“Sejak Kapan Saya Jadi Makelar Kunci UN ?”

Standar

Malam hari sebelum Ujian Nasional dilangsungkan, saya sempat di SMS oleh beberapa orang adik-adik yang saya kenal.  Pesan yang mereka kirim intinya nyaris 100 % sama.

“Bang, ada dapat kunci UN gak ?”

“Bagi kunci UN dong…”
”O ya bang, takut niy gak lulus, kalo bang dapat bocoran kunci kasih tau ya…?”

Malah ada versi yang lebih vulgar…

“Ada kenalan gak bang, berapapun aku bayar ?”

“Ada yang nawarin 750 ribu bang, mahal gak tuh ?”
Bah…tentu saja respon saya ngakak. Saya merasa seolah-olah menjadi makelar kunci Ujian Nasional. Padahal mereka sudah pasti tahu jawaban yang akan saya berikan.  Standar…

“Ah, ngapain pake kunci segala, percaya diri sendiri aja dan berdoa, usaha yang baik dan sungguh-sungguh pasti hasilnya bagus alias MANJADA WAJADA (hehehehehe yang ini gak saya tulis)” Begitu saya balas SMS mereka.  Saya terpaksa harus menyimpan balasan tersebut, untuk berjaga-jaga, jika ada lagi yang minta, bisa langsung di forward.

“Musim Kecemasan” telah datang lagi.  Tiap tahun dia hadir sekitar bulan Maret dan April.  Apalagi kalau bukan Ujian Nasional.  Momok paling menakutkan bagi siswa.  Mereka seolah-olah menganggap bahwa Ujian Nasional sebuah batu sandungan terbesar yang akan menghambat langkah mereka untuk melanjutkan pendidikan, menghilangkan usaha keras mereka selama hampir 3 tahun lamanya dan mendatangkan malu serta aib bagi keluarga, jika tak mampu menghadapi Ujian Nasional tersebut.

Tidak hanya siswa tentunya.  Tak kalah ‘uring-uringan’ orang tua pun dibuat dag dig dug.  Maka kompensasinya adalah marah-marah.  Hardik sana hardik sini, memerintahkan anak untuk belajar keras, sekalipun otak mereka udah mumet.  Kecemasan juga menjalar ke sekolah.  Kepala sekolah, kepala dinas pendidikan sampai kepala daerah, ikut ikutan kuatir kalau-kalau tahun ini banyak anak didik mereka yang tidak lulus ujian.  Apalagi kalau bukan soal prestise, alasan kecemasannya sangat berbeda dengan kecemasan anak dan orang tua.

Ujian Nasional memang sebuah kontroversi  yang tak selesai-selesai.  Tak kunjung tuntas di bahas dan terus menerus berpolemik, hingga mengakibatkan korban anak-anak itu sendiri.

Tapi…..tidak demikian dengan sekelompok anak-anak yang saya temui.  Pagi sekali, sepuluh menit setelah azan subuh mengumandang, saya telah berada di atas Bus PO ALISMA menuju Kota Pariaman.  Maklumlah, saya harus sampai di Pariaman seblum jam 07.30 WIB, karena apel pagi kantor dimulai pada jam tersebut.

Tak perlu lama menunggu penumpang.  Dalam hitungan detik saja, bus tersebut telah penuh.  Tak ada bangku tersisi.  Hanya lorong tengah tempat berdiri yang tersisa.  Pagi itu bus di isi oleh para guru yang bekerja di daerah Pasaman, Pariaman dan Agam.  Cerita mereka juga nyaris sama.  Mereka harus buru-buru agar tidak terlambat mengawas Ujian Nasional.

Bus merambat pelan, tak berapa lama mulai melaju kencang.  Sampai di Pasar Lubuk Buaya, sekelompok anak sekolah menaiki bus tersebut dengan ceria.  Mereka tertawa gembira.  Tiga perempuan dan dua laki-laki.  Putih abu-abu.  Anak SMA.  Mereka lalu mengisi lorong tengah bus dan berdiri persis di sebelah saya.

Penasaran, saya lalu bertanya.

“Mau kemana dek ?”

“Pariaman pak..” Saya di panggil PAK.  Barangkali karena pake baju dinas hehehehe

“Ujian Nasional ya…?”

“Iya Pak…”

“Sekolah dimana ?”

“SMA XXXX Pariaman Pak ..”

“Kok pagi sekali?”

“Ya pak, biar ndak telat..”

“Gimana rasanya mau ujian nasional ?”

“Hmmm gimana ya pak, ada takutnya, tapi ada senangnya”

“Kok gitu ?”

“Iya pak, takut ndak lulus, tapi senang sebentar lagi tamat..”

“Oooooo gitu…”

“Trus emang kalian dari mana, kok rame-rame ?”

“Ini pak, semalam tidur di rumah teman saya yang itu (sambil nunjuk salah seorang), kami belajar bersama..”

Wahhhhhhh mantap juga niy, pikir saya…

“Ooooo, trus kenapa belajar bersamanya gak di rumah teman yang di Pariaman saja.  Kan jauh kalo dari Padang ?”

“Hmmm gimana ya pak, soalnya di rumah teman saya itu, keluarganya baik.  Mamanya suka bikinin nasi goreng, bikinin susu, terus kita disediakan makanan yang banyak untuk belajar kelompok..”

“Hehehe hebat ya, mama nya.  Emang mamanya kerja dimana ?” Pertanyaan saya bikin keningnya berkerut.  Habis ngak nyambung banget siy ama topik.  Tapi sebenanrya saya ingin tahu, ibu macam apakah yang bijaksana tersebut.

“Hmmm kalo gak salah, jualan buah-buahan di Pasar Lubuk Buaya Pak, trus bapaknya juga begitu…”

Wahhhh, ternyata perkiraan saya salah.  Semula saya mengira kalau ibu bijaksana itu adalah seorang yang setidaknya berprofesi sebagai Guru, Pegawai, Dosen dan semacamnya, yang sangat memahami kebutuhan anak (walalupun asumsi itu tidak seratus persen benar..).

“Hehehehe hebat ya mamanya…emang mama dan papa kalian, ngijinin kalo belajar kelompok jauh-jauh begini ?”

“Awalnya siy ndak pak, tapi kami suruh ortu kami telpon mamanya teman saya itu..ehhh akhirnya boleh..”

“Wah…iya deh…selamat ujian ya, semoga sukses.  Kalian happy banget, mudah-mudahan lulus..”

“Aminnnnnn pak…”

Obrolan kami itu, ternyata menarik bagi penumpang lain yang rata-rata guru.  Mereka tidak berkomentar, tapi melirik dan curi-curi dengar.

Bus PO ALISMA melaju semakin kencang.  Saya kemudian ketiduran, dan sayup sayup saya dengar kelompok pelajar itu terus saja bercanda dengan riang gembira.

Ditengah-tengah anak lain tertidur lelap, ketakutan tak akan lulus ujian nasional.  Sekelompok anak ini sudah berjibaku menaklukan kantuk, dinginnya pagi untuk meretas masa depan yang lebih baik.  Mereka optimis, mereka ceria dan mereka memiliki ibu yang bijaksana.

Mampukan kita para orang tua, seperti Ibu mereka ? Tidak hardik sana-sini ketika ujian nasinal tiba ? Tapi justru mendukung mereka dengan ke optimisan bahwa ujian nasional adalah sebuah proses yang harus di lalui, bukan batu penghalang yang tak mampu di taklukan.

SELAMAT UJIAN NASIONAL…..

Iklan

10 thoughts on ““Sejak Kapan Saya Jadi Makelar Kunci UN ?”

  1. Uh.. apalagi guru, ampe gak bisa tidur kalo kata beberapa rekan. Saya blum ngerasain karena selain UASBN blum mulai, ini baru tahun pertama Paling nanti pas hari H juga gak bisa tidur.
    ENIWEI, ternyata Pak Imoe ini makelar kunci jawaban, ya? *geleng-geleng kepala*

  2. salut sama orang tua diatas… hmm… jadi pengen nasi gorengnya… hihihi…
    namun jujur bang, atmosfer mengecam dari UN tidak pernah turun dari tahun ke tahun, makin mengecam malah, jadi kasihan sama kakak kelas yang walaupun sudah buntu tetap saja dipaksakan belajar. jadi tak enak liburan diatas penderitaan mereka….

  3. Aha… saya punya pengalaman menarik nih dengan UN ini. Yakni ketika Afif mengahadapi UN SD dua tahun yang lalu. Saya bikin postingan aja ya ah…

    tarimokasih PAK Imoe, ambo dapek ide… 😀

  4. ckckck… disaat sekelompok anak2 sekolah bela2in begadang belajar bareng untuk UN ini, masih aja ada yang kasak-kusuk nyari kunci jawaban ya…. duh negriku… 🙂

  5. dulu sih mamaku mau temenin begadang buat belajar tapi aku gak mau malah gak konseen dan takut bgt kalo persiapan kurang gak kaya temen2 lain padahal pas sampe sekolah temen2 lain malah ribed cari soal jawaban lewat sms

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s