…si pembaca esai jilid 2…

Standar

Wkwkwkwkwkwkw, pertama saya harus memulai postingan ini dengan ketawa. Ini kembali cerita soal si pembaca esai yang berinisial DM (BUKAN DANIEL MAHENDRA, TAPI DIMAS MAHENDRA). Suatu siang, dia bersama pentolannya datang ke Posko Rumah Semut (begitu kami menyebut posko tempat kumpul kami). Sambil bercerita-cerita, bercanda serta main balok susun, si DM tiba-tiba saja mengeluarkan setumpuk PARFUM dengan botol kecil. BAnyak juga, ada sekitar 15 botolan dengan aneka wangi. Saya keget, bercampur heran. Mulanya saya kira anak ini menggunakan parfum itu untuk sehari-hari, tapi dugaan saya meleset. Si DM ternyata JUALAN. Dia lantas merayu beberapa orang teman saya dan temannya sendiri. Hebat juga ini anak, pintar sekali, amazing…saya rasa ini diluar dugaan saya.

Lanjutkan membaca

…si pembaca esai…

Standar

Ini postingan iseng…(postingan untuk si ARIF RAHMAN ISKANDAR, yang penasaran mau tau siapa manusia yang membacakan esainya)

Ceritanya begini.  Saya tiba-tiba panik, karena sehari sebelum acara Forum Partisipasi Anak dilaksanakan, salah seorang pengisi acara berhalangan, karena sang nenek sedang sakit dan harus ke kampung halaman.  Padahal persiapan udah dilakukan jauh-jauh hari.  Tentu saja dalam waktu kurang 24 jam, agak susah mencari ganti, seorang anak yang mampu membacakan esai dengan penuh penjiwaan sehingga maknanya bisa sampai ke setiap benak orang.

“Waduh Gung, kita harus cari ganti EIFEL (nama anak yang sejatinya jadi pembaca esai itu) ” Begitu kata saya pada sang teman.

“Gimana bang, ini hari ujian, gak bisa ganggu anak ujian juga kan untuk latihan ?” Agung tak kalah pesimisnya.

“Gini aja deh, kita lapor ke Kepala Sekolah EIFEL aja, siapa tahu mereka punya ganti”.

Lanjutkan membaca

…bangkit…

Standar

Gempa telah lama berlalu, sebentar lagi tiga bulan lamanya.  Kamipun telah memulai proses berbenah.  Bangkit, bangkit dan bangkit adalah sebuah kata yang selalu kami ngiangkan ditelinga sejak gempa baru saja berumur tiga hari.  Faktanya anak-anak adalah kelompok paling optimis memandang hidup, mereka lebih cepat keluar dari situasi keterpurukan.  Barangkali ini disebabkan tidak banyak tetek bengek yang dipikirkan oleh anak-anak kecuali menjalani hidup apa adanya.

Kesibukan saya dan teman-temanpun menjadi tak tanggung tanggung.  Berbagai kegiatan dan program sehubungan gempa dan anak-anak harus kami laksanakan.  Siap atau tidak siap, siang dan malam kami terus bekerja.  Kerelawanan kami semua sedang diuji.  Sekuat apakah kami bersabar mengahdapi keluh kesah, tingkah polah serta sekuat apakah kami menghadapi kurang tidur.  Saya berterima kasih untuk ini kepada seluruh kawan-kawan relawan.

Lanjutkan membaca