…beginilah ceritanya…

Standar

IMG2362ASepuluh hari telah dilewati saat gempa besar mengguncang Sumatera getarannya begitu hebat hingga menyebabkan banyak sekali kerusakan.  Setelah kejadian, semua saluran komunikasi terputus dan listrik padam.  Tak ada kabar berita Sumatera Barat, khususnya Padang dan Pariaman seolah terisolasi jauh.  Setelah gempa berlalu dan perlahan komunikasi mulai lancar, banyak yang bertanya kepada saya, “sedang apakah saya saat kejadian berlangsung”.  Inilah sekelumit kisah menjawab pertanyaan itu.

Sore itu sangat terik.  Saking teriknya, tak secuil awanpun menggantung di angkasa.  Tidak ada tanda-tanda sesuatu yang besar akan terjadi.  Dua puluh menit sebleum gempa melanda, saya dihubungi oleh salah seorang adik, minta untuk dibantu membuat tugas sekolah.  Kebetulan saya sedang berada disebuah warnet langganan.  Langsung saja permohonan itu saya sanggupi “ayo datang aja ke warnet bla bla lantai dua’.  Tak berapa lama, akhirnya sang adik datang.  Tepat pukul 17.00 WIB.  Kamipun segera memulai mengumpulkan bahan untuk karya tulis.  Waktu terus berjalan.  Tak sampai 30 menit kemudian, saya merasakan getaran.  Saya memang orang yang sangat sensitif dengan getaran.  Saya kemudian berdiri dan kemudian memandang operator warnet, saya bilang “ada gempa”.  Tapi belum sempat kata kata saya dicerna oleh operator tersebut, tiba tiba sebuah goncangan hebat kami rasakan semua.  Sangat kencang sehingga membuat kita terjatuh.  Kebetulan saya berada di lantai dua dan sudah dapat dipastikan bahwa goncangannya lebih terasa.  Saya langsung lari ke arah pintu, kebetulan pintu warnet tersebut adalah kaca tebal.  Saya tarik…macet…….

IMG2365AKarena lantai dua warnet tersebut lebih banyak diperuntukan untuk main games serta penyewaan komik, maka sore itu banyak anak-anak usia SD dan SMP yang sedang main.  Saya lihat mereka mulai panik, komputer dan laptop mulai ada yang berjatuhan.  Ditambah lagi lemari komik berjatuhan.  Tanpa pikir panjang saya mendorong sekuat tenaga pintu kaca tersebut, saat itu goncangan masih terasa.  Pintu yang sebenarnya harus di tarik kedalam jika membuka, saya malah mendorong ke arah luar.  Alhmadulilah terbuka, saya dorong lagi lebih ke dinding sehingga benar benar terbuka.  Anak-anak saya suruh lari dan bertahan di teras lantai dua.  Dalam pikiran saya, goncangan akan berakhir dan kalau turun ke bawah, pasti akan ada yang celaka, karena tangga dari lantai dua menuju lantai satu sangat kecil.  Kalo berebutan pasti ada yang terjepit, apalagi tangga tersebut terbuat dari besi plat.  Awalnya kami bertahan di lantai dua, tapi begitu hebatnya goncangan hingga membuat bangunan sebuah kampus yang tak jauh dari warnet tersebut roboh.  Melihat itu, saya takut juga dan mulai berfikiran jelak, ‘jangan-jangan sebentar lagi warnet ini yang roboh, kampus yang segitu kuatnya aja roboh’.  Melihat itu, akhirnya saya instruksikan turun, tapi dengan tetap satu satau dan berpegangan.  Maka turunlah kami semua sambil berpegangan kuat.  Masih bergoncang dan bergetar.

Ketika hampir sampai di bawah, saya didorong oleh seorang anak yang badannya gendut, kaki saya sempat keseleo oleh dorongan itu.  Di parkiran kami melihat sepeda motor berjatuhan.  Lalu kami semua lari ke jalan raya, goncangan mulai berkurang, tapi tetap saja masih keras, satu persatu saya melihat bangunan roboh.

Orang-orang mulai panik, berseliweran ingin mencari ketinggian, karena takut akan tsunami.  Goncangan mulai terasa sedikit, saya kembali ke lantai dua karena laptop, hp, dompet dan tas masih ketinggalan.  Sampai di lantai dua saya bertemu pemilik warnet yang kebingungan.  Saya kemudian bantu mematikan listrik dan kemudian kembali ke parkiran.  Saya dan adik yang tadi kemudian berjalan ke arah ketinggian dengan cepat.  Melewati sebuah sekolah dan menyaksikan banyak anak perempuan yang ketakutan dan menangis dan sedang dalam pelukan gurunya.  Saya kembali berjalan dan kemudian melewati sebuah jembatan yang kemudian macet luar biasa, tidak bergerak se inchipun.

Karena kami berjalan, maka kami denganleluasa sampai ke seberang jembatan.  Berjalan terus dan terus, di sekitar situ saya melihat lumpur keluar dari dalam tanah menyembur disana sini.  Dalam situasi tersebut tiba tiba seseorang menaggil saya.

“Bang, bang Imoe…”

Saya tidak mengenal orang itu, saya dekati saya kemudian samar-samar ingat wajahnya, tapi lupa dimana bertemu.  Barangkali karena melihat saya bingung, maka kemudian sang teman memperkenalkan diri.

“Soni bang, www.sonisatiawan.wordpress.com

Masyaallah…ternyata tenyata teman blogger…

“Kapan dari Philipina ?” saya tanya.

“Baru nyampe niy bang, langsung ada gempa.  Ok bang saya pamit dulu, mau bantu evakuasi keluarga”

“Ok son, hati hati ya…”

Sebuah KOPDAR singkat dengan teman blogger.

Akhirnya dengan bantuan salah seorang kolega, saya di antar pulang ke rumah.  Di rumah saya saksikan sebgian rusak, tapi bersyukur tidak ada yang celaka. Malam itu kami tidur di tenda dan berjaga.

IMG2359AHari kedua setelah gempa pikiran saya ke kampung halaman di Pariaman.  Saya dengar kabar di radio bahwa pusat gempa di Pariaman.  Maka dari pagi hari sampai sore saya tongkrongi pinggir jalan, berharap ada bus yang ke kampung halaman.  Komunikasi masih terputus, sehingga sulit menghubungi keluarga.  Sampai senja tak satupun ada bus yang ke pariaman.  Dalam kekuatiran itu saya SMS teman di luar Padang untuk mengabari bahwa saya baik-baik saja.  Uni Icha dan Uda Vizon orang pertama yang saya kabari, dan akhirnya kami bisa tersambung dengan sms, walalu akhirnya terputus lagi.  Tapi paling tidak itu sebuah usaha untuk memberikan kabar tentang keadaan saya di padang.

Hari ketiga setelah gempa, akhirnya saya mendapatkan bus ke kampung halaman.  Karena hanya satu satunya yang beroperasi, jadilah saya terpaksa naik ke atap bus bersama penumpang lain.  Sampai di kampung saya melihat rumah rumah semua roboh, tapi syukur alhamdulilah, rumah saya tidak roboh, hanya rusak sedikit dan seluruh keluarga sehat walafiat.  Akhirnya saya kembali ke Padang.  Kemacetan dimana-mana karena natri bensin.  Sampai dirumah saya kemudian mulai berfikir, ‘apa yang akan dilakukan, untuk keluarga dan untuk orang lain”.

Saat ini saya dan kawan-kawan sedang melaksankan kegiatan play theraphy bagi anak-anak korban gempa. Doakan kami bisa melewati ini semua.  Gempa juga yang akhirnya mempertemukan saya dengan Uda Vizon hehehehehe.  Btw ke Jogjanya gak usah aja ya…kan udah ketemu uda Vizon di Padang hehehehe.

Iklan

21 thoughts on “…beginilah ceritanya…

  1. wah, cerita ini seakan-akan sebuah mimpi buruk, sialnya, ini tak lebih dari sebuah kenyataan….

    saya punya sebuah cerita yang mungkin hanya ada dalam imajinasi saya:

    “sewaktu gempa mengguncang, banyak sekali masyarakat berlarian karena takut akan tsunami, lalu ada seseorang yang menyapa imoe dengan keras:”

    orangitu: bang… bang imoe!!!

    imoe: siapa yah?? rasanya pernah kenal, cuma dimanaaaa gitu….

    orangitu: ini bang, arif!! arif!!

    imoe: arif yang mana yah??

    orangitu: arif bang!! http://www.langittimur.com !!!!!

    imoe: oo… arif…. posting baru yah?? kayaknya abang belon liat tuh… liat sama-sama yuk….

    “akhirnya mereka berdua ngeblog bareng walaupun bumi berguncang….”

    tamat…

  2. Saya membacanya menahan nafas.. Alhamdulillah Pak Imoe baik-baik saja. Pasti hari-hari setelah ini akan sibuk banget ya membantu memulihkan keadaan.
    Bagaimana kabar anak-anak di sana? Dari TV dikabarkan 50% sekolah hancur, yaa.. Anak-anak saya sedih sekali loh mendengarnya. Setiap pagi kami berdoa untuk anak-anak di Padang.

  3. Maaf kalo komennya oot

    Bang imoe, ketemu dengan Uda Vizon ga?? Trus besok(senin 12 oktober 2009) ada kegiatan apaan?? Uda Vizon udah balik ke jogja?? Saya mau minta tolong, tolong sms-in no cellphone uda vizon yo bang, ka no 081322875705

    Kini ambo sedang di padang, sebelum balik ke jakarta selasa pagi.. Tarimo kasih banyak.. Ditunggu ASAP

  4. Gempa (Tasikmalaya) yang beberapa waktu lalu saya (Jakarta) rasakan saja membuat kami di kantor lari tunggang-langgang keluar gedung. Getaran sedikit saja sudah membuat kami panik, juga khawatir keluarga di rumah. Syukur Alhamdulillaah Bang Imoe dan keluarga masih diselamatkanNya…

  5. fiuh! menyeramkan, moe. aku ingat saat gempa nias, goncangannya terasa hingga medan. aku panik dan tidak berani lagi masuk ke dalam rumah sepanjang malam. bagaimana pula dengan gempa di sumbar yang kekuatannya sungguh besar seperti ini? bencana ini memang tidak pakai kulunuwon.

    mudah-mudahan kita dapat memetik hikmah di balik kejadian ini, imoe. dan syukurlah keluarga imoe baik-baik saja.

  6. meski pertemuan kita dilatarbelakangi bencana ini, tidak mengurangi maknanya ya Moe…
    saya sungguh senang bisa bertemu imoe dan adik-adik itu. mudah-mudahan bencana ini justru dapat meningkatkan kreatifitas Imoe dan adik-adik itu… tetap semangat dan selalu jaga kesehatan ya…

  7. soyjoy76

    Merinding membaca cerita Imoe… Tak terbayangkan gimana paniknya kalau saya yang lagi ada di posisi itu. Minggu lalu saya ditugaskan ke Padang sekalian pulang kampung… sedih…sungguh besar kerusakan yang terjadi di ranah bundo kanduang…

    Anyway, syukurlah kalau Imoe dan keluarga selamat

  8. nanaharmanto

    salam kenal,

    Saya merinding membaca posting ini. betapa dahsyat gempa yang terjadi dan betapa parah kerusakan yang diakibatkannya.

    Syukurlah, keluarga selamat. Semoga mereka yang terkena bencana ini dan yang berduka karena kehilangan orang-orang tercinta diberi ketabahan…

    salam,
    nana

  9. dihujanicinta

    sekolah sarah ancur bang.. huhu..
    banyak kelas yang gagg bisa di pake,,
    semuanya jadi pada numpang belajar sana sini..
    alhamdulillah kelas3 dapet prioritas bang..

    [nggak nyangka, 3 menit gempa mengguncang, semuanya berubah dalam jangka waktu lama untuk perbaikan].

    masa sma sarah berkhir memilukaan
    ;'(

  10. @ arif : wkwkwkwkw akhirnya kamu yang duluan ngeblog ya wkwkwk

    @ daeng : trima kasih daeng, atas doanya yang tulus…

    @ mbak imel : wkwkwk iya dong, emang ada pengenal lain para bloger ?

    @ bu al : iya, hampir seluruh sekolah hancur…mudah-mudahan anak anak cepat kembali ceria

    @ soni : nah tuh, atur saja ketemuan dengan uda vizon…

    @ mamaray : trima kasih kawan hehehe saya baik baik aja

    @ uni mallow : iya un, yang penting bagaimana kita siap menghadapi segala resiko yang ditimbulkan oleh bencana,,,,

    @ vizon : ah uda, kita ketemu dalam suasana darurat ya…

    @ soy joy : iya da son…kampung kita kena lagi…

    @ zaq : iya zaq hehehhee trima kasih

    @ trima kasih nana …

    @ sarah : tetap semangat ya…jangan menyerah…

  11. Orang pertama yang terlintas saat gempa ini terjadi adalah kamu, Moe. Berhari-hari kami (para blogger) mencari kabar tentang dirimu.

    Syukurlah. Cerita ini menggambarkan semua tentangmu saat itu.

  12. Pertanyaan saya sekarang adalah …
    Sempat bertemu Soni Satiawan lagi nggak nih ???

    Eniwei …
    semoga tak ada lagi bencana yang menimpa bangsa kita …
    cukuplah sudah …
    saatnya bangkit …

    Salam saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s