“proyek gila”

Standar

Minggu sore, saya dan 3 orang teman lain (Iben, Agung dan Ady) menuju Sari Anggrek di bilangan Permindo.  Tujuan kami satu yakni mencoba menggali informasi dan mencoba mendekati anak buta dan ibunya yang buta juga dan beraktifitas mengemis di depan pertokoan itu.  Sempat terjebak macet di Pasar Raya akibat menumpuknya angkutan umum di tengah jalan yang sempit, akhirnya kami berhasil parkir di depan toko itu.  Dari dekat sudah leihatan apa yang kami tuju.  Tapi kali ini berbeda, ada 2 orang anak gadis, dua ibu buta dan seorang anak usia 4 tahunan yang buta (yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya).

Kami kesulitan untuk mencari cara mendekati, karena saat itu kami lihat begitu ramai pengunjung toko, takutnya aksi kami nanti menarik perhatian orang lain dan tujuan semula buyar.  Kami putuskan masuk ke dalam toko, langsung ke lantai II dan memilih milih buku untuk dibeli (lantai II adalah toko buku).  Setelah 30 menit, dan saya sempat membeli satu buku, kami lalu turun dan kembali ke parkiran.  Kami lihat si anak yang buta tersebut sedang menangis.  Agaknya lagi kesal, ntah kenapa kami tak tahu.  Anak gadis dan ibu nya yang buta membujuk anak tersebut.  Tiga teman saya yang lain menuju parkiran, saya terhenti sesaat di depan mereka.  Saya lihat dan amati cara duduk mereka di trotoar di atur sedemikian rupa.  Di kiri dan kanan, duduk dua anak gadis yang juga menegadahkan ember, di tengah-tengah duduklah dua ibu buta yang menengadahkan ember juga dan anak kecil buta terakhir berkeliaran diseputar situ juga sambil menyorongkan meber kecil.

Ketika ember di sorongkan kesaya oleh salah seorang anak perempuan tadi, saya membalsanya dengan senyum dan menatapinya agak lama.  Lalu dia tersenyum dan kemudian saya menganggukan kepala.  Nampak juga dia cukup bersahabat.  Kami memutuskan untuk tidak membangun komunikasi dengan ‘mereka’ hari ini, karena alasan banyak orang tadi.

Di parkiran kami diskusi berempat dan kemudian diputuskan untuk mencari informasi alamat rumah sang ibu buta beserta anak-anaknya tersebut.  Kebetulan salah seorang bapak yang setiap hari beraktifitas di seputar situ berada dekat saya dan saya langsung todong dengan pertanyaan.

“Jam berapa biasanya orang depan situ pak, yang ngemis itu datang kemari setiap hari ?”

“Ya…biasanya menjelang siang lah. Sampai sore jam 6 an”

“Sama siapa dia kesini pak ? kan mereka buta tuh ibu itu ?”

“Ituh kan anaknya yang perempuan, bersama dia datang…”

“Ooooooo”

“Lalu, bapak tahu ndak dimana rumahnya ?”

“Kalau ndak salah di kawasan Kuranji atau Belimbing lah..”

“Jam berapa dia biasanya pulang pak ?”

“BIasanya jam 6 sore atau setelah magrib”

“O iya…makasih pak…”

KAmi lalu pamit dan sebuah informasi telah kami dapat.  Kami lalu pergi makan empek-empek Palembang.  Sambil makan kami mendiskusikan strategi untuk melakukan pendekatan kepada ‘mereka”.  Hal ini harus kami lakukan, karena kami ingin anak buta usia 4 tahun tersebut segera diperkenalkan dengan huruf BRAILE.  Dan untuk itu sudah ada komitmen dengan salah seorang guru luar biasa, dia bilang..

“Boleh, nanti saya akan cari cara bagaimana mengatur mengajarkan anak itu braile, tapi bagian melakukan pendekatan di bantu kawan-kawan ya…”

Ternyata kami telah mendapat jaminan dan kami memiliki teman-teman yang siap membantu.

Akhirnya ‘rapat mpek-mpek Palembang itu’ menghasilkan kesepakata bahwa, minggu depan salah seorang dari kami akan mengamati secara penuh dan kemudian ikut bareng bersama’mereka’ pulang naik angkot bersama ‘mereka’.  Diatas angkot instruksinya membangun komunikasi dan tim yang lain mengikuti angkot dengan sepeda motor di belakang.  IYa…itu keputusannya.  Dan kita nantikan hari Sabtu besok….

Selesai dengan makan, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke kampus Bung Hatta Padag.  Tujuannya adalah melaksanakan ‘proyek kedua’.  Kali ini kami akan mencari, mengamati, mengumpulkan informasi dan melakukan pendekatan dengan salah seorang Ibu Gila dengan Seorang Anaknya usia 7 tahun yang di asuhnya.  Target ini sebenarya telah kami susun rencananya sejak 3 minggu lalu.  Tujuannya sederhana, adalah bagaimana mencoba menyelamatkan anak yang di asuh oleh Ibu yang gila tersebut, karena kami berkeyakinan bahwa anak yang diasuhnya tersebut ‘belum tentu gila’, tapi kalau dibiarkan terus menerus dan tidak ada usaha untuk memisahkannya, maka bukan tidak mungkin akan terjadi salah perkembangan.  Melakukan pemisahan bukan perkara mudah, karena akan timbul perlawanan dari sang ibu, karena kami berpikiran, segila-gilanya sang ibu, dia masih tetap punya naluri melindungi anaknya.

Kami berkeliling di Kampus Bung HAtta, tempat dimana keseharian sang ibu tersebut tidur.  Tapi tidak ketemu.  KAmi menuju jembatan MInang Plaza, kami menunggu disana dengan harapan sang ibu muncul dan pengamatan bisa dilakukan.  Tapi setelah hampir dua jam, tidak muncul juga.  Kami bergerak lagi ke kampus Bung Hatta, MInang Plaza, Kampus UNP, Gedung PU (Lokasi ini tempat aktivitas sang ibu) ternyat nihil.

Kami putuskan untuk menghentikan pengamatan hari ini dan kami putuskan melanjutkan proses minggu depannya.  Lalu kami mendiskusikan perihal bagaimana tim dengan ‘proyek aneh’ ini akan berlanjut kedepan.  Kami memang merasa ini adalah hal yang agak diluar akal sehat.  Tapi melihat semua teman-teman yakin dan bersemangat, saya memutuskan untuk tetap mendukung apa yang akan dilakukan.

Ingat kawan-kawan, target kita jangan muluk, kita sudah sepakati bahwa ini adalah usha bersama, amal bersama, kalau tidak tercapai jangan menyesali diri, kita hanya berusaha dan apapun itu kita lihat saja perkembangannya.  Jangan berharap bahwa keinginan mulia kawan-kawan bisa terwujud dalam seminggu atau dua minggu, bahkan setahun.  Tapi yang penting semangat, kalau tidak dimulai, siapa yang akan melakukan…” Begitu saya menyemangati.

“Sippppppp Amannnnnn..” Hanya itu komentar kawan-kawan muda saya dengan semangat.

“Soal kebutuhan kawan-kawan untuk pengamatan, walalu sekedar beli bensin, makan malam, beli teh botol dan lain-lain, biar saya yang mikirin, tak usah sungkan, tak usah ragu minta.  Sekalipun ini hanyalah rencana gila kita, tapi saya harus bertanggung jawab dengan ini.  Karena ini kita rencanakan, maka kita laksanakan bersama.  OK”

Sipppppppp Amannnnn…” Temanpteman saya koor lagi.

Kami lalu pulang, istirahat dan menunggu minggu depan.  APakah yag terjadi minggu depan dengan PROYEK GILA kami ini.  Wallahualamm…..Mohon Daa dan Restunya.

NB :

Tim kami sedang membutuhkan semacam penasehat untuk PROYEK ini.  Teman-teman bloger yang bersedia menjadi penasehat harap kirimkan e-mail ke  lpa_sumbar@yahoo.com, karena kami akan menceritakan perkembangan PROYEK ini nantinya melalui email dan meminta saran dan masukan dari para penasehat mengenai PROYEK ini.  Kami membutuhkan PSIKOLOG, GURU LUAR BIASA, PEMERHATI ANAK, DOKTER, Dan lain-lain.  Perspektif dan masukan dari banyak pihak, akan membantu kami nantinya.  Dan satu yang terakhir…..karena ini adalah PROYEK amal, maka kami tidak bisa menyediakan apapun bagi para penasehat.  Hehehehehe.  Kami membutuhkan saran dan masukan.

TERIMA KASIH.

Iklan

19 thoughts on ““proyek gila”

    • Halo mbak imel…kan bisa masuk kategori lain-lain…ya saya sendiri background nya peternakan wkwkwkw, nanti kami cc perkembangan ke email ya…

  1. tau apa yang razaq pikirkan saat membaca tulisan abang ini?
    yang razaq pikitrkan adalah ini pasti tak akan berhasil, walaupun berhasil pasti akan berantakan

    tapi setelah membaca sampai habis. razaq bisa merasakan semangat dan ketulusan yang luar biasa dari proyek ini. semoga p[royeknya berhasil bang

    Nb: razaq juga mau (pura2) jadi “PSIKOLOG, GURU LUAR BIASA, PEMERHATI ANAK, DOKTER, Dan lain-lain” sebagai penasehat

  2. Hmmm… benar-benar “gila” nih proyek… kira-kira, saya bisa bantu apa ya? soalnya saya juga bukan PSIKOLOG, GURU LUAR BIASA, PEMERHATI ANA, DOKTER, Dan lain-lain… (huahaha…. ikut-ikutan yang lain…) 😀

    Imoe… silahkan kontak kalau ada yang bisa saya bantu

    • HEhehehehe emang dulku kita dapat dana dari PEMKO cat wkwkwkwkw MASIH INGAT DARIUN ? Dia sekarang ngamen di KERETA API PADANG PARIAMAN, tetap mencari uang untuk sekolah adiknya….

  3. soyjoy76

    MasyaAllah….saya angkat jempol buat Imoe dan tim. Luar biasa. Padahal terakhir kali saya ke Padang dan melewati TB Sari Anggrek, saya juga melihat ibu buta itu. Solusi yang saya berikan waktu itu cuma untuk jangka pendek, menyerahkan beberapa lembar uang ribuan. Jadi malu… Solusi yang Imoe & tim rencanakan saya kira berdampak jangka panjang buat keluarga itu.

    Berhubung saya juga termasuk kategori DAN LAIN-LAIN, apa yang bisa saya bantu, Moe?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s