…sepenggal kisah setelah duka sedikit sirna…

Standar

IMG2397ASebulan sudah kami dengan tim bergerak di 10 titik pendampingan psikososial bagi anak-anak korban gempa Sumatera Barat.  Banyak sekali yang ingin diceritakan.  Satuhal yang tidak bisa kami lupakan adalah, bagaimana kami harus berusaha menyelami perasaan anak-anak dengan situasi yang berubah 180 derjat ini.  Tidak saja harus memahami pentingnya perasaan mereka secara kolektif, tetapi juga menyelami mereka satu persatu.  Ada yang gamblang mencurahkan isi hatinya, ada yang lewat gambar, ada yang lewat tatapan mata dan bahkan ada dengan senyuman (tapi hambar).  Siap tidak siap, ini bagian dari konsekwensi mengambil peran dalam membantu sesama.

Kami juga bagian dari orang yang memiliki perasaan (barangkali sama dengan anak-anak tersebut), karena kami juga ada yang kehilangan sanak saudara, kehilangan harta benda dan lain-lain.  Tapi sekali lagi, kami harus menepiskan perasaan itu, manakala kami berdiri didepan banyak anak-anak yang rasa optimisnya harus digerek kembali ke tiang yang paling tinggi.

Ya, sebulan sudah, sampai akhirnya satu persatu kami akhirnya menerima permintaan menangani kasus anak per anak.  Penanganan anak secara individu membutuhkan tenaga dan pikiran lebih keras lagi.  Tidak bisa gegabah dan mesti memetakan segala kemungkinan.  Inilah salah satunya…

Sore itu saya menerima telpon dari salah seorang sahabat wartawan.

”Bang, ini ada anak yang sejak gempa belum mau kesekolah, dia selalu ikut mamanya kemana mamanya pergi, gimana bang ?”

O ya, lokasinya dimana dan gimana rencana kita ?” Tak berlama-lama kemudian saya langsung to the point menanyakan apa yang bisa dilakukan dengan kawan tersebut.

”Gini aja bang, besok saya akan ke tempat kerja mamanya dan kebetulan anak itu selalu ikut mamanya, nanti kita sama-sama kesana aja bang, gimana ?” Sebuah tawaran yang tidak mungkin saya tolak.

”Ok lah kalau begitu, kita ketemu besok pagi di tempat mamanya aja ya..” Akhirnya kami menyepakati bertemu keesokan harinya.

Sore itu juga, saya kontak salah seorang teman yang bisa main sulap kartu.  Dalam pikiran saya, penting sekali untuk membangun zona aman bagi anak-anak yang trauma sebelum melangkah ke penanganan selanjutnya.

Paginya saya bersama teman berangkat menuju lokasi yang sudah ditentukan.  Kami bukanlah orang dengan latar belakang psikologi atau bimbingan konseling.  Kami datang bermodalkan pengetahuan seadanya dari membaca saja, plus rasa ingin membantu.

 

Sebut saja nama anak itu Beni.

Sesampai di tempat kerja mama Beni, kami lalu berkenalan.  Saya bersalaman dengan Beni.  Sesat saya lihat sebuah rahasia besar disembunyikan beni di balik matanya.  Kami kemudian mencari ruangan yang kosong.  Saya, teman sulap dan Beni kemudian memasuki ruangan tersebut, sementara mama Beni berdialog dengan rekan wartawan.

Awalnya susah.  Beni anak yang introvert sekali.  Pembawaannya agak pemalu, kalo ngomong suaranya nyaris tidak terdengar.  Perawakan kecil kurus, tapi mengaku sudah kelas 4 SD.  Akhirnya satu jam di awal kami bermain sulap.  Penat bermain sulap kami bermain kertas origami.  Kebetulan saya sudah mempersiapkan itu semua.  Senyum dan ketawa mulai muncul, walalupun masih malu-malu.  Tapi sudah bisa diajak komunikasi.  Satu jam berlalu, kami memasuki jam yang kedua.  Sedikit demi sedikit kami menguak pribadi pemalu ini. Ahaiii ternyata Beni pintar sekali menulis, dia memperlihatkan buku yang dia tulis yang menceritakan kepedihannya dengan situasi bencana ini.  Saya tersentuh sekali dengan untaian kata-kata anak kelas 4 SD ini.

Perlahan terungkaplah bagaimana ketakutan ketakutan Beni terhadap situasi yang baru dia lalui.  Mulailah dia bercerita.

Saat gempa terjadi, ternyata Beni sedang berada di lantai II sebuah mesjid.  Dia menyaksikan teman-temanya jatuh karena berlarian.  Dia menyaksikan teman-temannya menangis dan saat itu juga dia teringat orang tuanya di rumah.  Inilah awal yang kami lihat sebagai penyebab mengapa Beni tidak mau jauh dari mama nya, ketakutan kalau kalau gempa terjadi lagi dan mamanya tidak berada didekatnya.  Aduh….

Oleh mamanya, Beni kemudian dipindahkan sekolah ke SD yang berdekatan dengan tempat kerja mamanya.  Tetapi hanya bertahan 3 hari (begitu pengakuan mamanya sebelumnya).  Berdasarkan informasi tersebut, kami menggali alasan Beni tidak mau sekolah di tempat yang baru.  Kami mendapatkan kesimpulan bahwa dengan tipikal anak seperti Beni, bersosialisasi dan mencari teman baru bukanlah hal yang mudah.  Dia pemalu, tertutup dan bahkan untuk mengungkapkan sesuatu labih banyak melalui tulisan dan puisi. Ckckck.  Sebuah pribadi yang unik. Dari mama Beni juga kami dapatkan informasi bahwa seminggu yang lalu Beni telah di bawa ke psikolog dan mamanya bilang kalau hasil tes psikolog menunjukan IQ Beni 111.  Saya tertawa dalam hati, yang terganggu bukan IQ nya Beni, tapi psoses sosialnya, oleh karena itu butuh pendekatan sosial.  Ada ada saja psikolog itu.   Hari itu proses kita hentikan setelah hampir 4 jam bersama.

Di jalan kami memutuskan untuk membantu proses kembalinya Beni kesekolah secara langsung.  Apa yang kami persiapkan.  Begini..

Kami berencana akan kesekolah keesokan harinya, sambil mengajak Beni juga, lalu di kelasnya kami akan mengajak teman-teman sekelanya untuk bermain, membuat origami, bernyanyi dan lain-lain.  Karena kami memiliki stok yang cukup banyak untuk buku gambar, crayon dan kertas origami, maka kami membawa barang barang tersebut sejumlah siswa yang ada di kelas Beni.  Ahaiiii begitu kami masuk kelas, anak-anak menyambut hangat Beni.  Luar biasa…anak-anak memang lebih tulus dalam segala hal, padahal mereka baru sempat 3 hari berteman dengan Beni, teman baru mereka.

”Selamat pagi adik-adik, nah gimana kabarnya, semoga baik ya…” Begitu selalu saya membuka pertemuan dengan sebelumnya mengucapkan salam.

Baik…” Serempak mereka menjawab.

Lalu saya kembali memperkenalkan Beni.  Kemudian saya mengajarkan anak-anak beberapa permainan yang membuat mereka semua tertawa.  Bahkan gurunyapun ikut ketawa (heheheheheh).  Lalu tibalah momentum itu, kami akan segera belajar bikin origami.  Kertas origami, buku gambar dan crayon akan dibagikan.  Saya panggil ketua kelas kedepan, saya tawarkan siapa yang mau bantu bagikan buku gambar, crayon dan kertas origami, ternyata ada beberapa yang mau membantu, lalu saya panggil Beni agar ikut membagikan. Ehhhh dia mau…senang juga meliahat sedikit kebanggaan dalam diri Beni waktu membagikan barang barang tersebut.  Lalu kami membuat mainan dari kertas origami, kami membuat kelinci, merpati dan kura kura.

Setelah selesai semua, kami kemudian segera menutup kegiatan dan mengucapkan terima kasih kepada semua siswa di kelaa itu.  Ketika kami sudah mengucapkan salam, Beni kemudian maju kedepan (menuju mamanya) dan berbisik.  Saya tidak tahu apa yang dibisikannya, tapi akhirnya saya diberitahu oleh mamanya kalau Beni untuk hari ini masih ingin dekat mamanya.

Ya sudah, karena waktu belajar akan segera habis, saya sampaikan kepada mama dan gurunya, bahwa untuk hari ini tidak apa apa Beni kembali lagi ke mamanya.  Lalu kami semua kembali ke kantor mama Beni untuk selanjutnya berpamitan.  Di jalan saya kemudian mendapat SMS dari Beni.

”Beni hari Jumat aja kesekolahnya ya om, besok Beni mau ke Pariaman sama mama, soalnya mama sudah janji ajak Beni”

”Ya sudah..gak apa-apa, kalau mama sudah janji, tapi Jumat Beni kesekolah di antar mama ya dan jam istirahat kita ketemu di sekolah, nanti bantu om lagi bagikan buku gambar, crayon dan kertas origami untuk anak kelas 1,2 dan 3 ya..”

”Insyalahh om…” Begitu balas Beni.

Saya sampaikan itu ke teman yang menangani Beni.  Kami kemudian diam dan saling berpandangan.

”Pekerjaan belum selesai bang…” Begitu kata salah seorang teman saya.

”Iya…., tapi kita harus selsaikan..” Saya jawab

Lalu kita semua, berenti di sebuah warung untuk mengisi perut, maklum belum didisi dari pagi.  Diangkot kami tak banyak bicara.  Tak tahu apa yang akan terjadi hari Jumat dan kami tak sabar.

NB : Untuk Beni, hayo jangan takut, semua teman-teman kamu menanti dengan senang.  O ya…cerita Beni oleh teman wartawan di muat di surat kabar nya, ada ada saja.

 

Iklan

30 thoughts on “…sepenggal kisah setelah duka sedikit sirna…

  1. menyentuh sekali, imoe..
    bundo tau tatapan kosong beni itu, tatapan yg sama dengan okin anak saudaranya bundo.. saat kejadian itu okin di kantor mamanya, dan kebetulan dia diajak oleh seorang ibu kelantai lain. saat gempa tjd okin berlarian sama ibu itu, tanpa mamanya. akhirnya ternyata mamanya selamat, ibu itu meninggal.. beberapa hari di bukittinggi kmrn itu tatapan okin terus kosong, ga mau senyum. dan ga mau lg masuk gedung yg bertingkat..

    imoe terus berbagi ya, salut! titip cinta untuk anak-anak asuh imoe..

  2. haih………………….

    razaq nggak sempat ikut. dasar pemuda pemalas. maaf kan aku teman2 maafkan aku bang imoe
    maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaf

  3. Kalau orang dewasa aja bisa trauma pasca kejadian gempa tersebut, apatah lagi anak-anak. Butuh kesabaran untuk memulihkan keceriaannya, meski mungkin takkan pernah seperti semula.. Salut buatmu, Jo…

    Lanjutkan 🙂

  4. Imoe… pengalaman adalah guru yang paling berharga. Dari pengalaman, melahirkan pengetahuan. Bekerja berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman, akan memberikan hasil yang luar biasa.

    Terlihat bagaimana Imoe yang praktisi, sangat berbeda dalam menangani problem kejiwaan seorang anak dengan seorang Psikolog yang teoritis. Mantap Moe… salut!

    *Menunggu cerita Benni bersekolah di hari Jum’at* 🙂

  5. Bang Imoe …
    saya berkaca-kaca membaca cerita ini …
    (kelas 4 SD itu seumuran dengan anak bungsu saya …)

    But …
    Bangkit … !!!
    Kita harus bangkit …

    Sehat-sehat ya Bang Imoe …
    Keep Smiling
    Keep Saying warmly … “Selamat pagi adik-adik, nah gimana kabarnya, semoga baik ya…”

    Doa dan salam saya

  6. Imoe, terus semangat ya….saya merinding membacanya
    Memang tidak mudah untuk mendorong anak seperti Beny, bahkan dalam kondisi normal pun. Perlu kerjasama antara teman, lingkungan, orangtua dan guru.
    Semoga Imoe diberkahi Allah swt untuk meringankan beban anak-anak yang memerlukan.
    Doaku untukmu, Imoe…terus berjuang ya

  7. Assalamu’alaikum imoe

    imoe hari ini mendapat tugas menjadi tuan rumah di ladang ilalang, karena judul imoe terpilih untuk postingan pada hari ke empat. maafkan bila bundo tak bisa bicara banyak ditulisan itu karena bundo tak memahami sebanyak yang imoe pahami. bundo tunggu kapanpun imoe ada waktu, untuk menjawab komen para sahabat. makasi ya imoe..

  8. Ada tisu ga bang imoe, salam kenal ya.. Ingin bisa membantu ke sana, namun terjerat oleh pekerjaan di jakarta.. Semangat dan Sukses Selalu ya Bang, Salam..

  9. Alhamdulillah imoe muncul juga 🙂

    Imoe mungkin terlewat ndak tau persyaratan acara bundo yaa, bahwa buat yg terpilih harus membalas semua komentar yang ada di ladang ilalang khusus di artikel itu..

    jadi imoe, bila memungkinkan bundo harap imoe bersedia membalasi semua komentar pengunjung yang ada pada artikel “Mata Indah Yang Bicara Kesedihan” terserah apa yang imoe mau sampaikan.. anggap saja imoe tuan rumahnya..

    imoe bisa lihat contoh 3 artikel sebelumnya, semuanya melakukan tugas yang sama

    makaciy imoe, salam cinta buat anak-anak imoe ya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s