…febri…

Standar

mesjidaakSaya lagi bosan menulis soal perkembangan pasca gempa di Sumbar. Saya ingin menulis sesuatu yang iseng saja.  Begini..

Sudah dua kali Jumat saya shalat di mesjid itu.  Tidak disengaja siy, tapi langkahlah yang membawa raga kesana.  Apakah ada yang menarik di mesjid itu, tentu saja tidak, karena mesjd ini sama dengan yang lainnya dan tidak ada yang berubah.  Hanya sedikit retakan disana sini yang menambah ornamen mesjid itu sekarang.

Ada tempat enak sekali di mesjid itu.  Nggak tau saya apa sebabnya, mungkin juga karena itu tempat favorit bagi siapa saja termasuk saya.  Apa yang dicari ? Apalagi kalau bukan jendela yang terbuka lebar serta dinding marmer dingin yang dicari para jemaah.  Sambil dengar ceramah, sambil bersandar dan sambil terkantuk kantuk karena angin sepoi sepoi dari luar (wkwkwkwkw).  Siapa saja yang mendapatkan tahta tersebut terlebih dahulu, maka akan dipastikan jemaah yang duduk disana nyaris semaput karena kantuk (wkwkwkwk).  Gak mudah jugamendapatkan tahta tersebut, kita harus cepat datang ke mesjid.  Lalu kuasai.

Lanjutkan membaca

Iklan

…situasi gila bencana…

Standar

2Tiga hari setelah gempa, perlahan tapi pasti warga Kota Padang telah mulai bangkit.  Apa tandanya, saya sudah bisa menikamti Ikan Bakar sebuah warung nasi di bilangan Khatib Sulaiman.  Tak peduli banyak puing bangunan di sekitar jalan tersebut, semua orang bersantap sambil tetap tersenyum menikmati hari.  Tidak hanya itu, sebuah warnet langganan saya juga sudah mulai beroperasi dengan menyediakan genset.  Tak hayal, warnet itu menjadi serbuan para pelanggan yang tidak hanya sekedar ingin berselancar di dunia maya, tetapi juga yang hanya sekedar numpang nger charge HP.  Tak apalah, toh pemilik warnet adalah orang yang baik hati.  Tak berapa lama, aktivitas sekolahpun mulai menggeliat.  Inilah yang menjadi momentum ritme kehidupan mulai lancar.  Jika anak anak sudah mulai sekolah, maka sopir angkot tentu saja akan mulai bekerja, warung warung makanan di sekolah mulai berbenah dan akan memberikan dampak yang signifikat terhadap situasi lainnya.  Dan yang paling penting, ada situasi lain jika melihat gerombolan anak sekolah di jalan raya.  Sesuatu yang menandakan bahwa situasi terkendali.

Apa yang saya lakukan setelah gempa ? tentu saja berbenah, membersihkan rumah dari beberapa bagian kerusakan serta memindahkan barang-barang yang tidak bisa dipakai lagi ke tong sampah. Lelah  membersihkan rumah, saya kemudian menyambangi teman satu persatu, memastikan kondisi mereka.  Alhamdulilah tak satupun yang menjadi korban, hanya beberapa yang mengalami kerusakan rumah sehingga tidak bisa di gunakan lagi.

Situasi gila mulai menghampiri saya…

Lanjutkan membaca

…beginilah ceritanya…

Standar

IMG2362ASepuluh hari telah dilewati saat gempa besar mengguncang Sumatera getarannya begitu hebat hingga menyebabkan banyak sekali kerusakan.  Setelah kejadian, semua saluran komunikasi terputus dan listrik padam.  Tak ada kabar berita Sumatera Barat, khususnya Padang dan Pariaman seolah terisolasi jauh.  Setelah gempa berlalu dan perlahan komunikasi mulai lancar, banyak yang bertanya kepada saya, “sedang apakah saya saat kejadian berlangsung”.  Inilah sekelumit kisah menjawab pertanyaan itu.

Sore itu sangat terik.  Saking teriknya, tak secuil awanpun menggantung di angkasa.  Tidak ada tanda-tanda sesuatu yang besar akan terjadi.  Dua puluh menit sebleum gempa melanda, saya dihubungi oleh salah seorang adik, minta untuk dibantu membuat tugas sekolah.  Kebetulan saya sedang berada disebuah warnet langganan.  Langsung saja permohonan itu saya sanggupi “ayo datang aja ke warnet bla bla lantai dua’.  Tak berapa lama, akhirnya sang adik datang.  Tepat pukul 17.00 WIB.  Kamipun segera memulai mengumpulkan bahan untuk karya tulis.  Waktu terus berjalan.  Tak sampai 30 menit kemudian, saya merasakan getaran.  Saya memang orang yang sangat sensitif dengan getaran.  Saya kemudian berdiri dan kemudian memandang operator warnet, saya bilang “ada gempa”.  Tapi belum sempat kata kata saya dicerna oleh operator tersebut, tiba tiba sebuah goncangan hebat kami rasakan semua.  Sangat kencang sehingga membuat kita terjatuh.  Kebetulan saya berada di lantai dua dan sudah dapat dipastikan bahwa goncangannya lebih terasa.  Saya langsung lari ke arah pintu, kebetulan pintu warnet tersebut adalah kaca tebal.  Saya tarik…macet…….

Lanjutkan membaca

…aku…

Standar

peta-sumaterabarat-dalSaya baru bisa posting setelah bencana gempa terjadi.  Tidak banyak yang bisa aku sampikan, keculai memberikan kabar kepada sabahat blogger semua bahwa aku sehat walafiaat.  Keluarga juga sehat walafiaat.  Hanya kerusakan rumah saja.  Saya terharu melihat berbagai komentar baik di facebook dan blog dari teman-teman.  Betapa saya merasa bahwa ‘dunia tidak sempit, saya tidak sendiri’.  Bencana ini memberikan pelajaran kepada saya bahwa, betapa hidup lebih berharga dibanding segalanya.

Terima kasih untuk teman-teman semua.  Saya akan kembali menulis di blog, mengabari apa saja yang mudah-mudahan bisa memberikan sesuatu bagi kita semua.  Uda Vizon, Uni Icha, Mbak Imelda, Mas DM, Yoga, Soni Setiawan dan yang lainnya yang tidak bisa di sebut satu persatu.  Doakan kami bisa melewati ini dengan tetap bisa membatu saudara lain.