…eksploitasi atau berbakti pada agama ?…

Standar

Beberapa tahun yang lalu, saya dan teman-teman punya program di sebuah desa.  Cukup lama juga kami mendiam disana, sehingga mampu mengenal seluk beluk desa tersebut beserta warga desanya, mulai dari yang kakek nenek hingga anak-anak.

Ini desa indah sekali, penghasil sayuran dan tanaman muda.  Selintas masyarakatnya adem ayem saja, damai, tidak ada persoalan, sehari-hari hanyalah ke ladang ataupun ke kebun.  Tidak terlihat perbedaan yang mendasar disana.

Keanehan saya rasakan manakala melihat terdapat dua buah mesjid yang cukup besar dan jaraknya cuman tak lebih 50 meter.  Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya besar bagi kami semua.  Secara perlahan kami menggali dan kesimpulannya adalah, ada dua aliran Islam di daerah sini dan keduanya sama-sama fanatik.  Walalupun dinamika kehidupan sosial mereka sehari-hari damai-damai saja, tetapi tetap saja jika sudah bicara soal ranah agama dan keyakinan, barulah perbedaan-perbedaan muncul.  Tetapi tidak ada salahnya, setiap orang kan punya keyakinan sendiri.

Agar tidak menjadi persoalan, kami memutuskan untuk tidak masuk ke ranah keyakinan warga setempat.  Kami seringkali datang untuk shalat dan gotong royong secara bergantian ke dua mesjid tersebut.  Ini gambaran soal desa ini.

Sekarang mari kita melompat ke cerita tanggal 7 Januari 2010.

Pukul 10.00 WIB, urusan saya di Badan Kepegawaian Kota Pariaman selesai.  Saya kemudian meminta tukan ojek memacu motornya untuk sampai ke Simpang Jagung Pariaman, agar bus yang menuju ke Padang bisa saya cegat segera, dan saya tidak akan telat sampai di Padang, karena sudah di tunggu oleh seseorang.

Ternyata semua bus dalam keadaan kosong dan sudah bisa dipastikan akan ngetem lama.  Sayapun menaiki sebuah bus kosong yang parkir paling depan.

Sebelum saya naik, saya melihat seorang anak laki-laki usia 12 tahunan, duduk di bangku dekat pintu depan.  Dia berpakaian koko, kopiah haji.  Yang membuat saya terganggu adalah sebuah ‘karung beras’ yang ada ditangannya.  Apalagi kalau bukan anak yang disuruh meminta-minta beras dari rumah ke rumah.  Saya penasaran dan kemudian duduk disebelahnya.

Bus berjalan dan kemudian saya mulai membuka pembicaraan.

Mau kemana dek ?”

“Lubuk Alung bang..”

“Dari mana ?”

“Tadi dari Pariaman bang, ada perlu”. Tiba-tiba dia menggulung karungnya dan menyembunyikan ke samping.

“Sekolah dimana ?”

“Di pesantren Bla Bla Bla bang”

“Trus apakah gak sekolah niy…”

“Iya bang, sebentar lagi..”

“Kampung dimana ?”

“Di bla bla bla bang…”

“Wahhh, rumah kamu dimana di kampung ? kenal si ini, si itu, nenek ini, nenek itu ?”

Tiba-tiba sang anak kaget dan kemudian kami ngobrolin banyak soal kampung halamannya dan ternyata itu adalah desa tempat dimana saya berkegiatan dulunya.

“Dari kampung ada beberapa teman saya lagi kok bang di pesantren itu…”

Gantian saya yang kaget.  Pasti semuanya seperti dia, berjalan, bawa karung dan kemudian menampungkan karung dari rumah ke rumah.

Kenapa ndak sekolah di di SMP aja ?”

“Ndak bang, biar nanti bisa jadi ustad, tuanku, kalau kita sudah kelas 7 nanti sudah bisa jadi ustadz bang…..lagian sekolah di SMP mahal, ayah tidak ada biaya ?”

Selanjutnya si  anak menerangkan dengan lebih detail mengenai apa yang dia ketahui tentang harapan-harapannya sekolah di pesantren.  Lalu saya termenung mendengar penjelasannya.

Bus sudah hampir sampai, dia akan turun.  Saya keluarkan dua lembar 50 ribuan.  saya tidak bisa membantu kecuali memberikan lebaran uang itu.  Saya berikan ke dia sambil titip pesan “kasih satu lembar ke Budi (bukan nama sebenanrya) ya..”. Dia mengannguk, berterima kasih, melompot turun dari bus dan kemudian kembali menyandang karung berasnya.

Duhhhh saya terganggu sekali, ada anak yang mestinya harus belajar, malah harus menyorongkan karung dari rumah ke rumah.  Saya pernah dengar, beginilah pola yang dilakukan oleh beberapa pesantren untuk memenuhi kebutuhan keseharian pesantren.  Ada yang bilang bahwa itu adalah bentuk pengabdian pada agama, dan mereka  anak-anak itu adalah orang yang berjuang di jalan Tuhan, jadi bukan meminta-minta. Syah syah saja. Begitulah anggapan sebagian orang.

Tapi tetap saja bagi saya hal itu mengganggu.  Dia anak itu, lebih baik menghabiskan waktu dengan sekolah.  Sekolah di pesantrenpun boleh boleh saja, asal jangan ada kegiatan yang ‘cenderung mengarah ke eksploitasi’.

Aduhhhhhhhhhh seberapa banyak kah anak-anak yang begini ? Menyaksikan ini saya sedih………

Iklan

23 thoughts on “…eksploitasi atau berbakti pada agama ?…

  1. Speechless.

    Itu namanya mengeksploitasi anak..untuk kepentingan orang dewasa.
    Kenapa bukan para pengurus atau guru di pesantren tsb yang berjuang bagaimana caranya mendapat pemasukan untuk pesantren tersebut?

  2. aku juga kurang tau, tapi memang ada kudengar begitu. karena bersekolah di pesantren tertentu sangat murah dan kadang-kadang gratis, para siswanya yang diharapkan mencari nafkah dengan cara meminta-minta. karena pengelolaan pesantren juga butuh dana, yang justru mereka tidak punya. lagian mencari donatur tetap bukan perkara gampang juga.

    kalau menurutku sih, bisa saja ponpres melakukan itu, karena tujuannya jelas untuk menghidupi para santri yang sedang belajar. tanpa itu anak-anak itu mungkin tidak bisa menuntut ilmu karena kekurangan segalanya. tapi karena di zaman sekarang kita sudah punya citra baku (stereotipe) bagi para peminta-minta, maka disamaratakan saja semuanya, tak peduli tujuannya apa.

    wallahu a’lam bisshawab.

  3. #1
    saya pernah berkunjung ke pesantren yang seperti itu di daerah pariaman (semoga sama dengan yang imoe maksud). kegiatan mencari beras dengan meminta-minta itu adalah tradisi yang mereka langgengkan. katanya untuk mendidik jiwa para santri dan “membunuh” kesombongan mereka. saya tidak melakukan debat di situ, karena tujuannya hanyalah wawancara untuk sebuah penelitian.

    tradisi pesantren yang seperti itu memang sudah tidak cocok di era sekarang ini. modifikasi sistem pesantren patut dilakukan. ada banyak cara untuk “membunuh” kesombongan seseorang. dengan majunya cara berpikir masyarakat, saya kira, lambat laun pendidikan seperti itu akan ditinggalkan.

    di sisi lain, pemerintah kita mestinya memahami keadaan ini, dan semakin terpacu untuk menyediakan pendidikan berkualitas dan terjangkau bagi rakyatnya…

    #2
    Sselamat ulang tahun Imoe… semoga sehat, sukses dan bahagia selalu… 😀

  4. duh… kok jadi ada ganjalan dihati sehabis membacanya, karena anak-anak itu ” sama dari pesantren” satu gerombol pernah menyebar ke rumah-rumah kami untuk disantuni, miris sekali kasian mereka selain ilmu agama mereka juga perlu wawaasan dan pengetahuan yang bisa didapat dari sekolah umum, saya masih termenung saat ini

  5. ondeh takana kampuang lai, lubuk aluang, sei.abang… awak bakunjuang baliak, kini dak tingga di blogfuad.wordpress lai, alah tingga di rumah baru dafuad.com, acok-acok se yo batamu.oh iyo izin link yo, titipinlo link awak ciek disiko. salamaik ultah da imoe

  6. kalau mau jujur, di negeri ini masih banyak anak2 usia sekolah yang mengalami nasib seperti itu, mas imoe. agaknya dibutuhkan penanganan super-serius agar semua anak bangsa di negeri ini benar2 mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

  7. wah baik mau berbagi dengan sesama. soalnya banyak saya lihat orang yang mengatakan mesti berbagi tapi idak pernah berbagi ke sesama yang membutuhkan, meskipun mampu. yang jelas ini sebagai pelajaran agar kita bersyukur, masih bisa sekolah, bukankah begitu

  8. Uda Imoe …
    Saya tertegun …
    Tidak bisa berbicara apa-apa …
    Saya tidak tahu bagaimana hukumnya mengenai hal ini …
    Namun hati kecil saya berkata …
    Seharusnya tidak (harus) begini …

    Salam saya

  9. di kampung saya di pariaman orang menyebutnya “pakiah”. remaja tanggung yang bawa karung bekas tepung ke mana-mana, dari rumah ke rumah mengucapkan salam untuk mendapatkan sedikit beras.

    asal pendidikan mereka nggak terbengkalai aja gara-gara nyari beras ke mana-mana, oke-oke aja sih. toh beras itu juga buat makan sendiri.. 😀

  10. hiks…aku sedih baca tulisan imoe diatas 😦
    sedih karena sedemikian susahnya kah pendidikan sampai harus meminta2? kesannya kok jadinya tidak terdidik ya jika demikian. Semoga sistem pendidikan yang demikian akan segera menghilang dari bumi indonesia!!!

    and Happy belated birthday…telat banget ngucapinnya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s