“Belajar”

Standar

Adakah satu hari dalam hidup, kamu begitu merasakan nikmat yang diberikan oleh Tuhan ?.  Bagun di pagi yang cerah, menikmati sarapan pagi ditemani segelas susu, menelusuri jalanan tanpa macet menuju tempat kerja, datang lalu duduk di meja kantor dan sesaat setelah itu atasan menyampaikan kabar gembira bahwa kerja keras anda di hargai dengan kenaikan pangkat.  Lalu kamu pulang, menyampikan kabar gembira ini kepada keluarga dan setelah itu kamu menghabiskan waktu dengan makan diluar bersama keluarga merayakan hadiah teindah itu. Senang

Lalu, adakah pula satu hari dimana kamu merasakan betapa Tuhan sangat benci kepada mu ?.  Telat bangun, jalanan macet, terlambat kerja dan dimarahi oleh atasan.  Parahnya lagi justru tak menyadari bahwa dompet kamu yang berisikan surat-surat penting tercecer entah dimana rimbanya.  Gusar, mengumpat dan pasti uring-uringan itu akan kamu bawa hingga ke rumah.  Kehadapan istri dan anak-anak.  Lalu anda menyesali diri.  Penyesalan memang lahir belakangan.

Diantara keduanya, pernahkah kamu merasakan satu kali saja dalam hidup merasakan hal yang ‘biasa-biasa’ saja.  Tidak istimewa dan tidak pula tidak istimewa.  Kebosanan, itulah rasa yang akan menghampiri kamu. Datar saja, tanpa ekspresi.

Bagi saya hidup salah satunya adalah bagaimana ‘mengekspresikan’ rasa. Rahmat tuhan yang paling indah akan kamu ekspresikan dengan caramu sendiri.  Dan sudah pasti itu adalah rasa senang.  Laknat Tuhan sekalipun akan anda ekspresikan dalam bentuk  kegusaran, kejengkelan, rasa frustasi dan kesedihan.  Keduanya adalah sama tapi berbeda.  Mereka sama, karena muncul secara spontan, tulus dari dalam diri.  Tak satupun orang yang mampu menutupinya.  Keduanya berbeda karena mereka menyampaikan pesan yang berbeda.

Yang jelas, keduanya pasti akan memberikan sebuah proses pembelajaran bagi siapa saja yang merasakannya. Semuanya adalah isyarat bahwa kita semua harus berbenah.  Menyelesaikan pekerjaan rumah yang hingga hari ini tak pernah-pernah selesai, yaitu “mengevaluasi diri”.

Berterima kasihlah karena engkau telah diberikan rahmat oleh Tuhan, begitupun sebaliknya, berterima kasihlah karena engkau juga telah di laknati oleh Tuhan.  Tinggal bagaimana kamu menjadikannya sebagai sebuah alat pemicu ‘evaluasi diri”.

Nah, yang paling merugi adalah jikalau kamu meresakan dalam hidup ini hal yang “biasa-biasa saja”.  Kamu akan selalu jalan di tempat.  Tidak maju dan mundurpun tidak.  Sehingga kamu tak bisa belajar dari itu.

Nah, kalau begitu, golongan manakah kamu sebenarnya ?

Iklan

8 thoughts on ““Belajar”

  1. Rasanya hidup ini selalu memberikan tantangan-tantangan. terkadang cobaan datang menghampiri, namun betapapun beratnya cobaan tersebut, kita harus yakin bahwa Tuhan sedang menguji kita, dan akan memberikan kedudukan atau nilai yang lebih tinggi….jadi kita harus rela, dan selalu mensyukuri nikmat yang diberikannya.

    Rasanya sejak kecil tak ada rasa hidup yang datar, karena jika merasa datar selalu dicari tantangan lain. Bukankah hidup ini punya tujuan? mengejar mimpi yang tak pernah berakhir? Dan mimpi tersebut haruslah mimpi yang positif….

  2. Imoe… manusia itu jika diberi kenikmatan ia akan pongah, jika diberi cobaan ia akan berkeluh kesah. Namun, teori itu tidak berlaku bagi manusia yang di dalam hatinya terdapat keikhlasan dan kesabaran penuh. Mereka akan menjadikan segala yang dihadapi sebagai sumber ilmu pengetahuan. Berkeluh kesah dengan kesusahan yang sedang dihadapi tidak akan menyelesaikannya, justru dengan memandangnya sebagai sebuah “tantangan” untuk ditaklukkan, insya Allah akan berbuah sebuah pembelajaran yang luar biasa… 🙂

  3. waduh…
    yang biasa biasa saja justru tidak beruntung ya..???

    Padahal hidup itu selalu ada dinamikanya, kadang bahagia, kadang sedih karena dilaknat, dan kadangpula biasa-biasa saja…..

  4. soyjoy76

    Idem sama Uda Vizon. Kalau sang Guru dah kasih komen disini, apalagi masalah hikmah dan kebijaksanaan, akur deh…

    Cuma mau nambahin: Hidup, terlepas dari kejadian baik maupun buruk, adalah pelajaran berharga bagi yang mau mengambil hikmahnya. Sayangnya bagi kebanyakan orang, sangat sulit untuk mengambil hikmah dari suatu kejadian sehingga merasa hidupnya datar-datar saja.

    Ba’a kaba Jo?

  5. intinya adalah bersyukur.
    namun bersyukur bukan pula berarti mudah puas dengan apa yang kita capai.
    karena bukankah dalam hidup seseorang itu akan terus belajar untuk menjadi semakin baik?

    *tapi apakah aku sudah melakukan apa yang kukatakan di atas?*

  6. Bersyukur kepada Tuhan dengan membagikan kasih sayang kepada sesama, dan kepada makhluk Tuhan yang lain, agar tercipta ketenangan dan keharmonisan kehidupan.
    Inilah perwujudan syukur manusia yang diutus sebagai khalifah di muka bumi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s