“Saya Ingin Segera Ke Padang”

Standar

Ini hari Kamis, saya sudah tidak sabar lagi untuk segera ke Padang.  Maklumlah, beberapa waktu belakangan saya mulai bekerja sebagai “pelayan masyarakat” di Kota Pariaman.  Sebetulnya Pariaman dan Padang itu tidak jauh.  Hanya saja sementara ini saya memilih menetap di Pariaman ketimbang bolak balik ke Padang.

Saya tidak sabar…ingin segera pulang….ingin segera ke depan Supermarket SARI ANGGREK.  Sebuah tempat perbelanjaan di bilangan Permindo Padang.

Tidak ada yang unik dan spesial dari pusat perbelanjaan ini.  Hanya saja, sejak terjadinya gempa, banyak tempat belanja yang roboh, dan jadilah Sari Anggrek menjadi satu satunya pilihan warga Padang.

Minggu yang lalu saya menemani salah seorang kawan mencari kertas di toko ini.  Hal ini kami lakukan setelah berkeliling dan tidak menemukan di tempat lain.

Kita cari di Sari Anggrek aja Dy” Begitu kata saya ke Ady.

“Boleh bang, kita putar aja sebentar, mudah-mudahan di sana ada”.

Ternyata barang yang kami cari tidak ada.  Lalu kami menuju parkir dan saya langsung terhenti manakala melihat pemandangan di depan toko ini.

Seorang ibu buta dan seorang anaknya yang buta.  Mereka sama-sama menampungkan ember kecil, berharap seseorang melemparkan recehan.  Mereka buta…ya buta…saya dapat melihat dari matanya yang  bulatan hitamnya hampir tidak ada.  Begitupun anaknya.

Anak itu saya taksir paling berusia sekitar 3-4 tahun.  Seusia ponakan saya.  Pakaiannya cukup bersih, tidak kumal seperti anak-anak yang mengemis lainnya.  Beda dengan sang ibu yang menengadahkan ember, sang anak justru sesekali sibuk bermain dengan memukul mukul embernya.  Dia menikmati sekali masa anak-anaknya, dan dia tidak tahu kalau sebenarnya dia mengemis.

Jujur saja, inilah kali pertama saya meneteskan air mata secara spontan, setelah sekian lama melihat begitu banyak anak yang menderita.  Jika sebelumnya saya mampu meredam kesedihan, tapi tidak begitu adanya kali ini.

Yang membuat saya meneteskan air mata, ketika melihat sang anak berjalan menyusuri trotoar dengan meraba-raba pinggir trotoar.  Terlihat bahwa dia meyakinkan diri agar tidak jatuh dan terjerembab ke bawah.  Naluri menyelamatkannya.

Entah sejak kapan sang ibu dan anak ‘beraktifitas’ mengemis di situ.  Karena saya lihat si anak sudah hafal sekali kawasan itu.  Dengan ceria dia berlari lari, mengoceh sendirian, memegang pagar pembatas toko untuk memastikan tidak tersesat dan kemudian bernyanyi riang sendirian.

Saya sedih….sedih melihat dia menikmati masa kanak-kanaknya, tanpa dia sadar bahwa dia berada dalam situasi yang tidak tepat untuk bertumbuh dan berkembang.  Saya sedih……..

Saya tatapi anak itu dari dekat, dekat sekali…paling hanya 2 meter saja.  Saya tidak tahu apa yang berseliweran di benak saya.  Yang saya tahu, dia harus diselamatkan.  Tapi bagaimana, saya tidak tahu juga caranya ?

“Ayo bang, berangkat..” Tiba tiba ady menyentakan lamunan saya.

“Kenapa bang ?, Anak itu ya ?”

“Iya…anak itu Dy, kasian sekali…”

“Saya juga mengamatinya bang, seharunya di sekolahin ya bang ?”

“Iya Dy, tapi bagaimana cara membantunya ?”  Saya sedikit putus asa

“Gini aja bang, kan ada Kak Ridha yang guru SLB, siapa tahu dia bisa membantu ngajar anak itu Braile ?”

“Iya ya…ntar coba kita sampaikan ke Kak Ridha ya…”

Kami lalu meninggalkan areal pertokoan itu dan dari jauh saya masih menatapnya, sampai hilang di ujung jalan.

Saya ingin segera ke Padang, ingin sekali kembali ke Sari Anggrek.  Memastikan apakah dia masih ada disana ? Dan mencoba berteman dengan Ibunya…..

Saya ingin segera ke Padang…………………..

Iklan

8 thoughts on ““Saya Ingin Segera Ke Padang”

  1. Ingin rasanya saya ikut menemani Imoe ke Padang, menemui malaikat kecil yang butuh rangkulan itu.. Semoga saja Imnoe benar-benar bisa bertemu dengannya lagi dan mewujudkan segala rencana..

    eh, OOT dikit:
    di depan Sari Anggrek itu dulu ada toko roti Holland. masih adakah? waktu ke padang tempo hari gak sempat melihat-lihat ke sana. toko roti itu punya kenangan khusus buat saya dan uni, hahaha… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s