…sepenggal kisah, setelah duka sedikit sirna (tamat)…

Standar

BACKSCHLSaya sedang asyik-asyiknya membahas tentang kondisi terkini salah seorang teman, yang kebetulan sedang sakit. Beberapa hari sebelumnya saya sempat menemani sang teman berobat ke spesealis THT. Penyakit yang semula kami anggap sepele, ternyata tidak. Dari jumlah nominal yang dikeluarkan untuk nebus resep, jelas sekali kalau penyakit tersebut tidak boleh dianggap enteng. Dalam ngobrol tersebut sebuah SMS masuk

“Malam om, besok Beni sekolah di MIN ya..”

“Wahhhh Beni, hebat ya…udah dapat belajar kembali”

Sebuah SMS yang saya tunggu-tunggu sehari sebelumnya. Dan ternyata baru pada malam hari masuk ke hand phone saya. Berita gembira tersebut saya forward ke Ady, teman yang juga ikut membantu proses kembalinya Beni kesekolah.

Lanjutkan membaca

Iklan

…sepenggal kisah, setelah duka sedikit sirna (bag II)…

Standar

1Ini kelanjutan postingan terdahulu.  Sejatinya saya harus memposting tulisan ini hari Jumat yang lalu.  Apalagi kalau bukan perihal perkembangan penanganan Beni.

Kasus Beni benar benar membuat saya dan Ady (teman yang ikut membantu) tidak bisa tenang.  Maaf, hampir saja kami terobsesi dengan kasus itu, sangat ingin segera mengembalikan Beni ke sekolah, apapun akan kami lakukan.  Tetapi saya kemudian justru diingatkan oleh salah seorang teman muda (masih kelas II SMP), ”bang, Beni bukan mesin, bukan boneka, dia punya perasaan dan tidak bisa bang membuat target dengan situasi ini” kira kira begitulah apa yang disampaikan teman muda itu.  Saya sangat kaget, justru mendapat teguran dari teman muda.  Sesaat saya tersenyum dan kemudian berterima kasih ”terima kasih ya”.

Lanjutkan membaca

…sepenggal kisah setelah duka sedikit sirna…

Standar

IMG2397ASebulan sudah kami dengan tim bergerak di 10 titik pendampingan psikososial bagi anak-anak korban gempa Sumatera Barat.  Banyak sekali yang ingin diceritakan.  Satuhal yang tidak bisa kami lupakan adalah, bagaimana kami harus berusaha menyelami perasaan anak-anak dengan situasi yang berubah 180 derjat ini.  Tidak saja harus memahami pentingnya perasaan mereka secara kolektif, tetapi juga menyelami mereka satu persatu.  Ada yang gamblang mencurahkan isi hatinya, ada yang lewat gambar, ada yang lewat tatapan mata dan bahkan ada dengan senyuman (tapi hambar).  Siap tidak siap, ini bagian dari konsekwensi mengambil peran dalam membantu sesama.

Kami juga bagian dari orang yang memiliki perasaan (barangkali sama dengan anak-anak tersebut), karena kami juga ada yang kehilangan sanak saudara, kehilangan harta benda dan lain-lain.  Tapi sekali lagi, kami harus menepiskan perasaan itu, manakala kami berdiri didepan banyak anak-anak yang rasa optimisnya harus digerek kembali ke tiang yang paling tinggi.

Lanjutkan membaca