AMIN…

  5. saat berkunjung ke sini, berita gempa di kawasan Sumatera Barat khususnya Padang dan Pariaman sedang santer terdengar….

    bagaimana kabarmu kawan?…
    semoga keselamatan dan perlindungan selalu melindungi….

    salam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s