…sepenggal kisah, setelah duka sedikit sirna (bag II)…

Standar

1Ini kelanjutan postingan terdahulu.  Sejatinya saya harus memposting tulisan ini hari Jumat yang lalu.  Apalagi kalau bukan perihal perkembangan penanganan Beni.

Kasus Beni benar benar membuat saya dan Ady (teman yang ikut membantu) tidak bisa tenang.  Maaf, hampir saja kami terobsesi dengan kasus itu, sangat ingin segera mengembalikan Beni ke sekolah, apapun akan kami lakukan.  Tetapi saya kemudian justru diingatkan oleh salah seorang teman muda (masih kelas II SMP), ”bang, Beni bukan mesin, bukan boneka, dia punya perasaan dan tidak bisa bang membuat target dengan situasi ini” kira kira begitulah apa yang disampaikan teman muda itu.  Saya sangat kaget, justru mendapat teguran dari teman muda.  Sesaat saya tersenyum dan kemudian berterima kasih ”terima kasih ya”.

Kami memang selalu melibatkan anak-anak dalam setiap pengambilan keputusan menyangkut kegiatan apa yang akan dilakukan.   Jadi teguran atau kritikan dari seorang anak paling mudapun diantara kami, kami anggap sebagai sebuah proses yang wajar.  Itulah untungnya berkegiatan dengan anak-anak, mereka lebih logis dan lebih jujur melihat segala kemungkinan.

Hari Jumat Pagi. Pukul 06.00 WIB saya dan Ady mulai bergerak ke sekolah baru Beni.  Dijalan kami berharap hari itu lancar-lancar saja.  Kami membawa dua kardus besar buku gambar, kertas origami dan crayon.  Saya memeluk satu kardus di belakang sambil boncengan.  Jadilah kaki saya kesemutan begitu sampai di sekolah baru Beni.  Dalam rencananya, semua benda-benda itu akan kami bagikan untuk seluruh kelas 1-3 SD dan Beni lah yang akan kami ajak untuk membagikananya.  Taktik ini dimaksudkan agar setidaknya Beni bisa merasa menjadi bagian dari sekolah barunya.

Kami kemudian kecewa….

3Sampai disekolah, kami tidak menemukan Beni di kelas.  Lalu Ady melakukan konfirmasi dengan mama nya Beni dan ternyata Beni berada di kantor mamanya.  Dari hasil SMS an Ady, ternyata didapatkan hasil bahwa Beni sebentar lagi akan nyusul kesekolah tersebut.  Lonceng telah berbunyi dan anak-anak mulai masuk kelas.  Beni belum juga datang.

Pukul 09.00 WIB, Beni datang diantar mama nya.  Lalu sementara saya berbincang bincang dengan Kepala Sekolah, Beni, Ady dan Mama nya berbincang bincang juga di kantin sekolah.  Tak tahu apa yang dibincangkan, tapi saya lihat Beni mulai senang berteman dengan Ady.  Tak berapa lama saya bergabung.  Dari jauh Beni senyum, saya ikutan senyum.  Mulanya saya mengartikan senyuman itu sebagai sebuah tanda bahwa dia siap masuk kelas.  Ternyata TIDAK…..

Ternyata Beni anaknya sangat KERAS.  Pendiam tapi KERAS.  Saya kemudian ajak dia berbincang bincang yang lain saja, menunggu bel istirahat berbunyi.  Dari Beni saya dapat info kalau dia adalah seorang pemain teater (wahhh hebat juga, pernah menjadi pemain teater anak di BATAM utusan PADANG).

Bel istirahat berbunyi, kami kemudian memulai kegiatan bernyanyi, bermain dan belajar origami bersama.  Kelas satu dan dua digabungkan.  Teriak sana sini, jingkrakan sana sini.  Kami jadi tontonan para guru dan orang tua yang kebetulan ada disekolah itu menemani anaknya.  Dasar kami adalah orang yang punya prinsip ”gak usah dipikirin” maka tak peduli kami jadi tontonan, yang jelas anak anak gembira.  Biasanya kalau habis jingkrak jingkrakan, baru kami nyadar kalo tadi jadi tontonan ehehehehehehe.  Tapi kembali cuek….

Kembali ke Beni, dan ketika proses jingkrak jingkrakan berjalan.  Tiba tiba Beni lari, kembali menuju arah kantor mama nya.  Semula mamanya akan mengejar, tapi kemudian Ady melarang.  Saya melihat saja dari balik jendela.  Sedih juga….Tapi apa daya, saya tidak bisa meninggalkan proses dengan anak-anak kelas satu dan dua.  Dua jam berjalan akhirnya kegiatan kami tutup.  Kami pamitan dengan Kepsek dan lalu segera menuju ke kantor mama Beni.

Di kantor mama nya, kami ketemu Beni.  Dia sedang asyik bikin gambar rumah.  Saya dekati dan ajak ngobrol.  Kami tidak membahas soal peristiwa yang barus aja terjadi.  Malah kami membahas soal gambar rumah yang dia bikin.  Hari itu kami merasa sia-sia, mama Beni keliatan sedih sekali.  Tak tahu apa yang mesti di lakukan lagi.  Kami kemudian pamitan dengan mama Beni, karena shalat Jumat sebentar lagi akan dimulai.  Di jalan saya dan Ady membahas apa yang mesti dilakukan lagi, dan kami tidak tahu.

Sore pukul 17.00 WIB, tiba tiba saya mendapatkan SMS dari Beni.

”Om lagi ngapain.  Ada bang Ady gak disana ?”

”Ooo Beni, ini om lagi  nyiapin alat permainan untuk anak-anak di Alai besok, Bang Ady kuliah Ben..Ada apa Ben ?”

”Gini om, boleh kan Beni besok ke Alai, ikutan bermain ?”

”Wah..boleh sekali, kan kemaren om udah ajak Beni kan”

”Iya, nanti ditanya mama dulu, siapa yang ngantar”

”Ok deh, besok bang Ady juga datang kok.  Ngomong-ngomong gimana rencana sekolah Beni ?”

”Hmmm sebenarnya Beni mau ngomong om, tapi takutnya nanti mama marah ”

”Marah? Kok gitu ?”

”Iya, Beni mau pindah aja sekolah ke SD Budi Mulya?”

Wah…tiba tiba saya seperti mendapat durian runtuh.  Beni telah punya pilihan, tapi takut ngomong ke mama nya.  Tapi saya harus menggali lagi kenapa dia mau pindah kesana.

”Yang mana tuh sekolahnya ?” Saya berpura pura tidak tahu.

”Itu Om, yang di Simpang Haru.”

”Trus kenapa milih sekolah itu ?”

”Iya om, lebih Islami”

Wahhhh, anak ini punya alasan tersendiri.  Terserah apa alasannya, tapi ketika dia punya pilihan, itu sebuah kemajuan.

”Ya udah, nanti Beni sampaikan ke mama ya.  Sampaikan aja dulu, marah atau tidak marah mama, adalah urusan nanti. Ok”

Tanpa menunggu-nunggu saya kemudian menghubungi mama Beni, untuk menyampaikan bahwa Beni telah punya pilihan dan memohon jika nanti Beni menyampaikan keinginnaya, jangan sampai disalahkan.  Mamanya setuju.

Hari Sabtu menjelang.  Sore harinya Beni datang ke posko Alai Parak Kopi di antar mamanya.  Sempat bermain puzle sebentar.  Dia sepertinya happy melihat begitu banyak anak-anak di psoko itu.  Saya sapa dia, lalu mengajak bermain bersama.  Dia masih m alu-malu, tapi terlihat tampak mengikuti kegiatan anak-anak yang sedang susun puzle kayu dan balok kayu (untuk ini terima kasih kami ke UDA VIZON yang telah mengirimkan puzle dan balok kayu, sangat digemari anak-anak).  Selesai kegiatan, semua pulang termasuk Beni.

Malam hari saya mendapat SMS dari mama Beni.

”Imoe, papa beni tidak setuju Beni pindah lagi.  Ketakutannya nanti setelah di pindah ke SD Budi Mulya, dia minta pindah lagi, papanya takut nanti Beni jadi anak yang suka suka hatinya saja ”

Wahhhhhhhhhhhhh problem baru niy pikir saya.  Saya langsung bisa memprediksi jalan pikiran papa Beni.  Apalagi kalau bukan soal biaya.  Saya langsung to the point.

“Ibu, pilihannya sulit, tapi kalau alasan biaya pindah, mungkin solusinya begini bu, Ibu menghadap Yayasan Budi Mulya, bilang kalo Beni lagi ada masalah, jadi mohon diterima dulu, jika ternyata Beni bertahan, maka lunasi biaya pindahannya, jika tidak maka ibu bayar aja biaya selama dia betah di sana.  Kalo yayasan masih ragu, telpon saya dan saya yang Bantu menghadap”.

Sepertinya dengan solusi itu, mama Beni menerimanya dan senang sekali.

”Ok Imoe, besok akan Ibu coba ya.”

”Ok bu, tapi saran saya, sebelum ke Budi Mulya ada baiknya ibu tetap membawa Beni keliling ke beberapa sekolah lain untuk melihat lihat, siapa tahu Beni punya pilihan lain.  Kalau maunya yang islami, coba ibu bawa ke MIN Gunung Pangilun”

”Iya Moe, trims ya..”

”Sama-sama bu..”

Hari minggu datang, saya SMS Beni menanyakan apakah tidak datang ke posko Alai Parak Kopi untuk berman lagi.  Dia membalas, katanya lagi sedang ikut syukuran pelepasan haji.  Ya sudah…

Minggu malam saya SMS lagi menanyakan gimana rencana kesekolahnya

”Om, Beni gak jadi ke Budi Mulya, jadinya ke MIN Gunung Pangilun ?”

”Lho kok gitu, ganti lagi ya..”

”Iya, kayaknya lebih enak di MIN…”

”Kapan mulai sekolahnya ?”

”Insyaalah besok om..”

Nari nada SMS nya, saya lihat Beni benar benar telah menemukan pilihannya.  Saya sampaikan informasi itu ke Ady.  Lalu kami sepakat menunggu info hari Senin, apakah yang akan terjadi.

”Tapi om, kalo Beni sudah sekolah di MIN, nanti kita tetap bisa ketemuan ya om”

”Hahahaha, pasti dong, kan kita semua udah temanan kan, lagian sekolah Beni dekat rumah bang Ady tuh”

”Bener Om, iyalah, udah dulu ya om..”

Senin telah datang, seharian saya menunggu SMS dari Beni.  Belum datang.  Saya memutuskan untuk menulis postingan ini.  Hingga pukul 17.30 WIB tidak ada info.  Saya telfon, diluar jangkauan.  Saya masih menunggu….semoga berita menggembirakan yang akan saya terima.  Kami semua menunggu…

Iklan

28 thoughts on “…sepenggal kisah, setelah duka sedikit sirna (bag II)…

  1. hmmm… moga-moga si beni cepetan normal deh bang.. cepat ceria seperti anak-anak yang di alai itu… enak deh liatnya, apalagi pas hari minggu kemaren, pas lagi asik-asiknya main badminton…

  2. Saya yakin, Imoe dan tim akan dapat menghadapi ini dengan sabar dan ikhlas. Insya Allah hasilnya akan menggembirakan…

    *juga ikut menunggu kabar selanjutnya*

  3. frezyprimaardi

    waduh..menarik ceritanya…agak sedikit terharu..huhu..
    semoga beni betah dan kerasan di sekolah barunya…

    salam kenal yo da imoe..ditunggu kelanjutan ceritanya…

  4. Imoe hebat!!!
    kapan aku bisa nengok2 kesana ya…

    btw gimana kalo lebaran haji aku mampir2 kesana 😀 *aku ada rencana ke SUMBAR*
    nanti aku kabarin kalo memang jadi ya moe 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s