…situasi gila bencana…

Standar

2Tiga hari setelah gempa, perlahan tapi pasti warga Kota Padang telah mulai bangkit.  Apa tandanya, saya sudah bisa menikamti Ikan Bakar sebuah warung nasi di bilangan Khatib Sulaiman.  Tak peduli banyak puing bangunan di sekitar jalan tersebut, semua orang bersantap sambil tetap tersenyum menikmati hari.  Tidak hanya itu, sebuah warnet langganan saya juga sudah mulai beroperasi dengan menyediakan genset.  Tak hayal, warnet itu menjadi serbuan para pelanggan yang tidak hanya sekedar ingin berselancar di dunia maya, tetapi juga yang hanya sekedar numpang nger charge HP.  Tak apalah, toh pemilik warnet adalah orang yang baik hati.  Tak berapa lama, aktivitas sekolahpun mulai menggeliat.  Inilah yang menjadi momentum ritme kehidupan mulai lancar.  Jika anak anak sudah mulai sekolah, maka sopir angkot tentu saja akan mulai bekerja, warung warung makanan di sekolah mulai berbenah dan akan memberikan dampak yang signifikat terhadap situasi lainnya.  Dan yang paling penting, ada situasi lain jika melihat gerombolan anak sekolah di jalan raya.  Sesuatu yang menandakan bahwa situasi terkendali.

Apa yang saya lakukan setelah gempa ? tentu saja berbenah, membersihkan rumah dari beberapa bagian kerusakan serta memindahkan barang-barang yang tidak bisa dipakai lagi ke tong sampah. Lelah  membersihkan rumah, saya kemudian menyambangi teman satu persatu, memastikan kondisi mereka.  Alhamdulilah tak satupun yang menjadi korban, hanya beberapa yang mengalami kerusakan rumah sehingga tidak bisa di gunakan lagi.

Situasi gila mulai menghampiri saya…

1Situasi gila pertama adalah, melonjaknya harga kebutuhan pokok sebesar 50 % dari harga normal.  Harga cabe melambung menjadi 60.000 rupiah perkilogramnya, jadilah saya orang yang uring uringan karena saya termasuk penikmat makanan pedas, terpaksa harus puasa pedas.  Tapi  itu tak berlangsung lama, para pedagang kemudian mulai menurunkan harga ke level normal  “ngapain bikin susah kita semua yang sudah susah’, begitu ungkap mereka.  Ternyata pedagang kecil sangat bijak ya…

Situasi gila kedua adalah, HP saya tak henti henti berdering.  Apa yang terjadi, berbagai lembaga internasional dan nasional menawarkan pekerjaan dan posisi kepada saya (mungkin juga di alami oleh rekan-rekan saya yang lain).  “Hallo, mas mau bergabung dengan kami, untuk posisi bla bla bla dengan gaji sekian dan untuk program sekian bulan”.  Waduh..sebuah tawaran menarik, sekaligus menjebak.  Saya pikir, apa jadinya jika tawaran tersebut saya terima, bagaimana dengan rekan rekan relawan yang bekerja dengan saya selama ini, gimana kalo program mereka selesai, siapa yang akan menyelesaikan selanjutnya jika muncul persoalan.  Karena pikiran pikiran itu, hingga saat ini saya belum memutuskan apa apa.

3Situasi gila ketiga adalah, hanya gara gara saya jingkrak jingkrak berdendang entah kemana dengan beberapa kelompok anak dalam kegiatan play teraphy, banyak tempat yang akhirnya meminta saya dan teman-teman mengisi kegiatan yang sama di tempat mereka.  Wah, jadilah setiap hari saya dan rekan rekan relawan berkeliaran dari satu tempat ke tempat lain, hanya untuk jadi ‘penghibur’ anak anak.  Banyak kegiatan yang kami lakukan dalam kegiatan play teraphy tersebut, selain bernyanyi, menari, ada juga media kreatif seperti menggambar, mewarnai, membuat origami.

Situasi gila keempat adalah, saya hampir senewen melihat tingkah beberapa oknum staff dari NGO internasional.  Ada semacam sikap kecongkak an dalam diri mereka (bukan yang bule, tapi justru staff yang org indo sendiri).  Pernah dalam suatu rapat yang saya hadiri, kami berdiskusi tentang berbagai isue.  Semua yang hadir adalah lembaga-lembaga lokal, nasional maupun internasional.  Semua status kita sama.  Setelah selesai rapat, tiba tiba salah seorang dari NGO internasional melirik ke saya seraya bicara “mas, kapan saya bisa mendapatkan hasil notulen rapatnya, kalo bisa segera ya, sore ini juga”.

Dalam hati saya kesal sekali “niy, kampret bukan siapa-siapa gue, kok malah nyuruh nyuruh”.  Saya masih menahan mulut ni ceritanya..

Karena didesak, saya tatap mata dia lalu bilang ke dia…

“Maaf ya bu, semua status kita dalam rapat ini sama.  Saya tidak notulen, saya bukan staff ibu, jadi mohon maaf, permintaan ibu tidak bisa saya penuhi, masalahnya kita tadi tidak ada menyepakati siapa melakukan notulensi, kalau saya tadi ibu lihat membuat banyak catatan, itu bukan untuk ibu atau untuk siapa siapa, hanya untuk saya pribadi. Jadi sorry saja, apalagi cara ibu minta, bikin saya kesal”.

Saya lihat si Ibu merah sekali mukanya, yang lain cekikikan.  Apalagi salah seorang teman saya yang dari tadi juga sudah tahan mulut, akhirnya keluar ketawa kerasnya.  Saya lalu keluar ruangan dan kemudian bercengkrama dengan kawan-kawan lain.

Lalu saya lihat si ibu juga keluar dan kabur……wkwkwkwkwkw.  Stttt sampai sekarang kalo saya ketemu dia, mukanya asem bgt, wkwkwkw.

Sementara itu dulu situasi gilanya…ntar saya tambah lagi ya…..

Iklan

13 thoughts on “…situasi gila bencana…

  1. wah bang im, ternyata seru juga… sayang, udah sibuk2 persiapan, aku malah sekolah sampai sore….. tapi tenang, sesibuk-sibuknya arif, pasti ada waktu luang buat bang imoe….

    soal ibu-ibu itu…. aku ga tertarik… aku suka sama bule-nya… hehehe

  2. Terima kasih untuk sharingnya Imoe…
    aku jadinya bisa mngetahui pasca gempa di sana seperti apa
    karena aku tidak bisa lihat TV Indonesia.
    Semoga kamu juga diberi kesabaran dan kekuatan untuk membantu masyarakat lainnya ya

    EM

  3. owh ternyata immoe yang ngomong begitu kemarin sama bundo..? 😛
    wkwkkkk bravo imoe! semangat terus yaa

    bundo sudah sering nengok ke rumah imoe ini, tapi masih malu buat komen **hehhhe si bundo ngaku juga

  4. untungnya di Padang saya lihat tidak ada partai yang gila pujian. buktinya, sangat jarang kita lihat bendera mereka berkibar sekarang. mungkin karena mereka sudah duduk dengan enak di kursi dewan kali ya… 😉 beda sekali dengan di jogja dulu, begitu hari pertama, sudah banyak bendera partai berkibar di mana-mana… benar-benar gila mereka itu!!!

    Moe… selamat berkarya, saya tahu ketulusanmu luar biasa, dan saya juga yakin insya Allah semua akan berbuah manis untukmu di masa yang akan datang.. 😀

  5. soyjoy76

    Hehehe… soal situasi gila #4, saya cuma bisa bilang: sabar Moe..sabar… anggap aja angin lalu… Lha, setelah rapat juga kalian semua pada bubar kan? Kalo ketemu trus dia nagih, pura-pura bilang aja: “Emang kita pernah ketemu sebelumnya, Bu?” hehehe…pasti kheki 😀

    Tetap Semangat!!

  6. @ bu al : Tenang aja ada lanjutannya…hehehe
    @ arif : ada apa dengan bule ?
    @ hadoitz : aminn
    @ mbak Imel : ntar ceritanya di sambung lagi ya..
    @ nmande : ondehh mande kanduang…dima mande kini ko…
    @ uda vizon : bendera partai ndak musim lai da wkwkwkwkw
    @ uni mallow : kapan ke padang Un ? hehehe
    @ uda son : hehehe bener juga ya da…tips jitu deh…
    @ morishige : yup warnet lapai, pariamanyo di sungai limau bos hahahaha sakampuang wak yo…

  7. Aku suka sekali jawabanmu pada si kampret itu, Moe. Tegas dan tepat!
    Seringkali kudengar tingkah polah pekerja dari NGO internasional kerap seperti itu. Justru terutama yang lokal. Dan jawabanmu: memang sudah seharusnya demikian. Ini memang bukan soal bermanis-manis dalam bertutur kata. Lebih dari itu: menunjukkan sikap yang jelas.

    Moe; tabah, kuat, dan jangan pernah menyerah ya. Kamu punya sikap. Salut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s